Pengumuman! sedang masa di revisi dari bab 85
Maaf, atas ketidaknyamanannya, mungkin akan ada pengubahan jalan ceritanya, terima kasih
Bagaimana jadinya ketika seorang wanita Mafia bertukar tubuh dengan seorang gadis SMA yang merupakan kekerasan sekolah, tak hanya itu gadis itu juga merupakan putri dari cinta pertamanya? Akankah dia bisa menjalani kehidupan itu? Dan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya? Simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xianyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Jika di ingat kembali waktu itu membuat Ruksa tersadar, bahwa tak ada satu pun ucapan dari Ruslan yang salah pada itu.
Hal yang membuatnya marah, bukanlah karena perkataannya yang menusuk hati. Tapi hanya karena dirinya tak mau menerima kebenaran dari ucapan yang keluar dari pria itu.
Atau mungkin karena perasaan gugup dan juga malu yang melandanya, karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang mau mendekatinya dan bahkan berbicara dengannya.
Saat itu Ruksa tak tahu, obrolan macam apa yang seharusnya di bahas kala itu? Karena tak bisa menyembunyikan rasa malunya, ia pun memilih pergi meninggalkan Ruslan.
Di dalam sebuah bilik kamar mandi, Ruksa menangis sesenggukan seraya menggigiti kuku ibu jarinya. " Kenapa gue tadi bilang kayak gitu sih? Kalau besok dia nggak mau berteman lagi sama gue gimana? " gumamnya.
Esok paginya, suasana hatinya begitu buruk, karena sudah di suguhi pemandangan yang tak senonoh dari ayah dan wanita simpanannya.
Sebenarnya ia tak masalah, jika ayahnya memiliki banyak simpanan, selama ayahnya tidak berniat menggantikan posisi ibunya dengan para wanita ****** itu, sampai mati pun ia tak akan membiarkannya
Wajahnya sudah tertekuk di pagi hari, namun seketika raut wajahnya kembali bersinar, ketika menangkap siluet Ruslan yang berdiri di koridor, seperti tengah menunggu seseorang.
Selama semalaman suntuk, Ruksa mencari bagaimana cara berbaikan dengan seseorang dari sebuah web yang berada di dalam komputer miliknya.
Saat dirinya mencoba menyapa, akan tetapi seorang wanita berambut panjang lurus hitam datang dan menghampiri Ruslan dengan wajah sumringahnya seraya mengulurkan sebuah kotak yang di yakini sebagai sebuah kotak bekal makanan.
Melihat hal tersebut, Ruksa pun mengurungkan niatnya, memilih memasukkan tangannya kedalam saku rok nya lalu kembali berjalan.
" Tentu saja, mana ada orang yang mau berteman sama gue. Sadarkan dirimu Ruksa. Lo udah ditakdirkan untuk hidup sendiri. " Gumamnya.
" Ruksa! " seru Ruslan.
Ruksa memutar bola matanya dengan malas, mengabaikan seruan dari pria itu. Kedua matanya menatap lurus ke depan, menganggap pria itu tak pernah ada di muka bumi.
Grep!
Langkah kaki Ruksa terhenti, ia pun berbalik dan mendelik tajam pada Ruslan yang tengah memegang pergelangan tangannya.
Di liriknya perempuan tadi hanya bisa cemberut lalu pergi.
" Lepas! "
" Maaf, soal yang kemarin. "
" Gue bilang lepas. "
" Gue tahu, ucapan kemarin terlalu kasar, maka dari itu. " Ruslan pun bertekuk lutut di depan Ruksa, membuat wanita itu menjadi tak nyaman.
" Bangun nggak lo? Lo nggak takut di bunuh sama gue? "
Kepala Ruslan menggeleng seraya memegang salah satu kaki Ruksa seraya berkata bahwa dirinya tak akan bangkit sebelum dirinya di maafkan.
Karena suasana sekolah sudah ramai, membuat keduanya menjadi pusat perhatian semuanya. Ruksa yang tak tahan itu langsung memaafkan pria itu asalnya dia bisa menyingkir dari dari kakinya
Kedua sudut bibir Ruslan pun terangkat ke atas membentuk sebuah cengiran yang membuat Ruksa merasa jengkel menatap wajah itu.
Setelah kejadian itu, hubungan keduanya menjadi lebih baik dan dekat, bahkan pria itu ternyata menyukai perkelahian, bahkan sudah beberapa kali keduanya kerap terlibat tawuran entah itu antar kelompok atau pun antar sekolah.
Keduanya di kenal sebagai pasangan yang tak terkalahkan, meski pun keduanya tak terikat sebuah hubungan secara khusus.
