Azzam Bernabas Dirgantara, seorang Milyader berhati dingin. Bagi Dirga, hatinya sudah lama mati. CEO dari Dirgantara Group tersebut sudah mengubur dalam cintanya bersama sang tunangan yang pergi untuk selama-lamanya.
Lalu tiba-tiba muncul wanita seperti alien yang mulai mengusik kedamaian Dirga. Apa Dirga akan bertahan menjadi perjaka tua sampai akhir hayat karena cintanya yang sudah mati? Atau jangan-jangan pria seperti kanebo kering itu malah berpindah haluan, ketika hidupnya diusik sosok gadis yang sama sekali tidak akan membuatnya jatuh cinta lagi.
Dirga berani bersumpah, ia akan membujang selama-lamanya. Percaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Pertama
Dinikahi Milyader Bagian 34
Oleh Sept
Rate 18 +
Mohon di skip, bukan bacaan remaja. Cocok untuk mereka yang sudah menikah. Terima Kasih.
****
SKIP!
Saat-saat seperti ini adalah saat paling mendebarkan antara dua insan yang habis mengikrarkan janji suci pernikahan. Moment ketika matahari berganti rebulan, moment di saat langit mulai gelap dan cahaya ruangan berubah temaram, ini adalah saat-saat yang paling mendebarkan bagi setiap pasangan baru.
Tanpa kecuali, seperti Dirga dan Levia tengah malam ini, atau malah hampir fajar. Levia sendiri sangat terkejut tak kala menyadari sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Saat ia raba dan merasakan bulu-bulu halus nan lembut itu, ia jadi bergidik ngeri.
Apalagi, Levia kini merasakan sesuatu yang tidak beres di balik tubuhnya. Ia mau beringsut dan menjaga jarak. Tapi, Dirga malah merapa tanpa malu. Pria itu melah semakin menempelkan wajahnya tepat di punggung Levia.
Aduh ...
Jantung Levia mulai tidak aman. Sudah jedag-jedug sejak tadi. Lalu bagaimana dengan kondisi jantung di sebelah? Dirga sudah banyak menelan ludah, siluet Levia dari belakang sudah membuatnya mengila.
Ingin rasanya ia menerkam langsung mangsanya yang gurih itu. Dilalap habis sampai pagi menjelang. Sayang, itu hanya ada di hati saja. Karena Dirga sendiri tidak mau memaksa. Tapi terus berusaha untuk mendesak gadis tersebut.
Dirga menyerang Levia, pelan tapi pasti. Tidak mau memaksa, karena dia bukan pria yang seperti itu. Ia juga ingin Levia menerimanya dengan terbuka. Bukan menerobos masuk tanpa permisi. Bisa-bisa kena kasus KDRT.
"Ehem ... Lev! Bisa aku minta sekarang!" bisik Dirga di belakang telinga Levia.
Levia yang kini posisi masih membelakangi sang suami, automatis langsung ketar-ketir. Manik matanya menajam, kakinya seperti mau lari saja dari ranjang super besar dan empuk tersebut.
[Bagaimana ini? Aduh ... gawat ... aku belom siap. Aduh ... masih ngaruh nggak kalau aku pura-pura tidur?]
Levia yang panik, dahinya kini dipenuhi keringat dingin.
"Lev ... kamu nggak tidur lagi, kan?"
Levia buru-buru memejamkan mata. Tapi, dasar Dirga jahil. Melihat Levia tidak berkutik, ia pencet saja salah satu biji buah kismis. Membuat tubuh Levia seketika melengkung karena geli. Reflect, Levia kemudian menoleh dan menatap tajam pada suaminya. Ya, pria itu kini adalah suaminya. Suami paling mesumm, pikir Levia. Enak aja, main pencet-pencet!
"Aku kira kamu ketiduran lagi!" ucap Dirga dengan wajah tanpa dosa.
"Eh ... mau ke mana?" cegah Dirga saat Levia hendak turun dari ranjang.
"Levi tidur di sofa saja!" jawab Levia sambil menundukkan wajah. Jujur ia tadi kaget campur malu.
"Lalu untuk apa ranjang sebesar ini? Kamu lihat kan? Seprainya masih bersih ... !"
Levia makin gelisah, Dirga sepertinya terlalu banyak memberi kode untuk meminta sesuatu darinya.
"Sini ... atau aku gendong lagi kaya tadi."
Levia pun hanya bisa menghela napas dalam-dalam, kemudian kembali duduk di tepi ranjang.
"Bagus ... aku suka wanita penurut!" ujar Dirga.
Levia kini menatap jarum jam. Kenapa waktu berjalan sangat lambat. Ia melirik kanan kiri, dilihatnya sang suami menatapnya tanpa henti.
Gadis itu benar-benar merasa tidak nyaman berada di dalam kamar bersama Dirga. Ia seperti domba yang tidak berdaya. Tinggal menunggu eksekusi dari sang srigala yang sudah menanti untuk memakannya.
"Ayo sini ... masuk selimut. Udara sangat dingin!"
