Estsaffa ahiara, gadis yatim piatu yang diadopsi oleh kedua orangtua angkatnya. Terpaksa menikah untuk membayar hutang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riendiany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Ada apa dengan Ardi dan Vina?
"Ra, pulang bareng yuk?" Ara menatap heran sekretaris Adrian yang aduhai itu. Tumben dia mengajak pulang bersama, sedangkan mereka tidak satu arah dan sama- sama naik ojek online.
Gadis itu tersenyum mengejek, kemudian melempar sticky note yang masih tebal hingga hampir menyenggol dada Vina.
"Ya ampun Ara! Apa kau tak tahu ini aset berhargaku. Kalau kau mengenainya kupastikan kau ganti rugi untuk perawatannya," Ara memekik ngeri. Perawatan? Ya ampun pasti butuh uang banyak untuk perawatan onderdil Vina yang satu itu. Gadis itu tidak ingin membayangkannya.
"Maaf mbak. Lagipula kita tidak satu arah, apa mbak Vina sedang demam?" Ara berdiri kemudian menempelkan punggung tangannya di dahi Vina.
"Enak saja! Siapa yang demam, aku serius Ra," Ara cengengesan menanggapi kemarahan Vina. Kemudian mendekatkan tubuhnya pada sekretaris cantik itu dan menyenggol bahunya.
"Jangan- jangan mbak Vina punya gebetan sopir ojek online yang bisa disuruh kesana kemari ya?"
"Huss! Mana level aku dengan sopir ojek online! Uppsss," Vina memukul mulutnya sendiri. Pamali! Benci jadi cinta. 'Jangan sampai itu terjadi' Vina mengusap dadanya, bisa- bisa ia menangis meratapi nasibnya.
"Sudah jangan banyak tanya! Pokoknya kita barengan pulangnya. Dan ini gratis alias free. Aku tunggu, kamu bereskan dulu mejamu..tapi tidak pakai lama okay," Ara membulatkan ibu jari dan jari telunjuknya ke depan Vina.
Gadis itu bergegas masuk ke ruangan Adrian setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu. Didekatinya lelaki yang tengah fokus di depan laptop dan hanya melirik ketika asisten pribadinya di kantor itu memasuki ruangannya.
"Mas, masih ada yang bisa kubantu?" lelaki itu tidak menoleh sedikitpun.
"Tidak. Pulanglah,"
"Baiklah. Aku... pulang lebih dahulu,"
Ara menjeda ucapannya. Bodoh sekali, bisa- bisanya ia berpikir lelaki itu akan menahannya. Dan diajak pulang bersama seperti beberapa saat yang lalu. Namun sepertinya lelaki itu hanya mengajaknya pulang bersama jika diperlukan saja.
Setelah mejanya tertata rapi dan siap untuk keluar ruangan. Ditatapnya sekali lagi wajah tampan sang Bos yang masih saja tertuju pada layar laptop sambil sesekali terlihat menyentuh keyboard. Sepertinya ia tidak perlu pamit lagi, karena pasti akan mengganggu lelaki itu.
Setelah Ara keluar ruangan, ia segera menghampiri Vina yang telah siap menunggunya. Kemudian dua orang gadis itu melangkah menuju lift untuk turun ke lobby perusahaan.
Tidak berapa lama terlihat mobil Jazz GK5 abu- abu menghampiri mereka. Seorang lelaki yang duduk di kursi kemudi membuka kaca depan kemudian mengangguk pada Vina.
Dan kedua gadis itu masuk melalui pintu yang berbeda, Ara masuk ke belakang, sedangkan Vina masuk melalui pintu depan sehingga ia duduk di sebelah kemudi. Belum juga menyamankan diri dengan duduknya, Ara yang dibuat penasaran mengintip siapa lelaki yang berada di kursi kemudi.
Wajahnya tidak asing. Lelaki itu? Ya ampun..Itu pasti dia. Tapi bagaimana mungkin. Ara masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ardi?" lelaki yang tengah mengemudi itu tersenyum canggung mendapati Ara yang ternyata diajak oleh Vina untuk menemaninya sore itu.
"Emmm..hei," jawaban bernada sapaan yang terdengar terpaksa terlontar dari bibir anak buah Adrian itu. Sungguh tidak mungkin. Ardi dan Vina rupanya mereka sepasang kekasih. Sejak kapan? Bahkan Ara tidak menyadarinya.
"Kalian...?"
