NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tarian Api dan Sayap yang Terbelenggu

Bab 5: Tarian Api dan Sayap yang Terbelenggu

Hutan Maya seolah menahan napas. Burung-burung berhenti berkicau, dan angin berhenti berdesir di sela-sela dedaunan. Seluruh fokus alam semesta di radius satu kilometer seakan tersedot ke satu titik: benturan antara pedang pusaka Wangsa Agnimara dan kujang berkarat milik seorang pelayan tak bernama.

Cahaya merah darah dari aura Arya Agnimara beradu dengan kekosongan gelap yang menyelimuti Bara. Suara benturan logam itu tidak nyaring, melainkan berat dan berdengung rendah (humming), sebuah frekuensi yang membuat gigi terasa ngilu dan jantung bergetar tidak nyaman.

Mustahil.

Satu kata itu berteriak-teriak di dalam benak Arya yang sedang dikuasai amarah obat terlarang.

Dia telah menelan Pil Mustika Asura. Kekuatannya saat ini setara dengan pendekar tingkat Agni Yuda Awal. Pedangnya, Pedang Naga Geni, adalah senjata Tingkat Madya Puncak yang ditempa oleh empu terbaik ibukota. Bilahnya dialiri api yang bisa melelehkan baja dalam hitungan detik.

Namun, di hadapannya, Bara menahannya hanya dengan satu tangan.

Wajah Bara hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Mata itu... mata yang biasanya tenang dan membosankan, kini menatapnya dengan intensitas yang mengerikan. Di kedalaman pupil hitam Bara, Arya melihat sesuatu berputar. Seperti pusaran emas cair.

"Kenapa..." Arya menggeram, ludahnya menetes bercampur darah akibat tekanan energi. "KENAPA KAU TIDAK TERBAKAR?!"

Api hitam dari pedang Arya menjilat-jilat lengan Bara. Kain baju Bara hangus dan menjadi abu, memperlihatkan kulit lengan yang sawo matang. Tapi anehnya, kulit itu tidak melepuh. Justru, kulit itu seolah menyerap api Arya, memakannya seperti bahan bakar.

"Apimu..." bisik Bara, suaranya terdengar ganda—satu suara manusia, satu lagi suara parau yang purba. "Terlalu dingin."

KRAK.

Suara retakan terdengar. Bukan dari kujang Bara.

Mata Arya terbelalak horor saat melihat retakan halus muncul di bilah Pedang Naga Geni miliknya.

"Tidak... tidak mungkin..."

Bara memutar pergelangan tangannya sedikit. Kujang di tangannya—si Sulung—tiba-tiba merontokkan karatnya. Serpihan karat itu jatuh seperti debu, memperlihatkan logam di bawahnya yang bukan besi, bukan baja, melainkan materi berwarna hitam legam dengan urat-urat emas yang berdenyut.

"Hancurlah," perintah Bara pelan.

"Teknik Kujang: Patukan Garuda!"

Bara menyentakkan kujangnya ke depan. Gerakannya sederhana, tanpa kembang-kembang jurus yang rumit. Tapi di mata Arya, serangan itu terlihat seperti paruh burung raksasa yang mematuk dari langit.

TRANG!

Pedang Naga Geni hancur berkeping-keping.

Pecahan logam panas berhamburan ke segala arah. Arya terpental ke belakang, dadanya terbuka lebar tanpa pertahanan.

Bara tidak berhenti. Ia maju satu langkah, menempelkan telapak tangan kirinya (tangan kosong) ke dada Arya.

"Tidurlah. Kau berisik."

Sebuah gelombang kejut (shockwave) tak kasat mata dilepaskan dari telapak tangan Bara. Teknik Tapak Kosong. Bukan untuk membunuh, tapi untuk mengacaukan aliran Prana di jantung musuh.

BUGH!

Arya muntah darah segar. Tubuhnya terlempar sepuluh meter ke belakang, menabrak pohon Jati besar hingga batang pohon itu retak. Tubuhnya merosot jatuh, matanya memutih, pingsan seketika. Efek obat Mustika Asura langsung berhenti paksa, menyisakan tubuh yang rusak parah.

