Kisah ini menceritakan tentang Adela Putri Wijaya (19) yang sebelum pendakian bersama teman-temannya ke salah satu Gunung, merasa hidupnya baik-baik saja dan tentram. Namun, setelah itu banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi hingga membuat penyakit jantung bawaan dari lahirnya sering kambuh.
Adel sering disapa seperti itu, bertekad untuk mengungkap semuanya sebenarnya siapa dibalik kejadian janggal yang terjadi dalam hidupnya.
Bersamaa dengan hal itu, Adel juga bertemu dengan Tomi Bagus Alamsyah dokter baru yang memiliki wajah tampan yang membuatnya merasakan cinta pada pandang pertama. Tapi siapa sangka umurnya terpaut jauh dari Adel.
***
"Dokter, nikah yuk!"
"Saya nggak suka bocil."
"Tapi aku suka sama dokter, gimana dong?"
"Yaudah nikahin aja dokter yang lain. Masih banyak kok, dokter yang jomblo di rumah sakit ini."
"Ih, maksud aku dokter Tomi. Aku maunya nikah sama Dokter Tomi."
"Maaf bocil, saya nggak denger ucapan kamu. Tiba-tiba kuping saya budeg."
"Yah, dokter Tomi jangan pergi!"
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asazya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Apa yang terjadi pada Dea?
Seorang lelaki nampak santai duduk di depan rumahnya menatap langit malam, dia mengihirup aroma kopi yang tersaji di tangannya. Sesekali dia tersenyum, menyapa tetangga yang lewat. Rumahnya memang terdapat di kawasan perkampungan yang jauh dari jalan raya, walaupun begitu dia terlihat nyaman.
Drt. Drt. Drt.
Ponsel jadul miliknya berdering tanda ada telepon masuk, dia menyimpan kopinya lalu mengambil ponsel yang disimpan di meja.
"Halo boss?"
"Siap untuk rencana selanjutnya?"
"Selalu siap boss!"
"Oke saya tunggu lusa hasil kerja kamu!"
Lelaki berumur 25 tahun itu tersenyum, kemudian menaruh ponselnya kembali. Dalam hati dia berkata, lumayan ada job.
"Mau kemana lo?" tanyanya saat sang adik keluar dari rumah jam segini, dengan pakaian lebih santai dan rapih. Tidak biasanya, ia melihat adiknya seperti ini.
"Main," balasnya dengan nada datar.
"Tumbenan rapih bener, mau ketemu cewek lo? Ada duit kaga?" sang kakak kembali bertanya.
Cowok yang bernama lengkap Adnan Mahendra itu menatap adiknya yang terdiam dengan tatapan tajam.
"Gue nggak butuh duit lo!"
Adnan tertawa. "Yakin? Selama ini yang biayain lo makan, sekolah siapa? Lo pikir itu bukan duit gue?"
"Gue nggak pernah minta, gue juga udah males sekolah!"
"Dit, gue nggak masalah lo nggak naik kelas berapa kalipun, gue mau lo punya masa depan yang lebih cerah dari gue. Gue berusaha buat yang terbaik, gue harap lo bisa sadar!" kata Adnan, sesungguhnya dia tidak mau Adit-sang adik-menjadi seperti dirinya, tidak punya pekerjaan tetap, masa depan suram dan tidak punya izajah. Tentunya, Adnan sekarang menyesal.
"Nih, gue ada duit seratus rebu lumayan buat makan bareng cewek, traktir bakso atau apalah." Adnan mengangsurkan uang satu lembar seratus, dia ingin Adit menjadi selayaknya lelaki normal memiliki pacar atau ngedate dengan teman dekatnya. Karena dari dulu, Adnan perhatikan adiknya tidak pernah terlihat jalan bersama pasangannya atau dekat dengan perempuan.
Meski sempat menolak Adit tetap mengambil uang itu, lalu dimasukan ke dalam kantong celananya.
"Jangan kelayapan kemana-mana apalagi berantem kaga jelas! Lo harus sayang badan Dit, jangan sampe kayak gue!" pesan Adnan saat Adit berjalan menuju motornya.
