Ongoing
Apa yang terjadi padaku ? kenapa aku tidak merasakan sakit ditubuhku.. Reini sang gadis cantik yg populer dikalangannya.
🌺🌺🌺🌺
Mengisahkan perjalanan seorang lelaki bernama Tristan yg mencari teman masa kecilnya.
Pertemuan tidak terduga pun terjadi pada sebuah universitas ternama di kota London. membuat lelaki itu jatuh hati pada seorang wanita yg baru pertama kali membuatnya merasa nyaman.
Apakah pertemuan itu hanya kebetulan semata atau memang mereka dijodohkan oleh sang maha kuasa.
Yuk baca terus kisah mereka!!! jangan mau ketinggalan kelucuan dan keseruan setiap peran yg ada didalamnya.
OTHOR SAYANG KALIAN ❤️😀
Jangan lupa terus dukung karya Author supaya lebih semangat lagi !!! 🙏😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH SAKIT
☘️☘️☘️☘️
Parkir mobil depan rumah sakit.
University college hospital rumah sakit ternama yg mempunyai spesialisasi dalam pemasangan alat bantu dengar dan dalam memberikan perawatan tingkat tertinggi untuk penyakit jantung, masalah ginjal dan masalah pankreas. fasilitas terlengkap serta penanganan yg terbaik sudah diakui bagi setiap orang.
Rumah sakit itu dibangun oleh seorang dokter bernama Rian Hito. ya, rian adalah dokter berkelas krna Penanganan pada setiap pasien saat pemeriksaannya selalu memberikan hasil yg sangat memuaskan. Rian juga tidak sendirian mengelola rumah sakitnya, selalu ada antek-antek apalagi suster sudah pasti standbye disampingnya.
...***...
Kesunyian didalam mobil pada malam hari.
Perjalanan menuju rumah sakit tidak melebihi batas waktu yg diperkirakan oleh Tristan. malah sebaliknya, mereka sampai pada waktu kurang dari dua puluh menit. disaat Tristan mengemudi Rei larut dalam tidurnya, sehingga Tristan melajukan dengan kecepatan melebihi maksimal. namun, masih tetap menjaga keselamatan Rei itu yg paling penting.
"Aw, Rei..." desis Tristan karna pegal.
Gimana tidak, sedari Rei terlelap pulas justru Tristan menahan kepala Rei dengan satu tangannya dan sebelah tangannya untuk mengemudikan mobil. pengorbanan itu dia lakukan agar kepala Rei merasa nyaman sehingga tidak ada gangguan apapun.
"Rei..." panggilnya mengelus pipi Rei lembut.
Namun, panggilan itu tidak juga didengar oleh Rei. seketika tatapan Tristan terhanyut pada bibir Rei yg sangat indah, disaat dirinya menyentuh lembut seolah ingin menciumnya walau hanya sebentar. namun, niatan itu dia urungkan krna dalam situasi itu dia tak ingin mengambil kesempatan diatas kesedihan Rei. itulah bentuk rasa cintanya terhadap orang yg dia kasihi.
Kelemahan Rei adlah kekuatan bagi tristan, disaat Rei lemah Tristan akan selalu memberi kekuatan untuk Rei. disaat Rei rapuh maka Tristan senantiasa hadir dalam menenangkannya.
Sudah sangat terlihat jelas air mata yg mengering dipipi Rei, mungkin saja air mata itu sudah tidak bisa dia keluarkan lagi sehingga yg terlihat hanya sisanya saja.
Detik berlalu begitu cepat, Tristan bergegas meraih sapu tangannya untuk menghapus air mata yg telah kering merontang diwajah Rei. secara perlahan dia menyapukan layaknya seorang suami kepada istrinya. selain itu Tristan juga merapikan rambut rei yg terlihat berantakan. namun, waktu terus berjalan sedangkan Rei masih belum sadar dalam heningnya sendiri. akhirnya Tristan berusaha lagi untuk menyadarkan Rei kembali.
"Rei..." Tristan memukul pundak Rei perlahan sesekali.
"Em! kita sudah sampai?" tanya Rei celingukan.
"Ya Rei... kita sudah sampai lebih kurang sepuluh menit yg lalu," jawab Tristan pula.
"Aku sudah tidur berapa lama Kalau gitu! kenapa kau tidak membangunkanku," seru Rei panik.
"Sedari tadi aku bangunkan Rei, tapi keliatannya kau capek. makanya aku membiarkanmu beberapa saat," timpalnya supaya Rei paham.
"Maaf kalau gitu..." tutur Rei merasa malu.
