NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Kontrak Pernikahan Di Markas Komando

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

​"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
​Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
​Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
​Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Arga yang Mulai Mengawasi

Arga yang mulai mengawasi segalanya membuat Maya Anindya merasa seolah-olah seluruh gerak gerik tubuhnya sedang dipantau oleh satelit pengintai militer yang tidak pernah lelah. Pagi ini, sang letnan tidak hanya menyiapkan bekal dengan susunan yang sangat rapi tetapi juga memeriksa daftar riwayat panggilan dan pesan singkat pada telepon genggam milik istrinya dengan teliti seperti memeriksa dokumen rahasia negara. Suasana di meja makan yang biasanya hanya diisi oleh aroma kopi hitam yang kuat kini berubah menjadi sangat tegang laksana ruang sidang mahkamah militer yang akan memutuskan nasib seseorang.

"Siapa pemilik nomor telepon dengan akhiran angka kosong tujuh ini yang menghubungimu tepat pada pukul sepuluh malam tadi? Dan mengapa pesannya dihapus secara total hanya sepuluh menit kemudian?" tanya Arga Dirgantara dengan nada yang sangat dingin, seolah-olah dia sedang menanyai tersangka musuh.

Maya Anindya tersedak potongan roti bakarnya hingga wajahnya berubah menjadi kemerahan sampai ke telinga karena terkejut sekaligus merasa sangat tersinggung. Dia meraih kembali benda elektronik itu dari tangan suaminya dengan gerakan yang sangat tangkas serta penuh dengan amarah yang meluap-luap, hingga telapak tangannya terasa sakit karena menggenggamnya terlalu erat. Baginya, privasi adalah satu-satunya hal yang masih dia miliki setelah kehilangan kebebasan akibat kontrak pernikahan yang sangat menjerat ini — dan sekarang itu juga mulai diambil.

"Itu hanya teman kelas, Rian, yang menanyakan tentang tugas matematika semalam yang belum selesai! Apakah Anda sekarang juga merangkap sebagai petugas penyadap rahasia yang tidak menghargai kehidupan pribadi saya?" balas Maya Anindya dengan suara yang meninggi dan bergetar karena emosi, air mata mulai ingin menetes.

Arga Dirgantara meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan perlahan namun dentuman kecil yang dihasilkan cukup untuk membuat nyali Maya sedikit menciut dan air matanya terhenti di kelopak mata. Dia menatap istrinya dengan sepasang mata yang sangat tajam dan dingin, tidak menunjukkan keraguan sedikit-pun mengenai tindakan yang baru saja dia lakukan. Peraturan di markas komando memang sangat ketat namun pengawasan Arga terasa jauh lebih personal serta sangat menyesakkan dada, seperti ada tangaan yang menahan napasnya setiap saat.

"Mulai hari ini, setiap orang yang ingin berinteraksi denganmu — baik lewat telepon, di sekolah, atau di mana saja — harus melewati penyaringan keamanan yang saya lakukan secara langsung tanpa pengecualian. Saya perlu tahu siapa yang berada di sekitarmu dan apa yang mereka bicarakan denganmu," tegas Arga Dirgantara sambil berdiri tegak dengan sikap yang penuh dengan otoritas, membuat badannya tampak lebih besar dan mengintimidasi.

Gadis remaja itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sampai terasa sakit sambil menahan air mata yang mulai mengenangi kelopak matanya yang tampak sangat lelah akibat tidur buruk semalam. Dia merasa seperti seekor burung yang sayapnya telah dipatahkan lalu dikurung di dalam sangkar emas yang dijaga oleh ribuan prajurit bersenjata lengkap — indah tapi tidak bebas. Tanpa mengucapkan kata pamit sama sekali, Maya segera menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di kursi dan berlari menuju pintu depan dengan langkah kaki yang tergesa-gesa untuk menghindari perdebatan yang lebih panjang lagi.

"Jangan lupa bahwa saya akan memantau posisi keberadaanmu setiap saat melalui sistem koordinat yang sudah terpasang di dalam tas tersebut! Jangan coba-coba untuk melepasnya atau menyembunyikannya, karena saya akan tahu seketika," teriak Arga Dirgantara dari kejauhan, suaranya menggelegar di ruang tamu yang kosong.

Langkah kaki Maya terhenti sejenak di ambang pintu saat mendengar pernyataan suaminya yang sangat tidak masuk akal serta sangat mengerikan tersebut. Dia meraba bagian dasar tasnya dengan tangan yang gemetar dan merasakan sebuah benjolan kecil yang keras tersembunyi di balik lapisan kain yang sangat tebal, seperti ada benda asing yang tidak diinginkan di dalamnya. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi sampai dia merasa sulit bernapas, menyadari bahwa dia benar-benar tidak memiliki ruang sedikit pun untuk bergerak secara bebas lagi.

"Anda benar-benar pria yang sangat kejam serta tidak memiliki perasaan manusiawi sedikit-pun kepada saya! Saya bukan barang militer yang harus Anda pantau setiap detiknya!" isak Maya Anindya dengan suara yang terisak-isak sebelum akhirnya membuka pintu dan menghilang di balik gerbang rumah dinas yang besar.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah dengan angkutan umum, Maya terus memikirkan cara untuk melepaskan diri dari pengawasan yang sangat ketat serta sangat mengganggu tersebut. Dia menggenggam tali tasnya dengan kuat, merasakan benjolan kecil itu masih ada di dalamnya, membuat dia merasa tidak nyaman sepanjang jalan. Dia merasa bahwa dunia pendidikan yang seharusnya menyenangkan dan penuh dengan teman-teman kini telah berubah menjadi sebuah misi pelarian yang sangat melelahkan bagi jiwanya. Namun, ketika tiba di sekolah, sebuah pengumuman besar yang terpasang di papan informasi membuatnya tersentak hingga ke tulang belakang — ada larangan keluar malam bagi semua siswa, dan Arga ternyata yang sudah berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk memastikan dia mematuhinya.

1
muna aprilia
lanjutkan
Ihda Rozi
lanjut
merry
nyiksa ank org kmu ga,, pdhl maya gk salah lohh,, ko berhrp maya truma gt biar nyesel tu si Arga bini msh kecill dihukum kyk bgtt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!