NovelToon NovelToon
Friendzone Tapi Menikah

Friendzone Tapi Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: B-Blue

Menikahi sahabat sendiri seharusnya sederhana. Tetapi, tidak untuk Avellyne.
Pernikahan dengan Ryos hanyalah jalan keluar dari tekanan keadaan, bukan karena pilihan hati.

Dihantui trauma masa lalu, Avellyne membangun dinding setinggi langit, membuat rumah tangga mereka membeku tanpa sentuhan, tanpa kehangatan, tanpa arah. Setiap langkah Ryos mendekat, dia mundur. Setiap tatapannya melembut, Avellyne justru semakin takut.

Ryos mencintainya dalam diam, menanggung luka yang tidak pernah dia tunjukkan. Dia rela menjadi sahabat, suami, atau bahkan bayangan… asal Avellyne tidak pergi. Tetapi, seberapa lama sebuah hati mampu bertahan di tengah dinginnya seseorang yang terus menolak untuk disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B-Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

"Ryos!"

"Sayang!"

Sepasang insan tersebut saling memanggil ketika mereka bertemu di butik.

Kekhawatiran dan rasa panik terlihat jelas di antara mereka berdua.

"Gue tahu siapa orangnya," ucap Avellyne.

"Siapa?"

"Antar gue pulang sekarang. Gue jelasin di perjalanan."

Ryos melihat ada yang berbeda dari Avellyne dan rasanya baru kali ini dia melihat wanitanya begitu marah. Semua terlihat jelas dari sorot mata dan ekspresi wajahnya.

Avellyne berjalan dengan tergesa-gesa seolah dia ingin cepat sampai ke rumah.

Sekarang keduanya sudah berada di dalam mobil, Ryos melajukan mobil dengan cepat sesuai permintaan dari Avellyne.

"Jadi siapa sebenarnya orang yang mau menggagalkan pernikahan kita?"

"Papa." Avellyne menjawab dengan cepat.

Seperti perkiraan Ryos, wanita itu memang sedang marah saat ini. Dia ingin segera meluapkan semuanya ketika berjumpa dengan papanya nanti.

"Om Milles! Tapi, kenapa Om membatalkan pernikahan anaknya sendiri?"

"Itu yang mau gue tanyakan ke dia." Gigi Avellyne menggertak dan rahangnya mengeras, amarah sudah meluap-luap dan tidak bisa dibendung lagi.

"Sayang!" Ryos langsung menggenggam tangan Avellyne dan wanita itu pun menoleh calon suaminya yang fokus menyetir.

"Kamu harus tenang, ya! Kita dengarin dulu alasan Om Milles. Kamu jangan keburu kepancing emosi. Kamu harus ingat, kalau aku selalu memihak kamu."

"Maaf, Yos. Loe enggak bisa ikutan. Setelah mengantar gue, loe harus langsung pergi. Kali ini gue ingin menyelesaikannya sendiri. Gue ingin menyelesaikan masalah yang belum tuntas. Ini urusan keluarga gue dan gue enggak mau orang lain tahu."

"Siapa yang kamu maksud orang lain? Aku? Aku bukan orang lain untuk kamu, Sayang–"

"Tolong, Yos!" Avellyne menarik tangannya dari genggaman Ryos, "Gue minta tolong ke loe untuk tidak ikut campur masalah keluarga gue yang satu ini. Setelah gue berhasil menyelesaikannya, gue janji bakal menceritakan semuanya ke loe."

Ryos kembali melirik wanitanya dan pandangan mereka sempat bertemu. Tatapan wanita itu terlihat sayu, seakan memohon kepada Ryos untuk mengikuti perkataannya saat ini.

Ryos menghela napas. "Oke! Tapi kamu harus janji menjelaskan semuanya kepadaku nanti."

"Gue janji."

Tidak banyak yang diketahui Ryos soal keluarga Avellyne. Dia hanya mengetahui sebagian kecil. Yaitu, perceraian kedua orang tua Avellyne. Alasan perceraian tidak pernah dia ketahui sampai detik ini. Avellyne selalu mengalihkan pembicaraan jika Ryos atau pun sahabatnya yang lain bertanya tentang Milles. Wanita itu menganggap papanya sudah tidak ada di dunia ini.

...

Pada akhirnya, Ryos hanya sekedar mengantar Avellyne pulang. Dia bahkan tidak turun dari mobil dan membiarkan wanitanya setengah berlari memasuki rumah.

Ryos hanya menginginkan tidak ada yang terjadi kepada wanitanya. Tentu saja kini perasaannya gusar, meski begitu dia tidak bisa masuk ke sana karena sudah berjanji kepada Avellyne. Dengan berat hati, dia melajukan mobil dengan pelan, namun pasti meninggalkan pekarangan rumah Avellyne.

