Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.
Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.
Namun Wijaya bukan lelaki biasa.
Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.
Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Krisna Sadar
Koridor rumah sakit terasa lebih terang pagi itu, tetapi hawa dingin AC seolah tidak sanggup meredakan ketegangan yang menggantung di udara.
Tak lama kemudian, suara langkah tergesa terdengar. Seorang perempuan cantik dengan riasan tipis berdiri di lorong. Nafasnya memburu.
Riri.
Matanya langsung mencari pintu ICU. “Bagaimana Krisna, Tante ? Bagaimana keadaannya?” suaranya hampir pecah.
Ana menjawab ramah, “Operasinya berhasil, Riri. Sekarang tinggal menunggu sadar.”
Riri mengangguk cepat, baru kemudian menyadari kehadiran gadis lain di kursi tunggu.
Lia.
Keduanya saling menatap sesaat. Riri tersenyum sopan.
“Kamu… siapa ?”
Lia menelan ludah. "Saya Lia. Saya hanya… ikut mengantarkan.”
“Terima kasih,” ucap Riri tulus, tidak tahu bahwa perempuan sederhana di depannya adalah istri sah lelaki yang sedang ia sebut-sebut sebagai tunangan.
Tidak tahu bahwa di rahim gadis itu, darah daging Krisna sedang tumbuh.
Sekian menit kemudian.
Pintu lift terbuka.
Kevin melangkah keluar lebih dulu, langkahnya mantap namun rahangnya mengeras. Di belakangnya, Asti berjalan anggun—senyum tipis di bibirnya tidak benar-benar sampai ke mata.
Beberapa orang menoleh. Nama besar keluarga Kusuma memang selalu menarik perhatian.
Ana berdiri tidak jauh dari ruang perawatan pasca operasi. Wajahnya tampak letih, tetapi matanya masih memerah oleh tangis lega. Ketika melihat mereka, tubuhnya menegang sepersekian detik.
“Kevin…” ucap Ana pelan.
Kevin menghentikan langkah. Ia menatap Ana.
“Mama,” sapanya singkat kepada Ana. “Bagaimana keadaan Krisna?”
“Operasinya… berhasil,” suara Ana bergetar, namun kali ini karena syukur. “Dokter bilang ia butuh istirahat. Kalau Tuhan mengizinkan, sebentar lagi sadar.”
Asti tersenyum lembut—senyum yang sulit ditebak artinya. “Syukurlah,” katanya. “Kita semua sangat menunggu saat dia membuka mata.”
Di dalam ruangan, Lia duduk di kursi dekat ranjang, tangannya menggenggam ujung baju erat-erat. Perutnya yang mengandung tak banyak terlihat karena baju longgar, dan tidak seorang pun benar-benar memperhatikannya sebagai “istri” siapa pun.
Bagi orang-orang di situ, ia hanya “gadis yang ikut membantu saat Krisna ditemukan”.
Riri berdiri tak jauh dari pintu. Tatapannya berkali-kali jatuh ke wajah Krisna yang masih tertidur dengan alat bantu medis.
Pintu diketuk sekali.
Asti dan Kevin masuk.
Ruangan seketika terasa sempit.
Pandangan Asti menyapu cepat, Ana, Riri… dan berhenti sepersekian detik pada Lia.
Bukan curiga, belum, melainkan rasa tidak suka yang belum bernama. Lia menunduk refleks, seolah keberadaannya terlalu kecil untuk ruangan sebesar itu.
.
Beberapa jam kemudian, jari Krisna di atas ranjang ICU bergerak pelan.
Monitor berdetak stabil.
“Tante Ana, Krisna bergerak!” seru Riri.
Mereka berkumpul. Ardian memanggil dokter. Lia berdiri paling jauh, menggenggam jarinya erat-erat, takut, rindu, cemas menyatu jadi satu.
Kelopak mata itu akhirnya terbuka.
Pandangan Krisna buram… kemudian mulai fokus. Ia melihat sekeliling. "Ini di mana?” Ia melihat semua orang, tapi tatapannya kosong ketika melewati Lia.
Ardian lebih dulu menunduk. “Kris… kamu dengar suara Papa? Kamu sedang dirawat di rumah sakit. Baru selesai operasi.”
Krisna berkedip pelan. Bibirnya bergerak. “…Pa…Aku operasi?"
Ardian mengangguk, berusaha tersenyum walau matanya berkaca-kaca. “Iya. Semua berjalan lancar. Kamu hebat.”
Dokter mendekat. “Bisa sebutkan nama Anda?”
“Krisna…Kusuma.”
Mereka lega. Nama masih utuh.
“Masih ingat siapa saya?” tanya Ana dengan suara yang nyaris pecah.
Krisna menoleh. “Mama.”
Ana menunduk mencium tangan putranya. “Iya, Mama di sini. Nak, kamu kembali… syukurlah, kamu kembali…”
Ana menahan isak dengan tangan gemetar.
