Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi yang bangkit
"Rio..?."
Riko menatap sahabatnya yang terkapar tanpa daya.
Amarahnya langsung naik, ia menerjang dan melepaskan hook kuat ke preman itu. Serangannya meleset karena preman itu menghindar—dan tinju Riko justru menghancurkan tembok di belakang preman itu.
“Itu sakit sekali sialan..,Aku malah memukul tembok..!."
gerutunya. Tubuh Riko seperti beton. ia kembali maju tanpa ragu, menangkap kepala si preman dan membantingnya ke dinding hingga tembok retak dan darah menetes.
“Satu selesai.”
Riko berjongkok di dekat Rio. Napas Rio masih ada, tapi tatapannya kosong , bukan marah, bukan takut, seperti pikirannya tersangkut di tempat lain.
“Suara apa itu…?” bisik Rio yang berbicara di dalam kepalanya. “Apa itu Riko…?” Tanpa King’s Sense, ketakutan lamanya bangkit lagi.
"Lagi pula kalau aku sadar… aku bisa apa? Walaupun aku mati aku akan menerimanya.."pikir Rio, tubuhnya gemetar tanpa perlawanan. Dalam hati ia pasrah menerima apa pun yang terjadi.
“Kakak!!!”
teriakan Rani menembus kabut dalam kepalanya seperti petir.
Rio membeku.
"Bahkan sekarang… aku dengar suara adikku…"
lalu Rio terdiam sebentar dan menyadari satu hal penting.
"Hah? bukankah Aku ke sini untuk menyelamatkannya?, Kenapa aku malah ketakutan seperti ini?.."
gumamnya dalam hati. Tiba-tiba ia teringat kata-kata pak tua tadi
..."Dan selemah-lemahnya dia, dia masih memiliki dirimu."...
Rio menelan ludah. “Kau benar, Pak Tua… dia punya aku.”
Untuk pertama kalinya Rio sadar bahwa dia tidak datang kemari sebagai pengecut. Bukan sebagai murid lemah yang selalu pasrah. Ia datang sebagai kakak. Walaupun ketakutannya masih menempel, ia memilih untuk berdiri melawannya.
“Bagaimana caraku agar bisa sadar…?” bisiknya pada dirinya sendiri, terjebak dalam ruang kosong di bawah sadarnya.
Ia menarik napas panjang.
“Aku harus belajar menerimanya,aku menerima bahwa diriku itu lemah dan aku adalah seorang pengecut, aku harus menerima nya."
Rio tersenyum puas di dalam pikirannya, Emosi nya kembali lagi seperti semula.
"Aku sudah kembali?,ahh...terlalu emosional tadi."
Akhirnya Rio kembali menjadi dirinya sepenuhnya."King's Sense bukan menghilang tapi tertimbun dengan emosi ya?.."
Dalam keheningan batin itu, Rio menutup mata dan menghembuskan napas perlahan. Saat ia membuka mata kembali, ruang gelap itu retak dan menghilang.
Tiba-tiba ia merasakan jarinya bergerak, lalu lengannya mengikuti.
“Ini… sudah bisa,aku sudah bisa menggerakkan tubuhku seperti biasanya.." gumamnya.
Napasnya kembali stabil. King’s Sense menyala lagi dengan tenang, dingin, jernih.
Rio mengangkat kepalanya, tatapan kosongnya berubah menjadi tajam.
Riko yang berdiri di depannya sambil menumbangkan dua preman itu melihat ke arah Rio yang baru saja bangkit."Kau lama sekali." Mereka tersenyum seperti biasanya.
"Apa aku ketinggalan pesta?."
bisiknya pelan, bukan sombong, tapi seperti seseorang yang kembali menemukan dirinya sendiri.
Rio berdiri di samping Riko, menatap satu preman tersisa bersama dua anak perempuan,Rani dan temannya ,yang berdiri Rio sedikit curiga dengan teman rani.
Riko meretakkan jari-jarinya, siap menerjang lagi walau napasnya sudah berat. Rio mengelap darah di pipinya dan merapikan rambutnya ke belakang. Aura dingin dan tenangnya muncul, tidak seperti barusan ketika pikirannya tenggelam.
Ia mengangkat tangan dan menunjuk tepat ke arah adiknya.
