Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Erika.
Suara lenguhan terdengar, dari bibir Elea. Mereka mulai terbawa arus gairah yang berkobar didalam diri. Mereka benar-benar kembali ke masa sebelum Si kembar lahir, kenikmatan itu sudah hilang selama beberapa tahun dan kini mereka ingin merasakannya. Tapi ...
Klek
"Papa! Ada yang cari papa," suara pintu bersamaan dengan dua bocil melabrak mereka.
Dua anak itu berlari masuk ke kamar orang tua mereka, tanpa tahu apa yang sedang pasangan itu lakukan.
Sontak kedua manusia itu membuka matanya dan segera bangun dari tempat ternyaman mereka. Saat mereka melihat keduanya sang kakak melihat ayahnya berdiri disamping ranjang, sedangkan sang adik melihat ibunya yang duduk memperbaiki rambutnya yang acak-acakan bak singa.
"Kalian lagi apa?" tanya Eliza kebingungan.
"Mungkin lagi buat dedek," Aliza yang menjawabnya sembari cekikikan, diikuti oleh bi Halim yang tersenyum menundukkan kepalanya.
Rajendra menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tentu sangat memalukan ketahuan hampir dugem sama anak sendiri. Begitu pun dengan Elea, yang merutuki diri atas kecerobohannya.
"Mmm, mamah sama papa baru bangun," Elea menjawabnya dengan pelan, ini memalukan matahari sudah nongol mereka baru bangun.
"Siapa yang datang nyariin papa?" tanya Rajendra mengalihkan pembicaraan mereka, menatap dua anaknya bergantian.
"Dia bilangnya, Bunda Erika," jawab Aliza dengan jelas menirukan panggilan dari sosok tamu yang datang ke rumah mereka.
"Emang dia itu siapa, pa. Kenapa kita harus panggil dia bunda? Kan kita cuma punya mamah," tanya Eliza dengan polosnya.
Mata Elea melirik tajam pada Rajendra, lelaki yang terkejut dengan kedatangan kekasih atau selingkuhannya. Ia melihat ke arah istrinya lalu menelan ludahnya, ini bukan pertanda baik. Namun, kenapa Erika mendadak datang?
"Hebat banget, papa kalian punya wanita lain," ujar Elea memuji sekaligus menyindir Rajendra dengan nada sinis.
Elea beranjak dari tempatnya, ia berjalan keluar meninggalkan kamar tersebut.
Brak
Suara yang menggema dikamar luas itu adalah suara pintu yang ditutup kencang oleh Elea. Semua yang disana terkejut, termasuk Rajendra yang langsung mengusap dadanya.
"Mamah kenapa, pa?" tanya Eliza masih dengan muka polosnya.
"Hebat banget, papa kalian punya wanita lain," ujar Aliza meniru ucapan ibunya, "papa selingkuh, ya?" tanyanya.
Rajendra membulatkan matanya, "Enggak mungkin lah, istri papah cuma mamah kalian. Mamah cuma bercanda tadi," elaknya.
"Oh," jawab dua bocil itu bersamaan, dengan bibir membulat seperti huruf o.
Rajendra menghela nafas lega, ia harus hati-hati memperlakukan Erika didepan anak-anak. Walau tak yakin dengan Elea yang sikapnya aneh akhir-akhir ini, namun jangan sampai Anaknya meniru ucapan orang dewas lagi.
Rajendra menatap pintu yang menjadi tempat keluar masuk kamarnya itu, ia tak tahu sejauh mana Elea tahu tentang hubungannya dengan Erika.
^
Sementara diruang tamu, Erika berjalan-jalan melihat ruangan luas itu. Tanpa malu ia melirik setiap sudut rumah Rajendra dan Elea yang lebih megah dibandingkan rumahnya. Furniture, foto pernikahan bahkan semua barang antik dirumah tersebut.
Saat melihat foto pernikahan sahabat dan kekasihnya, ia mengepalkan tangannya merasa panas membakar dadanya. Seharusnya yang difoto disana adalah dirinya, bukan Elea. Ini kali pertama ia datang ke rumah itu, tapi belum apa-apa ia sudah kepanasan.
Begitu lama ia menunggu kekasihnya itu turun, padahal ia pagi-pagi sekali datangnya agar bisa bertemu Elea juga. Rencana dan niatnya sudah terancang didalam otaknya, ia tak ingin kecewa seperti semalam.