Lia menutup mulutnya rapat-rapat. Air matanya jatuh tanpa suara. Panggilan sederhana itu seperti pisau—karena setelah kata “Mama”, tidak ada apa pun yang tertuju padanya.
Dokter memberi isyarat agar semua tenang. “Jangan terlalu banyak bicara dulu, Tuan Krisna. Fungsinya sadar dengan baik, tapi memori mungkin belum stabil.”
Krisna kembali memandang ruangan. Ia berhenti pada Riri yang berdiri agak jauh dengan mata merah.
“…Riri?” suaranya pelan, ragu namun mengenali.
Riri terisak, mengangguk cepat. “Iya, Kris… aku di sini.”
Krisna menatap lama. Lalu tersenyum samar. “Tunanganku…”
Tatapan Krisna lalu tanpa sengaja kembali melewati Lia. Kali ini lebih lama, seolah mencoba mengaitkan wajah itu dengan sesuatu dalam kepalanya. Namun tidak ada apa-apa.
Asti mendekat sedikit, menahan diri. Kevin berdiri kaku.
Lia menggenggam ujung kursinya lebih erat.
Riri menyeka air matanya, hatinya menghangat secara egois: Krisna masih mengenali dirinya.
Kevin memperhatikan perubahan kecil di wajah Krisna dengan tajam.
Asti menatap Lia sekali lagi. Kali ini lebih lama. Ada sesuatu di sana—ketertarikan, kewaspadaan, dan ancaman yang belum berbentuk.
Dokter kembali bertanya lembut, “Apa kamu ingat apa yang terakhir terjadi sebelum kecelakaan?”
Krisna memejamkan mata sebentar. Nafasnya berat.
“Aku ingat… rapat. Perusahaan. Pertunangan,” gumamnya. “Setelah itu… gelap.”
Tak ada tentang desa. Tak ada tentang rumah kecil. Tak ada tentang perempuan yang menunggunya setiap hari. Tak ada tentang janin kecil dalam kandungannya.
Tatapan Krisna bergerak, menyapu wajah-wajah di sekelilingnya. Hangat saat melihat Ana, datar namun mengenali Kevin, bingung sekilas pada Asti… lalu berhenti pada Lia.
Alisnya berkerut.
Siapa?
Ia menatapnya lama, seolah berusaha menangkap sesuatu yang samar di dalam kabut.
Ana menoleh sebentar pada Lia, hanya mengira gadis itu orang yang membantu.
Lia tersenyum tipis, suaranya hampir tak terdengar.
Ia tidak menangis.
Tetapi di dalam dirinya, sesuatu robek pelan-pelan, sebab lelaki yang memegang hatinya kembali membuka mata… namun masa depannya bersamanya hilang tak berbekas.
Lia menutup mulutnya menahan isak.
Krisna membuka mata lagi. Tatapannya menyapu ruangan. Sesaat, pandangannya berhenti pada Lia.
“Kamu… siapa?” tanyanya pelan.
Dada Lia terasa diremas.
Ana menoleh cepat, kaget — baru saat itu menyadari kehadiran Lia lebih dari sekadar penolong. “Oh… dia yang selama ini merawatmu,” jawab Ana cepat, masih belum tahu kebenaran. “Namanya Lia.”
Krisna menatap Lia sekali lagi.
Sopan.
Asing.
“Terima kasih… sudah menolong saya,” ucapnya pelan.
Jantung Lia seolah berhenti berdetak sesaat.
Bukan “Lia…”
Bukan “Istriku…”
Hanya terima kasih.
Kata sederhana itu runtuh seperti hujan lebat di dada Lia.
Bukan suami
Bukan ayah dari anaknya.
Bukan lelaki yang pernah berjanji menggenggam tangannya. Hanya orang asing yang berterima kasih.
Lia tersenyum atau setidaknya berusaha. Matanya basah tetapi suaranya lembut. “Sama - sama. Aku… senang kamu sadar.”
Hanya itu yang mampu keluar sebelum suaranya pecah.
Di dadanya, sesuatu retak pelan.
Dokter lalu meminta semua mundur, memberi jeda untuk pasien beristirahat. Lia melangkah ke belakang, setiap langkah terasa berat seolah meninggalkan seluruh hidupnya di ruangan itu.
Dari balik pintu, Natan menunggu. Ia melihat wajah Lia yang pucat dan langsung tahu jawabannya tanpa perlu kata-kata.
Dan di sanalah bab ini menutup pada sepasang mata yang saling memandang, satu penuh tanya, satu penuh luka, tanpa ada yang berani menjelaskan kebenaran.
Sebab jarum jam dalam kepala Krisna rupanya berhenti jauh di belakang—di masa sebelum semua yang paling penting terjadi.
Dan Lia baru benar-benar sadar satu hal. Dalam ingatan Krisna yang sekarang… ia tidak pernah menjadi siapa-siapa.