NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3.

## **Bab 3: Di Bawah Hidung Musuh**

Fajar di kota Tanjungbalai tidak pernah benar-benar tenang. Suara bising knalpot motor kurir yang saling bersahutan adalah lagu kebangsaan bagi mereka yang hidup di garis bawah. Arka berdiri di depan cermin retak di kamarnya, merapikan kerah jaket oranyenya yang masih terasa lembap. Matanya merah karena kurang tidur, tapi tatapannya secerah kilat. Semalam, ia tidak hanya bermimpi; ia sedang memetakan reruntuhan sebuah kerajaan.

Sistem di kepalanya berdenyut lembut, memberikan aliran informasi yang kini mulai ia kuasai.

**[Status: Sinkronisasi 100%.]**

**[Mode: Infiltrasi Data Aktif.]**

"Target hari ini: Skyview Mall," gumam Arka.

Bagi penduduk Tanjungbalai, Skyview Mall adalah simbol kemewahan. Sebuah monumen kaca dan baja setinggi dua belas lantai milik Wijaya Group. Namun, di mata Arka, gedung itu hanyalah sebuah organisme yang sedang sakit. Laporan keuangan yang ia peroleh dari celah siber semalam menunjukkan bahwa mall itu adalah "lubang hitam" yang perlahan menyedot likuiditas keluarga Wijaya.

Arka menyambar kunci motor Supranya. Ia tidak punya modal miliaran, tapi ia punya satu hal yang tidak dimiliki detektif swasta mana pun: seragam kurir. Seragam ini adalah "jubah gaib"-nya. Di gedung semegah apa pun, seorang kurir adalah sosok yang tidak terlihat. Orang-orang melihat paketnya, bukan wajahnya.

---

Arka memarkir motornya di area bongkar muat Skyview Mall yang pengap. Bau asap knalpot bercampur dengan aroma sampah organik dari *food court* yang menumpuk. Ia memegang sebuah paket kosong dengan label alamat palsu menuju departemen humas di lantai tujuh.

Saat ia melangkah melewati gerbang sekuriti, sensor di matanya mulai bekerja. Garis-garis biru transparan memetakan setiap sudut.

**[Analisis Limbah: Volume sampah 30% di atas kapasitas angkut. Indikasi: Kontrak pengelolaan limbah dikorupsi oleh pihak internal.]**

**[Analisis Infrastruktur: Retakan struktural pada pilar B-14 tertutup cat baru. Risiko: Biaya renovasi tersembunyi Rp 15 Miliar.]**

Arka terus berjalan, wajahnya menunduk, namun otaknya merekam segalanya. Ia melewati lobi utama yang berlapis marmer Italia. Di sana, ia melihat kerumunan staf pemasaran yang sedang tampak tegang.

"Pastikan semuanya sempurna!" suara yang sangat ia kenal menggema di lobi. "Tuan Rian akan datang sepuluh menit lagi untuk inspeksi mendadak. Jika ada satu noda saja di lantai ini, kalian semua kehilangan bonus!"

Arka membeku. Itu suara Sarah.

Ia menoleh sedikit, melihat Sarah berdiri di tengah lobi dengan setelan kerja formal berwarna krem yang sangat pas di tubuhnya. Ia tampak berwibawa, jauh berbeda dari gadis yang dulu sering menunggunya di depan gang kontrakan dengan daster lusuh. Sarah kini adalah bagian dari mesin yang ingin menghancurkannya.

Sarah sedang memarahi seorang petugas kebersihan, tangannya menunjuk-nunjuk lantai dengan kasar. Ada gurat kecemasan di wajahnya, seolah posisinya saat ini adalah sebuah panggung yang sangat rapuh dan ia takut terjatuh.

**[Analisis Ekspresi: Mikro-tremor pada tangan kiri. Tingkat stres: 88%. Subjek berada di bawah tekanan target yang tidak realistis.]**

Arka merasa dadanya berdenyut pedih, bukan karena cinta yang tersisa, tapi karena ironi. Sarah membuang kebebasannya hanya untuk menjadi budak yang ketakutan di bawah bayang-bayang Rian Wijaya.

"Kurir! Hei, kau!"

Suara Sarah tiba-tiba mengarah padanya. Arka segera menarik tudung jaketnya lebih rendah, menundukkan kepala sedalam mungkin hingga hanya dagunya yang terlihat.

Sarah berjalan menghampirinya dengan langkah cepat yang berbunyi *tuk-tuk* nyaring di atas lantai marmer. "Paket untuk siapa itu? Kenapa lewat lobi utama? Lewat lift barang di belakang! Kau merusak estetika ruangan ini!"

Arka tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan paket kosong itu dengan tangan yang sedikit sengaja ia buat gemetar—akting seorang kurir yang ketakutan.

Sarah mendengus muak, aroma parfum mahalnya menusuk hidung Arka. "Miskin dan bodoh. Pantas saja selamanya jadi kurir," gumam Sarah pelan, cukup untuk didengar Arka sebelum ia berbalik membelakangi pria itu.

Arka menarik napas panjang, menahan diri agar tidak tertawa getir. *Jika kau tahu siapa di balik jaket ini, Sarah, kau tidak akan bicara soal estetika.*

---

Arka bergegas menuju lift barang. Di dalam lift yang pengap itu, ia dengan cepat mengeluarkan sebuah perangkat kecil—hasil rakitannya semalam dari komponen barang bekas Bang Jago. Ia menempelkan alat itu pada panel kontrol lift.