“Hey, tua bangka,” ucapnya datar, dingin, dan menusuk. “Sebaiknya kau turunkan adikku.” Tidak ada getaran amarah yang berlebihan—hanya ketegasan yang membuat ruangan terasa lebih sempit.
Lalu ia menoleh ke perempuan di kiri preman itu. “Dan kau, perempuan jalang… setelah ini jauhkan dirimu dari adikku.” Perempuan itu tertawa mengejek, tanpa rasa takut.
“Haha, dia serius atau bodoh sih? Lihat, Peter, anak-anak ini mengancam kita.” Rio tetap menatap tanpa goyah.
Preman itu akhirnya berdiri, tubuhnya jauh lebih besar daripada dua yang sudah tumbang. Itu adalah Peter.
Ototnya padat, bahunya lebar, dan sorot matanya mengatakan ia lebih berbahaya. Riko menghela napas, tenaganya hampir habis.
“Perasaanku nggak enak,”
gumamnya. Sementara Rani menangis sambil memohon,
“Kakak… ku mohon pergilah…!”
Preman itu mencengkram rambut Rani, mengangkatnya sedikit.
“Adikmu berisik sekali. Boleh aku buang dia?” katanya sambil menyeringai, jelas ingin memancing Rio kembali tenggelam dalam emosinya.
Namun Rio hanya tersenyum lebar—senyum yang terlalu tenang untuk situasi ini. Matanya sudah fokus penuh, bukan panik, bukan marah.
“Kau mengancam ku?,Lucu sekali,” balasnya, pelan namun mematikan.
Riko memalingkan wajah ke Rio dan mengembuskan napas lega.
"akhirnya dia tersenyum lagi."
Rio selalu tersenyum sebelum bertarung, pikirnya.
Untuk pertama kali sejak masuk ruangan itu, Riko merasa tenang.
“Ini yang kutunggu,” gumamnya sambil kembali memasang kuda-kuda, meski lututnya bergetar karena kelelahan.
Peter tertawa kasar. “Ahah, kau bahkan tidak bergerak? Kalau aku lempar adikmu sekarang, mungkin dia mati, tahu?. Apa kau ingin melihat kematian adikmu di depan mu?!."
Ia menaikkan nada suara, berharap Rio terpancing.
Rio hanya mengangkat dagu. “Namamu Peter, ya?...Kau ingin melempar adikku?...yahh Coba saja.” Lalu ia menambahkan dengan wajah datar yang entah mengganggu atau lucu.
Rio pun tersenyum datar .
“Orang dewasa memprovokasi anak sekolah… kau tidak malu dengan kumis mu kah???”
Kata-kata itu menampar ego Peter lebih keras daripada pukulan mana pun.
“Cukup berani!.."
Peter mengangkat Rani setinggi mungkin, lalu melemparkannya ke belakang tubuhnya. “Aku ini masih pelajar tahun ke dua!!...MATI LAH!” teriaknya, seolah melempar sampah.
Dan dalam sekejap, Rio menghilang dari tempatnya berdiri hanya menyisakan Riko yang hanya bisa terpaku. Rio muncul di belakang Peter, menangkap Rani sebelum tubuhnya menghantam lantai. Gerakannya terlalu mulus hingga ruangan seakan bergetar.
Di pelukan Rio, Rani menangis sejadi-jadinya. Air matanya turun tanpa jeda, membasahi baju kakaknya.
Rio hanya membelai kepalanya sambil berbisik,
“Sudah, sudah…” dengan senyum lembut yang memecah kesedihan. Adegan itu membuat Riko menahan napas, dan Peter justru mundur setapak.
"Bagaimana dia bergerak? Aku bahkan tak melihatnya, Itu bisa menyamai kecepatan ku.." Untuk pertama kalinya, Peter benar-benar waspada.
Kemarahannya langsung meledak. Peter melompat tinggi, menendang ke arah kepala Rio dengan kecepatan yang bahkan Riko tak sempat tanggapi.
“RIO!!” teriaknya Riko yang panik dan tidak sempat bergerak.
Namun Rio sudah melihatnya dan Rio bergerak sambil menggendong Rani, menghindari tendangan itu tanpa usaha berlebih.
“Aku dapat teknik baru lagi,” pikir Rio santai, padahal tembok di belakang mereka langsung berlubang dihajar tendangan Peter.
