IG : Srt_tika92
Adrian Putra Haidar adalah Pria tampan berprofesi sebagai sutradara terkenal, dia pria yang memiliki banyak kekasih. Tidak sedikit wanita yang mengejarnya demi popularitas.
Dunianya berubah saat menikahi gadis cantik akan kesederhanaan nya yaitu Elsa yang baru di kenalnya. Pernikahannya terjadi karena suatu kesalahan.
Akankah pernikahan mereka berjalan semestinya?
Apakah cinta akan tumbuh di antara mereka?
Ini karya ke 2 ku
Baca juga karya pertama ku yang berjudul Cinta Pertama Ceo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 makan siang bersama
Hingga jam makan siang, restoran Umar masih ramai dengan pengunjung bahkan ada beberapa yang mengantri untuk mendapatkan tempat duduk.
Karin pun ikut sibuk melayani pesanan para pelanggan. Disela kegiatannya, Umar melihat antusias Karin yang rela membantunya, dia sangat bersyukur bisa mengenal Karin. Pertama melihat Karin, dia pikir Karin adalah wanita kaya pada umumnya. Tapi setelah mengenal Karin lebih dekat, Karin sangat berbeda jauh dari apa yang dia pikiran dulu.
Jam makan siang sudah berlalu satu jam yang lalu. Restoran sudah terlihat agar sepi, tinggal beberapa meja saja yang masih terisi.
" Rin, kita makan siang dulu yuk. " Umar menghampiri Karin yang duduk di balik meja kasir, terlihat jelas di wajah cantiknya yang begitu lelah.
" Ayok.. " seru Karin bersemangat, karena dia bisa berduaan dengan Umar.
" Mau makan apa? " tanya Umar.
" Salad aja. " jawab Karin.
" Siang-siang mau makan salad? emang kenyang Rin? " Umar.
" Hehehe... aku lagi diet ayang beb, biar tetep seksehhh.. " Karin tergelak.
" Tapi ntar sakit loh.. udah capek bantuin aku, tapi asupan makanannya kurang ntar lemes. " Umar
" Emm.. tapi kalo aku gendut gimana? ntar kamu gak cinta lagi ama aku. " gerutu Karin.
Umar terkekeh, " Gak lah Rin, mau gemuk, mau kurus, aku tetep cinta ama kamu. "
" So sweat... yaudah deh aku pengin ayam bakar, tapi makannya di suapin ama kamu yak. "
" Gak malu Rin, udah gede minta di suapin? "
" Ikh ayang beb gak romantis banget deh.. " Karin mengerucutkan bibirnya.
" Iya.. iya.. aku suapin. " Umar mencubit kecil hidung Karin.
" Asyikk.. " sorak Karin kegirangan.
Karin dan Umar menikmati makan siang nya terpaksa di dalam mobil Karin, karena permintaan Karin yang ingin makan di suapin oleh Umar, tidak mungkin jika mereka makan di tempat terbuka dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
" Aaa.. " Karin membuka mulutnya lebar untuk menerima suapan dari Umar. " Ayang, enak banget ayamnya.. "
" Iya dong, kan menu restoran aku memang enak-enak. " Umar.
" Hehe.. iya sih, makanya rame terus ya. " ucap Karin. " Ayang beb, kenapa gak sewa ruko sebelah kanan sekalian biar tampah luas tempatnya. " saran Karin. Mulutnya sambil mengunyah suapan demi suapan yang Umar berikan.
" Iya, rencananya sih begitu. lagi coba hubungin pemilik rukonya. " jawab Umar. Umar memang sudah berniat untuk menyewa sebuah ruko yang tepat berada di sampingnya untuk memperluas agar saat ramai pelanggan tidak perlu mengantri lagi untuk mendapat meja.
" Terus gini ayang beb, apa gak pengin buka catering? siapa tau banyak peminatnya, apalagi masakannya gak di ragukan lagi. " saran Karin.
