Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap di hotel
"Aero Mahendra ... Cowok tengil yang suka menggangguku ..." jawab Naya dengan tertawa kecil.
"Mas ... Tolong dudukkan dia di meja itu dulu," titah Lusia.
Mahen mendudukkan Naya, tapi Naya malah memeluk Mahen dengan begitu erat. "Jangan pergi dariku. Ayo kita menikah ..." ucapnya ngelantur.
Itu membuat Mahen terkejut. Ia dan Lusia saling melihat.
"Ahahaaa ... Jangan di anggap mas. Temen saya lagi mabuk berat, biasa lagi banyak pikiran," ujar Lusia.
"Enggak apa-apa, mbak. Ini bagaimana? Apa saya. Antarkan pulang saja?" tanya Mahen.
"Eh, kamu kenal Naya?"
"Kebetulan saya lagi ada kerjasama dengan perusahaan Naya dan juga tahu dimana rumahnya," jawab Mahen.
"Oh gitu. Jangan di antarkan pulang, aku akan membawanya tidur di hotel. Kalau sampai pulang dengan keadaan seperti ini, yang ada orangtuanya marah besar!" ungkap Lusia.
"Sayang ... Sayang ... Ternyata kamu disini, ayo ikut aku. Ada yang mau aku kenalkan padamu," ajak Rahadi yang tiba-tiba menghampiri Lusia.
"Eh ... Tapi—" Lusia tidak bisa menolak ajakan suaminya itu. Kemudian ia memberikan kartu hotel yang sudah di pesannya pada Mahen. "Tolong anterin Naya, ya. Cuman anterin aja, nanti tinggalin aja sendiri. Bye ..." pesannya seraya berlalu pergi.
"Eh ... Ehh ... Mbak ..." panggil Mahen.
Naya semakin mengeratkan pelukannya. "Aghhh badanmu bagus banget sih ... Ototmu menggoda sekali," ia tidak hentinya meraba tubuh Mahen.
"Naya ... Heyy ... Sadar dong. Aghh gak akan benar, lebih baik aku antarkan dia ke hotel saja sekarang!" gumam Mahen. Karena cukup kesulitan memapahnya, ia menggendongnya keluar dari tempat hiburan itu. Lalu ia bertemu dengan Andro yang hendak menemuinya.
"Eh Tuan ... Siapa perempuan ini?" tanya Andro.
"Cepat bukakan pintu mobilnya," titah Mahen.
Dengan penuh pertanyaan, Andro membuka pintu mobil. Mendudukkan Naya di bangku samping kemudi lalu ia masuk dan duduk di balik kemudi.
"Tunggu, Tuan. Ada apa ini? Lalu bagaimana pertemuan kita di dalam?" tanya Andro.
"Batalkan. Aku ada urusan lain!" cetus Mahen. Kemudian melajukan mobilnya dengan cepat.
Andro hanya menggelengkan kepala seraya menggaruk tengguknya yang tidak gatal.
"Gak bisa di tebak banget Tuan Mahen ini!"
Sampai di hotel itu dan Mahen membawa Naya ke kamar yang sudah Lusia pesan dengan keadaan Naya yang sudah tidak sadarkan diri.
Menidurkannya di tempat tidur. Saat akan menarik tangannya, Naya menahan tangan Mahen.
"Aghh bagaimana ini?" gumam Mahen.
"Jangan pergi!" Naya mengigau.
"Baiklah." Mahen mengusap lembut pucuk kepala Naya dan senyuman tersungging di bibirnya. "Cantik banget kamu! Apalagi kalau tidur seperti ini," gumamnya.
Tiba-tiba Naya terbangun, ia merasakan mual yang bergejolak dan tidak bisa menahannya lagi sampai akhirnya ia muntah pada kemeja Mahen.
"Oh my god! Naya ... Kau ..." gerutu Mahen. Akan tetapi setelah itu Naya tidak sadar lagi dan terlelap tidur.
Tangan Mahen sudah terlepas, sehingga ia membuka bajunya dan membersihkan muntahan Naya di kamar mandi. Setelah itu mengeringkannya dengan pengering tangan seadanya, tapi itu tidak cukup membuat kemejanya kering.
Mengambil bathrobe dan mengenakannya. Menatap Naya yang terlelap, "Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Temannya juga tidak ada datang kemari! Aku tunggu saja sampai temannya datang baru setelah itu aku akan pergi."
Mahen memilih untuk berbaring di sofa dan lama kelamaan ia juga tertidur.
Waktu berganti dengan cepat. Pagi hari sudah tiba dan Naya terbangun, mengucek matanya perlahan kemudian ia terkejut saat melihat Mahen tertidur di sofa dengan bathrobe yang sudah terbuka sehingga menampakkan dada bidang Mahen yang kekar itu.
"Aaaghhhhhh ...."
Teriakan Naya membuat Mahen terbangun. Terperanjat mendekat pada Naya, karena kesadarannya belum sempurna membuatnya tersandung dan jatuh menimpa tubuh Naya.
