NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Fajar di Gerbang Hijau

Valaria masih bisa merasakan sisa-sisa udara malam yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, hawa panas kemarahan yang menguar dari kerumunan warga jauh lebih membakar daripada cuaca dini hari itu. Di bawah temaram cahaya obor yang menciptakan bayangan menari-nari, halaman rumahnya berubah menjadi panggung penghakiman yang mencekam.

Di tengah kepungan warga yang berang, Damian sudah tak berkutik. Pria itu meronta-ronta dengan dasi yang miring dan wajah yang memucat karena ketakutan yang menjijikkan.

"Lepaskan aku! Aku tidak melakukan apa-apa!" teriak Damian, suaranya melengking tinggi, mencoba mengalahkan cemoohan warga.

Seorang pria paruh baya bertubuh kekar mencengkeram erat kerah baju Damian hingga pria itu nyaris terjungkal. "Tidak melakukan apa-apa katamu? Berani-beraninya kau menyelinap ke kamar anak gadis orang! Kita adili kau sekarang juga!"

Tangan-tangan lain sudah terangkat di udara, siap melayangkan pukulan pertama. Sementara itu, Valaria berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu yang dingin. Jantungnya masih berdegup kencang sisa adrenalin dari keberhasilannya melarikan diri masih mengalir deras. Ia selamat. Rasa lega sempat mengisi dadanya sejenak sebelum digantikan oleh perasaan yang lebih dingin dan keras.

Valaria mengangkat wajahnya. Mata cokelatnya yang biasanya memancarkan kehangatan kini berubah menjadi dua keping es yang berkilauan di bawah cahaya rembulan. Ia menatap tajam ke arah Damian yang kini tersungkur di tanah. Kebencian murni. Tidak ada lagi sisa-sisa ketertarikan, apalagi rasa kasihan; yang tersisa hanyalah pengakuan pahit atas betapa busuknya sifat manusia di hadapannya.

Tiba-tiba, sebuah suara pekikan membelah kegaduhan.

"Tunggu! Hentikan semua ini!"

Laksmin menerobos kerumunan. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya menampakkan tekad yang aneh. Ia berdiri tegak di depan Damian yang gemetar, merentangkan tangan seolah menjadi perisai bagi pria itu.

"Kalian tidak boleh main hakim sendiri!" seru Laksmin lantang.

Warga terdiam sejenak karena bingung. Pria yang tadi mencengkeram Damian mundur selangkah. "Laksmin? Apa maksudmu membela bajingan ini?"

Laksmin menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun. "Damian... dia tidak bersalah sepenuhnya. Kalian tidak boleh menyakitinya!" Ia melirik Damian sekilas sebuah tatapan yang mengandung janji sekaligus ancaman tersembunyi.

Melihat ada celah, Damian segera memanfaatkan keadaan. Ia bangkit dengan tergesa-gesa, menjulurkan jari telunjuknya yang kotor ke arah Valaria dengan wajah penuh kepalsuan.

"Iya! Dia yang berbohong! Aku tidak salah! Dia yang menggodaku!" teriak Damian kalap. "Pintu kamarnya terbuka dan dia memberikan sinyal! Aku hanya datang untuk bicara baik-baik, tapi dia malah berteriak! Dia sengaja membuka jendela itu untuk memancingku!"

Gumam terkejut menyelimuti kerumunan. Valaria menarik napas panjang, mencoba meredam kemarahan yang tenang namun mematikan. Ayah dan ibunya, segera melangkah maju dan berdiri di sisi Valaria seperti dua pilar kokoh.

"Jaga mulutmu, Damian!" bentak Arjun dengan suara rendah yang mengancam. "Putriku bukan wanita murahan seperti yang kau tuduhkan!"

Ibu menimpali dengan suara bergetar namun penuh otoritas. "Valaria tidak mungkin mengizinkan orang asing masuk ke kamarnya! Kami mendidiknya dengan baik. Jendela itu terbuka karena udara pengap, dan dia sudah tertidur. Kau yang mengambil kesempatan dalam kegelapan, dasar pengecut!"

Valaria melangkah satu tindak ke depan. Suaranya datar, tanpa emosi, namun setiap katanya setajam pecahan kaca.