Suara langkah kaki terdengar, ia pikir itu Rajendra jadi bibirnya tersenyum merekah. Ruangannya sedang sepi apa boleh buat ia yang merindukan kekasihnya itu, sampai rela jadi selingkuhan.
"Sayang," panggil Erika memanggilnya sekaligus memutar badannya menghadap sosok dibelakangnya itu.
Namun bukannya Rajendra yang datang, melainkan Elea. Wajahnya berubah masam, ia tak suka melhat teman satu ini. Akan tetapi ia memang punya niat untuk melakukan sesuatu pada Elea.
"Sayang, kepada siapa yang kamu maksud?" tanya Elea, melangkah makin dekat pada Erika.
"Mmm anu, itu padamu tentunya. Bukankah aku sudah terbiasa memanggilmu sayang," jawab Erika menggigit bibir bawahnya.
"Seingatku gak pernah, "ujar Elea mengingatkan, "kamu pasti mau ketemu mas Rendra, ya kan?"
"Iya, sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Kamu jangan salah paham," jawab Erika.
"Aku gak salah paham, hanya saja kamu datang diwaktu pagi sekali. Istri sah mana yang tidak curiga?" geram Elea dengan nada tertahan, ia sudah berusaha setenang mungkin tapi Erika selalu menikamnya dengan pelan dari belakang.
Entah apa niatnya datang kerumahnya untuk pertama kali yang jelas ia merasa terusik. Tentu pikiran negatif mengganggu otak warasnya. Sedangkan ia sendiri harus pergi bekerja, yang membuat keduanya mungkin akan berduaan selama sekian menit atau mungkin berjam-jam.
Disaat itu Rajendra datang, pakaian rapi sudah menempel dibadannya yang gagah. Wajah tampan dengan parfum maskulin menguar diruangan tersebut. Ia duduk disamping Elea, namun wanita yang menjadi istrinya itu malah berdiri.
Rajendra melirik Elea dengan alis bertaut, padahal ia akan berusaha untuk menganggap istrinya itu ada untuk menutupi perselingkuhannya. Namun sepertinya ia tak bisa melakukannya, jika Elea tak ada dirumah.
"Kamu mau kemana?" tanya Rajendra.
"Kerja," jawab Elea singkat sekaligus pergi dari tempat tersebut.
Rajendra mulai merasakan sikap Elea yang berbeda kembali, istrinya pergi tanpa menyalaminya. Ia justru pergi seolah enggan untuk bertemu dengan sahabatnya, Erika. Kini makin jelas bahwa Elea tahu mereka punya hubungan.
Selepas Elea menghilang dari balik tembok, Erika mendekati Rajendra. Ia mendekatkan wajahnya agar bisa mengatakan sesuatu.
"Benar kan, Elea itu sifatnya memang buruk. Sahabatnya datang, ia malah pergi. Aku merasa sudah tak dianggap sahabat lagi sama dia," ujar Erika menjelek-jelekkan Elea, dalam hati ia tersenyum. Sikap Elea tadi bisa ia manfaatkan dengan memperburuk citra sahabatnya itu.
"Kamu datang disaat kami harus pergi, dia juga harus kerja, Eri," bungkam Rajendra memberitahukan.
"Kok kamu malah belain dia, sih. Kamu harus inget, kalau dia yang maksa aku jodohin kamu sama dia. Karena dia—" perkataan Erika terhenti kala tangan Rajendra bergerak menghentikannya.
"Aku tahu, tapi kamu memang salah," kata Rajendra kembali membuat Erika diam.
"Sekarang kamu pulang, aku harus ke kantor. Ada meeting penting pagi ini," lanjut Rajendra beranjak dari tempatnya, disusul oleh Erika yang mulai mengejarnya.
"Kamu usir aku, Jen? Kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu, Hah?" tanya Erika dengan dada kembang kempis dan mata yang mulai berkaca.
Rajendra menghentikan langkahnya, ia ingin berbicara tapi serasa bingung dan serba salah. Ia pun memutuskan untuk mengabaikannya, karena tempat ini ada banyak mata dan juga dua bocah yang sedang bersama pengasuhnya diruang sebelah.
Tak mungkin ia ribut dengan Erika dirumahnya sekarang, ia tak ingin dua putrinya mengetahui sesuatu yang pastinya akan mengadu pada ibu dan neneknya.
"Jendra!" panggil Erika dengan meluapkan kekesalannya, ia hanya diam melihat Rajendra pergi tanpa mengatakan sesuatu lagi padanya.
