Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Pagi harinya khaulah tengah sibuk berkutat dengan wajan panasnya. Ia memasak sayur sup dan menggoreng ayam, tempe, dan tahu. Fatih meraba tempat tidur istrinya yang kosong. Lalu ia bangun dari tempat tidur berjalan gontai ke kamar mandi untuk cuci muka, kemudian keluar kamar mencari keberadaan istri nya yang ternyata ada di dapur. Fatih melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, dagu ia tumpu di bahunya. Perlakuan Fatih membuat tubuh khaulah meremang, canggung rasanya.
"Mas, minggir dulu, saya mau goreng ayam."
"Gini saja yah?"
"Jangan mas, saya susah geraknya."
Fatih melepas pelukannya lalu mengecup singkat pucuk kepala istrinya. "Sini biar saya saja yang goreng." Fatih mengambil alih spatula yang dipegang oleh khaulah.
"Eh, jangan mas, udah mas duduk aja, ini biar saya saja."
Fatih menatap intens manik istrinya membuat sang empu tak berkutik. "Duduk, biar saya yang goreng. Kamu diem aja disitu liat saya masak. Ini kewajiban saya sebagai suami jadi, tidak perlu merasa bersalah karena membiarkan saya memasak, paham?"
Khaulah mengangguk lalu ia menuruti perintah suaminya untuk duduk dan melihat Fatih memasak.
"Serius banget yah kalau lagi masak. Ternyata mas Fatih sebaik ini, terimakasih ya Allah, telah menghadirkan ia untuk saya. Dia tahu kewajiban nya sebagai seorang suami. Maaf mas.. belum mampu memberikan hak kamu." Ujar nya
Setelah selesai masak Fatih menghidangkan makanan nya. Khaulah hendak membantunya tapi Fatih melarangnya.
"Duduk aja sayang..., biar saya saja. Kamu tugasnya habisin makanannya aja oke?"
Khaulah tersenyum. "Nanti gendut dong."
"Yah gapapa, emang kenapa? Saya tetap suka kok."
"Hm, makasih yah mas."
"Saya yang makasih..." Fatih melihat sekitar mencari mertuanya. "Abi, belum bangun?" Tanyanya
"Abi jam segini masih di masjid, kalau umi ada di asrama putri." Jelasnya. "Mau saya panggilkan?" Tawarnya.
"Kita tunggu saja." Tolak Fatih tidak mau membuat istrinya repot. "Sambil nunggu saya mau tanya sesuatu boleh?"
"Yah, tentu. Silahkan."
"Kenapa waktu saya mengkhitbah mu, kamu bertanya kepada saya sedang mencintai wanita lain atau tidak?"
Khaulah diam, ia bingung harus mulai darimana. Fatih menggenggam tangan khaulah yang berada di atas meja.
"Katakan yang sejujurnya ada apa sebenarnya?"
"Waktu itu, saya mendengar seorang laki-laki yang bilang pada seorang perempuan dihadapannya (Aku gak masalah kalau al al itu juga mencintai kamu..) itu alasan saya sempat ragu sama kamu."
"Siapa namanya?"
"Aurora." Khaulah menunduk tak berani menatap Fatih. "Dia juga yang membuat kamu kehilangan investor dari perusahaan WN."
Fatih terdiam sesaat mencerna setiap kata yang istrinya ucapkan. "Jadi, dugaan amar benar. Kenapa dia senekat itu? Untuk apa?" Tanyanya dalam hati.
"Mas kenapa? Kenal sama Aurora?" Tanya khaulah saat Fatih hanya diam saja. Fatih tidak menjawabnya melainkan beranjak pergi dari ruang makan, masuk ke kamar dan meninggalkan khaulah yang menatap kepergian suaminya dengan raut bingung, kecewa.
Saat khaulah sedang melamun, Yasmine datang mengejutkan nya.
"Assalamu'alaikum pengantin baru." Teriaknya. Membuat khaulah terperanjat dan beristighfar beberapa kali.
"Wa'alaikumussalam, ngagetin aja ih."
