INFO PENTING!!!
Novel ini punya dua cerita yang berbeda...
Sekuel Pertama (Bab 1-Bab 83)
Berkisah tentang Velicia Arista yang di vonis mengidap kanker serviks stadium III. Dokter mengatakan usianya hanya tinggal 90 hari. Mengetahui hal itu, membuat Velicia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan mendapatkan cinta dari suaminya. Karena selama 3 tahun pernikahan, suaminya malah mencintai wanita lain.
Sekuel Kedua (Bab 86-dst/ on going)
Berkisah tentang puteri adopsi Velicia, Claudia Arista Setyawan, yang terpaksa menikah dengan seorang pria yang sama sekali tak pernah dilihatnya, Adam Wijaya.
Selama 2 tahun keduanya hidup terpisah dan sama sekali tidak pernah mengenal wajah masing-masing. Saat Adam kembali, Claudia ingin bercerai. Adam pun memberikan syarat dalam 90 hari kedepan, Claudia harus bisa membuktikan kepada Adam bahwa ia akan berhasil dalam perkuliahannya. Maka dengan itu, Adam akan setuju untuk bercerai.
"90 Hari Mengejar Cinta Suamiku"
Follow IG: La-Rayya ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengusir Arnold lagi (Bab 32)
Pagi menjelang, aku membuka mata dan menguap sambil mengucek mataku.
Alangkah kagetnya aku, ketika mendapati Arnold yang tengah tertidur di sebuah kursi di samping tempat tidurku.
Aku menepuk-nepuk pundak Arnold mencoba untuk membangunkannya.
"Eh, Velicia kau sudah bangun." Ucap Arnold.
"Kenapa kau tidak pulang?" Tanyaku.
"Aku sudah bilang, kalau aku mau menjagamu dan merawat mu." Jawab Arnold.
"Aku sudah baik-baik saja. Lebih baik kau pulang sekarang."
Aku bangun dari tempat tidur, dan berjalan menuju kamar mandi.
"Pergilah." Ucapku sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Aku mulai melepas satu persatu pakaianku lalu mulai berendam di bath up dengan air hangat yang sebelumnya sudah aku siapkan.
"Aahh menenangkan sekali."
Cukup lama aku berendam dan akhirnya keluar dari bath up dan menggunakan jubah mandi. Aku berjalan keluar dari kamar mandi dan melihat di dalam kamar sudah tidak ada Arnold lagi.
"Syukurlah, dia pasti sudah pulang."
Dengan menggunakan jubah mandi, aku turun ke lantai dasar untuk sekedar membuat oatmeal. Perutku yang keroncongan sudah mulai minta untuk diisi.
Melangkah masuk ke ruang makan dan mendapati sudah ada berbagai hidangan di atas meja makan.
'Siapa yang masak?' pikirku
"Mungkin Bu Sumi." Ucapku.
"Aku yang udah siapin semuanya. Walau bukan aku yang masak sih. Itu udah aku pesan langsung dari jasa catering yang menyediakan makanan sehat." Ucap Arnold yang tiba-tiba berada di belakangku.
Arnold berjalan mendekat dengan membawa segelas susu putih di tangannya. Dia kemudian meletakkan gelas susu itu diatas meja.
"Ayo duduk Tuan Puteri." Ucapnya lagi seraya menarik tanganku dan membuatku terduduk di kursi.
"Ayo, sarapan dulu. Setelah itu minum obat ya." Lanjut Arnold lagi.
Dia mulai mengambil piring dan menaruh beberapa macam makanan diatas piringku. Mulai dari nasi dan berbagai jenis lauknya.
"Ini beras merah, dan berbagai jenis sayur-sayuran yang baik untuk kesehatan kamu. Daging sapi ini juga, daging sapi pilihan yang memiliki lemak paling sedikit...."
'Bla bla bla....'
Arnold terus saja menjelaskan semua jenis hidangan yang ada diatas meja.
Karena perutku yang sudah sangat lapar, aku tak menghiraukannya. Lebih baik isi perut dulu. Setelah tenaga terkumpul baru bisa berdebat dengan dia.
"Ini cobain, salmon ini enak banget." Arnold mengarahkan sumpit ke arah mulutku.
Aku menggeleng, memilih makan daging yang tersedia. Tepat saat aku membuka mulut, dengan cepat Arnold menyuapiku dengan salmon yang ia siapkan tadi. Dengan terpaksa aku mengunyahnya.
Selesai mengisi perut, aku hendak berdiri untuk kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Karena sejak tadi, aku hanya menggunakan jubah mandi.
"Mau aku bantu?" Tawar Arnold.
"Tidak perlu. Aku cuma ingin kamu pergi dari rumahku." Ucapku. "Ku harap setelah berganti pakaian nanti, aku sudah tidak akan melihat kamu lagi disini." Lanjut ku lalu berjalan naik ke lantai atas.
Aku mengganti pakaianku dengan dress berwarna biru. Entah kenapa, sejak dulu aku memang menyukai warna biru. Mungkin karena aku menyukai pantai yang memperlihatkan lautan luas dengan warna biru dan tak berujung. Atau juga karena aku memang terbiasa melihat warna biru. Selain karena setiap hari melihat langit, kota kelahiran dan tempat aku dibesarkan ini juga merupakan sebuah kota yang berada di sebuah pulau yang tidak terlalu besar dan di kelilingi lautan biru nan luas. Jadi kemanapun aku pergi, pasti warna biru yang mendominasi.