" Iya juga ya, boleh tuh ide kamu. " jawab Umar. " Aaa.. " Umar kembali menyuapi Karin. " Nanti deh aku bikin brosur buat di sebar. "
" Aku aja yang bikinin, kamu tinggal Terima beres. " saut Karin.
" Beneran Rin gak ngrepotin? " tanya Umar.
" Gak lah, cuma bikin itu doang. " jawab Karin tersenyum lebar. " Kamu juga makan dong. "
" Iya.. iya aku makan nih.. "
" Apa mau aku suapin? " tawar Karin.
" Gak usah deh, aku udah gede.. bisa sendiri. "
" Yahh.. padahal aku pengin nyuapin kamu. " ucap Karin dengan wajah yang cemberut.
" Ya udah nih, aku sih seneng seneng aja di suapin kamu. " Umar memberikan piring yang berisi nasi dan ayam bakar.
Karin menerimanya dengan senang hati, tapi saat ingin mengambil nasi dengan tangannya, Karin berhenti melihat kuku-kuku panjangnya yang lengkap dihiasi nail art, lalu menatap ke arah Umar.
Umar pun terkekeh, " Tuh kan, udah aku bilang aku bisa makan sendiri.. " Umar mengambil lagi piringnya.
" Besok-beaok kalo aku mau ketemu ama kamu, aku potong kuku dulu deh.. hehe.. " Karin.
Mereka kembali menikmati makan siangnya.
Karin menunggu Umar untuk berpamitan kepada yang lain. Tadi saat makan siang, Umar mendapat kabar dari pemilik ruko sebelah restoran Umar yang bersedia menyewakan ruko nya.
Dan mereka bertemu janji hari itu juga di sebuah cafe yang tidak jauh dari lokasinya sekarang.
" Asalamualaikum mas Umar, " sapa Aisha yang melihat Umar di depan ruko.
" Waalaikumsalam Aisha. " jawab Umar.
" Mau kemana mas? tumben jam segini mau pulang. " Aisha.
" Iya, saya ada perlu di luar. "
" Oh.. boleh ganggu sebentar, tadi Umi minta tolong buat panggilin mas Umar. " ucap Aisha menyampaikan pesan dari Uminya.
" Ada apa ya Umi panggil saya. " Umar.
" Itu.. mau minta tolong pasangin lampu. " jelas Aisha.
Dari dalam mobil Karin begitu kesal melihat Umar dan Aisha asik mengobrol, Karin bisa melihat tatapan Aisha yang terlihat berbeda pada Umar.
Dengan cepat Karin membunyikan klakson mobilnya beberapa kali untuk menarik perhatian Umar agar cepat masuk.
Umar yang mendengar bunyi klakson mobil Karin segera mengakhirinya obrolan mereka.
" Aisha, kamu bisa minta tolong pada Yadi di dalam, dia gak sibuk kok. Saya lagi buru-buru maaf ya. Assalamualaikum.. "
" Walaikumsalam.. " Aisha menatap kepergian Umar yang masuk ke sebuah mobil merah yang terparkir di depan ruko. " Mas Umar sama siapa? "
" Lama amat! " ketua Karin saat Umar sudah masuk dan duduk di bangku kemudi.
" Sorry Rin, tadi Aisha minta bantuan. " ucap Umar.
" Minta tolong apa dia? "
" Pasangin lampu. " jawab Umar santai sembari menyalakan mesin mobil.
" Whatt!! pasangin lampu? gak salah? " ucap Karin terkejut.
" Tadi udah aku suruh minta tolong ama Yadi "
" Kamu jangan deket-deket ama dia, kayanya naksir tuh ama kamu. " gerutu Karin.
Umar tersenyum ke arah Karin. " Kamu cemburu? tenang aja hati ku cuman buat kamu kok. "
" Gombal! awas saja kalo kamu selingkuh! "
" Astaghfirullah! gak mungkin lah Rin. "
" Baguslah.. kalo kamu macem-macem aku obrak abrik kamu. " ancam Karin.
" Iya.. iya.. "