Mencintai jodoh sepupu sendiri?
Salahkah itu?
Berawal dari sebuah pertemuan yang tak di sengaja. Senja, gadis 22 tahun yang baru pulang dari luar negeri itu bertemu dengan sosok pria bernama Bumi yang menurutnya sangat dingin dan menyebalkan.
Semakin Senja tidak ingin melihat wajahnya, justru makin sering Senja bertemu dengannya.
Dari setiap pertemuan itulah muncul rasa yang tak biasa di hati keduanya.
Tapi sayangnya, ternyata Bumi adalah calon suami dari sepupu Senja, Nesya. Mereka terlibat perjodohan atas permintaan almarhum ibunda Bumi pada sahabatnya yang merupakan ibu dari Nesya.
Sanggupkah Bumi dan Nesya mempertahankan perjodohan itu?
Bagaimana nasib Senja yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Bumi? Mampukah ia mempertahankan hatinya untuk Bumi?
Baca terus kisah mereka, ya.
ig : @tulisan.jiwaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hary As Syifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Persiapan Acara Makan Malam Keluarga
Dua hari berlalu setelah insiden malam itu. Sepertinya ancaman Bumi berhasil membuat Riko jera. Ia tak pernah lagi mengganggu Senja. Bahkan sekedar menampakkan batang hidungnya di hadapan Senja pun tidak.
Senja merasa lega dan aman saat ini karena Riko tak akan menganggunya lagi. Tapi sekarang dia justru galau memikirkan malaikat pelindungnya itu. Karena sejak kejadian itu, mereka tak pernah bertemu lagi.
Drrttt drrrt drrttt.
Handphone Senja yang ada di atas meja kerjanya bergetar. Ternyata ada panggilan masuk dari sang ibu. Senja yang tadi tengah melamun langsung tersadar dan segera menjawab panggilan ibunya.
“Hallo, Ma,” sapa Senja. Suaranya terdengar sangat lemah seperti orang belum makan.
“Hallo, Sayang. Suaramu lemas sekali. Kau belum makan siang?” tanya Liliana, ibunya.
“Ini sudah hampir sore, Ma. Mana mungkin Senja belum makan.”
“Lalu kenapa suaramu begitu? Jangan terlalu lelah bekerja. Kalau kau lelah, istirahat saja dulu. Toh perusahaan itu punya Papamu sendiri,” kata Liliana yang membuat Senja geleng-geleng kepala mendengarnya. Ibunya kalau sudah bicara memang suka lupa menahan diri.
“Mama sebenarnya ada apa menelepon Senja? Apa ada sesuatu yang mau Mama tanyakan?” tanya Senja agar ibunya berhenti bicara panjang lebar.
“Iya, tentu saja ada yang mau Mama bicarakan. Nanti malam kita ada acara makan malam keluarga di rumah Om Adrian mu. Nanti disana akan ada keluarga calonnya Nesya juga.”
“Lalu?”
“Kau harus berpenampilan menarik, Sayang. Apa kau sudah mempersiapkannya? Seingat Mama kau belum punya gaun terbaru kan sejak pulang dari luar negeri? Gaun-gaun lamamu semua sudah sempit.”
“Loh, Kak Nesya yang mau dijodohkan kenapa Senja yang harus berpenampilan menarik? Nanti calon Kak Nesya malah naksir Senja bagaimana?”
“Mama harap sih begitu. Hahaha. Tapi rasanya tidak mungkin. Masa kau mau merebut calon tunangan sepupumu? Kau lebih baik sama adik tirinya saja. Katanya adik tirinya tampan juga. Lumayan lah.”
Senja menghela nafas kasar. Ibunya tidak kapok juga mau menjodohkannya dengan seorang pria.
“Sudahlah, Ma. Senja tidak tertarik dengan perjodohan. Masalah gaun, nanti Senja akan mampir ke butik setelah pulang kerja.”
“Kenapa tidak ke butik sekarang? Mama ada di butik langganan Mama sekarang. Atau mau Mama pesankan punyamu?”
“Tidak perlu, Ma. Senja bisa sendiri. Lagipula Senja masih banyak kerjaan. Nanti saja Senja kesana. Sudah dulu ya, Ma. Bye, Ma.”
“Tapi...”
Tut. Panggilan dimatikan sepihak oleh Senja. Ia letakkan lagi handphone-nya di atas meja. Lalu ia melanjutkan pekerjaannya lagi.
