Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Lutut Sang Kaisar
Kematian Tiga Tetua Pelindung mengirimkan gelombang kejut yang melumpuhkan jantung Kekaisaran Naga Langit. Tidak ada lagi yang tersisa untuk melindungi takhta. Di aula istana kekaisaran, sang Kaisar duduk gemetar, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan naga yang jauh lebih purba dan haus darah daripada simbol di bendera kerajaannya.
Namun, di atas awan, di Istana Langit Abadi, suasana justru sangat kontras. Boqin Tianzun baru saja menyelesaikan kultivasinya. Setelah menyerap esensi dari tiga kultivator Level 5, auranya kini telah mencapai Jiwa Sejati Level 4. Ia merasa lebih kuat, lebih tajam, dan lebih tak tersentuh.
"Boqin, lihat! Ada naga emas besar di bawah sana!" Sua Mei menunjuk ke arah bawah pulau terbang.
Boqin berjalan ke tepi balkon. Di bawah sana, sebuah armada kapal terbang kekaisaran yang sangat besar sedang berbaris rapi. Namun, kapal-kapal itu tidak membawa meriam atau prajurit tempur. Mereka membawa peti-peti harta karun, rempah-rempah langka, dan tanaman obat yang wanginya tercium hingga ke langit.
Di kapal paling depan, Kaisar Naga Langit sendiri berdiri tanpa mahkotanya, mengenakan pakaian putih tanda penyerahan diri total.
"Biarkan mereka naik, Mei. Mereka hanyalah orang-orang yang ingin memberi hormat padamu." ucap Boqin lembut.
Dengan lambaian tangan Boqin, sebuah tangga cahaya turun dari langit, menghubungkan daratan dengan istananya. Sang Kaisar melangkah naik dengan lutut yang lemas. Begitu ia sampai di pelataran istana dan melihat boneka batu (yang dulu adalah Tetua Kuang) sedang menyapu lantai, ia hampir pingsan karena ngeri.
"Tuan Besar Tianzun..." Kaisar bersujud hingga dahinya menyentuh marmer. "Kekaisaran Naga Langit memohon ampun atas kelancangan kami. Mulai hari ini, kami adalah hamba sahayamu. Seluruh wilayah, sumber daya, dan rakyat kami berada di bawah perintahmu."
Boqin tidak menatap Kaisar. Ia sedang membantu Sua Mei mencoba sebuah kalung giok baru.
"Aku tidak butuh kekaisaranmu, Kaisar," ucap Boqin tanpa menoleh. "Aku hanya butuh kedamaian untuk istriku. Setiap tanaman obat tingkat tinggi yang ditemukan di benua ini harus dikirim ke sini. Setiap konflik yang bisa mengganggu ketenangan kota di bawah sana harus kau selesaikan dengan nyawamu sebagai taruhannya. Jika kau gagal, aku akan mengganti dinastimu dalam satu malam."
"Hamba mengerti! Hamba mengerti!" Kaisar gemetar, merasa bersyukur nyawanya masih diampuni.
Setelah Kaisar dan rombongannya pergi meninggalkan tumpukan harta yang tak ternilai, Boqin berdiri di puncak menara istananya. Ia merasakan energi di benua ini mulai terasa tipis baginya. Sebagai kultivator Jiwa Sejati Level 4, ia sudah mencapai batas apa yang bisa ditawarkan oleh dunia bawah ini.
Sua Mei sudah sehat, tapi tubuhnya masihlah tubuh manusia biasa, batin Boqin. Untuk membuatnya hidup selamanya bersamaku, aku butuh Pil Keabadian Langit yang hanya ada di Benua Atas—tempat para Dewa dan monster sejati berada.
Ia menoleh ke arah Sua Mei yang sedang bermain dengan kupu-kupu spiritual di taman.
"Mei," panggil Boqin. "Apakah kau keberatan jika kita memindahkan rumah kita sedikit lebih tinggi lagi? Ke tempat di mana musim semi tidak pernah berakhir dan kematian tidak pernah berani datang?"
Sua Mei tersenyum, matanya memancarkan kepercayaan mutlak. "Ke mana pun kau pergi, Boqin, aku akan ikut. Karena rumahku adalah kau."
Boqin Tianzun mengangkat tangannya. Dengan kekuatannya yang sekarang, ia mulai merobek tabir ruang yang memisahkan benua bawah dengan Benua Atas. Ia tidak akan naik sebagai pemohon, tapi sebagai penakluk.
"Bersiaplah, Benua Atas," bisik Boqin sambil memeluk Sua Mei, sementara seluruh Istana Langit mulai bergetar dan perlahan menghilang ke dalam celah dimensi. "Aku datang untuk mengambil keabadian, dan siapa pun yang menghalangi... akan menjadi pupuk bagi taman baru istriku."