Rio menurunkan adiknya dan mendorongnya perlahan ke arah Riko. “Tolong bawa adikku keluar sebentar. Ajak dia jalan-jalan. Ini akan… sedikit memakan waktu.”
Riko mengangguk dan menahan Rani yang masih menangis, meski matanya terpaku pada Peter yang kini menghancurkan tembok hanya dengan satu tendangan. Rio merenggangkan bahunya, menatap preman itu dengan ketenangan aneh.
Rio baru saja menyadari tembok nya berlubang sampai ruang sebelah nya.
“Aku salah,” gumamnya sambil tersenyum kecil.
“ini Bukan sedikit memakan waktu. Tapi banyak.” Sorot matanya kembali ke mode bertarung,dingin, fokus, dan berbahaya.
Dan Peter akhirnya sadar… yang berdiri di depannya bukan “anak sekolah” yang tadi dia kira. Ini adalah seseorang yang layak dia lawan.
Peter mengaum, “Aku akan serius!” lalu menerjang tanpa memberi napas. Tendangannya mendarat tepat di wajah Rio, kaki yang keras dan , telapak sepatu penuh tenaga yang menempel di muka Rio membuat Rio terpental dan menembus tembok.
Suara runtuhan memecah ruangan. Pecahan beton berjatuhan, dan tubuh Rio terguling, darah mengalir dari hidung dan bibirnya.
“Apa itu barusan…? Untuk tubuh sebesar itu, dia cepat sekali. King’s Sense bahkan telat membaca,” pikir Rio sambil bangkit perlahan. "Itu sakit sekali sialan!."
Di tengah debu yang masih turun seperti abu kelabu, siluet raksasa Peter muncul dari lubang tembok, langkahnya berat namun ritmenya stabil.
Rio berdiri tegak dari posisi tengkurap, mengangkat tinjunya. Belum sempat kuda-kudanya benar-benar siap, lutut Peter sudah ada di depan wajahnya dan jaraknya hanya beberapa sentimeter.
Rio terpaksa melompat ke kanan secepat mungkin. Napasnya putus-putus. “Gila…,” desisnya.
Peter menyeringai. “Kau memang cepat.”
Rio memutar tubuhnya, mengandalkan momentum. Ia melancarkan tendangan memutar ke kepala Peter, tendangan yang biasanya cukup untuk merobohkan siapa pun setinggi lelaki itu.
“Bukk!”
Suara benturannya bulat, tapi Peter menahannya hanya dengan satu tangan. "Cih!." Rio menggertakkan gigi.
“Apa hanya itu?” Peter melirik malas, seperti guru olahraga menilai murid yang tidak bisa melakukan apa apa.
Tanpa ragu, Rio menutup jarak ke belakang Peter, menggunakan kecepatan sama yang ia gunakan saat menyelamatkan Rani.
"Apa!!." Peter kaget Rio menghilang dari pandangannya sekejap mata.
Begitu berada tepat di belakang Peter , Rio melepaskan hook kanan ke bagian belakang kepala Peter ,pukulan yang memanfaatkan titik buta lawan. dan mengenai nya dengan keras.
Peter terdorong ke depan, dia berputar lalu mundur beberapa langkah sambil memegang kepalanya. “Kecepatan tadi lagi… apa-apaan itu…” gumamnya,dan mukanya semakin kesal.
Rio menghela napas, pundaknya naik-turun. Luka di wajahnya masih mengalir, tapi matanya fokus.
Peter melesat lebih dulu, tinjunya melayang seperti palu yang ingin meratakan wajah anak baru itu. Pukulan kanan menghantam tepat ke arah muka Rio , tetapi Rio menangkisnya dengan kedua tangannya sambil meringis,karena refleks tubuhnya menolak diam.
Peter tidak berhenti ,tangan kirinya menyusul, cepat dan berat. Rio mundur selangkah, dan membaca irama serangan itu, lalu melompat maju mengikuti momentum pukulan terakhir. Dengkulnya melesat, mengarah lurus ke wajah Peter.
Benturan terjadi. Peter berhasil menangkis dengan kedua lengan, tapi tetap terdorong mundur setapak. Orang-orang yang menonton mengeluarkan desahan kaget, seperti mereka baru saja menyaksikan pertarungan resmi.
“Siapa anak ini…?” bisik seseorang di antara kerumunan.