Tidak sengaja kedua bibir itu menempel dan mata mereka saling melihat. Kemudian Naya mendorong tubuh Mahen.
"Hehhh ... Kurang ajar kamu! Apa yang sudah kamu lakukan? Kau sudah apakan saya?" teriak Naya seraya memukul-mukul tubuh Mahen dengan bantal.
"Tu–tunggu ... Jangan salah paham padaku! Tolong hentikan."
"Kau apa-apaan disini? Kenapa kau gak pake baju? Jangan-jangan kamu melecehkan saya, ya?"
Mahen menarik bantal itu dan melemparkannya. "Stop. Dengarkan penjelasanku!"
"Kenapa kamu gak pake baju? apa yang sudah kamu lakukan pada saya?" tanya Naya.
Mahen melepaskan bathrobe-nya dan pergi ke kamar mandi dan menunjukkan kemejanya.
"Siapa suruh muntah pada kemejaku. Semalam aku harus melepaskannya karena kotor dan aku mencucinya lalu aku gantungkan supaya kering! Tidak mungkin aku memakai kemeja basah!" tutur Mahen.
Naya mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Mengingat samar saat keluar dari club dengan mobil dan mengingat saat dirinya muntah.
"Aghhh itu memalukan!" gumam Naya merasa malu.
Kemudian Mahen mengenakan kemeja itu. "Aku tidak apa-apakan kamu kok, aku bukan pria seperti itu. Semalam aku berniat menunggu temanmu datang, tapi aku malah ketiduran di sofa!" jelas Mahen.
"Yasudah. Sana pulang duluan!" titah Naya.
"Hmmm ... terus kamu gimana?" tanya Mahen.
Naya meraih ponsel dalam tasnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Lalu menghubungi Lusia dan dia mengatakan kalau mobil sudah ada di parkiran hotel dan tidak sempat menemuinya karena sudah dini hari.
"Hmmm ... Mobil saya sudah ada di parkiran, sana pulang!" titah Naya seraya menatap Mahen.
"Hehee ... Boleh anterin dulu ke kontrakan aku gak?"
"Yasudah!" Naya turun dari tempat tidur, mencuci muka dan merapikan baju juga rambutnya. Lalu keluar dari kamar hotel, Mahen mengekor padanya.
"Sana tunggu di mobil. Saya mau cek out dulu!" titah Naya dan dia begitu patuh.
Naya pergi ke receptionis dan melakukan cek out sembari meminta kunci mobil yang di titipkan disana.
"Terima kasih. Mbak ..." ujar Naya berlalu pergi.
Saat menuju ke parkiran, Naya di hadang oleh dua orang. Tentu itu bukanlah orang asing, Miko dan Shella juga baru keluar dari hotel itu dengan bergandengan mesra.
"Eh ketemu mbak Naya. Kebetulan banget, ya ..." ujar Shella terdengar begitu polos. Bahkan ia dengan cepat melepaskan gandengan tangannya itu.
Naya mendelikkan matanya kesal. Merasa jijik dengan tingkah Shella itu, merasa bodoh karena baru menyadari hal itu sekarang padahal Shella sudah satu tahun lebih menjadi sekretaris Miko.
"Apa jangan-jangan kamu mengikuti kami, ya?" tuduh Miko.
"Hmmm ... gak ada kerjaan banget aku ngikutin kalian. Tolong minggir!" ucap Naya.
"Miko ... Apa aku menyakitinya? Kenapa dia ketus padaku?" rengek Shella.
"Jangan berdrama di hadapanku. Aku muak melihatnya!"
Kemudian Shella mendekati Naya dan meraih kedua tangan Naya. "Mbak Naya, maafkan aku kalau aku punya salah pada mbak Naya, tapi sungguh aku tidak ada niatan merebut Miko."
Merasa jijik, Naya mengibaskan tangan Shella sampai membuatnya tersungkur ke lantai. Naya hanya tersenyum menyeringai karena dirinya mengibaskan tangan Shella sama sekali tidak pakai tenaga.
"Naya, kenapa kamu kasar sekali jadi perempuan? Shella punya niat baik padamu, kenapa kamu malah mendorongnya?" ujar Miko membela Shella seraya membangunkannya.
"Silakan kalian nikmati kebahagiaan kalian. Jangan kalian ganggu hidupku lagi, jika kalian masih menggangguku, maka aku tidak akan segan-segan menyebarkan bukti perselingkuhan kalian!" tutur Naya tegas.
"Kau ..." seru Miko kesal.
"Heyyy ... Apa ada masalah? Kenapa lama sekali?" tiba-tiba Mahen menghampiri.
kedatangan Mahen di manfaatkan dengan baik oleh Naya. Toh Mahen pria yang tampan.
"Sayang ... Maaf nunggu lama." Naya meraih tangan Mahen dan merangkulnya dengan mesra. Tentu itu membuat Mahen keheranan.
"Ka–kau ..." gagap Miko.