Kisah Bianca Abraham dan Selome Josepin.
Kedua insan yang sudah berpacaran selama empat tahun dan memutuskan untuk menikah. Namun, ketika detik demi detik pernikahan itu terjadi, Selo berubah.
Dia seolah tidak menginginkan pernikahan ini membuat Bianca kebingungan. Namun, dengan segala ketulusan dan rasa cinta Bianca pada Selo, Bianca berhasil meyakinkan Sello untuk tetap bertahan hingga akhirnya pernikahan pun terjadi.
Setelah menikah, seiring berjalannya waktu, Bianca pikir, Sello akan kembali menghangat seperti semula. Tapi ternyata tidak. Hingga pada akhirnya, Bianca menemukan suatu fakta dan ia sadar, ia tidak akan bisa merubah Selo seperti dulu.
Pernikahan mereka begitu hambar, bahkan kehadiran sang buah hati tidak mampu merubah pernikahan mereka. Hingga suatu hari, tanpa sengaja Bianca bertemu lagi dengan Roland, teman kuliahnya dulu.
Roland mampu memberikan apa yang tak Bianca dapat dari Sello. Lalu haruskah Bianca menyerah dengan pernikahannya atau terus bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Yang Sesungguhnya
Bianca terduduk di atas toilet, otaknya kosong tatapannya menatap entah ke mana. Dunia Bianca seakan hancur lebur saat melihat apa yang tadi ia lihat, di mana perempuan bergelayut manja di lengan suaminya.
Jantung Bianca bagai dihunus oleh pedang yang sangat tajam, dunia Bianca seperti berhenti berputar, jantungnya berhenti berdetak. Ia mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh karena terjerat ucapan Sello yang manis.
•••
Setelah Amelia tidak sadarkan diri, Sello membawa Amelia ke rumah sakit, sedangkan Bianca menyusul dengan Mayra, dan Bianca tidak tahu kemana wanita yang tadi bersama Sello, yang jelas wanita itu tidak mengikuti ke rumah sakit.
Dan setelah sampai di rumah sakit, Bianca memisahkan dirinya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mencerna apa yang terjadi. Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Bianca pun mampu mencerna semuanya.
Rasa sesak, rasa sakit rasa pedih menubruknya. Ia menangis sesegukan, kemudian memukul-mukul dadanya yang terasa pedih.
Kini, ia mengerti kenapa selama 5 tahun Sello mengabaikannya, dan ia juga tau kenapa selama 4 bulan ini selalu bersikap baik padanya.
•••
Sello mondar-mandir di depan ruang rawat yang ditempati oleh ibunya. Sedari tadi, Ia terus mengintip jendela. Ia khawatir, jantung ibunya kembali kambuh.
Sedangkan Mayra. Sedari tadi hanya diam, ia bersidekap, menatap kakaknya dan mencemooh tingkah kakaknya yang keterlaluan. Sebenarnya saat itu maira sudah curiga, apalagi saat ia melihat blazer yang dipakai oleh Agnia. Namun saat itu, ia masih belum berani untuk mengungkapkan apapun karena ia belum mempunya bukti.
Ia ingin mencari tahunya terlebih dahulu. Namun setelah berusaha mencari tahu, mayra tidak menemukan apapun dan, ia pun mulai percaya pada kakaknya dan yakin kakaknya tidak berbuat macam-macam.
Tapi kemarin malam, ia melihat Sello dan Aghnia makan malam bersama di restoran, dan ia pun mengikuti kedua insan itu sampai ke hotel.
Rupanya Tuhan begitu baik, tanpa ia menunjukkan kelakuan kakaknya, Tuhan sudah membuka semuanya. Mungkin Sello memang kakak kandungnya. Tapi sedari dulu, Gabriel selalu mendidik semua anaknya dengan penuh kesetiaan, dan entah kenapa kakaknya malah melenceng dari ajaran sang ayah. Ia yakin, sang ayah tidak akan melepaskan kakaknya begitu saja.