Dirga yang licik, tanpa sepengetahuan Levia, ia kecilkan suhu kamar tersebut. Hingga Levia ikut bergabung bersama selimut miliknya.
[Kenapa jadi dingin banget?]
"Sini lebih dekat, biar hangatnya lebih berasa!" ajak Dirga dengan senyum aneh.
Yaiyalah, Levia tidak tahu. Pria itu sudah melepas atribut bawahnya. Hanya tinggal atasan saja.
SETTT
Dirga pura-pura memejamkan mata dan dengan sengaja memeluk Levia lagi.
"Kalau takut, kita tunggu sampai kamu berani. Sekarang ayo tidur!" bisik Dirga sok santai. Padahal jantungnya hampir copot.
[Astaga! Apa itu yang bergerak-gerak dan hangat?]
Levia menjerit dalam hati saat merasakan sesuatu kembali.
"Tuan tidak tidur, kan?"
"Jangan panggil Tuan, nanti aku ciummm!"
JLEB
Levia langsung diam.
"Bisa geser sedikit?" pinta Levia yang merasa enggap.
"Tidak bisa!"
"Tuannn! Jangan begini!"
[Kau mau kuciumm rupanya?]
Dirga mendongak dan langsung mengecup bibir munggil tersebut.
"Eh ...!"
Niatnya hanya mengancam, atau kecupan singkat. Tapi, tak tahunya Dirga tidak bisa mengontrol tubuhnya lagi.
Dengan cepat ia langsung pindah posisi, pria itu kini berada tepat di atas Levia. Membuat Levia panik dan tambah gelisah.
"Kita lakukan pelan, jadi jangan takut!" bisik Dirga yang sudah tidak tahan.
Tidak tahu mengapa, dekat gadis karbol tersebut membuatnya terpacu dan malah gampang on fire. Padahal, Levia sama sekali tidak sedang menggoda dirinya.
Dan kini Levia semakin shock saat Dirga menyibak selimut mereka. Ada sesuatu yang seolah menantang dengan gagah berani.
Meski sempat melihat tapi tidak begitu jelas, karena Dirga yang waktu itu pingsan di kamar mandi. Sekarang situasinya sangat berbeda. Dan ini sedikit berbahaya. Karena pria itu dalam kondisi sehat jasmani dan rohani. Belom apa-apa Levia sudah takut duluan.
Mungkin karena melihat ukurannya yang tidak pernah ia kira sebelumnya.
"Kenapa wajahmu pucat begitu! Bukankah kamu pernah melihatnya?" bisik Dirga sembari menengelamkan wajahnya ke ceruk leher Levia.
Tulang-tulang Levia mendadak seperti habis dipresto. Tiba-tiba semua menjadi lunak seketika. Tidak berani menatap lagi, Levia memejamkan mata. Ngeri, takut, dan cemas jadi satu.
Apalagi saat Dirga kembali menempelkan bibirnya. Pria itu menyesapnya lembut. Mau menolak, tapi tangan Dirga yang sangat ahli itu sudah begitu pandai mengenali area rawan miliknya.
Membuat Levia mengeliat, sentuhan Dirga sukses merobohkan dinding pertahanan Levia. Ia pun menyambut permainan suaminya itu.
Sesaat kemudian
Bathrobe yang semula Levia kenakan sudah berada di atas kusri depan meja rias. Begitu juga dengan Dirga. Pria itu kini juga tidak memiliki apa-apa pada tubuhnya.
Mungkin karena gejolak jiwanya sudah terbakar dan mengebu-ngebu, Dirga langsung saja menyambar apa yang ada di depannya.
Puas membuat Levia melayang akibat jari-jarinya dan lidahnya yang ahli tersebut, kini waktunya Dirga menabur benih terong yang minta dimasukan ke dalam oven.
"Sudah basah ... pasti tidak sakit bila aku masukkan sekarang," bisik Dirga sopan. Ia mau ijin masuk ke oven.
Levia sendiri tidak banyak berbicara, buaian Dirga membuatnya mabukkk. Belum masuk saja sudah melayang-layang. Benar-benar skill dewa.
"Tahan, ya!" ucap Dirga serak.
Mata Levia langsung terpejam rapat-rapat ketika sesuatu memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Panas, perih dan sangat sakit ... sepertinya ada yang terkoyak.
"Tahan sayang ...!" ucap Dirga pelan saat melihat bulir bening keluar dari sudut mata Levia. Ia tahu ini pasti sakit, karena Levia masih perawannn. Diusapnya mata itu sejenak kemudian kembali fokus.
Dengan pelan, Dirga membuat gerakan naik turun yang lama-lama bisa Levia rasakan sensasinya yang berbeda. Bukan lagi sakit, perih atau sakit. Dirga yakin mereka kini bisa saling menikmati, karena mendengar suara khas indahnya malamm pertamaaa, meskipun di saat menjelang fajar.
Detik berikutnya, wajah Dirga semakin menegang. Ia seolah sedang menahan sesuatu. BERSAMBUNG