Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog
Setelah jalan-jalan di taman bermain dan
semua teman Adista dan Langit pulang semua tanpa menepati jam makan siang dan
meninggalkan mereka di taman bermain membuat Adista kesal.
Masalahnya, hari ini adalah hari spesial
bagi Adista. Oleh karena itu, Adista sangat ingin semua orang merasakan
bahagia, termasuk mengerjai Langit membuat Adista bahagia.
“Kak Adis, makan es krim dulu yuk,” ajak
Dito, Adista menghela napasnya dan mengangguk.
“Kita ke kedai es krim dulu Lang.”
Alvaro hanya diam saja saat Dito mau
kehendak, biasanya Alvaro selalu melarang Dito yang ingin banyak kehendak
membuat Adista bingung dengan Alvaro.
“Kenapa Kak?” tanya Alvaro saat Adista menatapnya.
“Kamu kenapa gak marah sama Dito yang
banyak kehendaknya, biasanya juga kamu sering negur Dito.”
“Lagi capek Kak, Varo juga bisa capek
kayak Kakak.”
Adista tersenyum, benar, Adista capek.
“Kakak gak usah kesel kayak gitu, gak lama
lagi Kakak pasti tersenyum bahagia,” ucap Alvaro mengabaikan Adista sambil
menyendokkan es krim coklatnya ke dalam mulutnya.
Langit juga diam dari tadi. Entah karena
Langit lupa atau memang tidak tahu hari ini hari apa membuat Adista bertambah
kesal.
“Lang, buruan ih. Aku capek, mau
istirahat,” ucap Adista kesal karena daritadi mobil Langit berjalan dengan
lambat.
“Iya By,
ini juga udah cepat kok.”
“Cepat dari mana ini Langit. Buruan, kaki
aku pegal.”
Langit hanya menghela napasnya saat
mendengarkan nada bicara Adista yang sedang merajuk.
Mobil Langit sudah sampai di depan rumah
Adista. Adista memperhatikan Alvaro dan Dito yang baru saja turun dari mobil,
mereka tidak masuk rumah dan malah menunggu di depan pintu.
“Kenapa gak masuk?” tanya Adista bingung.
“Gak sampe,” ucap Dito, Adista terkekeh.
“Gak turun, Lang?” tanya Adista sambil
menimbulkan kepalanya melihat Langit yang masih di bangku kemudi.
Langit menggeleng dan tersenyum tipis
membuat Adista mengernyit.
“Ya udah, aku masuk dulu ya,” ucap Adista,
Langit hanya mengangguk. “Yuk masuk,” kata Adista sambil menggandeng tangan
Alvaro dan Dito.
Adista membuka pintu rumahnya dan dia
langsung terkesiap dengan keadaan rumahnya dan juga semua temannya yang berada
di dalam rumahnya.
“HAPPY
BIRTHDAY ADISTA!!” seru mereka serempak membuat Adista tidak bisa
berkata-kata.
Sungguh, daritadi mereka semua membuat
Adista jengkel. Berawal dari Genta dan Lala, serta Elang dan Della dan juga Langit
yang sedari tadi mendiaminya.
Alvaro dan Dito berlari sambil memberikan
kado kepada Adista membuat Adista berlutut untuk mesejajarkan tinggi mereka dan
memeluk mereka erat. Adista sayang mereka, sangat sayang.
“Thanks Varo, Dito,” ucap Adista masih tetap memeluk erat Alvaro dan Dito. “Papa ...
Mama ...,” Adista langsung berlari dan memeluk mereka secara bergantian.
“Selamat ulang tahun Adista,” ucap Evan
mencium pucuk kepala Adista. “Maaf kalo kemarin-kemarin Papa gak ada saat kamu
ulang tahun,” kata Evan membuat Adista menggeleng dan memeluk erat Evan.
“Adis sayang Papa.”
Adista melepaskan pelukannya dan segera
memeluk Anita yang tersenyum hangat menatapnya. “Adista juga sayang Mama.”
Dan terlihat juga Kakek Adista yang berada
di samping Anita yang merentangkan tangannya minta dipeluk juga.
“Adista juga sayang sama Kakek.”
“Enggak sayang aku?”
Adista langsung melepaskan pelukan
Kakeknya membuat Kakek berdecak saat suara Langit menghentikan acara
peluk-pelukan Adista dengan Kakeknya.
“Langit ....”
“Apa?”
Adista berjalan mendekat dan memeluk
Langit erat. “Adista juga sayang banget sama Langit.”
Langit terkekeh dan memeluk Adista. “Aku
gak mau putus dari kamu, aku maunya kita tetap bersama terus.”
Adista melepaskan pelukannya dan menatap
Langit. “Kita gak tahu rencana Tuhan, Langit.”
“Aku pastiin itu gak akan terjadi By. Percaya sama aku.”
Adista terkekeh dan mengangguk untuk
percaya saja apa yang diucapkan oleh Langit.
“Aku sayang sama kamu By ... enggak, aku udah jatuh cinta sama aku ... eh, ternyata aku
sudah tergila-gila sama kamu, Adista.”
Adista tersenyum lebar menatap Langit yang
berada di hadapannya. Lagi-lagi, Langit lebih berarti daripada Oppanya dan
Langit adalah segalanya bagi Adista. Langit hidupnya, Langit jiwanya, karena
hanya Langit yang tergila-gila padanya.
“Ini kuenya teh kuenya gak dipotong?” tanya Asep membuat Adista membalikkan
badannya melihat Dinda yang sudah lelah memegang kue ulang tahun Adista.
Adista menghampiri mereka dan tersenyum
lebar.
“Thanks semuanya, aku sayang kalian.”
“Gak mau ah, gue sayangnya cuman sama
Dinda,” ucap Mikko membuat Adista mendelik.
Adista hanya terkekeh dan kembali melirik
Langit yang masih tetap menatap Adista. Adista menghampiri Langit lagi dan
kembali memeluknya singkat.
“Selamat datang di duniaku yang penuh
kegilaan Langit Alaric,” bisik Adista.
THE END -
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