Putri Regina Prayoga, gadis berusia 28 tahun yang hendak menyerahkan diri kepada sang kekasih yang telah di pacari nya selama 3 tahun belakangan ini, harus menelan pahitnya pengkhianatan.
Tepat di hari jadi mereka yang ke 3, Regina yang akan memberi kejutan kepada sang kekasih, justru mendapatkan kejutan yang lebih besar. Ia mendapati Alvino, sang kekasih, tengah bergelut dengan sekretarisnya di ruang tamu apartemen pria itu.
Membanting pintu dengan kasar, gadis itu berlari meninggalkan dua manusia yang tengah sibuk berbagi peluh. Hari masih sore, Regina memutuskan mengunjungi salah satu klub malam di pusat kota untuk menenangkan dirinya.
Dan, hidup Regina pun berubah dari sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34. Jangan Menyakitinya.
Regina meninta ijin membuat makan malam untuk mereka bertiga. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
William dan Reka membiarkan wanita itu berkutat sendirian di dapur, sementara kedua pria itu, masih mengobrol di ruang tamu.
“Aku yakin kamu bukan hanya sekedar atasan untuk Regina.” Tiba-tiba Reka berucap. Membuat William tersentak.
“Apa maksudmu?” Tanya William berusaha untuk tidak terpancing.
“Kalian pasti memiliki hubungan lebih, Regina tidak mungkin lancang masuk ke dalam rumah orang lain, jika bukan milik orang terdekatnya.”
Reka menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ia berbicara dengan William, namun pandangannya tetap berfokus pada sang kakak yang sedang sibuk di balik meja dapur.
“Aku hanya menyelamatkan kakakmu dari pria yang salah.” William ikut menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia berusaha tetap tenang. Tak ingin terlihat buruk di mata Reka, bagaimana pun juga, ia harus bisa menarik hati adik Regina itu. Jangan sampai nasibnya sama seperti Alvino. Tidak di restui oleh Reka.
“Kamu yakin?” Reka memicingkan matanya kepada atasan sang kakak.
“Maksudmu apa? Tolong jangan berputar-putar. Aku bukan seorang dokter yang memiliki IQ tinggi.”
Reka mencebik. Bukan dia yang berputar-putar, tetapi William yang berpura-pura bodoh.
“Jangan menyakiti kakakku, karena saat dia tersakiti, tak hanya aku yang akan melindunginya. Regina anak perempuan satu-satunya di keluarga besar kami, dia masih mempunyai 4 orang saudara laki-laki.”
William menelan ludahnya kasar. Baru saja hatinya bersorak gembira, karena Reka tidak menyetujui hubungan Regina dan Alvino. Namun, kini ia harus waspada. Salah sedikit saja, sang pujaan hati akan hilang dari genggamnya.
“Aku mencintainya, aku akan berusaha untuk tidak menyakitinya.” Ucap William, ia bahkan kembali menegakan posisi duduknya.
“Apa Regina tau?”
“Dia bahkan sangat tau. Tetapi, pria itu membuatnya begitu sakit hati hingga tidak berani membuka hati untuk orang lain.”
“Jadi kamu juga tau tentang perselingkuhan pria itu?”
William menganggukkan kepalanya.
“Aku bahkan meminta orang untuk mengawasi pria itu.”
Kini giliran Reka yang menganggukkan kepalanya. Ia meneliti pria yang duduk di hadapannya. Penampilannya tak jauh beda dengan pria yang mengaku sebagai kekasih sang kakak.
“Sejauh apa hubungan kalian?” Ucap dokter muda itu lagi.
Deg!!
William bingung harus menjawab apa. Yang tau tentang hubungannya dengan Regina hanya Jimmy, meski William tak pernah menceritakannya.
“Hubungan kami?” William mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Jika ia jujur, takutnya Reka akan menghabisinya saat ini juga.
‘Honey, kenapa adikmu kritis sekali? Tolong aku, Honey.’
“Ya, ya hubungan kami—
“Makan malam, siap.” Seperti memiliki hubungan batin, Regina berseru dari arah meja makan. Membuat William bisa bernafas lega. Wajahnya sedari tadi sudah terasa panas.
Tidak ada yang menyahutinya, membuat Regina mendekat ke arah ruang tamu. Ia melihat ada ketegangan di antara adik dan atasannya.
Regina tau sifat Reka. Dia sangat melindungi Regina, bukan sebagai adik. Namun seperti seorang kakak.
“Ka?” Ia pandangi sang adik dengan tatapan penuh tanya.
“Tidak ada apa-apa.” Pria muda itu mengulurkan tangannya kepada sang kakak, dan Regina menyambutnya.
“Kami hanya mengobrol.” Reka menarik tangan sang kakak, membuat wanita itu duduk menempel padanya.
