Hidup bagai dalam dunia gelap bagi Rendra, Putra bungsu pak Arif. Aktif di malam hari dan Tidur di siang hari. Tidak ada aktivitas lain kecuali bermain main bersama geng Motor. Itulah kehidupan yang ia jalani karena masa lalu yang membuatnya rapuh. Tak ada manusia yang ia dengarkan bahkan ayahnya sendiri. Hingga suatu saat ia bertemu pembantu yang mampu meluluhkan hatinya. Pembantu bercadar bernama Mardiyah menjadi Pembantu Favoritnya di rumah itu.
Simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Bantu aku
Sisa tiga hari lagi untuk diyah berpikir tentang jawaban lamaran Satria. Diyah benar benar bingung dibuatnya. Bagaimana tidak, diyah bahkan belum berpikir untuk menikah. Apalagi menikah dengan tuan muda seperti Satria, sungguh tak pernah terbayangkan olehnya.
Pagi itu Diyah tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Tiba-tiba Satria datang menyapanya.
"Pagi Diyah.."
"Pagi tuan.." jawab Diyah sedikit kaku. Ia amat terkejut melihat kedatangan Satria yang begitu cepat.
"Oh ya.. bagaimana? apa sudah ada jawaban?" tanya Satria membuat diyah tambah terkejut.
"Belum tuan, maaf ya, sampai sekarang saya juga masih bingung tuan," tutur Diyah sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak pa pa..saya sabar menunggu kok, kamu masih punya waktu untuk berpikir," balas Satria dengan senyuman.
"Terimakasih tuan, kalau gitu saya permisi ke belakang dulu," ucap Diyah dan buru-buru bergegas ke belakang.
Ternyata Rendra tak sengaja mendengar percakapan itu. namun sampai di sini ia belum mengerti apa maksud perkataan Satria tadi.
"Jawaban? jawaban apa sih?" batin Rendra yang merasa aneh dengan kata kata kakaknya itu. Namun Rendra tak mau ambil pusing dengan percakapan yang ia dengar itu. Ia berpikir mungkin ini tidak terlalu penting.
*
Pagi itu, Bu Sinta mencoba berbicara pada Rendra yang sedang bersantai di tepian kolam. Bu Sinta tampak sedikit gemetar untuk berbicara dengan anak tirinya.
"Mama mau bicara, apa mama boleh duduk di sini?" sapa Sinta seraya izin ingin duduk di sebelah Rendra.
"Bukankah ini rumah anda? kenapa harus izin? kamu sudah merebut semuanya, jadi jangan sok alim meminta izin untuk duduk padahal anda tidak izin untuk merampas semuanya," ucap Rendra tanpa menatap Sinta. Wajahnya terpasang dingin jika berhadapan dengan mama Sinta.
Namun Sinta menghela nafas, ia seolah telah maklum dengan sifat Rendra itu. Mama Sinta pun duduk di sebelah Rendra.
"Apa dendam mu belum terkikis Nak? sudah lebih setahun, kejadian itu telah lama, apa lagi yang harus mama lakukan untuk mendapatkan maaf dari kamu," tutur mama Sinta dengan nada yang lembut.
"Apa kamu bisa mengembalikan ibu saya?"
"Nak...jika ada suatu hal yang bisa mama lakukan untuk menebus masa lalu, mama akan lakukan itu," lanjut Sinta.
"Hh...anda sudah menang, tidak perlu melakukan banyak hal lagi, pembunuh!" ucap Rendra yang tak main main dengan kata katanya.
"Astaghfirullah nak..tolong jangan ucapkan kata itu lagi, mama pun takut mendengarnya, berkali kali mama jelaskan kalau itu adalah sebuah kecelakaan, mana mungkin mama sengaja menabrak ibu kandungmu yang sudah menjadi sahabat lama mama, itu musibah nak, dan bukankah kamu pun tau bahwasanya almarhumah ibumu lah yang mewasiatkan agar aku dan ayahmu menikah, itu bukan kemauan mama nak, mama hanya ingin melakukan yang terbaik sebagai bentuk rasa bersalah mama," jelas Sinta panjang lebar.
Rendra tersenyum sinis, "Bisakah semua tahanan di penjara mengatakan kalau mereka tak sengaja lantas mereka di bebaskan? nggak kan? jadi berhentilah mengatakan itu di hadapan saya!"
"Mama hanya ingin menjadi ibu yang terbaik buat kamu, mama tau sampai kapan pun mama tidak akan bisa seperti ibu kandung mu, tapi setidaknya mama ingin menjadi ibu yang baik buat kamu nak," tutur Sinta dengan lembut.
