Freya tidak pernah menduga ia harus melepaskan sang kekasih, menyakiti perasaan pria yang ia cintai dan juga mengubur dalam perasaannya demi menikah dengan seorang Billionaire yang tidak ia kenal sama sekali.
Takdir seperti apa yang akan Freya jalani dan apa alasan dibalik ia bersedia menikah dengan pria asing tersebut? Lalu bagaimana jadinya jika ternyata pria yang sudah menjadi suaminya ternyata memiliki seorang istri yang artinya Freya hanya dijadikan sebagai istri kedua. Akankah Freya mempertahankan pernikahannya atau justru mengakhirinya dan kembali kepada kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari Kita Bercerai
"Apa yang terjadi?" Daniel menatap Liora dan Erick secara bergantian, menuntut keduanya untuk memberi penjelasan, tangisan Liora, sang adik perempuan bahkan ia abaikan, ia lebih peduli terhadap kemarahan wanita itu. Apa alasan kemarahannya, hingga ia terlihat begitu terluka tadi.
"Istri keduamu itu menggoda kekasihku." desis Liora di tengah isakannya, Clara sedang berusaha menenangkannya.
Dahi Daniel berkerut begitu mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Liora, melihat karakter Freya, sulit baginya untuk mempercayai ucapan adiknya itu. Ia yakin Freya bukanlah wanita seperti itu.
Daniel lalu menatap Erich, "Apa benar seperti itu?"
Erich menggidikkan bahunya tidak acuh, "Aku yang menggodanya." akunya dengan jujur dan tenang, tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kau dengar itu Liora, kekasih brengsekmu itulah yang menggodanya, lalu katakan apa alasan ia menamparmu?"
"Aku mengatakannya jala*ng."
"Kalau begitu kau pantas mendapatkannya" Daniel membenarkan, membuat Erich mengangguk setuju.
"Apa yang kau katakan, apa sekarang kau sedang membela wanita itu?!" desis Clara tidak suka atas pembelaan Daniel.
"Aku tidak membelanya, tapi Liora memang sudah keterlaluan, dan bahkan jika Freya merobek mulutnya, aku rasa itu balasan yang pantas." Daniel mengusap bibir Liora yang terluka.
"Minta maaflah padanya,"
Perintah Daniel itu sontak membuat Clara dan Liora melebarkan mata mereka. "Kakak, apa kau sengaja ingin mempermalukanku?!" protes Liora tidak suka. "Wanita jala*ng itu akan besar kepala kakak!"
"Liora!"
"Perhatikan ucapanmu, Liora!"
Daniel dan Erick kompak menegur Liora, sama-sama tidak terima atas tuduhan Liora.
"Apa tamparan Freya di wajahmu tidak cukup membuatmu sadar bahwa tidak seharusnya kau bermulut besar!" Daniel menatapnya penuh peringatan. "Priamulah yang tergila-gila padanya, jangan salahkan dia tapi salahkan priamu, mungkin kau kurang menarik di matanya, atau memang kau yang memberi kesempatan priamu untuk melirik kepada wanita lain." Daniel menatap Clara, seakan kalimat itu tertuju padanya.
"Dan kau anak muda, berhentilah bermain-main dengan adik perempuanku, dan jangan menggganggu wanita yang sudah bersuami." Kini Daniel melayangkan tatapannya pada Erick. Erick hanya terkekeh mendengar nasehat pria di hadapannya itu.
"Aku hanya mencoba peruntunganku pada Freya, siapa tahu dia mau menerimaku yang tulus ini." Erick menatapnya dengan tatapan mengejek. "Aku hanya ingin membantunya, menyelamatkannya dari para manusia-manusia munafik seperti kalian yang tega memanfaatkannya, dan mantan kakak ipar yang terhormat, terima kasih sudah menyarankan untuk berhenti bermain-main dengan adik perempuanmu karena ya, aku juga sudah bosan dengannya." Erick tersenyum iblis, sungguh ia tidak terima saat Freya disamakan dengan wanita murahan.
"Dan sebelum aku benar-benar menghilang dari hidup adikmu, izinkan aku memberi satu nasehat padamu, tetapkan hatimu pada sesuatu yang benar, pria tidak akan dikatakan gentel hanya karena kau menuruti semua ingin wanitamu, yang terkadang menyesatkan, bukan begitu Clara. Aku sering melihatmu berkeliaran di luar sana." Erick mengerling jenaka, dengan senyum penuh misteri, lalu ia pun pergi meninggalkan mansion itu, mengabaikan panggilan Liora. Persetan dengan wanita itu.