Reka sengaja melakukan hal itu, ia ingin melihat reaksi William.
William yang melihat itu, biasa saja. Ia tak merasa cemburu seperti pada pria lain yang mendekati Regina. Karena William sudah tau, pria yang menempel pada Regina saat ini, adalah adik kandung wanita itu.
“Ayo kita makan, aku sudah lapar.” Sang tuan rumah bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan menuju meja makan.
Regina melayani kedua pria itu bergantian. Kemudian, mengambil tempat untuk dirinya sendiri. Kecanggungan masih terasa.
‘Apa yang terjadi? Reka pasti mengatakan sesuatu pada William.’
****
Regina ikut pulang dengan Reka. Adiknya ingin menginap di rumah kontrakan sang kakak. Dan wanita itu menyanggupi. William juga mengijinkan. Bagaimana pun, Regina sudah lama tidak bertemu sang adik.
‘Sampai jumpa besok, Hon.’
Sebuah pesan masuk di terima oleh ponsel milik Regina. Wanita itu hanya membaca di layar depan. Ia enggan membalas, karena ada Reka di sampingnya. Mereka sedang berada di dalam mobil taxi, yang akan membawa ke rumah kontrakan Regina.
“Kenapa tidak di balas?” Ucap Reka dengan pandangan mengarah ke luar jendela mobil.
“Hah?”
“Kalian mempunyai hubungan lebih, kan?” Pria itu kembali bersuara.
“Siapa?”
Reka mencebik. Sejak kapan kakaknya menjadi kurang tanggap begini.
“Kamu dan atasanmu.” Reka mengalihkan pandangannya, dan menatap sang kakak.
“Jangan bermain api, Re. Jika kamu terbakar, lukanya akan membekas seumur hidupmu.” Ucapnya lagi.
Regina menundukkan pandangannya. Memang tidak ada hal yang bisa ia sembunyikan dari sang adik. Reka selalu bisa menebak isi hati dan pikirannya.
“Aku— wanita itu menghela nafasnya pelan.
“Aku tidak bermain api, Ka.” Lanjutnya kemudian.
“Aku tau, tetapi kalian menjalin hubungan. Yakinkan dirimu, Re. Putuskan pria tidak sopan itu. Aku tidak masalah jika kamu menjalin hubungan dengan atasanmu. Sepertinya, dia lebih baik dari pria yang mengaku sebagai kekasihmu itu.”
Regina mengangkat wajahnya, ia menoleh kesamping, mendapati sang adik yang menatapnya lekat.
“Apa yang kamu bicarakan tadi dengan William, Ka?” Tanya Regina yang teringat kejadian di apartemen William.
“Tidak ada. Hanya peringatan kecil. Jika dia berani menyakitimu. Aku dan yang lain tidak akan diam.”
Regina menelan ludahnya kasar. Ia teringat akan 4 saudara sepupunya yang lain. Dua diantara mereka merupakan anggota kepolisian.
“Ka..”
“Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Re. Kami sudah menuruti keinginan mu untuk tinggal sendiri di ibukota. Aku tidak akan menceritakan tentang kekasihmu itu kepada keluarga kita.”
Regina kembali menundukkan kepalanya. Meski kedua orang tuanya mengijinkan ia merantau ke ibukota, namun adik dan sepupu-sepupunya melarang keras. Wanita itu bahkan sampai mengurung diri di dalam kamar selema tiga hari. Barulah restu ke lima saudara laki-lakinya mengijinkan.
Reka membuang nafasnya pelan. Ia kemudian meraih bahu sang kakak. Membawa wanita itu kedalam dekapannya.
“Putuskan hubungan mu dengan pria itu secepatnya. Buka lembaran baru. Kamu terlalu berharga untuk pria pecundang seperti dia.”
Regina menganggukkan kepalanya. Ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang adik.
Selain pelukan sang ayah, pelukan Reka merupakan pelukan pria ternyaman di dunia Regina.
“Maafkan aku, Ka.” Ucapnya lirih.
“Maaf untuk apa?” Tanya Reka, ia mengusap lembut lengan sang kakak.
“Aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik.”
Kini Regina merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan dengan William. Ia telah merusak kepercayaan keluarganya.
“Jangan terlalu di pikirkan. Yang namanya kehidupan, pasti akan selalu ada yang namanya cobaan dan ujian. Yang terpenting sekarang, bagaimana kamu menyikapinya.” Pria itu melabuhkan kecupan di atas ubun-ubun Regina.
“Berjanjilah padaku, jangan lagi berhubungan dengan pria itu. Aku tidak suka.”
Dan Regina pun menjawab dengan anggukkan kepala.
.
.
.
Bersambung.