***
Sementara itu di sebuah butik, ibunya sedang mengomel sendiri karena Senja mematikan panggilannya seenak hati. Saking sibuk mengomel, ia sampai tak sadar bahwa dirinya diperhatikan oleh keponakannya sendiri, yaitu Nesya.
“Tante Lili?” sapa Nesya.
“Eh, Nesya. Hai, Sayang. Kau disini juga?” sahut Liliana lalu menempelkan pipi kanan dan kirinya pada Nesya bergantian.
“Iya, Tante. Aku mengambil gaun pesananku untuk nanti malam. Tante sendiri mau ambil pesanan juga?” kata Nesya sambil menunjukkan paper bag di tangannya.
“Iya, sama. Tante juga mau ambil pesanan.”
“Senja mana, Tante? Tidak ikut? Nanti malam dia datang kan?”
“Tenang saja, nanti malam dia pasti datang. Sekarang dia masih sibuk bekerja di perusahaan Papanya.”
“Dia mirip sekali sama Om Andika. Pekerja keras. Saking sibuk bekerja, dia belum pernah berkunjung ke rumah setelah pulang dari luar negeri.”
“Yah, begitulah dia. Maklumi saja, ya.”
“Iya, Tante. Tidak masalah. Yang penting nanti malam jangan lupa datang ya, Tante. Kalau begitu Nesya duluan, ya. Bye Tante...”
“Iya, hati-hati di jalan.”
Liliana menatap Nesya yang keluar dari butik itu. “Beruntungnya Nesya akan dijodohkan dengan anak Tuan Dirgantara. Semoga Senja jodohnya sebaik anak itu,” gumam Liliana pada dirinya sendiri.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Seharusnya Senja sudah pulang dan singgah ke butik mencari gaun untuk acara nanti malam. Tapi ia malah asik memeriksa beberapa laporan yang diterimanya.
Tak sadar sejam sudah berlalu. Senja pun bergegas pulang dari kantornya lalu singgah ke butik langganan keluarga mereka.
“Selamat sore, Nona Senja. Apa Nona mencari gaun juga untuk acara nanti malam?” tanya salah satu karyawan butik yang sudah kenal dekat dengan keluarga mereka.
“Iya, benar. Aku mencari gaun untuk nanti malam. Apa ada gaun yang cocok untukku?” tanya Senja kemudian.
“Tentu ada, Nona. Mari ikut saya. Biar saja tunjukkan koleksi gaun kami pada Nona,” jawab karyawan butik dengan sangat ramah.
“Baiklah, aku mau yang simple saja. Tidak terlalu terbuka juga, ya,” ucap Senja.
“Baik, Nona. Saya mengerti. Tadi siang Nona Nesya juga kesini mengambil gaunnya.”
“Oh ya?”
“Iya, Nona. Tapi Nona Nesya minta gaun yang lebih terbuka, berbanding terbalik dengan Nona Senja.”
“Dia memang selalu begitu,” kata Senja sambil terkekeh.
Setelah memilih-milih, akhirnya pilihannya jatuh pada gaun berwarna dusty pink yang panjang hingga selutut.
Drrrt drrttt drrrt.
Handphone Senja bergetar saat ia baru saja masuk ke dalam mobilnya.
“Hallo, Ma. Ada apa?” tanya Senja saat mengangkat handphone-nya.
“Ada apa kau bilang? Kau dimana, Sayang? Makan malamnya jam 7, tapi sekarang kau belum sampai ke rumah,” oceh ibunya.
“Iya, Ma. Maaf. Senja baru dari butik. Ini baru mau pulang. Sebaiknya Mama sama Papa duluan saja ke rumah Om Adrian,” kata Senja dengan santainya.
“Ya sudah, baiklah. Tapi cepat menyusul kesana, ya. Om Adrian mencarimu. Jangan sampai tidak datang!”
“Iya, Ma. Senja akan menyusul. Bye Mama...”
Tut. Senja segera memutuskan panggilan dari ibunya lalu pergi meninggalkan butik.
Akankah Senja bertemu dengan Bumi disana? Bagaimana selanjutnya reaksi Senja saat bertemu Bumi ketika makan malam di rumah Nesya?
Bersambung...
saat Bebek panggang madu terhidang di hadapanku tp tak bisa kumakan krn perut terlanjur kenyang..
maka cepatlah bangun Senjanya Bumi.. krn Bumi mu begitu bersedi sama seperti yg ku rasakan saat merelakan Bebek panggang madu utk mereka.. 😭