Hening.

Dari atas dahan pohon yang tinggi, Rara Anjani mencengkeram kulit kayu hingga beku.

Napasnya tertahan. Dia baru saja menyaksikan sesuatu yang meruntuhkan logika kultivasi yang dia pelajari selama tujuh belas tahun.

Seorang murid tingkat dasar, menghancurkan senjata pusaka dan mengalahkan pengguna obat terlarang dalam satu serangan balik?

"Itu bukan Prana biasa," gumam Anjani. Matanya yang jeli menangkap detail yang terlewatkan orang lain. "Saat dia menyerang tadi... ada bayangan sayap di belakangnya. Dan suhu udara... suhu udara di lapangan itu naik drastis, tapi hanya di titik di mana dia berdiri."

Anjani menatap sosok Bara yang berdiri tegak di tengah lapangan. Baju atasannya sudah hancur sebelah, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk sempurna dan penuh luka parut lama. Tapi yang membuat Anjani terpaku adalah tato di dada kiri Bara.

Tato bermotif Batik Kawung yang bersinar oranye redup sebelum perlahan memudar kembali menjadi hitam.

"Segel?" Anjani menebak. "Dia menyegel sesuatu di tubuhnya? Monster? Atau Pusaka?"

Tiba-tiba, Bara menoleh ke arah pohon tempat Anjani bersembunyi.

Jarak mereka lebih dari lima ratus meter. Anjani menggunakan teknik penyembunyian hawa Kabut Es. Seharusnya mustahil untuk dideteksi.

Tapi mata Bara menatap lurus ke matanya. Tatapan itu datar, tanpa permusuhan, tapi mengirimkan pesan yang jelas: Aku melihatmu. Jangan ikut campur.

Tubuh Anjani gemetar. Bukan karena takut, tapi karena sensasi thrill (gairah pertarungan) yang menjalar di tulang belakangnya. Seumur hidupnya, dia selalu menjadi yang terkuat, yang paling jenius, yang paling ditakuti. Hari ini, untuk pertama kalinya, dia merasa menjadi "mangsa".

"Bara Wirasena..." Anjani tersenyum, senyum yang jarang ia perlihatkan. Senyum seorang pesaing yang menemukan lawan sepadan. "Kau bukan air. Kau adalah magma yang menunggu letusan."

Bara mengalihkan pandangannya dari tempat persembunyian Anjani. Ia tahu gadis es itu ada di sana, juga si mata-mata dari Wangsa Bayu Aji di pohon lain. Tapi dia tidak peduli. Prioritasnya sekarang adalah Kirana.

Bara berbalik, menyarungkan kembali Kujang Si Sulung yang kini kembali terlihat kusam dan berkarat—sebuah ilusi optik yang ia ciptakan untuk menipu mata orang awam.

Kirana masih terduduk di tanah, wajahnya pucat pasi, air mata membasahi pipinya yang lebam. Dia menatap Bara seolah menatap orang asing.

Bara berlutut di depan gadis itu. Hawa membunuh yang tadi menyelimutinya lenyap seketika, digantikan oleh aura kakaknya yang biasa.

"Kau terluka?" tanya Bara lembut.

Kirana menggeleng pelan, masih syok. "Mas... Mas Bara... tadi itu..."

"Lupakan apa yang kau lihat," potong Bara sambil merobek sisa lengan bajunya untuk membalut luka lecet di tangan Kirana. "Arya terlalu banyak makan obat, senjatanya jadi rapuh. Itu cuma keberuntungan."

Kebohongan yang buruk. Tapi Kirana memilih untuk mempercayainya, atau setidaknya, pura-pura percaya karena dia terlalu takut dengan kenyataan sebenarnya.