"Sudah lah, aku tidak marah kok! yuk, masuk," ajak Tristan pula.
"Kenapa kau tau rumah sakit ini? apa kau pernh dirawat disini?" tanya Rei sembari membuka salt beltnya yg telah terpasang sedemikian.
Bagaimana bisa aku dirawat Rei... aku tidak pernah merasakan sakit selain hati dan pikiranku, selebihnya aku tidak Pernah merasakan sakit yg lebih parah dari itu. batin Tristan menatap Rei.
Bagi Tristan maupun Rian mempunyai kekuatan untuk menangkis aroma bau darah. mereka seperti memilki kekebalan dalam tubuh masing-masing sehingga biasa saja keluar masuk rumah sakit.
"Ini rumah sakit milik Rian, Rei..." seru Tristan memecah lamunannya.
"Dokter Rian hebat sekali punya rumah sakit sebesar ini," antusias Rei memuji Rian.
"Ya, karna Rian teliti dalam memeriksa pasien! mungkin saja ayahmu sudah ditangani olehnya," timpalnya lagi.
"Aku harap juga begitu! aku mau turun, apakah kau akan ikut masuk denganku?" tanya Rei yg ingin segera keluar.
"Ya. aku juga akan masuk,"
Mertuaku ada didalam mana mungkin aku tidak masuk!! batin Tristan meyakinkan diri.
"Yuk," ajak Rei pula.
Tristan manggut mengikuti ajakan Rei secara bersama keluar dari dalam mobil.
Kemungkinan ayah Rei sudah tidak akan mengenali dirinya. namun, sudah pasti dia masih mengenali ayahnya Tristan. sedari itu Tristan ikut masuk supaya tau kondisi yg dia juluki ayah mertua.
Lorong jalan rumah sakit.
Perbincangan terhenti ketika mereka bersamaan masuk kedalam rumah sakit. kekhawatiran terlihat begitu jelas diwajah cantik Rei saat memasuki sepanjang lorong itu. dengan tubuh mungilnya dia berlari meninggalkan Tristan dibelakangnya, dimana Tristan juga mengiringi langkah kaki Rei.
"Pelan-pelan Rei... nanti kau tersandung," pesan Tristan dari belakang.
Namun, saat itu Rei tidak menjawab pesan yg dilontarkan Tristan padanya krna rasa cemas semakin bertambah setelah melihat Ricky duduk didepan ruang IGD.
Nafas yg sesak membuat Rei terlihat lemas sesekali berhenti.
Sesampainya didepan IGD.
"Ricky, bagaimana keadaan ayah?" tanya Rei teramat sesak.
"No- nona Rei kenapa gak menghubungi saya dulu? saya bisa menunggu Nona didepan," sahutnya panik.
"Itu tak perlu! katakan saja, gimana kondisi ayah!" sarkasnya meminta kejelasan.
"Saya juga gak paham non.. sedari tadi saya nunggu dokternya keluar, tapi belum ada kabar," jawab Ricky melirik Tristan tepat disamping Rei.
Pertnyaan pun muncul dikepala Ricky setelah melihat lelaki begitu tampan berada disamping bos mudanya.
Kalah tampannya dariku! terlihat seperti pangeran. waahhh??? apa dia operasi plastik!! ya... mungkin saja begitu?! batin Ricky ngedumel sendiri.
Ceklek,,, pintu IGD dibuka oleh seorang suster.
"Maaf, atas nama bapak Haikal keluarganya ada dimana?" tanya seorang suster lengkap dengan atributnya.
"Saya sus! saya anaknya," jawab Rei cepat.
"Baiklah, yg di perbolehkan masuk hanya satu orang saja. karna sudah peraturan dari rumah sakit. mari silahkan," ucap suster itu memberi jalan.
"Tristan. kau tunggu disini sebentar," titahnya menatap Tristan.
"Baiklah... aku akan menunggumu disini," ujarnya tersenyum memberi semangat pada Rei.
Keduanya manggut Tristan maupun Ricky menatap sedih saat Rei memaksakan senyumnya ketika masuk keruang ayahnya.
Pintu IGD pun ditutup oleh suster yg membawa Rei masuk.
Saat didalam ruang IGD Rei diberikan pakaian khusus untuk menjenguk pasien.
Sebelumnya Rei tidak pernah sama sekali masuk kedalam ruangan IGD . sehingga dia mengamati setiap peralatan yg sangat lengkap didalamnya.
Rei terus mengikuti langkah suster yg membawanya mengarah pada sang ayh.
"Dokter... ini keluarga dari pasien," ucap suster itu pada rian.