Adnan menatap kepergian Adit dengan tatapan sedih. Adit adalah satu-satunya keluarga serta teman yang selama ini menemaninya. Keluarga mereka sudah hancur dari kecil. Ayah dan ibu memilih keluarga baru, hingga tega mengabaikan kedua anaknya. Sebenarnya, mereka sempat diberikan pilihan untuk ikut ayah atau ibu, tapi Adnan yang dulu berusia 15 tahun mengambil keputusan untuk tidak ikut keduanya dan tidak mau sekolah lagi. Adnan memilih jalan hidup dengan bekerja keras sendiri, dari jalan ke jalan untuk menghidupi dirinya dan adiknya. Sengaja Adnan tidak pernah menerima pemberian dari orangtuanya, semoga mereka sadae jika hal itu adalah bentuk kekecewaan akan keputusan mereka berdua.
***
Setelah bermain hampir seharian di Puncak, sekitar pukul 16.15 Tomi memutuskan untuk pulang karena takut kemalaman di jalan. Meski piknik kali ini rasanya berbeda sebab ditemani Kayla dan Adel, Tomi tetap bahagia karena Kiki yang super aktif, anak itu nampak sangat bahagia. Bermain di kebun teh, foto, naik perahu bahkan berniat ingin berenang, namun karena tidak membawa baju lebih terpaksa diurungkan.
Namun, berbeda dengan perasaan yang dirasakan oleh Adel. Dia hanya diam saat mantan keluarga itu tertawa bahagia. Bahkan Adel sempat kesal karena ada satu pengunjung menyangka Adel adalah anak sulung dari Dokter Tomi dan Kayla. Adel tidak memungkiri kalau dirinya memang imut dan masih seperti anak SMP, tapi ya tidak begitu juga. Ibu-ibu itu so tau sekali.
Tomi sudah mengantarkan Kayla dan Kiki sampai tujuan, giliran mengantarkan Adel ke rumahnya. Hari sudah hampir larut, Tomi mengajak Adel untuk mampir makan tapi ditolak mentah-mentah.
"Masih aja marah," kata Tomi mengamati Adel yang terdiam terus. "Saya harus gimana?"
Adel yang sedang cemberut, menoleh ke arah Dokter Tomi. "Adel masih kesel sama ibu-ibu itu!"
"Kan saya udah bilang sama si ibunya, kamu bukan anak saya tapi calon istri. Apa kurang?" tanya Tomi heran dengan Adel.
"Tapi Dokter nggak bilang kalau Mba Kayla itu mantan istri Dokter. Kalau dia nyangka Adel bakal dijadiin istri kedua gimana?" Adel berspekulasi berlebihan, membuat Tomi memijat keningnya ternyata Adel lebih sulit diberi pengertian dari Kiki. Anak itu sekalinya diberi mainan pasti langsung lupa masalah yang membuatnya badmood.
"Duh, Del kenapa harus dijelasin? Kita kan nggak bakal ketemu lagi sama si ibunya."
"Kata siapa? Kalau ketemu lagi gimana?"
"Yaudah sih, peduli amat sama orang lain yang penting saya dan kamu tetap menikah dan anggapan si ibu itu udah diralat," kata Tomi mencoba agar Adel mengerti.
Adel mencubit tangan Tomi. "Sebel! Nggak pengertian banget!"
"Aw!" Tomi meringis cubitan Adel menyakitkan, pasti ada bekasnya.
"Hah!" Adel terlihat menjentikkan jarinya, sepertinya ingat sesuatu.
"Adel mau ngambil saran dari Mba Kayla. Kira-kira Dokter mau Adel panggil apa? Mas? Kak? Aa? Bep? Sayang? Yang? Ay? Atau apa?"
Tomi mengerjap, apakah harus? Kok Tomi geli sendiri karena dia sudah terbiasa Adel memanggilnya dengan sebutan Dokter.
"Terserah."
"Nggak ada pilihan terserah! Dengerin baik-baik," sebel Adel, bibirnya mengerucut.