Aku turun ke lantai bawah dengan menenteng tas dan kunci mobil. Hari ini aku berencana untuk mengunjungi makam Mama dan Papa.
Mood ku kembali hilang saat melihat Arnold ternyata masih ada di rumahku. Kini dia terlihat tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi dari rumahku?" Ucapku sinis.
"Aku tidak mau." Balas Arnold cepat.
"Apa kau tidak bekerja?" Tanyaku menahan emosi.
"Aku libur. Aku mai merawat kamu saja."
"Sudah berulang kali aku katakan, aku tidak butuh bantuan kamu. Lebih baik kamu pergi saja. Aku tak ingin melihatmu di rumah ku lagi." Ucapku jengkel.
Bukannya berdiri, Arnold malah memperbaiki posisi duduknya dan menaruh kakinya ke atas meja.
"Terserah kau saja."
Aku yang kesal berjalan keluar rumah. Arnold terdengar berlari mengejar ku.
"Kau mau kemana? Biar aku temani." Ucap Arnold menarik tanganku.
"Mau kemanapun aku pergi, itu bukan urusan kamu." Balasku ketus.
"Velicia, kenapa kau begitu kasar padaku. Aku sudah berusaha berubah dan mulai mencintai kamu. Aku meninggalkan Viona karena aku cinta sama kamu. Dan sekarang aku bahkan menjaga kamu semalaman. Tidak bisakah kau sedikit saja menghargai usahaku."
Arnold menggenggam tanganku dengan erat.
"Lepaskan aku."
"Tidak akan pernah." Balasnya. "Beri aku kesempatan sekali saja."
"Tidak terima kasih. Dengarkan aku kali ini, aku tidak pernah memintamu untuk menjagaku, tidak juga memintamu untuk berubah apalagi memintamu untuk meninggalkan Viona. Aku akui, dulu aku memang melakukan semua itu. Aku bahkan sampai menutup mataku dengan semua sikap jahat yang kau berikan padaku. Terakhir, aku memberikan semuanya padamu. Bahkan bercerai denganmu agar kau bisa bersatu dengan wanita mu itu. Aku tahu bagaimana sakitnya perjuangan yang tak di hargai. Aku tahu bagaimana sakitnya mencintai tapi tak terbalaskan. Tapi, sekali lagi aku katakan. Aku tidak akan pernah kembali lagi padamu, apapun yang terjadi. Jadi ku mohon, pergilah yang jauh dan lepaskan aku." Ucapku panjang lebar, berharap kali ini Arnold bisa mengerti.
"Sekarang kau yang dengarkan aku. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan dirimu. Jika aku tidak bisa memilikimu, orang lainpun tidak bisa, termasuk Andreas. Jika aku sampai melihatmu bersatu dengan Andreas, jangan salahkan aku jika hubungan keluarga Arista dengan keluarga Ardana hancur berantakan." Ancam Arnold.
"Cih, kau memang benar-benar egois." Ucapku lalu masuk ke dalam mobil.
Aku duduk di kursi mengemudi kemudian membuka kaca mobil.
"Kalau kau tidak mau pergi dari rumahku, maka biarlah. Aku yang akan pergi, asalkan aku tidak melihat kamu lagi. Semua perusahaan dan aset yang lain saja bisa aku berikan padamu. Apalagi hanya sekedar satu rumah ini. Ambillah, gratis." Ucapku lalu melesat pergi keluar dari pekarangan rumah.
Kesal sekali rasanya sejak kemarin selalu saja berurusan dengan Arnold. Kenapa dia tidak mau membiarkan aku sendiri? Kenapa dia tidak mau melepaskan aku? Toh, semua aset sudah ku berikan padanya. Aku juga sudah membebaskannya dari hubungan pernikahan kami yang sejak dulu selalu ingin ia akhiri.
Cinta? Gak mungkin. Semua kata cinta yang dia ucapkan padaku itu pasti hanya kepalsuan.
Aku tahu bagaimana watak keras Arnold. Dia pasti hanya merasa marah karena wanita yang pernah menjadi isterinya ini malah dekat dengan Kakak yang selama ini tak pernah berhubungan baik dengannya.
Benar-benar memusingkan sekali.
Bersambung....
kasian suami ya punya istri kayak kamu
apakah suamimu boking kamar dengan sahabat wanitanya, pangkuan, curhat, dan pelukan kau anggap hal normal juga
miris pola pikir yang tidak bermoral sampai hal menjijikan kayak gini kau benarkan
jiiik
persahabatan endra dan claudia
pesan kamar hotel, berduaan dikamar, curhat berduaan, duduk dipangkuan, peluk dari belakang, tidur berduaan di atas ranjang, kau anggap ini persahabatan yang normal, kau sehat kan thor
coba kau bayang suami baca novel ini, dia berarti boleh donk bersikap kayak endra, punya teman wanita, curhat curhatan, boking hotel, pangkuan, pelukan
miris sifat munafik wanita di bawa kedalam novel, suami perhatikan ponakan wanita saja udah salah, tapi dia sebagai istri kayak wanita murahan, dianggap hal biasa
miris kemunafikan yang tidak bermoral, menjijikan