Bara berdiri, lalu berjalan ke arah tubuh anak buah Arya yang pingsan berserakan. Dengan gerakan cepat, ia merogoh saku mereka satu per satu. Ia mengambil Token Giok milik mereka. Ada lima token. Ditambah token milik Arya yang ia ambil dari saku jubahnya yang hangus, total ada enam token.

Bara kembali ke Kirana dan menjatuhkan keenam token itu ke pangkuan gadis itu.

"Ambil ini," kata Bara.

Mata Kirana membelalak. "Mas? Ini... ini tiket kelulusan! Mas Bara bisa lulus dengan nilai sempurna dengan ini!"

"Aku tidak butuh nilai," jawab Bara datar. "Aku butuh sesuatu yang lain di hutan ini. Kau pegang token ini. Cari tempat sembunyi, tunggu sampai ujian selesai besok lusa. Dengan enam token, kau dan dua temanmu itu sudah pasti lulus."

"Tapi Mas Bara mau kemana?"

Bara menoleh ke arah utara hutan. Ke arah Zona Merah. Awan hitam di sana bergulung lebih pekat, dan sesekali terdengar auman binatang buas yang menggetarkan tanah.

"Mencari makan malam untuk peliharaanku," jawab Bara ambigu.

Tanpa menunggu jawaban lagi, Bara melesat pergi. Tubuhnya lenyap ditelan bayangan pepohonan, meninggalkan Kirana yang mendekap token-token itu sambil menangis lega sekaligus khawatir.

Malam turun dengan cepat di Hutan Maya. Suhu udara turun drastis. Kabut ungu menjadi semakin tebal, membuat jarak pandang hanya tersisa dua meter.

Nimas Sekar sedang melacak jejak.

Sebagai pembunuh dari Wangsa Bayu Aji, melacak adalah keahlian utamanya. Tapi melacak Bara ternyata sesulit melacak hantu. Jejak kakinya seringkali putus tiba-tiba, atau berputar arah menyesatkan.

Namun, Sekar menemukan sesuatu yang menarik.

Di setiap tempat yang dilewati Bara, tanaman di sekitarnya layu. Bukan layu biasa, tapi layu seperti tersedot kehidupannya (dehidrasi). Daun-daun menguning dan kering kerontang.

"Hawa panas tubuhnya..." gumam Sekar sambil menyentuh daun pakis yang hancur menjadi debu di tangannya. "Dia memancarkan panas yang begitu tinggi secara konstan, sampai-sampai menyerap kelembapan di sekitarnya. Bagaimana mungkin manusia bisa hidup dengan suhu tubuh seperti itu?"

Laporannya tentang Bara harus direvisi total.

Target: Bara Wirasena.

Klasifikasi Ancaman: Tingkat Tinggi / Anomali.

Dugaan Kekuatan: Pengguna Elemen Api Murni atau... Jinchuuriki (Wadah Siluman).

Saat Sekar hendak melangkah lebih jauh, tiba-tiba sebuah kunai (pisau lempar) es melesat dan menancap di batang pohon tepat di depan hidungnya.

Sekar berhenti seketika, tubuhnya menegang.

"Cukup sampai di sini, Tikus Kecil."

Suara dingin itu muncul dari balik kabut. Rara Anjani melangkah keluar, gaun biru mudanya berkibar pelan meski tidak ada angin.

Sekar menyipitkan mata. "Nimas Anjani dari Wangsa Tirtamaya. Apa urusanmu menghalangi jalan Wangsa Bayu Aji?"

"Kau mengikutinya, bukan?" Anjani tersenyum miring. "Aku sarankan jangan. Dia sedang lapar. Dan kau terlihat cukup lezat untuk jadi camilan."

"Kau melindunginya?" tanya Sekar sinis. "Sejak kapan Putri Es peduli pada pelayan rendahan?"

"Aku tidak melindunginya," Anjani mengangkat tangannya, dan uap air di udara memadat menjadi puluhan jarum es yang mengarah ke Sekar. "Aku hanya ingin memastikan dia tidak diganggu oleh lalat sepertimu sebelum aku sendiri yang mengujinya. Pergilah, atau kukanvaskan kau di sini."