"Loh, Rei..." sapa Rian saat mendengar suster berbicara padanya.
Sejenak Rei terhenti dalam langkahnya krna melihat sang ayah terbujur lemas dengan peralatan yg sudah terpasang.
Terhenyuk hati Rei saat sang ayh yg selalu sehat, bahagia bersamanya, menjalani hari-hari mereka dipenuhi keharmonisan yg membuat semua orang iri melihatnya. tetapi sekarang ayah yg sangat dia sayangi tergelak dipenuhi oleh alat membalut tubuhnya.
Seakan separuh jiwanya hilang melihat keadaan itu, sehingga air mata yg sangat deras mengalir dipipinya
Rian juga tidak menyangka kalau pasien yg dia tangani adalah ayah dari Rei, karnanya dia merasakan kesedihan yg dialami oleh Rei.
"Yah.... bangun yah... ini Rei... haa... hiks,hiks," menggoyangkan tubuh sang ayah dengan suara Isak tangis.
"Rei... sabar Rei... kamu harus kuat! harus menjadi penyemangat untuk ayahmu! supaya ayahmu lekas sembuh," bujuk Rian menepuk pundak Rei pelan.
"Sus. tolong ambilkan tisu," titah Rian pula.
"Baik dok," patuhnya dengan cepat.
"Yah.... maafkan Rei yah... Rei udah marah sma ayah, harusnya Rei gak berbuat itu yah... haaaaa," suara yg semakin dalam isakannya.
"Tenang Rei, kamubharus tenang! ayahmu sudah saya tangani dengan sebaik mungkin! jadi kamu hanya perlu berdoa untuk kesembuhan ayahmu," papar Rian terus menepuk pundak Rei.
"Dokter. ini tisunya," ucap suster memberikan pada Rian.
"Nah Rei, usap dulu air matamu! saya tau kamu pasti sedari tadi sudah cukup bnyak menangis. kamu harus lebih tenang Rei," seru Rian memberi tisu pada Rei.
Saat Rei meraih tisu itu diapun menyeka air mata yg mungkin saja sudah dia keluarkan seluruhnya.
Rasa kesedihan yg dalam terlihat jelas di sorot matanya saat menatap sang ayah yg tidak mendengarkan panggilannya.
"Rei, saat ini ayahmu masih belum sadarkan diri. dia harus istirahat! kita bicarakan masalah penyakit ayahmu diluar saja," pinta Rian agar sang ayah bisa lebih tenang.
Namun, Rei masih belum mendengar perkataan Rian padanya, Rian mengamati wajah Rei yg teramat menyedihkan. apalagi wajahnya pucat takutnya Rei tidak kuat menahan badannya yg sudah terlihat lemah.
Pantas saja Tristan menyukaimu Rei, kau wanita yg tidak pernah memperlihatkan sisi lemahmu pada kebanyakan orang. batin Rian mengamati wajah Rei.
Setelah keheningan berlangsung didalam ruangan Rei masih saja berlinang air mata namun Isak tangis sudah tidak terdengar lagi.
"Dokter Rian, apa ayah saya bisa sehat?" tanya Rei seakan pilu.
"Kemungkinan 50% Rei. kalau begitu kita bicara diluar saja," bujuk Rian kembali.
"Hiks, yah... bangun yah... ini Rei anak yg paling ayah sayangi...." lirihnya sambil mencium punggung tangan sang ayah.
"Yuk Rei, saya ingin berbicara masalah penyakit ayahmu," ajak Rian terus membujuk.
"Baik dokter," sahutnya sambil menyeka air mata.
Apa yg telah terjadi pada keluarga kecil Rei itu tentu saja sudah kehendak Tuhan, selagi Rei masih diberi kesehatan dia harus menjadi penyemangat bagi ayahnya. benar apa yg dikatakan dokter Rian, kekuatan dari seorang anak akan membuat sang ayah kembali sembuh.
Rei kuat yah, Rei akan tetap semangat supaya ayah cepat sehat kembali... maafkan Rei yah, Rei jahat sama ayah.... Rei bukan anak yg berbakti, Rei yg masih tidak Nerima keputusan ayah. itu semua salah Rei yah... maafkan Rei, hikss" batin rei memekik menahan kepedihan dengan memegang punggung tangan sang ayah.
............
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 🤭😆
😍🥰MAMAK SAYANG KALIAN 🥺❤️😁
bisa aja lu cari alasan Rick 😂
makasih thor sdh kasih tau aku😅
knp kok sewot gitu, cuma gegara di blng keras kepala
baunya sampe kesini ya, cptn Rick pergi, bisa"kamu nanti yg bauu