Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Wina menatap lelaki itu dengan tatapan tajam tetapi lelaki itu kini menatapnya dengan tatapan hangat sekaligus dingin, dia tidak mau Wina kerumah sakit dalam keadaan seperti ini.
"Tetap di tempatmu Wina, keadaanmu belum bisa untuk berjalan dengan benar, kamu tidak merasakan bagaimana kakimu yang terluka dan belum bisa berjalan dengan benar, kamu mau membuat mereka khawatir akan keadaanmu? ". Tanyanya dengan dingin.
Wina tersentak kaget, dia tidak mengenal lelaki dihadapannya ini tapi mengapa dia merasa seolah lelaki ini tidak asing dan sangat mengenal dirinya.
" Aku hanya ingin bertemu dengan mereka bukan membuat mereka khawatir, biarkan aku pergi bertemu mereka". Cicit nya dengan nada memohon.
Lelaki itu menghela nafasnya kasar, dia bukan tidak mengizinkan Wina pergi tapi dia hanya ingin Wina sembuh terlebih dahulu sebelum mengurus teman-teman dan juga anaknya.
"Kamu tenang saja, temanmu yang sudah sadar itu tahu tentang keadaanmu disini, tidak perlu kesana sekarang, kedua anakmu pun belum sadar, nanti setelah kamu pulih minimal kakimu, kamu bisa kesana untuk merawat mereka, jika kamu kesana sekarang yang ada kamu hanya menambah beban pikiran mereka, mereka baru sadar Wina, biarkan mereka istirahat terlebih dahulu".
Alex kekeh pada pendirian nya untuk tidak mengizinkan Wina pergi menjenguk mereka.
"Tapi kan". Protesnya.
Wajahnya terlihat sangat kesal dan cemberut, dia tidak suka dilarang seperti ini apalagi oleh orang asing.
Melihat tingkah Wina yang seperti itu membuat Alex tersenyum tipis tanpa ada yang tahu dan melihatnya.
"Jangan membantah nyonya Aditama, saya tidak mengizinkan kamu pergi dari sini dalam keadaan seperti itu jadi menurut lah sebelum saya bertindak". Ucapnya dengan tegas dan tak ingin dibantah.
"Apa sih, kamu itu cuma orang asing, ngapain ngatur aku seperti ini? ". Sungut Wina dengan sangat kesal.
Dia menatap tajam lelaki dihadapannya ini, sejak tadi dia berusaha berbicara sopan karena menghargai dan berterimakasih karena lelaki ini menolongnya, tapi dia tidak suka jika dilarang dan diatur seperti ini, mereka tidak sedekat itu sampai lelaki ini bisa berbuat seenaknya padanya.
"Aku memang orang asing, tapi kamu berada di rumahku, pakai aturan ku, kalau kamu keluar dalam keadaan terluka seperti ini dan tidak ada yang mengurus mu, kamu hanya membuat saya khawatir dan merasa bersalah jadi turuti perkataan saya, kamu dengar". Jawabnya penuh penekanan.
Matanya menatap tajam Wina membuat nyali perempuan itu perlahan menciut, Wina memalingkan wajahnya kemudian melipat tangannya dan cemberut seketika.
Dia tidak bisa melawan lelaki dihadapannya ini, benar yang dikatakannya, kondisinya belum pulih dan jika dia memaksakan pergi pasti akan terjadi sesuatu.
"Baiklah". Pasrahnya.
Dia tidak tahu mengapa dirinya bisa menurut seperti ini pada orang asing padahal dia memiliki watak yang keras kepala bahkan sahabatnya pun kadang angkat tangan jika dia memiliki keinginan yang tak bisa dibantah.
"Kami hanya khawatir padamu Wina, kamu belum sembuh total, takutnya orang-orang yang berusaha mencelakakan kalian berkeliaran diluar sana dan mendapatkan kamu nanti jadi jangan cari masalah".
Wina langsung menatap lelaki itu tidak percaya, orang-orang yang berusaha mencelakakan mereka, apa maksudnya?.
"Apa maksudmu? , orang mencelakakan kami? ". Tanyanya dengan tidak percaya.