🌸🌸🌸
Freya masuk ke dalam kamarnya, membenamkan wajahnya di atas bantal, air matanya tumpah ruah, sungguh ia tidak bisa membendung kesedihannya lagi. Hari ini benar-benar hari terburuknya. Sean yang brengsek, ditambah dengan Anna yang sudah menamparnya, belum lagi kebohongan Daniel dan Will yang membuatnya malu, untung waktu itu ia tidak mengenakan pakaiannya di hadapan kedua pria itu. Dan yang terakhir Liora, wanita itu benar-benar membuatnya marah, ia mungkin terima apa saja yang dikatakan oleh orang lain padanya. Sungguh ia tidak peduli terhadap pandangan mereka terhadap dirinya, tapi Liora dengan lancangnya membawa nama ibunya dalam pertikaian mereka. Memangnya apa kesalahan ibunya, dan kenapa ibunya yang sudah mati harus dibawa-bawa.
"Harusnya aku merobek mulutnya sekalian saja" isak Freya masih dengan wajah yang dibenamkan di atas bantal. Freya menghentikan tangisnya begitu ia mendengar suara pintu dibuka.
Daniel duduk di atas ranjang, tangannya terulur mengusap rambut Freya. Tubuh Freya bergetar begitu merasakan usapan tangan pria itu di kepalanya.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut.
Freya menggeleng.
"Liora mengatakan kau menggoda Erick, kekasihnya."
Freya langsung duduk dari tidur tengkurapnya, ia menatap tajam ke arah Daniel, dan wajah sembab penuh air mata wanita itu membuat Daniel menatapnya iba. Ia tidak menyukai air mata yang keluar dari mata indah wanita di hadapannya itu. Ia lebih menyukai wanita itu marah-marah daripada harus menangis dan terlihat rapuh.
"Lalu kau percaya begitu saja?! Ya, dia adikmu tentu saja kau percaya. Lalu sekarang kau mau apa, hah?!"
"Aku tidak percaya padanya..."
"Jika kau tidak percaya, lalu kenapa kau berbicara seperti itu? Kau dan adikmu tidak ada bedanya, kalian sama-sama pembohong!"
"Maafkan aku"
"Aku bosan mendengar kata maafmu, sekarang aku mengerti kenapa kau selalu mengumbar kata maaf di setiap waktu, ternyata kau tidak lebih dari seorang pembohong, katakan apa alasanmu membiarkanku salah sangka terhadapmu dan juga Will?" Freya melimpahkan kekesalannya pada Daniel. "Dan katakan, kebohongan apa lagi yang kau sembunyikan Daniel? sebaiknya kau katakan sekarang disaat aku mampu menerimanya."
Daniel terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, karena apa yang dikatakan Freya benar adanya, masih ada kebohongan besar yang ia sembunyikan. Alasan ia menikahi Freya.
"Melihat diammu, sepertinya memang masih ada kebohongan yang kau sembunyikan? Aku penasaran kebohongan seperti apa itu, hingga wajahmu pias begitu? Apa ini tentang pernikahan konyol kita? Jika kenyataannya kau pria normal, pasti kau mempunyai alasan kenapa kau bersedia menikahiku begitu saja, bukan?" tebakan Freya tepat sasaran, Freya menelisik wajah Daniel, tapi Daniel menyembunyikan ekspresinya dengan wajah datar, sehingga sulit bagi Freya untuk menebak apa ucapannya itu memberi pengaruh pada Daniel.
"Aku harap kau menikahi bukan seperti yang sering terjadi di dalam drama-drama yang tayang di televisi, menikah hanya karena menginginkan seorang penerus, dan setelahnya membuangnya begitu saja."
Ucapan Freya kali ini benar-benar membuat Daniel tersentak, semua yang dikatakan wanita itu tepat semua.
"Jika memang begitu, urungkan niatmu itu kapten, karena percayalah aku akan membalas semuanya jauh lebih keji dari apa yang kalian lakukan."
"Apa maksudmu Freya?" Daniel menyentuh bahunya. "Aku tahu kau sadang marah, tapi kenapa kemarahanmu hanya berimbas kepadaku, aku akui aku salah karena membiarakanmu salah faham padaku dan juga Will, tapi aku mempunyai alasan untuk itu."
"Lalu katakan alasanmu?"
"Aku tidak ingin kau jatuh cinta padaku."
"Dan itu memang tidak akan terjadi." Freya tersenyum sinis. Baginya sekarang jatuh cinta adalah hal yang tabu, hatinya sudah terlalu hancur dan ia tidak ingin menatnya kembali, karena dengan begitu akan membentenginya, tidak membiarkan orang lain kembali mengusiknya. Sudah cukup baginya dikelilingi oleh para pengkhianat.
"Ya, aku yang terlalu besar kepala."
"Kalau begitu mari kita bercerai." Ya, Freya menginginkan kebebasannya. Ia ingin pergi menjauh dari semuanya, dari orang-orang yang selalu mengusik hidupnya.
Daniel tersentak atas permintaan Freya tersebut, dan entah kenapa ia marah mendengar hal itu.
"Tidak bisa!"
"Kenapa? Aku tidak akan pernah mencintaimu, kau juga demikian, lalu apa yang kau pertahankan dalam pernikahan konyol ini?"
"Katakanlah aku brengsek Freya tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau milikku."
.
.
.
Erick Morgan