"Aku sedang tidur. Aku terbangun saat merasakan keberadaan orang asing di kamarku. Aku melihat dia masuk dengan sengaja. Bukan karena undangan, bukan pula kebetulan. Aku melawan dan berteriak karena dia mencoba... melakukan hal jahat. Tepat saat aku mendorongnya, pintu didobrak. Itulah kenyatannya. Mataku tidak buta, Damian, dan warga di sini tidak bodoh."

Valaria menatap mata Damian yang kini dipenuhi kepanikan total. Warga mulai mengangguk-angguk, melihat kontras antara ketenangan Valaria dan kegilaan Damian.

Laksmin, yang menyadari situasi semakin menyudutkan mereka, mengambil langkah paling ekstrem. Ia memegang tangan Damian erat-erat dan menatap warga dengan mata berkaca-kaca yang dramatis.

"Kalian tidak bisa mengadilinya," bisik Laksmin cukup keras untuk didengar semua orang. "Aku... aku sedang mengandung anaknya. Dia harus bertanggung jawab padaku."

Keheningan yang mencekam kembali terjadi, kali ini lebih dalam dan menyesakkan. Orang tua Damian yang baru saja tiba di pinggir kerumunan tampak terhuyung mendengar pengakuan itu. Desas-desus mulai menjalar. Keadaan ini mengubah segalanya. Valaria, yang awalnya ingin membongkar kebohongan Laksmin, tiba-tiba memilih untuk diam.

Ia mendesah pelan, bahunya merosot sedikit. Ia menggelengkan kepala. "Aku tidak peduli lagi."

Semua mata tertuju padanya. Valaria mengangkat dagu dengan anggun. "Aku sudah menyampaikan apa yang terjadi. Aku selamat, itu yang terpenting. Dan jika benar Laksmin mengandung anakmu, Damian, maka aku mendukung kalian berdua untuk segera menikah."

Kalimat itu diucapkan dengan nada sinis yang menusuk. Matanya menyiratkan pesan jelas: Pergilah, dan jangan pernah tunjukkan wajah menjijikkanmu lagi di hadapanku.

Restu dingin dari Valaria itu seolah menjadi penutup persidangan jalanan malam itu. Orang tua Damian, dalam rasa malu yang mendalam, segera menyeret putra mereka pergi. Mereka berjanji akan menyelesaikan masalah ini melalui pernikahan sesegera mungkin. Laksmin tersenyum menang, namun senyum itu terasa hampa dan tidak mencapai matanya.

Setelah kerumunan bubar, ibunya memeluk Valaria erat-erat, membiarkan putrinya menyalurkan sisa ketegangan yang masih tersisa. "Kau baik-baik saja, Nak. Ibu di sini," bisik Ratri lembut.

Valaria mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. "Aku baik, Bu. Aku hanya... lelah melihat wajahnya."

Malam itu, ibu tidur menemani Valaria, tidak ingin membiarkan putrinya sendirian menghadapi sisa malam. Sementara itu, ayahnya dan Raka berbagi ranjang di ruang tamu. Kehangatan keluarga itu menjadi perisai dari kengerian yang baru saja berlalu.

Pagi hari datang membawa cahaya lembut dan aroma gurih kaldu yang menggugah selera. Di dapur, ibunya sedang memasukkan potongan daging ayam ke dalam masakan.

"Valaria, Ibu rasa... hari ini kau tidak usah ikut berjualan," ucap Ratri dengan nada khawatir. "Istirahatlah di rumah. Kejadian semalam pasti sangat mengganggu pikiranmu."

Valaria, yang sedang mencuci piring, menoleh dan tersenyum tipis. "Tidak, Bu. Aku justru ingin pergi. Aku ada tempat yang harus kukunjungi sebelum kita ke pasar."

"Tapi, Nak..."

"Aku tidak apa-apa, Bu," potong Valaria lembut namun tegas. "Jika aku bersembunyi, itu seolah-olah aku yang bersalah. Aku ingin menyambut pagi yang baru."

Ibu menghela napas panjang, melihat tekad yang tak tergoyahkan di mata putrinya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah. Jaya, Paman Baskoro, dan Bibi Tirta turun dengan semangat. Bibi Tirta membawa beberapa kotak berisi sayuran segar dan bumbu tambahan.