Dia tidak berpikir dia memiliki musuh lain selain keluarga Pratama dan keluarga Wicaksana padahal dirinya tidak pernah memulai apapun dengan mereka apalagi mencari musuh.
Alex menghela nafasnya, Wina memang tidak pernah tahu jika selama ini dia menjadi banyak target karena orangtua nya dulu sering terlibat masalah dengan orang lain karena prinsipnya, bukan karena dia tidak baik tapi karena kebaikannya itulah membuat orang-orang yang tidak suka padanya menjadi musuh untuknya dan akhirnya malah melibatkan keturunannya yaitu Wina sendiri.
"Itu benar Wina, kamu memiliki musuh lain selain mereka diluar sana dan masalah pesawat pribadi yang kalian tumpangi itu sudah disabotase oleh mereka sebelum kalian menaiki pesawat itu".
Mata Wina membesar seketika, jadi kejadian yang mereka alami itu memang disengaja.
"Apa salahku pada mereka, selama ini aku tak pernah mencari musuh, kenapa mereka selalu melakukan ini padaku? ". Ucapnya dengan suara bergetar.
Bayangan luka masa lalu yang dia Terima sudah terlalu banyak belum lagi dari mantan suami dan mantan mertuanya, Keluarga Wicaksana dan keluarga Pratama, entah apa yang dia lakukan sampai mereka semua berbuat seperti itu padanya.
Alex membuang pandangannya, dia merasa sakit melihat Wina frustasi seperti itu menghadapi semua yang memusuhi keluarganya padahal dia tidak tahu apapun.
"Mereka membenci keluargamu Wina karena keluargamu terlalu jujur dan menyulitkan mereka terutama urusan yang menghasilkan uang dengan cepat, kamu tidak tahu saja mereka itu bekerja kotor dibalik layar perusahaan mereka".
Wina menyipitkan matanya, lelaki asing ini seolah tahu semua kehidupannya padahal dirinya tidak mengenalnya sama sekali.
"Siapa kamu sebenarnya?, kenapa kamu tahu tentang kehidupanku? ". Tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
Alex tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dia menatap lurus mata Wina sampai Wina tersentak melihat tatapan itu, tatapan yang tidak asing baginya tapi dia lupa dimana.
" Tatapan itu terasa tidak asing bagiku tapi dimana yah? ". Cicitnya dalam hati.
"Apa kamu masih ingat anak lelaki kumuh yang ditolong oleh ayah dan ibumu saat ketahuan mencuri obat dan hampir dihakimi massa??". Tanya Alex pelan.
Dia ingin membuka memori lama Wina yang dulu agar dia bisa mengingat siapa diri nya walau dia tidak yakin Wina akan mengingat dirinya.
"Anak kumuh yang mencuri obat untuk ibunya yang sakit tapi tak memiliki uang untuk berobat dan malah mencuri di apotik tapi ketahuan oleh warga dan hampir mati, beruntung ada ayah dan ibumu saat itu".
Wina mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha mengingat perkataan lelaki dihadapannya itu, dia belum ingat tentang hal yang barusan disebutkan olehnya.
"Ayah dan ibumu tidak hanya menyelamatkan nyawa ku tapi juga menyelamatkan nyawa ibuku saat itu karena saat itu dia mengantarkan aku pulang kerumah dan membawa ibuku kerumah sakit dan membiayai seluruh perawatannya hingga ibuku sembuh".
"Apa kamu ingat?? ". Tanyanya lagi.
Wina menggeleng pelan, dia belum bisa mengingat memori itu, mungkin efek benturan di kepalanya yang memang kini terasa pusing.
"Sejak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri kelak jika aku memiliki segalanya, aku adalah orang pertama yang akan melindungi mu dan keluargamu dari kejauhan untuk membalas budi kalian".
Alex menarik nafasnya dalam-dalam, rasa menyesal menyeruak dalam dadanya tanpa dia minta.
Keterlambatannya membantu kedua orang tua Wina dalam kecelakaan itu menjadi pukulan telak baginya dan dia gagal dalam menyelamatkan mereka.
"Aku gagal menyelamatkan kedua orang tuamu saat itu, dan itu hal yang paling aku sesali".