Setelah lelah mondar-mandir, Sello mendudukkan dirinya di kursi tunggu, di seberang tempat duduk Mayra. Lututnya naik turun, tangannya saling meremass. Ia benar-benar takut dan gugup.
Bagaimana mungkin ia tidak takut sedangkan semuanya sudah terbuka. Bahkan mungkin sang sebentar lagi sang ayah akan datang ke rumah sakit. Ia tidak menyangka, hari ini akan tiba. Hari di mana semuanya terbongkar. Padahal Ia sudah merencanakannya serapih mungkin.
Saat ia sedang gugup, ia melihat ke arah Mayra yang sedang melihat ke arahnya wajah adiknya begitu tenang berbeda dengannya. “Apa kau lihat-lihat?” tanya Sello. “Kau sengaja kan melakukan ini padaku?” ucap Sello lagi yang menghardik adiknya.
“Ia memangnya kenapa aku sengaja melakukan ini, kau yang berbuat salah kenapa kau marah padaku,” jawab Mayra. “Sungguh kau tidak tahu diri sekali, jika ka Geisha tau mungkin dia akan mengamuk padamu,” ucap Mayra, ia mengibaskan rambutnya seolah dia puas dengan kepanikan sang kakak, membuat Sello mengusap wajah kasar, sepertinya ini bukan waktunya ia berdebat dengan Mayra
Tak lama, dokter pun keluar dari ruang rawat Amelia, hingga Sello pun langsung bangkit dari duduknya. “Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanya Sello.
“Pasien sudah siuman, silahkan jika kalian ingin masuk,” jawab dokter.
•••
Amelia yang baru sadarkan diri menatap ke depan, ia masih berharap ini adalah mimpi. Bagaimana mungkin putra yang ia didik dengan penuh kasih sayang, ketegasan mampu berbuat sejauh ini.
Ia dan Gabriel benar-benar menanamkan kesetiaan pada anak-anaknya. Lalu lihatlah, kelakuan putranya. Lalu bagaimana sekarang ia dan Gabriel akan menghadapi Maria dan Lyodra.
Tak lama, Amelia tersadar ketika terdengar suara derap langkah, hingga ia menoleh ternyata Sello yang masuk. Saat Sello masuk, Amelia memalingkan tatapannya ke arah lain, ia begitu enggan melihat putranya.
“Mom!” panggil Sello.
“Pergi kau!” ucap Amelia dengan dingin. Belum
Sello menjawab, tiba-tiba pintu terbuka. Hingga Sello menoleh. Wajah Sello memucat, saat Gabriel masuk ke dalam ruangannya.
Dan saat dekat dengan Sello, Gabriel mendaratkan pukulan di pipi sang putra. Rupanya, Mayra sudah memberitahu apa yang terjadi, hingga emosi Gabriel meningkat dan saat ia melihat putranya, ia langsung menghajar Sello.
“Siapa yang mengajarimu bertindak seperti ini!” teriak Gabriel, walaupun umur Gabriel sudah tidak lagi muda. Tapi soal tenaga, Gabriel tidak bisa diragukan. Bahkan, pukulan Gabriel mampu membuat Selo terhuyung, hingga Sello hampir terjatuh.
Sello menunduk, ia tidak berani menatap sang ayah. Hingga Gabriel langsung maju, kemudian menyudutkan Sello ke dinding. Lalu setelah itu, ia menendang perut putranya. Demi apapun, ia begitu kecewa pada putranya, apalagi putranya mempermainkan ikatan suci pernikahan.
Saat Gabriel akan menghajar Sello lagi, Gabriel teringat Amelia, Ia pun langsung menghempaskan tubuh putranya dan menghampiri istrinya
“Sayang kau tidak apa-apa?” Ekspresi Gabriel berubah lembut saat menatap Amelia, ia langsung mengusap wajah istrinya
“Aku tidak apa-apa, Dad,” jawabnya. Tiba-tiba Amelia pikirkan sesuatu. “Bianca!” lirih Amelia, seketika Gabriel langsung menegakkan kepalanya.