“Bisa hampir seimbang dengan Peter…” yang lain menimpali, terdengar tak percaya.
Bartender yang tadi menegur Rio hanya mengangkat alisnya, seolah baru menyadari bahwa gelas yang dia lap itu lebih rapuh daripada bocah yang sedang bertarung. “Aku kira dia anak ingusan,” gumamnya. “Ternyata aku salah.”
Rio menghilang dari pandangan Peter , Denga cepat.
Peter kembali menstabilkan napasnya, dan saat Rio menghilang dari pandangan, ia langsung berputar ke belakang, berusaha menyambutnya dengan hook mematikan. Namun yang dia temukan hanyalah udara kosong.
“Apa!?” Peter tersentak.
Rio tidak berada di belakangnya, dia sudah terpancing taktik milik Rio , Rio berada di samping. dan mengangkat kaki untuk menendang nya.
Tendangan punggung kaki Rio menghantam sisi wajah Peter, keras dan terukur. Tubuh Peter terdorong lagi, namun tetap berdiri kokoh, seperti batang pohon yang sudah lama menantang badai.
“Keras sekali…” Rio menarik napas, membayangkan sebentar. Bertarung melawan Peter terasa seperti kembali berhadapan dengan Riko—sosok lain yang tubuhnya lebih mirip perisai daripada manusia. “Tubuh yang keras…”
Dan Di taman yang sepi itu, Rani berjalan pelan di samping Riko, mereka baru saja keluar dari tempat itu., seakan setiap langkah makin berat. Matanya sembab sejak tadi. “Apa Kakak baik-baik saja…?” suaranya bergetar, seperti benang yang hampir putus.
Riko menepuk pundaknya perlahan. Gaya bicaranya sederhana tapi tegas. “Tenang saja. Aku percaya padanya.” Walau wajahnya datar seperti biasanya, ada keyakinan yang mengalir dari nada suaranya cukup untuk membuat langkah Rani berhenti sebentar.
“Tapi… tetap saja itu mustahil…” Rani menunduk lagi dan air matanya jatuh.
“Aku menyayanginya… aku takut kehilangan…” Riko menghela napas tipis. “Kalau kau menyayanginya, ya percayalah dia pulang berdiri.”
Mereka melanjutkan jalan sampai berpapasan dengan seorang perempuan yang tiba-tiba menyapa ceria. “Eh? Bukannya kamu Riko, temannya Rio?” Riko refleks mengangkat alis, sementara Rani ikut bingung. “Siapa kau?” tanya Riko, jelas masih waspada.
Perempuan itu tersenyum ramah. “Aku Eliza, teman sekelas Rio.” Barulah Riko sedikit mereda dan menunduk sopan. “Oh, teman sekelasnya Rio. Kupikir siapa.” Ia menggaruk kepalanya. “Maaf, kerena mewaspadai."
Eliza tertawa ringan. “Wajar kok, apalagi kalau ketemu orang yang belum kenal.” Lalu matanya bergerak ke arah Rani.
“Dan ini siapa?” Rani memperkenalkan diri pelan. “Aku Rani.” Eliza mengulang, “Rani…?” tampak ingin memastikan. Rani lalu menambahkan, “Aku Rani Mahadipa.”
“Mahadipa!?” Eliza langsung terkejut. “Jadi kau adiknya Rio!?” Tatapannya lalu melesat ke Riko penuh curiga.
“Terus kenapa kamu jalan bareng dia? Rani masih di bawah umur kan?” Riko mendengus pelan. “Kenapa kau lihat aku begitu? Justru Rio yang nyuruh ku menjaganya."
Kembali ke Rio yang menghadapi Peter. “Jelas dia kuat sekali… berbeda dengan yang selama ini aku lawan.” Rio menahan napas sambil memperhatikan lawannya yang masih segar.
"Ini sakit sekali!."
sementara luka-luka di tubuhnya terus berdetak seperti mengingatkan bahwa ia hanyalah manusia biasa.
“Apa yang kau ocehkan?!” Peter sudah berada tepat di depan wajahnya, kepalan tangan kanan hampir menyentuh kulit. Rio memiringkan kepala, menghindari pukulan itu, namun Peter langsung menyusul dengan pukulan kiri yang panjang. Rio menunduk, berguling ringan, lalu melompat mundur untuk memberi jarak, mencoba menjaga ritme napasnya agar tidak berantakan.