Kendati begitu, Ruksa sangat menyukai kedekatannya dengan Ruslan. Tapi tidak dengan ayahnya yang sangat tak menyukai temannya itu.
" Memangnya kenapa jika aku berteman sama dia? Apa peduli ayah?! Dan kenapa baru sekarang? Kenapa?! Jangan bersikap sok peduli." Ruksa mendengus. " Padahal saat itu bunda sedang berjuang mempertahankan nyawanya, tapi ayah malah bisa-bisa nya bermain dengan wanita lain. "
" Ruksa Wisesa!! "
" Kenapa? Bukankah semua itu benar?! Ayah lah penyebab Bunda meninggal!!! "
Plak!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Ruksa yang putih hingga meninggalkan bekas di sana.
" Aku benci ayah. " Ruksa berkata seraya pergi dari rumah, mengabaikan teriakan dari ayahnya yang terus memanggil namanya.
Air mata mengalir di kedua pipinya, ke dua kakinya terus berjalan menyusuri jalanan yang begitu gelap.
Dirinya begitu merindukan sosok ibunya yang begitu baik hati nan lembut. Andaikan kecelakaan itu tak terjadi, mungkin sekarang, sosok itu tengah memeluk tubuhnya dan memberi sebuah kenyamanan.
Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja, membuat Ruksa tersadar dari lamunannya. " Kok gue jadi mengingat masa lalu sih? Kayak mau mati aja. " gumamnya seraya menyeka air mata di kedua pipinya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar dari balik saku baju seragamnya, ia pun merogoh ponselnya dan menatap layar, terdapat panggilan dari Dania, kedua alisnya mengernyit. Namun ia tak terlalu berpikir banyak dan segera menggeser ikon hijau. Menempelkan benda pipih itu di telinganya.
" Aldan sudah sadar! "
Kedua bola matanya terbeliak, mendengar hal itu, ia pun bergegas turun dari dahan pohon
Hap.
Ahhhh!!
Ruksa, Queensha dan juga Laila berteriak secara bersamaan.
Ruksa yang tersadar, kembali kekewarasannya, ia pun menjentikkan jarinya. Dalam hitungan detik, kedua wanita itu pun menjadi bungkam.
" Maaf, gue buru-buru. " Ruksa berkata, lalu berlari tergesa-gesa meninggalkan keduanya yang masih terdiam bagaikan boneka kayu.
Saat tersadar dari keterkejutannya, Queensha mendengus dan berteriak memanggil nama Dania yang kini sudah menjauh dari pandangannya.
" Menurut lo Kenapa dia menjadi seperti itu? Dia seperti orang lain tau nggak sih? Nggak seperti biasanya. " gerutunya pada Laila
" Mungkin saja, dia kerasukan. " ungkap Laila.
Queensha terdiam sejenak seraya mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan perkataan temannya itu. "Kerasukan? "
Memangnya hal seperti itu masa ada di zaman modern ini?
Raut muka Laila begitu serius, ia pun menjelaskan bahwa Dania pasti sudah kerasukan roh ibunya.
" Dari mana lo tahu kalau itu roh ibunya? " tanya Queensha dengan kedua tangan yang terlipat di dada.
" Berdasarkan dari apa yang gue tonton selama ini, kemungkinannya adalah 70% " ungkapnya dengan yakin.
Dahi Queensha kembali mengernyit, tak mengerti dengan isi kepala temannya itu dan membuatnya berpikir, Dia yang bodoh atau gue yang maunya di bodohi sama orang bodoh. '
Srak! Srak!
Tiba-tiba semak-semak yang berada tak jauh dari mereka bergoyang pelan namun lama kelamaan, tumbuhan itu semakin bergoyang dengan sangat cepat
Membuat keduanya saling bertukar tatapan, meneguk saliva secara bersamaan seraya menunggu sosok apa yang akan muncul dari balik semak-semak itu.
Tanpa sadar, tangan Laila meraih dan menggenggam tangan tangan Queensha dengan erat, begitu pula sebaliknya.
Layaknya sebuah film horor, seketika suasana di sana terasa dingin mencekam, bulu kuduk mereka mereka dengan kedua jantung mereka berdegup dengan sangat kencang, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh mereka termasuk tangan mereka yang saling menggenggam.
Queensha pun kembali meneguk kembali salivanya dan memberanikan diri untuk mendekat.
Saat langkah kakinya hanya tinggal dua langkah lagi. Tiba-tiba tumbuhan itu bergoyang dengan sangat cepat.
Akhhhh!!!
Tanpa melihat sosok itu, keduanya lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Tak lama setelah keduanya meninggalkan tempat itu seekor kucing oren muncul dari balik semak-semak itu seraya mengeong.