" Aku mencintaimu, Adibah." Reza.
" Stop mengatakan cinta padaku, Reza. Kamu itu adalah suami adikku!" Adiba.
Aisyah tanpa sengaja mendengar pernyataan yang sangat begitu amat menyakitkan hatinya mendengar suaminya menyatakan cinta kepada kakaknya sendiri.
lalu bagaimana dengan perasaan Aisyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
" Kok Mas Reza gak menghubungi aku sih? Mas Reza gak kenapa-napa 'kan, Ya?" Aisyah cemas, dia mondar-mandir sambil memegangi hp nya menunggu telpon atau pesan wa dari suaminya yang belum kunjung datang.
Aisyah kembali melihat layar hp nya, " apa aku hubungi aja kali ya?" Aisyah berpikir." Hubungi aja lah daripada cemas kayak gini." Kemudian Aisyah pun mencari kontak suaminya yang ia tulis 'sayangku' di HP tersebut.
Tut ... Tut ...
" Kok nggak aktif sih?" Semakin cemas saja Aisyah dibuatnya ia pun kembali menghubungi nomor tersebut.
" Ya Allah, kok nggak bisa dihubungi sih, semoga suamiku nggak apa-apa." Aisyah pun menjadi tidak tenang lantaran tidak ada kabar dari suaminya itu padahal dirinya tadi sudah berpesan jika sudah sampai kantor harus segera menghubungi dirinya. Tapi suaminya malah tidak memberi kabar sama sekali sehingga pikiran buruk terjadi sesuatu pun terlintas di benaknya.
Aisyah menggigit kuku di jari telunjuknya iya duduk di sofa dengan kaki menyilang namun pikiran dan hatinya melayang kemana-mana. Gadis itu terus saja menghubungi suaminya walau sudah mengetahui jika nomor HP suaminya sedang tidak aktif.
Aisyah melupakan satu hal bahwa Reza sudah mengatakan jika dirinya ada meeting penting pagi ini. Karena rasa gelisah dan kekhawatiran yang berlebihan sehingga wanita itu melupakan fakta tersebut, ia terus saja mondar-mandir seperti setrikaan panas.
***
Sementara itu orang yang tengah dikhawatirkan oleh Aisyah Dia sedang duduk di ruangannya sambil menyiapkan dokumen-dokumen yang hendak ia bawa untuk meeting penting begini.
" Adiba, ke ruangan saya sekarang." Perintah Reza melalui telepon kantor menghubungi Adibah sekretarisnya.
" Baik Pak," jawab Adiba kemudian Reza kembali meletakkan teleponnya lalu ia kembali sibuk menyiapkan dokumen-dokumen yang harus dibawa.
Tok ... Tok
" Masuk," kata Reza sudah bisa menebak siapa yang mengetuk pintu.
" Ada yang bisa saya bantu Pak?" Kata Adiba, ia sudah berdiri tepat di hadapan meja reza ia dapat melihat atasannya itu sedang membuka dokumen yang entah apa isinya, Adibah tidak tahu.
" Tolong bantu saya bawa semua ini, kita pergi meeting sekarang jangan sampai Pak direktur menunggu kita," kata Reza sambil memberikan beberapa dokumen pada Adiba.
" Saya ikut meeting juga Pak?" Tanya Adiba, walaupun mereka adalah keluarga tetapi di kantor mereka tetap atasan dan bawahan sehingga hubungan keluarga pun tidak dibawa-bawa.
Mereka bekerja profesional sekali.
" Tentu saja, kamu sekretaris saya kan? Biasanya juga begitu," heran Reza lantaran masih dipertanyakan lagi.
" Iya ... tapi kan saya baru saja masuk hari ini Pak, jadi saya tidak tahu pembahasan apa untuk meeting kali ini." Masuk akal sih sebenarnya, tapi Reza tetap ingin Adibah ikut bersama dirinya.
" Tidak usah banyak tanya, kamu cukup diam berdiri di belakang saya nantinya. Lagi pula sekretaris pengganti kamu sudah kembali ke cabang jadi mau tidak mau kamu harus tetap ikut saya," ucapnya tanpa mau mendengar bantahan.
Adiba menghela nafasnya panjang sambil mengambil beberapa dokumen di meja Reza. Ia tampak gugup lantaran hampir beberapa bulan ia tidak masuk kerja. Dan pagi ini malah ikut meeting penting bahkan dengan Pak direktur bagaimana dirinya tidak gugup.
" Kamu nggak apa-apa? Wajah kamu pucat." Tanya Reza saat mereka sudah berada dalam lift menuju ruangan Pak direktur.
Reza melihat wajah Adiba begitu pucat ia pun menjadi khawatir.
" Aku tidak apa-apa jangan khawatir, ini karena aku terlalu gugup." Jawab adik mbak jujur makan saat ini ia pun berkeringat dingin.
Reza yang khawatir tadi langsung tertawa mendengarnya, begitu gugupnya sampai wajah pucat sungguh lucu sekali. Bahkan Reza sampai tidak ingat untuk menghubungi istrinya bahkan hp-nya saja belum sempat ia nyalakan. Laki-laki itu masih belum terbiasa rupanya, jika tidak diingatkan dirinya tidak bakalan ingat tentang istrinya di rumah.
Ting ...
Pintu lift terbuka, saat Adibah hendak melangkah keluar dari lift tiba-tiba sepatu haknya tersandung sehingga gadis itu hendak terjatuh tapi untungnya tidak jadi lantaran ada sebuah tangan yang memegangnya tangannya.
" Adiba kamu tidak apa-apa?"
Assalammu'alaykum