"Anak Papa pulang juga." Milles tersenyum sangat lebar dan sudah merentangkan kedua tangannya hendak memeluk sang putri, namun raut wajah Avellyne berbanding terbalik dengan Milles.

Wanita itu terlihat marah sejak tadi dan begitu melihat sosok papanya, amarah di dalam hati semakin membara. Avellyne berjalan cepat dan begitu sudah begitu dekat dengan sang papa tangannya melayang untuk menampar orang tuanya sendiri.

Kedua mata Milles membelalak seraya menyentuh pipinya yang terasa perih dan panas.

Cintya yang mengetahui anaknya sudah pulang bergegas ke ruang tamu dan melihat apa yang sudah dilakukan putri semata wayangnya itu.

"Apa-apaan kamu, Avel?!" Milles bertanya dengan nada membentak.

"Di mana rasa hormat kamu!" ucap Milles semakin menaikan intonasi suaranya.

"Rasa hormat seperti apa yang Papa inginkan setelah menyakiti kami, ha?!" Avellyne berteriak sekuat mungkin, selain itu kedua matanya sudah berlinang, napasnya begitu cepat, begitu pun dengan debaran jantungnya.

"Avel. Tenang, Sayang!" Cintya sudah menangis, dia memeluk anaknya untuk menenangkan. Namun, Avellyne dengan paksa melepaskan diri dari pelukan sang mama.

"Mama cukup diam dan lihat apa yang akan Avel lakukan ke dia. Mama jangan ikut campur. Avel akan menyelesaikan apa yang tidak bisa Mama selesaikan selama ini." Kedua mata Avellyne melotot melihat Mama dan Papanya secara bergantian.

Amarah ini. Amarah yang selama belasan tahun ditahan akhirnya akan dia luapkan kepada orang yang tepat.

"Apa maksud Papa mengambil semua berkas pernikahan aku dan Ryos?"

"Setelah semua yang Papa lakukan ke aku dan Mama. Setelah semua sakit yang Papa berikan ke kami, sekarang Papa ingin menghancurkan pernikahanku. Apa Papa masih belum puas menghancurkan kehidupan aku!" Sekali lagi Avellyne berteriak di depan Papanya.

Cintya begitu terkejut dengan perkataan sang putri. Dia baru tahu kalau Milles berusaha membatalkan pernikahan putri mereka.

Milles menghela napas. Dia terlihat tenang sekali. Seolah saat ini tidak ada masalah yang terjadi.

"Kamu mau menikah, tapi tidak mengabari Papa. Kamu duluan yang mencari masalah ke Papa, Vel. Memangnya kamu bisa melanjutkan pernikahan tanpa tanda tangan Papa sebagai wali sah kamu? Papa masih hidup dan sehat, tapi bisa-bisanya kamu meminta wali hakim untuk pernikahan kamu."

Avellyne tersenyum sinis dan mendecih. "Bukannya Papa yang pergi dan menghilang begitu saja dari kehidupan kami. Sekeras apa pun aku mencari, aku tidak bisa menemukan Papa. Dan sekarang Papa datang seperti ini seolah tidak dihargai sebagai orang tua."

"Kamu bisa mendatangi keluarga Papa yang lain. Kalian tahu alamat mereka, kalian bisa mencari info tentang Papa ke paman dan tante kamu."

"Lucu sekali. Bukannya Papa sendiri yang menitip pesan ke mereka agar aku tidak perlu datang lagi ke sana untuk mencari Papa. Apa Papa lupa?"

Milles terdiam untuk sejenak. Dia teringat memang pernah menyampaikan pesan tersebut kepada keluarganya, meminta Avellyne berhenti untuk mencari keberadaan papanya sendiri.

"Sekarang jelaskan ke aku, kenapa Papa mengambil semua berkas pernikahanku dan Ryos?"

"Karena Papa ingin menjadi wali kamu. Papa masih hidup dan harus Papa yang menikahkan kamu, Vel."

"Kenapa harus banyak drama seperti ini. Papa hanya perlu kasih foto copy KTP dan tanda tangan. Kenapa harus membuat keributan seperti ini?" Suara Avellyne sudah kembali sedia kala. Dia pikir harus bicara secara baik-baik terlebih dahulu.

"Memang simple. Tapi, ada harganya untuk memberikan tanda tangan itu."

Avellyne dan Cintya mengernyitkan dahi ketika mendengar perkataan Milles.

"Aku pikir ucapan Papa yang sebelumnya untuk menunjukkan perhatian sebagai orang tua yang ingin melihat hari bahagia anak kandungnya. Aku sempat terharu. Tapi ternyata, kedatangan Papa memiliki niat terselubung. Berapa yang Papa inginkan untuk sebuah tanda tangan?"

"Papa enggak meminta uang. Papa cuma menginginkan rumah ini."

