Aqila gadis cantik berusia delapan belas tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikan nya di negara Finlandia.
Malam itu untuk merayakan kelulusan nya, Aqila berhasil kabur dari penjagaan ketat para bodyguard milik kakak nya.
Tetapi siapa yang menyangka gadis itu malah kabur ke sebuah night club terkenal di kota tempat ia tinggal dan terjebak oleh sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya? Sesuatu seperti apa yang akan menimpah dirinya? Atau mungkin sebuah jebakan?
Note:- Agar mengerti jalan cerita sebelumnya, disarankan membaca karya "Terjebak Cinta Om Mafia Possesive"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-34-
"Pelan-pelan sayang, gak akan ada yang rebut" Ucap gemas Bram dengan mata yang tak lepas dari wajah cantik Aqila, dan tangan nya terus mengusap-usap surai panjang itu.
Aqila hanya memberikan anggukan atas ucapan Bram dan fokus menghabiskan se-cup es krim yang di belikan Bram untuk nya.
"Ini jatah es krim terakhir kamu di minggu ini, jangan merengek dan tunggu minggu depan"
"Bisa kah ditambah menjadi empat kali dalam seminggu?" Pinta Aqila memasang wajah memelas. Es krim di dalam cup itu telah habis, rasanya baru saja ia melahap es krim itu.
"Tidak, hanya dua kali dalam seminggu atau tidak sama sekali" Tegas Bram.
"Ini kurang" Lirih Aqila menyodorkan cup kosong ke hadapan Bram.
"Aku beli yang ukuran seratus mili, lho" Bram menatap tidak percaya cup es krim yang sudah kosong itu, lalu bergantian menatap wajah Aqila.
"Kurang"
Bram mengambil alih cup kosong itu lalu membuang nya ke tempat sampah yang tersedia di dalam mobil nya. Setelah nya Bram memegang kedua pipi Aqila yang masih memasang wajah memelas nya.
"Tunggu minggu depan, oke?"
"Cih, awas!" Decih kesal Aqila menghempaskan tangan Bram.
Lantas dirinya langsung mengalihkan pandangannya keluar kaca mobil yang sedang berjalan itu.
Bram yang melihat itu terkekeh pelan, bahkan seorang supir di depan sana yang sedang mengemudi tengah menahan kekehan nya.
"Bagaimana ospek nya? Apa melelahkan?" Tanya Bram mencoba membuat Aqila kembali menatap nya.
"Hmm, lumayan"
"Ada yang jahat sama kamu?"
Aqila menggeleng menyahuti pertanyaan Bram. Sesaat hanya di isi keheningan hingga akhirnya Aqila kembali menatap Bram dengan raut tak terbaca.
"Kenapa?" Tanya Bram bingung.
"Kak Bram tau gak?"
Bram menggeleng pelan. "Gak tau, kamu kan belum cerita"
"Oh iya" Aqila menepuk pelan kening nya, lalu kembali menatap Bram.
"Kakak ingat pas kita ngambil formulir pendaftaran?"
Bram mengangguk dengan raut santai nya. "Dimana saat kamu di rendahkan dengan perempuan sialan itu? Cih, aku tidak akan melupakan nya!"
"Mereka meninggal dan jasad nya baru di temukan kemarin" Ujar tiba-tiba Aqila setelah beberapa saat terdiam.
Bram hanya diam, tidak memasang ekspresi terkejut nya. Yang ada Bram malah terkekeh pelan.
"Bagus lah, lebih baik mereka mati dari pada hidup tapi guna nya hanya untuk membully orang"
"Ihh kak, kok gitu"
"Gitu gimana? Terus aku harus sedih karena mereka mati? Begitu?"
"Ya gak gitu juga, tapi.. Ishh tau ah!" Aqila kembali kesal dan kembali mengalihkan pandangannya.
Ternyata Bram sangat tidak asik dan tidak se-frekuensi untuk nya, pikir Aqila.
Tanpa Aqila ketahui sebuah seringai licik terbit di bibir Bram, setelah nya pria itu langsung menarik tubuh Aqila dan mendudukan nya di atas pangkuan nya.
"Jangan ngambek terus ih, nanti cantik nya hilang" Goda Bram menatap wajah terkejut Aqila akibat tindakan nya.
"Huh, biarin!"
Setelah mendapatkan sahutan ketus itu, Bram langsung menghujami wajah Aqila dengan kecupan nya. Bahkan jejak bahas tertinggal di setiap inci wajah Aqila.
"Kak Bram!"
"Apa sayang"
"Apaan sih, cium-cium terus!" Aqila menghapus kasar jejak bibir Bram dengan tangan nya.
"Itu namanya di kecup, honey. Kalo di cium tuh di sini" Jelas Bram menyentuh bibir Aqila dengan ibu jari nya.
"Sama saja!"
Suasana kembali hening, ibu jari Bram masih setia mengusap pelan bibir tipis milik istri kecil nya. Hingga sebuah dorongan dalam dirinya membuat kepala Bram mulai maju dengan bibir kedua nya yang berjarak beberapa centi saja.
"Aku ingin mencicipi nya" Gumam Bram dengan bibir yang sudah menempel.
Baru saja pria itu hendak memulai kegiatan nya, tetapi tiba-tiba suara handphone yang berbunyi membuat Aqila tersadar dan langsung mendorong dada Bram.
"Siall!" Geram tertahan Bram.
"Ha-handphone aku" Gugup Aqila hendak bangkit dari pangkuan Bram, tetapi tangan pria itu memeluk erat pinggang nya.
"Ambil saja, dan jawab panggilan pengganggu itu!"
Aqila menurut dan meraih tas nya, lalu mengeluarkan handphone nya yang masih berbunyi. Tertera nomor tanpa nama yang menelpon nya, membuat Aqila mengernyit bingung.
"Siapa?" Tanya dingin Bram.
"Emm, tidak tau. Mungkin teman baru aku" Jawab ragu Aqila seraya mengangkat panggilan itu.
Bram yang merasa posisi nya dalam bahaya lantas menaruh kepalanya di bahu Aqila, lebih tepatnya disamping handphone yang berada di telinga Aqila.
"Halo?"
"Aqila?"
Terdengar suara pria yang menyebut nama Aqila membuat Bram melotot kesal dan semakin memepetkan telinga nya di handphone Aqila.
Sedangkan sang pemilik handphone sedikit tidak nyaman dan berniat memindahkan handphone nya di sisi sebelah nya, tetapi Bram menahan tangan nya.
"Iya, ada apa ya?" Jawab ragu Aqila.
"Ini saya, Kenzo. Saya ingin memberitahu, buku catatan kamu ada bersama saya"
Aqila kembali mengernyit bingung. "Lho kok bisa, kak?"
"Seperti saat bangun tadi, kamu menjatuhkan nya"
"Ah sepertinya begitu," Aqila terkekeh pelan karena merasa malu dengan kecerobohan nya. Di tambah buku catatan itu sangat penting untuk masa ospek nya saat ini.
"Buku ini saya pegang, besok saat datang kamu langsung temui saya di ruang organisasi"
"Baik kak--Awww!!" Sahutan Aqila terpotong saat Bram dengan tiba-tiba mengigit kuat bahu nya.
"Ada apa? Kamu baik-baik saja?"
"Ti-tidak kak, tadi saya hanya tersandung. Saya tutup duluan ya telpon nya" Ujar terburu-buru Aqila.
Tanpa menunggu jawaban Kenzo di sebrang sana Aqila langsung mengakhiri panggilan tersebut dan mengangkat paksa kepala Bram dari bahu nya.
"Siapa dia?"
Deg!
...****************...