Ia sempat menapak dua langkah ke belakang, namun Peter ikut menerjang seperti banteng liar.
Hook kanan menyapu udara, hampir mengenai dagu Rio. “Itu hampir saja…” gumamnya, merasakan betapa tipisnya garis antara sadar dan tumbang. Meski begitu, staminanya belum benar-benar habis—ia masih bisa membaca pola gerakan Peter, walau tak sempurna.
Peter kembali berlari, namun kali ini tanpa serangan. Gerakannya seperti ingin menangkap Rio dalam satu genggaman.
Rio melihat celah itu dan memanfaatkannya."Makan ini!!."
Ia mengangkat kaki dan mengeksekusi tendangan telapak yang sama persis dengan teknik yang dipakai Peter sebelumnya.
Telapak sepatu Rio menabrak wajah Peter, dan tubuh besar itu terpental menghantam salah satu meja hingga barang-barang di atasnya berhamburan.
Tanpa memberi waktu bernapas, Rio melompat mengejar. Ia mengayunkan tendangan jatuh ke arah Peter. Namun Peter berguling cepat di lantai, menghindari serangan itu, lalu bangkit sambil menepuk-nepuk debu di tubuhnya.
“Bocah sialan… kau bisa menggunakan teknikku?!” Untuk pertama kalinya, nada ketidakpastian terdengar jelas di suaranya.
Di sisi lain, Rio merapatkan jarak sambil menarik napas. Peter terus memperhatikannya, makin bingung, makin frustrasi.
“Kenapa dia bisa meniru teknikku…” pikirnya, wajahnya menegang. “Apa itu insting bertarungnya?” Dan semakin ia memikirkannya, "Bocah ini berbahaya."
Peter maju tanpa ragu, melompat ke depan Rio tidak sempat bereaksi dan akhirnya Peter berhasil mencengkeram wajah Rio dengan satu genggaman penuh. "Kena kau!!."
Jari-jarinya menutup seperti palang besi, dan Rio merasakan tekanan itu sampai ke tulang pipinya. Ia mencoba melepaskan diri, tetapi cengkeraman Peter terlalu keras, membuat napasnya memburu.
Peter berniat membantingnya ke lantai dengan keras, cukup keras untuk menghancurkan kepala Rio jika benar-benar mendarat. Namun Rio menarik seluruh kekuatan di kakinya dan melompat, tubuhnya naik hampir setinggi dada Peter.
Karena kepalanya masih digenggam, tubuhnya berputar terbalik, kepala di bawah, kaki di atas. Dalam posisi itu, Rio menekuk tubuhnya untuk terlepas dari genggaman Peter dan lalu menahan jatuh dengan kedua telapak tangan, lalu mengayunkan kedua kakinya seperti palu dan menendang dada Peter dengan hentakan penuh.
Peter terdorong beberapa langkah ke belakang, napasnya pecah seperti udara keluar dari balon yang dipaksa. Untuk pertama kalinya, dorongan Rio terasa benar-benar berasa Peter.
Rio bangkit dengan cepat,mungkin terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja digenggam seperti boneka Rio menggunakan seluruh tenaganya dan berlari menuju Peter dengan kecepatan yang meningkat setiap langkahnya.
Kali ini Rio melompat lebih tinggi, kedua kakinya menempel rapat, membentuk satu serangan penuh. Tendangannya mendarat tepat pada wajah Peter, dan benturannya begitu kuat hingga tubuh besar itu terpental dan menghantam tembok di belakang mereka.
Suara runtuhan langsung menyusul, dan Peter terlempar melewati dinding yang hancur berkeping-keping.
Seluruh ruangan membeku. Pecahan batu masih jatuh seperti hujan kecil, dan dari luar hanya terdengar suara tubuh Peter terguling menabrak tanah.
“Apa itu…?!” salah satu warga berteriak tidak percaya. Tidak ada yang pernah melihat Peter, monster lokal yang terkenal tak pernah tumbang, dihempaskan seperti itu.
Rio berdiri di tengah puing, dada naik turun cepat, tetapi ada keyakinan baru di matanya. Setiap gerakan membuatnya semakin kuat, seolah tubuhnya mempelajari pertarungan ini seiring waktu dan beradaptasi.