Arumi tercenung, bimbang antara harus mengikuti permintaan seorang sekretaris pribadi dari Andara Group. Atau tetap menjadi budak seumur hidup, untuk tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.
Memiliki kemiripan wajah dengan mendiang wanita yang amat di cintai sang pewaris tunggal Andara Group mungkin bisa menjadi sebuah keberuntungan atau mungkin petaka di kemudian hari. Sebab Pria bernama Arga Sanjaya itu menganggapnya sebagai Alicia bukanlah Arumi. Pria arogan yang belum bisa menerima kematian sang kekasih memang tidak pernah kasar padanya. Namun, ia bisa melakukan apapun demi menyingkirkan orang-orang yang berkemungkinan akan melukainya. Lantas, sampai kapan Arum akan berperan sebagai Alicia, melayani sang suami sepenuhnya. Lalu, apakah ia akan tetap selamat saat Arga mulai tersadar bahwa Arumi bukanlah Alicia-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berusaha membuka hatinya
Dalam kesendirian di ruang kerja itu. Arga hanya duduk sembari menonton Vidio kemesraan dirinya dengan Alicia saat liburan akhir tahun terakhirnya dengan gadis itu.
Waktu itu, mereka mengunjungi Negara Swiss. Tepat dimana salju sedang tebal-tebalnya menyelimuti daerah tersebut. Tak lupa pula mereka mendatangi satu tempat bernama Jungfraujoch yang merupakan salah satu puncak dari pegunungan Alpen Bernese yang berada di antara kanton Valais dan Bern yang ada di wilayah Swiss.
"Jauh-jauh hari kau terus membujukku untuk ke tempat itu. Dan sekarang tempat indah itu sudah menjadi area terlarang untuk ku singgahi lagi," gumam Arga sembari mengusap matanya yang mulai menggenang.
🔊 ~Alicia: "Kakak, ini terlalu kecil. Aku mau Ice Man yang besar."
Arga: "kau benar-benar banyak maunya. Dari pada aku membuang waktuku untuk membuat Ice Man. Lebih baik aku membawamu ke tempat lain.
Alicia:"kyaaaaaaa, hahaha. Sayang turunkan aku!"~
Arga tersenyum tipis. Entah sudah keberapakalinya vlog mereka di putar. Ia tetap menitikkan air mata.
"Aku tidak bisa berbohong. Aku terus-menerus merindukanmu, Alieee... aku bahkan merasa bersalah ketika ada sedikit saja rasa yang muncul untuknya. Aku tidak ingin, mengeluarkanmu dari tahta tertinggi hatiku. Dia tetaplah orang asing bagiku, tidak akan pernah lebih..."
Saat ini tangan kanannya tengah menyentuh dada. Meremas kuat pakaiannya. Sementara tangan kirinya mengusap kedua mata yang terus-menerus berlinang.
Bersamaan dengan Isak tangis Arga. Arum sudah berdiei di belakangnya. Layar lebar itu masih memutar hal romantis kedua sejoli itu di bawah sinar lampu yang menyala.
Saking seringnya Vidio itu di putar, Arum sampai paham apa-apa saja yang mereka lakukan di setiap durasinya.
Langkahnya mulai berjalan mendekati, lalu duduk di sofa meraih tangan Arga yang sedang menutup ke-dua matanya.
Pria itu terkesiap. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Mengerjakan tugasku!" jawabnya.
"Aku tidak butuh kau untuk berperan malam ini, keluarlah!" Titahnya mengusir Arumi. Namun wanita itu tak beranjak sedikit pun, ia justru mengusap air mata Arga dengan kedua tangannya. "Hei, apa kau tuli? Keluar aku bilang!!"
"Aku tidak akan keluar, sampai perasaan Anda membaik."
"Perasaanku tidak akan membaik walaupun ada kau disini! Jadi enyalah sekarang juga!"
"Tidak akan! aku akan tetap disini menemani suamiku!" Dengan pertahanannya. Arum bersikukuh pada posisinya duduk.
Arga pun beranjak lalu meraih pergelangan tangan Arum mengangkatnya paksa. "Bangun dan keluar dari sini...!"
"Tidak, Suamiku." Memeluk lingkar pinggangnya erat. Dan semakin erat pula saat tangan Arga berusaha melepaskannya.
"Lepas!" Sergahnya.
"ku bilang tidak akan sampai kau mau mendengarkan ucapanku ini."
"Aku tidak perlu kau. Jadi pergilah sekarang juga selagi aku masih berbaik hati menyuruhmu keluar dengan cara baik-baik!"
Arum terdiam sejenak. Tangannya semakin kuat melingkar di pinggang suaminya. "Kapan?! Kapan Anda bisa melawannya? Hati Anda yang terus-terusan terpatri dengan masalalu bukankah harus di biarkan terlepas. Kenapa tidak mencoba membuka matamu, dan melihat sekeliling. Bukankah di sekitarmu ada banyak orang yang memperhatikanmu. Jangan terus membelakangi kami, demi fokus pada satu objek saja." Arumi semakin mempererat pelukannya. Kepalanya terangkat memandang wajah yang sedari tadi tak bersuara. "Aku bisa berusaha untuk mencintai Anda. Seperti apa yang pernah Anda inginkan," sambungnya.