"Makanya jangan ngalamun pagi-pagi, masih baru juga udah banyak pikiran lo." Khaulah tidak menghiraukan ucapan Yasmine. "Wih pagi-pagi udah ada sarapan aja." Seru nya saat melihat makanan yang telah tersaji rapih diatas meja makan.
"Umi mana?" Tanya khaulah karena tidak melihat kehadiran uminya.
"Umi masih sama uma, dan santriwati. Katanya nanti nyusul." Ujarnya. Yasmine mengambil tahu lalu ia makan. "Lagian umi sama uma tuh yah seneng banget sih berdiam diri bareng santriwati, kalau gue yang jadi santriwati nya gue bakal kabur soalnya kelamaan. Gak kelar-kelar coba, bayangin aja dari pagi subuh sampai jam segini. Gak capek apa itu pantat."
Khaulah menggeleng. "Alhamdulillah mereka sudah terbiasa dan mereka bukan kamu yang akan kabur tidak mengikuti kajian."
Yasmine mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lo kenapa sendirian? Ngelamun pula. Barra' mana?" Tanyanya
"Ada kok di kamar."
"Gimana tadi malam gas?" Tanyanya menggoda khaulah, alisnya ia gerakkan. "Enak gak?"
"Iyah, gas tidur, enak dong kan tidur. Tidur adalah hal paling nikmat di dunia ini."
Yasmine memutar bola matanya, tidak puas dengan jawaban yang diberikan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
"Kamu sudah lebih baik?" Khaulah mengalihkan topik agar sahabatnya ini tidak menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu di bahas.
"Gue gak tau sal, semalam gue ngerasa bersalah. Dia orang yang gak mungkin dengan gampang gue lupain gitu aja. Dia lebih dari apapun sal, Lo tau itu."
"Saran ku masih sama seperti tadi malam."
"Hm, sulit."
"Apa yang sulit?" Tanya Fatih baru saja keluar dari kamar, setelah menghubungi amar.
"Ini kata Salma, kamu semalam sulit buat diajak main. Padahal Salma udah pengen banget." Asbunnya yang ambigu membuat khaulah melotot, apa maksud dari omongan sahabatnya ini.
"Main?" Cengo Fatih mengerutkan keningnya. "Kamu mau ajak saya main apa zaujati?"
Khaulah menatap tajam Yasmine menyuruhnya untuk menjawab. "Main Lego lah al, kamu gimana sih, semalam istri kamu ajak aku buat main Lego soalnya kamu nya gak mau katanya."
"Hah? Kapan kamu ajak saya main Lego sayang..?" Fatih semakin bingung dengan jawaban absrud adiknya itu.
"Ihhh,..., Yasmine..." Gemasnya dalam hati. "Tadi malam, saya mau ajak kamu buat main lego, tapi ternyata kamu ada janji sama amar."
"Nah tuh, makanya al, jangan sama amar Mulu pacarannya, nih ada istri nih pacaran kek Sono main apa kek naik kuda kek." Sewot Yasmine.
"Maafin saya yah khaulah.. tadi malam ada urusan yang mendesak dan harus diselesaikan malam itu juga." sesalnya.
"Sepenting apa sih al, pentingan mana coba main sama istri apa amar? Kayak nya kamu gak ketemu amar sehari aja gelisah yah." Ujarnya. Membuat Fatih menghela napas kasar, mungkin jika bukan adiknya ia akan bentak Yasmine.
"Maafin saya juga mas sudah bohong. Yasmine nih." Khaulah mengangguk ragu. "Iyah gapapa kok mas. Saya paham, sudah jangan dengerin Yasmine." Khaulah mengusap lengan Fatih agar tidak tersulut emosi.
"Nih barra' beneran polos apa pura-pura polos? Gak mungkin kan dia nih gatau maksud gue? Harus ngomong nih sama dia." Yasmine bersedekap dada dan memperhatikan interaksi dua sejoli itu.
"Kenapa? Mau ngejek saya lagi?" Sewot Fatih saat ditatap intens oleh adiknya.
"Santai dong, yaudah aku minta maaf deh. Sorry kelewatan tadi bercanda nya."
"Hm, jangan diulangi."