"Milles!" Cintya yang awalnya terlihat diam saja, kini dia memanggil nama mantan suaminya dengan intonasi tinggi.

"Kita sudah selesai bagi harta dan rumah ini mutlak milikku–"

"Itu makanya aku datang untuk membuat kesepakatan. Aku mendapatkan rumah ini dan pernikahan Avel tetap berjalan sesuai rencana. Bagaimana?"

"Tidak ada kesepakatan. Aku tidak akan menukar rumah ini hanya untuk satu tanda tangan." Nada bicara Avellyne kembali berubah. Kini terdengar ketus, raut wajahnya kembali terlihat marah padahal untuk sesaat dia sempat luluh.

"Kalau begitu, kamu tidak bisa menikah, Vel. Tidak dengan Ryos ataupun dengan pria lain–"

"Tidak masalah. Aku tidak keberatan sama sekali. Aku bisa menjadi wanita lajang sampai mati." Avellyne tersenyum penuh arti.

Memang itulah yang dia inginkan, menjadi wanita tanpa suami seumur hidupnya. Rencana pernikahan dengan Ryos dia setujui karena terpaksa demi memenuhi keinginan sang mama.

"Kamu terlihat sombong sekali. Nama belakang kamu masih memakai nama Papa, Vel. Kamu akan tetap membutuhkan Papa sampai kapan pun. Meski bukan untuk pernikahan, suatu saat nanti kamu membutuhkan tanda tangan Papa."

"Hanya sebuah nama, seharusnya tidak begitu memberikan efek untuk masa depan aku. Sebenarnya dari beberapa tahun yang lalu aku sempat berpikir mendatangi pengadilan untuk membuang nama Zachary. Nama itu pembawa sial dan sangat menjijikkan."

"Aku lebih senang menggunakan nama Mama untuk nama belakang aku. Kalau Papa merasa keberatan aku masih menyandang nama Zachary, aku bisa membuangnya secepat mungkin. Aku bisa mengurusnya di pengadilan. Lagipula... aku sudah tidak mempunyai seorang Papa lagi. Dia sudah lama mati."

"Avellyne!" Milles membentak, tentu saja dia tidak senang dianggap mati oleh anaknya sendiri.

"Baiklah. Kalau kamu memang menginginkan rumah ini. Aku akan memberikannya kepadamu," ucap Cintya.

"Mama–"

"Sudah tidak apa-apa, Vel. Masih ada tempat untuk kita tinggali bersama." Cintya tersenyum tipis di depan anaknya itu.

"Sewaktu proses perceraian, Mama yang paling banyak bicara tidak ingin melepaskan rumah ini. Mama menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga untuk mempertahankan rumah ini dan sekarang Mama ingin melepaskan semuanya begitu saja. Kenapa, Ma?" Suara Avellyne bergetar, dia sangat muak melihat mamanya pasrah di depan pria yang memiliki nama Milles Zachary.

"Ini demi kebaikan kamu, Sayang!"

"Cukup, Ma! Berhenti memikirkan orang lain. Berhenti memikirkan perasaan dan kebahagiaan orang lain. Mama bilang rumah ini adalah segalanya, bahkan ketika Avel meminta pindah ke rumah lain, Mama bersikeras tetap tinggal di sini. Kenapa Mama selalu mengalah seperti ini?" Avellyne berkata dengan suara lirih, air matanya sudah bercucuran.

Dia mengingat kejadian pahit di dalam keluarganya yang berantakan.

"Jangan bilang Mama masih mencintai pria itu?" Avellyne mengacungkan jari telunjuknya menunjuk ke arah Milles.

"Mama bertahan selama bertahun-tahun, hidup dalam pengkhianatan selama bertahun-tahun. Kenapa Mama harus hidup seperti ini. Mama bilang karena mencintainya." Avellyne berbicara bercampur dengan suara isak tangisnya.

"Cinta... cinta seperti apa yang membawa penderitaan? Mama dan semua pengakuan cinta Mama, membuat Avel benar-benar jijik mendengarnya." Setelah mengatakan hal tersebut, Avellyne meninggalkan ruang tamu begitu saja dengan keadaan menangis dan hati yang hancur.

Dia tidak sanggup lagi berada di antara kedua orang tuanya. Niat hati ingin melampiaskan semua amarah yang tertahan selama ini kepada orang yang tepat, ternyata tidak bisa dia lakukan dengan baik.

Ternyata dia masih terlalu lemah untuk meluapkan semua perasaan benci itu kepada Milles.

1
edu2820
Kepincut sama tokohnya. 😉
B-Blue: terimakasih sudah mampir 😊
total 1 replies
✿ O T A K U ✿ᴳᴵᴿᴸ࿐
Ceritanya bikin saya ketagihan, gak sabar mau baca kelanjutannya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!