"Ah, aa aja? Gimana?"
Tomi menggelengkan kelapanya cepat. "Jangan itu,"
"Ayang?"
"Nggak."
"Yang?"
"Terlalu lebay."
"Kak?"
"Saya bukan kakak kamu."
"Ihh, apa dong?" Adel tambah sebal.
"Mas aja."
"Hah? Nanti samaan kayak Mba Kayla Adel gamau!"
"Saya maunya kamu panggil saya, Mas."
"Ganti ah!"
"Yaudah kalau gamau, panggil aja saya Dokter."
"Kok, jadi Dokter yang nentuin!"
"Biarin," kata Tomi sambil memeletkan lidahnya.
"Ihh, nyebelin!"
"Harus nurut ya sama Mas Tomi, harus jadi calon istri yang baik!" Tomi mengangkat tangannya menepuk kepala Adel.
Adel mendelik. Apa boleh buat? Mas? Haha, lama-lama Adel panggil Ikan Mas aja biar beda sama Mba Kayla. Kenapa juga, tadi dia meminta pilihan kepada Tomi. Bisa saja kan dia langsung menentukan. Dasar Adel bodoh!
"Bentar, ada telepon!" Adel mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana. Nama Dea muncul dilayar ponsel, kenapa malam-malam begini Dea menelpon? Pikirnya.
"Hallo, De?"
Tidak ada jawaban, hanya ada suara napas ngos-ngosan yang membuat Adel mengerutkan keningnya.
"De? Dea? Kamu nggak apa-apa kan?"
"Ade...l to...lo...ng," katanya dibarengi suara tapak kaki yang terlihat buru-buru.
"De? Kamu sekarang dimana? Hallo? De?"
Adel merasakan hatinya mejadi tidak tenang sepertinya, ada sesuatu yang bahaya sedang mengintai Dea.
"La.na."
"Hah? De? Dea?"
"La.na, aaaaaaa," teriakan itu begitu memekakkan telinga. Adel melotot khawatir, dia panik.
"De? Dea? Kamu dimana? De? Hallo? Dea?"
Sambungan terhenti, Adel merasa jantungnya berpacu dengan kencang. Dia tahu, Dea sedang tidak baik-baik saja. Ia harus bagaimana?
Sementara Tomi yang mengerti, langsung meminggirkan mobilnya dan mencoba membuat Adel tenang.
"Dea butuh pertongan Dok! Dea lagi dalam bahaya! Dia telepon Adel sambil nangis! Kita harus bantuin Dea! Dok, Adel mohon kita cari Dea! Sekarang Dok! Please!" Adel berteriak panik, dia mengguncangkan bahu Tomi.
"Iya, Del iya saya paham tapi ini udah malam. Kamu nggak boleh kena angin malam, kita cari besok ya."
"Nggak, nggak bisa! Kita harus tolong Dea sekarang! Adel takut Dea kenapa-kenapa! Adel mohon Dok, tolong cari Dea!"
"Saya akan cari Dea tapi saya harus anterin kamu dulu, yah!"
"Nggak bisa! Sekarang Dok, sekarang! Dea sekarang lagi ketakutan! Cepet cari Dea! Kalau dokter nggak bersedia, Adel bisa cari sendiri!" Adel sudah bersiap membuka mobil, namun Tomi langsung mencegahnya kemudian mengangguk.
"Ayo, kita cari Dea."
Tomi tidak tega dengan raut wajah Adel yang pucat pasi, pasti dia sungguh khawatir. Tomi mengambil ponsel Adel dan langsung melacak keberadaan Dea lewat GPS. Ponselnya ternyata tidak mati, GPSnya mengarah ke sebuah gedung kosong yang tidak jauh dari tempat mereka menepi. Tomi langsung melajukan mobilnya ke tempat itu, dia harus memastikan Dea tidak apa-apa. Syukur-syukur apa yang dipikirkan oleh Adel itu tidak benar.
**
mbok satu2 konflik di beresin moso digantung trus dan nambah konflik trus
hadeh lama2 jenuh jg ,kpn endingnya🤔🤔🤔