"Pagi, Bu Ratri! Kami datang untuk membantu!" seru Tirta riang.

Ibu tersenyum lega. "Ya ampun, kalian datang tepat waktu! Tirta, tolong bantu kami di pasar ya, sepertinya hari ini akan ramai." Ibuku kemudian menoleh pada Jaya. "Jaya, tolong temani Valaria. Dia ingin pergi ke suatu tempat dulu."

Jaya mengangguk patuh. Ia mendekati Valaria yang sudah siap dengan tas selempangnya. Mereka berjalan menyusuri jalanan desa dalam keheningan yang nyaman. Setelah beberapa saat, Jaya akhirnya bersuara.

"Valaria..." Ia menatap wajah gadis itu, mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di balik ketenangannya. "Apa benar... Damian masuk ke kamarmu semalam?"

Valaria meliriknya sekilas, ekspresinya tetap datar, lalu mengangguk singkat.

"Untuk apa? Apa benar dia ingin... melakukan hal jahat padamu?" tanya Jaya, suaranya sedikit tercekat oleh amarah yang tertahan.

Valaria kembali mengangguk, kali ini lebih lama sambil memejamkan mata sejenak. "Dia hanya ingin mengambil apa yang bukan miliknya," jawabnya dingin.

Jaya mengepalkan tangannya kuat-sidik di samping tubuh. Rasanya ia ingin sekali memberi pelajaran pada Damian, namun ia menahan diri. "Kenapa kau tidak bercerita pada kami sejak awal?"

"Untuk apa? Masalahnya sudah selesai. Sekarang dia sudah menjadi 'milik' Laksmin," kata Valaria dengan nada geli yang ironis.

Mereka tiba di sebuah toko alat tulis kecil. Valaria membeli beberapa buku tulis tebal dan pulpen berkualitas.

"Untuk apa buku sebanyak ini?" tanya Jaya heran.

"Untuk kita semua. Kita harus mulai mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan lebih rapi. Dan aku juga akan mulai menulis catatan resep rahasia serta rencana-rencana kita ke depan," jelas Valaria dengan senyum yang akhirnya merekah.

Selesai berbelanja, mereka melewati lapak kain batik. Mata Valaria terpaku pada selembar kain berwarna nila tua dengan motif perak yang sangat indah. Kain itu tampak sangat mewah.

"Kau menyukai kain itu?" tanya Jaya.

Valaria menghela napas pelan. "Iya, tapi uangku belum cukup. Harganya lumayan mahal." Ia segera menggeleng, menepis keinginannya sendiri. "Sudahlah, ayo cepat ke pasar. Ibu pasti sudah menunggu."

Jaya hanya bisa menatap punggung Valaria, merasa sedikit tidak berdaya karena belum mampu membelikan apa yang diinginkan sepupunya itu. "Baiklah. Kita pasti bisa membelinya lain kali."

Mereka bergegas menuju pasar. Dari kejauhan, terlihat kerumunan orang sudah memadati lapak ibunya. Dagangan bakso dan hidangan lainnya laris manis hingga mereka kewalahan.

"Wah, ramai sekali!" seru Jaya. "Ayo, Val!"

Valaria dan Jaya segera mengenakan celemek dan mengambil alih tugas. Valaria mencatat pesanan dan menghitung uang dengan cekatan, sementara Jaya membantu membungkus makanan. Dengan bantuan mereka, antrean yang mengular mulai bergerak cepat.

Semangat pagi itu terasa menular. Di tengah kesibukan, Valaria merasa hidupnya kembali normal. Kengerian semalam kini terasa seperti mimpi buruk yang telah menguap. Sebelum tengah hari, seluruh dagangan mereka telah habis terjual. Panci-panci kosong menjadi saksi keberhasilan mereka hari itu.

"Luar biasa, Bu. Hasilnya bahkan lebih banyak dari biasanya," ucap Valaria bangga.

Ibuku memeluk aku dari samping. "Ini semua berkat kerja kerasmu, Nak. Dan juga karena kau telah menjadi gadis yang sangat kuat."

Valaria membalas senyuman ibunya. Pagi yang baru, penuh kesibukan dan keberhasilan, memberinya kedamaian. Ia telah meninggalkan Damian di kegelapan malam. Hari ini, adalah awal yang benar-benar segar.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!