Laras Kinanti pergi mengadu nasib ke Ibukota, untuk mencari keberadaan suaminya yang menghilang tanpa kabar.
Pencarian Laras berujung luka, karena suami yang ia cari itu menikah dengan Nadine Chandra, yang tak lain adalah putri majikannya.
Sanggupkah Laras bertahan dengan status sebagai pelayan madunya?
Mampukah dia menghadapi kekejaman suaminya sendiri?
Adakah kebahagiaan untuk Laras?
Karya ini kolaborasi dua Author Kece
Nazwatalita dan Jannah Zein.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 PERGI DINNER
"Sebaiknya aku mengajak Nadine dinner malam ini," gumam Galang. "Sudah lama kami tidak dinner."
Dia membayangkan reaksi istrinya saat dinner berdua di sebuah restoran di dalam private room.
"Ah, kenapa tidak di restoranku saja?" Tiba-tiba dibenaknya tebersit sebuah ide.
Galang mempercepat laju mobilnya. Dia mulai tak sabar membayangkan sosok Nadine yang menyambut kedatangannya dengan sebuah pelukan hangat.
Galang baru saja sampai di depan rumah. Saat dia ingin membuka pintu mobil, ponselnya berdering.
Galang buru-buru mengangkat panggilan teleponnya, apalagi setelah mengetahui siapa yang menelepon.
"Halo, Bos. Aku sudah sampai di kampung. Sekarang, aku sedang berada di depan rumah Nona Laras.
****
Galang terpaku melihat penampilan istrinya malam ini. Perempuan itu tampil dengan gaun malam berwarna hitam elegan. Dress berlengan pendek dengan panjang menyentuh lantai dengan belahan yang cukup tinggi membuat penampilannya semakin anggun dan seksi. Rambutnya yang tergerai hitam dibiarkan begitu saja dengan make up yang sempurna.
Bibir merah menyala, membuat Galang menelan salivanya. Seandainya saja keduanya tidak akan pergi dinner malam ini, tentunya dia pasti akan menyatukan bibir nan menggemaskan itu ke bibirnya, mengulumnya dengan lembut dan mengajak kedua lidah mereka untuk menari.
Galang mengerang saat menyadari adik kecilnya tiba-tiba bangun dan menggeliat, meminta untuk dikeluarkan dari tempat persembunyiannya.
"Kenapa, Mas?" tegur Nadine. Dia mengibaskan rambutnya hingga menyentuh pundak laki-laki itu. Aroma lembut menguar di sekelilingnya, membelai indera penciuman.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu terlalu cantik malam ini," rayunya. Dia mencium kening istrinya dengan lembut.
Nadine balas memeluk pinggang suaminya.
"Kita jadi, kan dinner malam ini?"
"Jadi dong, Sayang. Mas sudah menyiapkan spesial dinner yang takkan pernah kamu lupakan," sahutnya buru-buru. Tangannya terulur membelai helaian hitam dan panjang itu.
"Terima kasih, Mas," bisik Nadine.
Keduanya lantas turun ke bawah. Mereka mendapati Nalendra tengah duduk bersama dengan Laras, nampak tengah mengerjakan sesuatu di ruang tamu.
"Malam-malam begini masih kerja juga, Ale?" tegur Nadine saat melihat saudara kembarnya masih saja menekuni laptop di hadapannya.
"Apa boleh buat," sahut Nalendra. Dia memandang Galang yang balas menatapnya dengan enggan.
"Semua pekerjaan di perusahaan ada di bawah kendaliku termasuk pekerjaan suamimu itu!" tunjuknya pada Galang yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Aku adalah pemimpin tertinggi dan akulah yang paling sibuk."
Perempuan itu berjalan mendekati saudara kembarnya.
"Maaf ya, aku tidak bermaksud menimpakan semua beban dan tanggungjawab padamu, tapi aku lebih menyukai fashion ketimbang perusahaan media." Nadine berkata dengan nada menyesal.
"Tidak masalah bagiku seandainya kamulah yang mewarisi CNI group. Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sekarang."
Nalendra berdiri menghadap saudari kembarnya.
"Jangan bilang seperti itu lagi, Nadine. Kita ini saudara dan kita berdua berhak mewarisi CNI grup."
"Kalau memang saat ini, posisiku adalah yang tertinggi di bawah papa, itu hanya sekedar jabatan. Kamu tetap memiliki hak yang sama denganku." Laki-laki muda itu mengecup kening adiknya, kemudian mengusap kepalanya.
"Kalian mau kemana?" Dia mengamati penampilan Nadine yang tampak rapi dan sangat cantik.
"Aku mau dinner sama Mas Galang," ujar Nadine dengan wajah berbinar. Dia tampak sangat senang.
"Oh, ya?" Sepasang mata Nalendra pun ikut berbinar. Ya sudahlah, sebaiknya kamu berangkat."
"Lihat tuh, kang masmu terlihat cemberut," tunjuk Nalendra berniat menggoda.
Nadine menoleh kepada sang suami. Benar, Galang tampak cemberut melihat interaksi keduanya, Nalendra dan Nadine yang begitu intim.
"Oke, kami berangkat ya." Nadine melambaikan tangan.
"Aku berangkat ya, Laras. Maaf ya, kamu harus lembur malam ini," ucap Nadine. Sudut matanya menangkap ekspresi lelah di wajah cantik wanita muda itu.
Sesungguhnya dia prihatin dengan Laras yang setiap hari harus dipaksa menyelesaikan setumpuk pekerjaan di kantor. Nadine heran, perempuan itu terlihat sangat sabar menghadapi Nalendra, saudara kembarnya yang terkenal perfeksionis itu.
Sebelum Laras, sudah ada beberapa asisten pribadi yang bekerja untuk Nalendra. Namun, semuanya tak ada yang bertahan lama.
"Tampaknya Laras itu cocok dengan Nalendra," gumam Nadine yang masih bisa didengar oleh Galang.
"Sayang," tegur Galang. "Kamu ngomong apa?"
Nadine tersentak ia tak sadar mereka sudah berada di mobil.
"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan Laras. Kasihan, wanita itu setiap hari, dari pagi bahkan sampai malam dipaksa bekerja," ujar Nadine.
"Bukankah itu memang sudah menjadi pekerjaannya? Kenapa harus kasihan?"
.
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏
Biar semangat updatenya ....
Mampir ke sini juga yuk teman-teman ....
yg jahst tu kel nya