Sekar menggertakkan gigi. Melawan Anjani—jenius tingkat Wira Sukma Tinggi—di tempat terbuka adalah bunuh diri. Sekar adalah tipe pembunuh (Assassin), bukan petarung frontal.

"Baik," Sekar mundur perlahan, melebur ke dalam bayangan pohon. "Aku akan mundur. Tapi ingat, Tuan Putri... api yang terlalu besar akan menguapkan airmu."

Setelah hawa keberadaan Sekar menghilang, Anjani menurunkan tangannya. Jarum-jarum es itu mencair kembali menjadi air.

Anjani menghela napas panjang, memegang dadanya yang berdegup kencang. Dia berbohong. Dia tidak mengusir Sekar karena ingin melawan Bara. Dia mengusir Sekar karena instingnya mengatakan sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di arah utara.

"Bara... apa sebenarnya yang kau cari di sana?"

Jauh di utara, di sebuah lembah batu kapur yang dikelilingi rawa beracun.

Bara berjalan sempoyongan. Napasnya berat dan memburu. Keringatnya mendesis saat jatuh ke tanah, langsung menguap karena suhu tubuhnya yang mencapai demam tinggi.

"Sakit, Mitra?" tanya Garuda. Nadanya tidak mengejek kali ini, tapi lebih seperti pengamatan klinis.

"Diam..." desis Bara.

Penggunaan kekuatan tadi siang—meski hanya 1%—telah merusak keseimbangan segelnya. Tubuh manusianya belum cukup kuat menahan korosi Prana Emas Garuda. Jalur meridian di lengan kanannya terasa seperti dialiri kaca cair.

"Kau butuh penyeimbang," kata Garuda. "Di depan sana. Di dalam gua kapur itu. Aku mencium baunya. Yin dingin yang sempurna."

Bara mendongak. Di depan sana, ada sebuah gua besar yang mulutnya menyerupai tengkorak. Dari dalam gua itu, menguar hawa dingin yang menusuk tulang, bercampur dengan bau amis yang kental.

Sarang Ular Sanca Kembang Bulan (Moonflower Python).

Siluman Tingkat Menengah-Atas. Setara dengan pendekar tingkat Bumi Pala¹. Sisiknya kebal senjata tajam, dan racunnya bisa membekukan darah dalam hitungan detik. Ini adalah "Bos" dari Hutan Maya yang seharusnya dihindari oleh semua peserta ujian.

Bara menyeringai. Gigi-giginya terlihat putih di tengah kegelapan.

"Penyeimbang, ya?"

Bara mencabut kedua Kujang-nya. Si Sulung di kanan, Si Bungsu di kiri.

"Daging ular katanya enak kalau dipanggang."

Bara melangkah masuk ke dalam gua.

SHHAAAA!

Desisan keras terdengar dari kegelapan, diikuti oleh sepasang mata kuning raksasa yang menyala.

Pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan melawan manusia lemah seperti Arya, tapi melawan monster yang telah hidup ratusan tahun.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 5

Bumi Pala: Tingkatan ke-5 dalam kultivasi. Pendekar di tahap ini sudah bisa memanipulasi gravitasi diri sendiri (bisa berjalan di dinding/air dengan sempurna) dan memiliki kulit sekeras batu karang. Melawan Siluman setingkat ini sendirian bagi murid tingkat dasar adalah hal gila.

Teknik Kujang: Patukan Garuda: Sebuah teknik tusukan (thrust) yang memusatkan seluruh tenaga pada satu titik ujung senjata untuk menembus pertahanan terkeras sekalipun.

Tapak Kosong: Serangan berbasis getaran (vibration) yang menembus zirah fisik untuk menyerang organ dalam secara langsung.

Ular Sanca Kembang Bulan: Siluman ular raksasa yang menyerap energi bulan. Memiliki elemen Yin (dingin) yang kuat, sangat cocok untuk meredam elemen Yang (panas/api) yang berlebihan di tubuh Bara.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!