Aku tidak bisa menceraikan mu shafa, tapi aku juga tidak bisa meningalkan alena, apa lagi saat ini alena tengah hamil anak ku, dan aku juga sudah berjanji untuk bertanggung jawab.
begitu lah ke egois san Cakra sebagai seorang suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja ardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali berulah
****
Ke esokan hari, seperti biasa Cakra dan Alena berselisih, hal seperti itu sudah seperti makanan pagi untuk keduanya.
Kemarahan Cakra, semakin memuncak.
ingin rasanya ia pergi ke kediaman Shafa, wanita yang selalu bisa menenangkan saat dulu dirinya tengah kesal. 1
"Alena yang merasa kecewa, sedih dan marah tengah menumpahkan air matanya menangis sendirian di teras depan rumah nya.
Sementara Cakra, seperti biasa pria itu lebih memilih pergi, dan kali ini ai lebih memilih pergi untuk mencari nafkah.
Rasa iba mulai hadir , Seseorang Pria yang entah dari mana datanya mengulurkan tangan membawa Alena kesuatu tempat dimana dia bisa mendapatkan privasi dan kenyamanan.
Dan siapa sangka Alena menerima uluran kasihnya dengan tangan terbuka.
"Terima kasih Om,,
Om,, sudah menemani Alena sehingga saya tidak sedih lagi.
Ucap nya seraya memeluk pria paruh baya itu di sebuah kamar.
" Sama sama al... Om juga berterima kasih karena kamu sudah memberi ku kenikmatan.
ucap pria paruh baya itu, seraya mengusap kepala belakang wanita yang lebih pantas menjadi anak nya itu dengan penuh kelembutan.
"Pria yang bernama Bowo itu kemudian mengeluarkan ATM dari saku celana nya, pelukan nya ia urai secara sepihak.
" Ada apa Om...?
"Ini kamu pegang, pria itu menyodorkan ATM ke Alena, anggap saja in sebagaii tanda pertemuan dan hubungan baru kita. dan aku harap kita bisa seperti ini setiap saat.
pinta pria itu.
'Tanpa pikir panjang wanita itu langsung menganguk dan meraih ATM itu, pertanda dirinya mau.
Meski dirinya tau itu salah, wanita itu juga takut kalau ketahuan Cakra.
namun wanita itu juga tidak bisa menolak karena saat ini dari nya sangat buruh asupan dana.
karena mengandalkan uang hasil ojek online suami nya saja tidak akan cukup.
"Sejak saat itu Alena menjalani hubungan terlarang dengan Bowo pria paruh baya yang yang membantu nya memenuhi gaya hidup nya, kala pendapatan Cakra yang tak seberapa.
l. tanpa sepengetahuan Cakra.
"Alena merasa senang, perlahan lahan rasa ingin memiliki nya itu kembali meradang.
" Terima kasih Om,
Alena tidak tau gimana kalau tidak ada Om gimana nasib ku.
ujar nya seraya memeluk pria paruh baya itu di sebuah kamar hotel.
"Apa pun yang bisa membuat Alena senang,
Om akan lakukan apa pun itu.
Mendengar itu, Alena membawa Bowo ke dalam pelukan seraya menenggelamkan kepala di dada budal pria itu.
" Bisakah Om, meninggal kan istri om demi membuktikan bahwa Om benar-benar serius pada Alena,?
seloroh Alena, membuat nafa Bowo terasa berat.
"Harus seperti itu kah,?
Tidak bisa kah kita menjalani bersama sama seperti ini saja. Tanya Bowo.
" Alena hanya takut jika nanti istri Om marah sama Alena.
Tapi kalau Om tidak setuju tidak apa apaapa Alena tidak memaksa.
Lagi pula kalau Om setuju, Alena janji pelahan lahan akan belajar melepaskan Mas Cakra.
Wajah Bowo sedikit berbinar, merasa mendapat celah. Tak perduli jika ke egoisan nya akan membuat dirinya kehilangan wanita yang selama ini begitu sabar mendampingi nya berpuluh-puluh tahun lamanya.
"Akan Om usahakan"ucap Bowo.
Walau sedikit ragu, namun keyakinan tetap pria itu tanamkan.
mungkin ini memang jalan untuk mendapatkan Alena yang jauh lebih muda lebih bisa mecukupi birahi nya.
*****
"Pagi ini Shafa sudah berada di kediaman Nyonya Amel. Atas undangan Nyonya amel sendiri.
Lebih tepat nya, kali ini Mama Shaheer itu hanya ingin mendekat kan diri pada wanita pujaan putra nya itu.
" Tante senang kamu mau datang lagi kesini sudah lama gak ketemu rasa nya tante kangen.
"Shafa juga senang bisa memenuhi undangan dari tante lagi,!
jawab Shafa, seraya mengembangkan senyum.
Setelah itu, Nyonya besar membawa Shafa kesebuah ruangan.
Mama Shaheer menggandeng tangan Shafa, melewati ruang tamu, dan pada akhirnya pada ruangan luas yang merupakan ruang keluarga.
Banyak sekali foto foto keluarga terpanjang disana.
Fokus Shafa tertuju pada salah satu foto, yaitu foto Shaheer waktu masih remaja.
Shafa jadi terlaku menatap nya, tanpa sadar senyum sedikit terpatri diwajah nya.
"itu foto Shaheer waktu masih muda"
ganteng sekali kan anak tante,?
Merasa tertangkap basah, Shafa jadi malu.
wanita itu mengalihkan pandangan nyanya.
wajahnya menoleh ke arah sang Nyonya besar.
"Tapi kamu tidak tau, bagaimana Shaheer waktu kecil.
Mama Shaheer tiba-tiba beranjak mendekati lemari kecil yang letaknya tepat dibawah televisi.
" Ini foto-foto Shaheer lengkap dari dia lahir sampai remaja, sambungnya seraya membuka tiap lembaran kertas. yang wanita itu tunjukkan pada Shafa.
Shafa menanggapi setiap lembaran-lembaran foto dengan senyuman.
Melihat foto Shaheer waktu bayi membuat nya gemes.
"Mama Shaheer asik bercerita tentang putranya itu, sesekali Shafa tertawa mendengar nya.
"Lho, Ma,, apa apaan ini'?
Suara tinggi mengagendakan Mama Amel dan Shafa.
Tau tau pria itu langsung merebut album
foto itu dari sang mama.
" Apa apaan kamu ini"
Datang datang langsung berteriak, ngagetin orang aja.
"Sini kembalikan album nya"
Mama lagi asik bercerita dengan Shafa ni.
omel nya.
Shafa menahan senyum melihat Shaheer tanpak kelimpungan.
Wajah Shaheer tampak memerah menahan malu.
Dalam hati pria itu menggerutu.
mengapa Shafa tidak memberi tahunya kalau sang mama mengajak nya bertemu.