“ di mana istrimu?” wajah Gabriel kembali memerah saat melihat ke arah Sello. Namun Selo sama sekali tidak berani menoleh ke arah Gabriel
“Aku akan mencarinya, Dad,” ucap Mayra yang dari tadi menyaksikan semuanya.
Mayra terus berjalan, matanya melihat ke sana kemari mencari kakak iparnya. Hingga ia terpikirkan sesuatu. Mungkin Bianca sedang berada di dalam kamar mandi
“Kak Bianca!” panggil Mayra. Bianca yang sedang duduk sambil menyadarkan tubuhnya ke dinding dengan tubuh yang lemas langsung tersadar.
“Mayra,” jawab Bianca, hingga Mayra langsung berjalan ke sumber suara.
“kak apa Kaka di dalam?” tanya Mayra.
“Hmm, aku di dalam, tunggu sebentar aku akan keluar!” Bianca pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung mencuci wajahnya agar tidak terlihat sehabis menangis. Lalu ia kembali membuka pintu
“Kak kau tidak apa-apa?” tanya Mayra saat Bianca membuka pintu kamar mandi.
“Mustahil aku baik-baik saja,” jawab Bianca dengan lemas.
Mayra membantu Bianca untuk berjalan. Lalu setelah itu, menuntun Bianca untuk pergi ke ruang rawat yang ditempati oleh Amelia. Saat berada di depan ruang rawat, Bianca menghentikan langkahnya, karena tahu di dalam ada Sello.
Bianca menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia tidak boleh terlihat menyedihkan di depan suaminya, ia menegakkan kepalanya kemudian memegang gagang pintu, lalu memutarnya. Hingga pintu terbuka, dan tepat saat pintu terbuka tatapannya langsung bersibobrok dengan Sello.
Bianca melangkah dengan pelan, tatapannya terus menetap Sello dengan rasa benci, demi apapun, ia tidak akan pernah memaafkan Sello. Saat berada di depan Sello, Bianca langsung mendapatkan satu tamparan di pipi suaminya.
Ia tidak peduli ada mertuanya di dalam ruangan itu, ia hanya ingin melampiaskan kemarahannya pada Sello. “5 tahun aku bersabar padamu. Kau mengabaikanku, kau tidak menganggapku ada. Saat aku memberikan kesempatan kedua padamu, dan ini yang kau lakukan padaku!" kali ini Bianca memukul-mukul dada Sello, sedangkan Sello hanya diam tidak berani bergerak sedikit pun
“5 tahun?” kali ini, Gabriel yang berbicara hingga Bianca menghentikan hajarannya pada Sello, lalu menoleh ke arah Gabriel
“Hmm, Daddy, faktanya Sello mengabaikanku selama 5 tahun. Setelah kami menikah, dia sama sekali tidak pernah perduli padaku. Bahkan dia tidak pernah pulang ke apartemen, dia tidak pernah menafkahiku dan dia tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, 4 bulan lalu, dia ingin memperbaiki semuanya. Tapi lihatlah, apa yang dia lakukan ternyata dia hanya ingin menutupi kesalahannya sendiri ....”
Tangis Bianca benar-benar berlinang, saat mengatakan semuanya pada Gabriel. Hingga rahang Gabriel dan otot-otot Gabriel kembali mengeras. Gabriel menegakkan tubuhnya, kemudian ia menarik jas putranya lalu membawa keluar ruangan.
Jangan hujat Bianca ya. soalnya aku udh bener2 mikir alur kedepannya. gas komen
klo ada pun, pemimpin nya bobrok!! apa lagi di jenjang elementary school... hadeeh