Arga terdiam sejenak. Kedua tangan yang sedari tadi berusaha melepaskan pelukan wanita di depannya seketika mengendur.
Mata Arum pula mendadak berkaca-kaca. Bohong jika dia tidak merinding saat ini. Ketika mengatakan itu. Seolah desiran halus masuk ke dalam dadanya.
Pelan-pelan Arum melepaskan pelukannya. Ia berjinjit lalu mencium bibir Arga singkat. Semakin di buat membeku pria itu karena perbuatannya.
"Ta–tanda aku memulainya. Aku akan memberikan, hati ini untukmu. Tidak hanya ragaku saja yang akan memuaskanmu. Namun cintaku juga," sambungnya dengan kaki gemetar. Arum sadar dengan apa yang ia ucapkan. Mungkin akan mendapatkan respon yang mengerikan dari suaminya itu. Menunggu dengan was-was Arga masih tak sama sekali bersuara.
🔊 ~ Sayaaaaaaang, lihat aku! ~
Menoleh kearah layar televisi di sisi kanannya. Terlihat Alicia tengah meniup bunga dandelion. Yang saat itu pula kelopak-kelopak putih seperti kapas itu berterbangan. Menampilkan visual sempurna dari sosok gadis cantik dalam layar LCD itu.
🔊 ~ cantik tidak? ~
Arumi menoleh sejenak lalu kembali pada Arga. Pria itu kembali menatap sendu kearah layar di depan.
Aku tidak tahu seberapa besar cintamu terhadapnya. Dan seberapa hinanya diriku dimata mu. Namun, naluriku menolak untuk terus membiarkanmu seperti ini.
Arum mengambil satu langkah kakinya maju. Kedua tangannya terangkat memegangi pipi Arga. Menggesernya kemudian kehadapannya.
Kedua mata itu saling tatap. Dimana ke-dua tangan Arum langsung melingkari lehernya. Kembali berjinjit sebelum mendaratkan kecupan keduanya di bibir sang suami.
Nampak Arga seperti ingin menolaknya. Namun Arum tetap mempertahankan posisi itu.
Aku akan mencintai suamiku. Karena saat ini yang ia butuhkan hanyalah cinta yang baru. Ya, Dia harus sembuh dari belenggu hati dan pikirannya sendiri. Walaupun setelah ini aku akan benar-benar di buang olehnya. Ketika akal sehatnya sudah kembali.
Bagaikan sinar matahari di tengah gunung es. Arga mulai merasakan kehangatan di dadanya. Kedua tangannya yang tadi sempat mendorong pelan tubuh wanita itu perlahan bergeser. Membalas pelukan di pinggang istrinya. Arum bisa merasakan, ciumannya terbalaskan. Amat lembut dari yang biasa ia dapatkan. Hingga membuat jantungnya sendiri berdebar.
Deg,deg...
Pelan-pelan wanita itu melepaskannya lalu menunduk. Tangan Arga menyentuh dagunya. Mengangkat naik sebelum kembali mendaratkan ciuman di sana.
"Emmmpp..." Arum memejamkan matanya saat dimana semua warna-warni pelangi memenuhi kepala. Ia berharap ini menjadi langkah awal yang terbaik bagi mereka. Walau tak semudah itu Arga berubah hanya dengan hubungan suami istri yang biasa mereka lakukan di dalam ruangan tersebut.
Setidaknya, saat ini Arum melakukan kewajiban itu lebih ikhlas dari pada biasanya.
*semua pria lain yang menyukai akan dianggap lelaki baik2 dan cinta nya dinggap tulus dan harus diperlakukan sangat lembut dan baik2
*sedangkan semua wanita lain yang menyukai sang suami akan dianggap wanita pelakor murahan, menjijikan harus diperlakukan kasar, kejam dan dibinasakan
fakta novel mu cerminan pola pikirmu bagaimana pola pikir mu akan bisa dilihat dari novel mu
sampai disini paham akan
polah pikir bodoh kayak gini akan menunjukkan betapa egoisnya nya kalian
jika ada pria lain yang menyukainya maka dia akan anggap cinta pria itu tulus, dan akan memperlakukan pria itu secara lembut dana akan menolak dan menjelaskan secara lembut
tapi saat ada wanita lain yang menyukai suami otomatis wanita itu adalah wanita murahan, menjijikan pelakor, harus diperlakukan kasar dan harus dibinasakan
dengan pola pikir ini kalian berkarya novel maka jadi novel kayak gini yang begitu lembut memperlakukan pebinor
miris
klu di hati tuan muda cuma Alicia 🥺