**[Mengunduh Data Log Parkir...]**

**[Mengunduh Data Okupansi Tenant...]**

Data mengalir deras ke ponsel retaknya. Arka menemukan apa yang ia cari: manipulasi data parkir. Keluarga Wijaya melaporkan mall ini selalu penuh untuk menjaga harga saham, padahal kenyataannya 40% area parkir kosong setiap hari. Ini adalah penipuan publik yang masif.

Tiba-tiba, pintu lift terbuka di lantai tujuh.

Arka terkejut saat melihat Rian Wijaya berdiri di sana, didampingi oleh dua pengawal bertubuh besar. Rian tampak sedang menelepon, wajahnya merah padam.

"Aku tidak peduli! Tutup lubang hutang itu dengan aset dari panti asuhan di pinggiran kota! Gusur saja tempat itu, harganya lumayan kalau dijadikan gudang logistik!" bentak Rian ke ponselnya.

Arka merasakan darahnya mendidih. Panti asuhan? Itu adalah tempat tinggalnya dulu, satu-satunya tempat yang ia anggap rumah. Rian ingin menghancurkan sejarahnya demi menutupi kegagalannya mengelola mall ini?

Rian melirik ke arah Arka yang masih berdiri di dalam lift. Ia menutup teleponnya dan menatap Arka dengan jijik, seolah-olah Arka adalah kotoran yang menempel di sepatunya.

"Woi, Kurir! Keluar! Kau menghalangi jalan!" bentak Rian.

Arka melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Saat melewati Rian, bahu mereka bersenggolan sedikit.

"Brengsek! Jaketmu kotor!" Rian mendorong bahu Arka dengan kasar hingga Arka terbentur dinding lorong. "Lihat jas-ku! Harganya lebih mahal dari nyawamu dan seluruh keluargamu!"

Rian mengeluarkan sapu tangan, mengusap bekas sentuhan Arka seolah-olah ia baru saja terkena wabah. Ia tidak mengenali Arka. Baginya, semua kurir berwajah sama: sampah masyarakat yang bisa ia injak kapan saja.

"Maaf, Tuan... maaf," ucap Arka dengan suara yang ia serakkan.

"Pergi sana! Sebelum aku menyuruh sekuriti mematahkan kakimu!"

Rian melangkah masuk ke lift dengan angkuh. Pintu lift tertutup.

---

Arka berdiri di lorong yang sunyi, menatap pintu lift yang tertutup. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit di bahunya akibat dorongan Rian tidak sebanding dengan kemarahan yang membakar jiwanya.

**[Peringatan: Detak Jantung 120 bpm. Disarankan Tetap Tenang untuk Optimasi Strategi.]**

"Aku tenang, Sistem," bisik Arka. "Sangat tenang hingga aku bisa merasakan saat-saat kehancuran mereka."

Ia berjalan menuju tangga darurat, meninggalkan paket kosong itu di tempat sampah. Ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Data log parkir, data kerusakan struktur, dan yang paling penting: rencana busuk Rian terhadap panti asuhan.

Arka kembali ke motornya, memacu kendaraan butut itu menjauh dari Skyview Mall. Di kepalanya, sebuah rencana besar mulai terbentuk. Ia tidak akan langsung menyerang dengan uang—ia belum punya cukup. Ia akan menyerang dengan **informasi**.

Sesampainya di sebuah warnet kecil yang remang-remang, Arka mulai mengetik. Jarinya menari di atas *keyboard* tua yang berisik.

Ia tidak mengirimkan data itu ke polisi—polisi bisa dibeli oleh Wijaya. Ia mengirimkan data retakan struktur dan manipulasi parkir itu ke sebuah alamat email anonim milik **Elina Clarissa**, rival bisnis terbesar keluarga Wijaya yang dikenal sebagai "Wanita Besi" di dunia properti.

"Musuh dari musuhku adalah temanku," gumam Arka.

Ia tahu Elina tidak akan langsung percaya. Tapi data yang ia kirimkan begitu presisi hingga mustahil untuk diabaikan. Arka sedang menanam bom waktu di jantung Skyview Mall, dan ia hanya perlu menunggu seseorang menyalakan sumbunya.

Malam itu, Arka kembali ke panti asuhannya. Ia melihat anak-anak kecil sedang belajar di bawah lampu neon yang berkedip. Ia memandangi wajah Ibu Panti yang sudah tua dan lelah.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh tempat ini," janji Arka pada dirinya sendiri.

Ia meraba saku jaketnya, merasakan uang hasil jualan timbangan digital tadi siang. Uang itu terasa berat, sebuah beban tanggung jawab. Arka sadar, perjalanan ini bukan lagi soal memamerkan kekayaan pada Sarah. Ini soal melindungi apa yang berharga dan menghancurkan keangkuhan mereka yang merasa bisa membeli dunia dengan uang haram.

**[Sistem: Pesan dari Elina Clarissa Terdeteksi. Subjek: 'Siapa Anda?']**

Arka menatap layar ponselnya. Senyum tipis muncul di wajahnya yang letih.

"Aku? Aku hanyalah arsitek dari kiamat kecilmu, Rian."

---

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Cut Founna: siap💪
total 1 replies
Cut Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Cut Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Cut Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!