Alexander melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan secara detail calon sekretaris barunya.
"Lumayan cantik, tinggi dan kulitnya putih bersih. sepertinya dia tidak membosankan dan enak dipandang." gumam Alex, seraya memperhatikan penampilan Cika yang masuk kategori sekertaris yang diinginkannya.
"Sudah pernah bekerja sebelumnya?"
"Belum tuan, saya baru saja menyelesaikan pendidikan dengan nilai terbaik." Jawab Cika percaya diri.
"Apa pernah tidur dengan pria sebelumnya?"
"Bussyaet, pertanyaan macam apa ini. sabarr....aku harus mengikuti saja perkataan orang aneh ini, demi gaji besar yang ditawarkannya." umpat Cika dalam hatinya, karena pertanyaan ini tidak sesuai dengan profesionalisme pekerjaan.
"Jawab!"
"I...iya belum tuan, saya masih perawan."
"Uuuh lantas bagaimana caramu menyenangkan ku, angkat rok dan baju yang kamu kenakan!"
"Tidak! saya malu tuan."
"Kalau begitu silahkan keluar, kamu saya tolak."
Mendengar hal itu refleks Cika mengangkat rok dan bajunya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat tinggal Alex
Cika melangkahkan kakinya gontai, dia tidak mempunyai harapan lagi. semuanya sudah hancur, Alex begitu membencinya tanpa sedikitpun memberikan kesempatan untuk Cika membela diri.
“Ya Tuhan, haruskah aku menambah dosa lagi dengan membuang janin yang belum terbentuk sempurna ini. Sanggupkah aku menghadapi cemoohan orang-orang dan reaksi ibuku nantinya,” air mata Cika membanjiri kedua pipinya membayangkan masa depannya yang suram.
"Cika, kamu kenapa nak?"
"Ibu, aku sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku hu... hu."
Cika mulai menceritakan permasalahannya sampai dia hamil anaknya Alex, dengan rasa penyesalan dan kesedihan yang mendalam, Cika bersimpuh di kaki wanita yang telah melahirkannya kedunia ini, ternyata semua itu tidak bisa dan mampu mengobati hati sang ibu yang terluka menerima kenyataan pahit tersebut.
“Ibu kecewa, dan gagal menjagamu nak. Ibu tidak berguna dan telah mengabaikan pesan terakhir ayahmu hu...hu... kamu melakukan semua demi ibu, demi kesembuhan ibu hu...hu..." tangis ibu yang menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa sang putri tercinta.
“Tidak, tidak Bu, ini bukan kesalahan ibu hu...hu...ibu tidak perlu menyalakan diri ibu sendiri, bagi Cika kesehatan dan kesembuhan ibu lah yang terpenting, karena hanya ibu yang Cika miliki sekarang." Cika menagis memeluk ibunya.
“Almarhum ayahmu dulu berpesan agar ibu menjagamu dengan baik, karena kamulah harta satu satunya yang kami miliki.” Tangis pilu ibu kembali terdengar menyayat hati.
Meskipun Cika telah menjelaskan pada ibunya, tentang kekhilafan dan alasannya melakukan semua itu, sehingga dia ikut mengambil jalan yang salah. Tapi semua itu tidak bisa mengobati rasa penyesalan dan kekecewaan ibunya.
“Mafkan Cika, Bu."
"Tidak nak, justru ibulah yang seharusnya minta maaf. kamu menderita seperti ini gara-gara ibu."
"Kita harus bagaimana ibu, apa di gugurkan saja calon bayi ini agar dia tidak ikut menagung malu orang tuanya." Ucapan itu terlontar begitu saja, karena kepanikan membuat Cika tidak bisa berfikir jernih lagi, meskipun hati kecilnya idak ingin menambah dosa dengan melenyapkan nyawa calon anaknya yang tidak berdosa.
“Tidak nak, ibu tidak ingin kamu menambah dosa lagi. Besok kita tinggalkan kota ini, dengan pindah kekota dan suasana yang baru. Dimana orang-orang tidak mengenali kita. mulai sekarang luupakan Alex dari hidupmu."
“Baik Bu."
Tidak ada bantahan lagi dari bibir Cika, mungkin dengan pergi jauh dari Alex, dia bisa memulai kehidupannya yang baru.
Notifikasi internet banking masuk, sejumlah transferan gaji terakhir dan kompensasi selama bekerja masuk ke rekening pribadi Cika. gadis itu menatap nanar sejumlah uang dengan jumlah fantastis tersebut.
"Aku akan memakai uang ini untuk bertahan hidup, membesarkan anakku. meskipun ayahmu tidak menginginkanmu, nak. tapi ibu akan selalu menyayangi dan memberikan yang terbaik untukmu kelak." ujar Cika mengelus perutnya yang masih datar.
"Cika, bagaimana jika kita pindah saja ke kota B?"
"Bukankah itu kota kelahiran bapak, tempatnya sangat indah?"
"Ya, kita jual rumah ini dan untuk bekal disana." ibu mengeluarkan sertifikat rumahnya.
"Ibu tidak perlu menjual rumah ini."
"Kenapa nak?"
"Rumah ini menyimpan banyak kenangan, Bu. lagian aku mempunyai tabungan dan pesangon dari Alex, jumlahnya lumayan cukup untuk kita membeli rumah baru dan bertahan hidup beberapa tahun kedepanya." ucap Cika memperlihatkan jumlah saldo dari buku tabungan pribadinya.
"Uang ini sangat banyak nak."
"Iya, aku akan memakai sebagian dari uang ini untuk buka usaha nantinya, aku ingin anakku memiliki masa depan yang cerah." Cika tersenyum membayangkan wajah tampan sang anak kelak, namun senyuman itu kembali memudar ketika kilasan wajah Alex kembali muncul.
"Mudah-mudahan kamu tidak mirip dengan ayahmu nak, mommy ingin sekali melupakan Alexander untuk selamanya. dengan pergi dari hidupnya sejauh mungkin."
"Tega sekali tuan Alex, memperlakukanmu seperti ini nak."
"Dia terlalu cemburu buta sehingga tidak bisa berfikir jernih lagi, saat ini aku ingin melupakan semuanya, ibu. mungkin ini sudah takdirku."
"Iya nak, ibu yakin semua akan baik-baik saja ditempat yang baru."
Selesai mengemasi barang-barangnya, Cika dan ibunya pergi menuju kota B dengan harapan dan kehidupan yang baru.
"Selamat tinggal Alexanderku, semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi. sekarang ataupun di kehidupan yang lain." gumam Cika, mengubur semua kenangan indah mereka dihatinya.