"Bisa pergi nggak! saya terganggu!" tegas Rendra
"Tapi nak.."
"Pergi!!" bentak Rendra dengan nada yang cukup keras. Mama Sinta pun pergi tanpa hasil. Rendra masih saja tak berkurang dendamnya.
Diyah yang baru tiba mendengar akhir pembicaraan Rendra dan Bu Sinta. Namun Diyah tak mendengar semuanya. Ia hanya mendengar saat Rendra mengusir mama tirinya.
Diyah kemudian menemui Rendra di tepian kolam itu. "Mas Ren...apa pun alasannya, harusnya mas Rendra itu jangan kasar sama nyonya Sinta, bagaimana pun juga kan dia itu orang tua," tutur Diyah mencoba berbicara pelan.
"Diyah..kamu nggak akan paham perasaan saya,"
"Saya memang nggak paham mas, tapi saya paham kalau kita tidak boleh berkata kasar sama orang tua," tutur Diyah
"Itu kalau orang tuanya baik, kamu kenapa sih selalu saja berpihak sama dia!" tegas Rendra dengan ketus. Tanpa sengaja ia telah berbicara keras pada Diyah.
Diyah pun terdiam mendengar jawaban keras itu.
"Maaf maaf.. aku nggak sengaja bentak kamu," ucap Rendra saat ia tersadar telah menyinggung perasaan diyah.
"Saya heran deh sama mas Rendra, pantas hidupnya nggak pernah tenang, di hati mas itu banyak dendam, saya emang nggak tau apa permasalahannya, saya cuma mau kasih saran mas, hati hati nanti mas sakit karena penyakit dendam di hati mas akan membuat hidup tidak tenang," tegas Diyah sebelum ia pergi. Ia merasa kesal karena Rendra tak henti berkata kasar pada Ibu tirinya.
"Segitu doang? apa kamu tidak mencoba menyembuhkan dendam di hati saya? apa kamu tidak mencoba membebaskan saya dari perasaan tidak tenang ini?" pertanyaan Rendra menghentikan langkah Diyah.
Diyah pun berbalik badan dan menatap serius. "Bagaimana mungkin saya mencoba membantu sedangkan mas Ren aja tidak ingin terlepas dari dendam itu," tegas Diyah
"Saya bukannya tidak mau, hanya saja itu pasti sangat sulit, tapi bukan berarti tidak bisa kalau kamu mau membantu saya," lanjut Rendra. Diyah pun semakin tak mengerti dengan maksud tuan muda yang tiba-tiba ingin terlepas dari dendam.
"Kenapa harus saya?"
"Karena cuma kamu satu satunya yang saya dengarkan saat ini," balas Rendra menatap Diyah yang kini mengalihkan pandangannya.
Diyah terdiam sejenak mendengar jawaban Rendra itu.
"Jadi tolong bantu saya diyah, apa kamu tidak kasihan dengan hidup saya yang hanya berputar di sini saja,"
"Saya tidak terlalu mengerti dengan perkataan mas Rendra, tapi kapan pun mas Rendra butuh, saya siap untuk membantu," ucap Diyah. Kini ia mencoba meluangkan waktunya untuk selalu ada membantu di saat Rendra butuh.
**
Langkah pertama untuk membantu Rendra, Diyah ingin tau akar dari permasalahan, memang ini pasti bersifat pribadi. Namun diyah perlu tau sebab dari permasalah ini.
Kini Rendra sengaja membawa Diyah keluar berjalan jalan kaki mengelilingi komplek.
Sembari berjalan keduanya mengobrol.
"Maaf kalau saya lancang mas, kenapa sih mas Ren itu benci sama Bu Sinta?" tanya Diyah yang berjalan satu meter di samping Rendra.
"Jangan sungkan untuk bertanya diyah, kamu boleh tau semua tentang saya.. SEMUA...bahkan sampai hal pribadi pun kamu boleh tau, karena kamu adalah teman terbaik saya," ucap Rendra tersenyum menoleh ke samping.
"Teman terbaik?"
"Iya.. kita kan teman, atau kamu mau lebih dari itu? seperti pacaran, mau?"
"Astaghfirullah...kayaknya pembicaraan kita udah mulai nggak nyambung ya mas, saya pulang aja deh,"
"Et..et..jangan jangan...iya iya..kali ini saya serius," balas Rendra yang kemudian mencoba berbicara lebih serius.
it is so cute 😭
ta bantu doa
tapi saya suka gayamu Rend 💪