Tangan Erika mengepal, api membakar hatinya yang membuatnya makin marah pada sosok wanita lain yang dibela Rajendra.
"Elea, kamu benar-benar," geram Erika dalam hati.
*
Diperusahaan King Group.
Elea terus melamun disaat kakinya melangkah menuju meja kerjanya, tak satu pun yang bisa mengusir pikiran konyol didalam otaknya tentang Rajendra. Istri mana yang membiarkan suaminya bersama wanita lain dirumahnya?
Bahkan setan pun membayanginya dengan mereka yang bermesraan dikamar Rajendra, berlanjut dengan bermain api yang makin dalam dan dibakar hasrat yang bergejolak.
Begitulah pikiran Elea, isinya adalah Rajendra dan Erika yang bermain diatas ranjang. Bukankah ia pernah melihat mereka berciuman, kelanjutan dari itu memang bermain panas diranjang, bukan.
Tak terbendung bagaimana marahnya ia pada sahabatnya itu, ia yang menjodohkan ia pula yang menghancurkan. Ia tak tahu harus mengambil sikap seperti apa?
Bercerai butuh waktu, ia harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan tetap agar bisa menghidupi anak kembarnya.
"Bah," seseorang membuyarkan lamunannya.
Elea terperanjat dan menoleh kesebelah kirinya, "Pak Marcel, bikin kaget saja."
Marcel tersenyum saja, "Apa yang kamu lamunkan sampai aku panggil ga nyaut-nyaut?" tanyanya.
Elea tersenyum paksa, ia menyadari kesalahannya yang sudah melamun padahal ini sudah ditempat kerja. "Maaf, pak," cicitnya.
"Oh, iya. Sore ini pulanglah bersamaku, ada yang ingin aku katakan padamu," bisik Marcel yang langsung masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka.
Sedangkan Elea hanya melongo, ia tak tahu apa maksud bosnya itu. Sore pulang bersamanya, apa tak apa-apa. Elea melirik kesekitar, takutnya ada yang mendengar percakapan mereka apalagi tempat mereka didepan lift.
Meski Ramai tapi tak ada yang tahu soal pertemuan mereka nanti, hanya saja Elea tak nyaman. Masa iya, ia harus berkencan dengan bosnya.
**
Sore hari adalah yang ditunggu-tunggu oleh Marcel, ia menunggu ditempat parkir dimana Elea akan keluar. Hari yang cerah tadi berubah menjadi gelap secara perlahan, sudah beberapa menit berlalu ia menunggu tapi Elea tak juga keluar.
Ia kembali melirik jam tangan yang bertengger dilengan kirinya, Rika sudah pulang sejak tadi tapi Elea belum juga keluar, hal itu membuat Marcel bingung.
Namun itu hanya sebentar, ia bisa melihat sosok wanita itu didepan kantor. Bibirnya tersenyum dan langsung tancap gas menjemput Elea.
Elea yang menyadari itu pun langsung masuk kedalam mobil sang bos sesegera mungkin.
"Maaf, aku harus menunggu tempat ini sepi dulu. Aku tak ingin ada yang melihat kita berdua pergi bersama," ucap Elea memberikan alasan, sedangkan lelaki itu hanya tersenyum saja.
Mobil itu melaju pelan membawa kedua insan ke tempat yang ada didalam pikiran Marcel, sebuah tempat yang akan menjadi awal dari kehancuran rumah tangga mereka.
Hari makin gelap, mereka akhirnya sampai disebuah Resto yang mewah dan menyatu dengan hotel berbintang lima. Tempat para sultan mengadakan acara dan bermalam untuk menghabiskan malam yang membahagiakan.
"Kenapa kita kesini?" tanya Elea yang merasakan firasatnya buruk, namun ia berusaha untuk tenang.
Tempat seperti ini lagi yang mereka datangi hanya untuk berbicara empat mata, Aneh bukan. Namun firasat buruk itu berubah menjadi kebahagiaan.
"Selamat ulang tahun," ucap Marcel membuat Elea terkaget dan melirik pada lelaki itu.
"Hari ini adalah hari ulang tahun mu kan, jadi aku ingin merayakannya bersamamu," lanjut lelaki muda itu membuat Elea berkaca-kaca, ini kejutan pertama kali dari seorang pria.
Sebahagia ini kah diperlakukan seperti ratu ...