"Iya,". "Teman,"
Jawaban berbeda terlontar bersamaan dari bibir mereka. Selepasnya mereka saling menatap. Vina tampak kecewa dengan jawaban lelaki di sebelahnya itu. Sedangkan Ardi, lelaki itu santai menanggapi kejadian yang membuat suasana hening seketika.
"Teman atau...?" Vina tampak tidak perduli dengan pertanyaan Ara yang memang sengaja memancing untuk memastikan. Bahkan ia memalingkan wajahnya menatap luar kaca mobil.
"Apa sajalah Ra,"
"Mana bisa. Teman ya teman. Kalau kekasih ya tetap harus diakui Ar," Vina mendengarkan namun tidak berkomentar sama sekali.
"Teman dekat," sahut lelaki itu masih memfokuskan pandangannya ke jalan raya yang mereka lalui.
"Asyikkk...ada yang sudah jadian," Vina membelalak mendengar teriakan Ara yang tepat di sebelah telinganya. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya, senyumnya mengembang meskipun sengaja ditahan.
"Traktiran kan?"
"Mau makan apa? Ini masih sore," Ardi melirik arloji di pergelangan tangannya. "Let's go!"
"Sippp. Asyikk traktiran, traktiran makan enak ha ha ha," Vina menggeleng melihati tingkah Ara seperti anak kecil yang mendapatkan keinginannya. Gadis itu terlihat ceria dibandingkan jika berada di kantor bersama Adrian. Selalu tegang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Brakkk!
Suara kencang yang memekakkan telinga membuat beberapa orang yang lalu lalang menghentikan langkahnya. Pun para pengendara motor yang saling meminggirkan motornya, juga pengendara mobil berhamburan keluar dari mobil mereka karena penasaran dengan suara itu.
Seorang remaja laki- laki tampak sedang adu mulut dengan beberapa remaja lelaki lainnya. Mereka bersitegang, saling menarik krah baju, mengatai dan mengancam. Bahkan terlihat jika mereka sempat berkelahi karena pada seragam salah satu dari mereka terlihat terkoyak dan terdapat bercak darah yang lumayan banyak.
Jalanan terlihat sedikit terganggu dan menyebabkan kemacetan. Ara melihat keluar lewat kaca mobil. Kerumunan orang membuatnya penasaran tentang apa yang terjadi di luar sana.
Rasa ingin tahu membawa kakinya melangkah keluar dari mobil. Ditinggalkannya Vina bersama Ardi. Selepas traktiran sore itu
Ara melangkah mendekati kerumunan. Menembus tubuh- tubuh yang berdiri tegang menyaksikan apapun yang menarik perhatian mereka itu.
Namun begitu ia sampai di barisan paling depan. Sebuah wajah tidak asing menyambutnya dengan darah mengucur dari dahinya serta hampir di sekujur wajahnya bengkak dan membiru. Sontak gadis itu berteriak histeris.
"Ya ampun Dani. Kamu Dani kan? Apa yang terjadi?" berondongan pertanyaan Ara tidak diindahkan oleh remaja yang mewarisi garis wajah tampan ayahnya itu. Ia hanya menoleh sejenak dan kemudian melanjutkan aksi pukul memukul dengan remaja lainnya yang berada disana.
Ara yang masih dilanda kaget, segera merogoh ponsel dalam saku untuk menghubungi Ardi.
"Keluar Ar! Cepat bantu aku!"
"Kamu kenapa Ra?"
"Sudah jangan banyak bertanya. Cepat keluar!" membuat Ardi langsung keluar mobil tanpa pamit pada Vina. Ardi menembus kerumunaan di depannya.
"Tuan Muda," Dani menoleh menatap bodyguard sang Ayah. Kesempatan itu digunakan oleh beberapa remaja yang tengah berkelahi dengannya berhambur melarikan diri.
"Saya akan mengantar Anda pulang Tuan,"
"Kita ke rumah sakit lebih dahulu," ucapan Ara terdengar di sela- sela percakapan Majikan dan bodyguardnya itu.
"Tidak! Tidak usah. Langsung pulang saja Ar!"
"Tapi luka diwajahmu? Itu sangat parah," Ara tampak khawatir dan ingin mendekat pada Dani yang bahkan memalingkan wajahnya untuk menghindari Ara.
"Berhenti mencari perhatianku dan pura- pura baik padaku!," suara keras Dani bahkan menarik perhatian orang- orang yang baru saja pergi meninggalkan mereka.
Demi apa Ara benar- benar tampak seperti calon ibu tiri yang jahat.
💜💜💜💜
terima kasih othorku🤣🤣🤣💯💯💯👏👏👏