NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Tentang Luka yang Tak Pernah Benar-benar Hilang

Kadang, yang terlihat sempurna hanyalah panggung. Sementara yang retak, justru tersembunyi di balik sorotan.

...Happy Reading! ...

...*****...

Dalam budaya Jawa, ada istilah sawang sinawang. Artinya, hidup itu soal saling memandang. Kita sering merasa kehidupan orang lain lebih bahagia, sementara orang lain justru merasa kitalah yang lebih bahagia.

Saka sangat paham perasaan itu.

Dari luar, hidupnya terlihat sempurna. Anak bungsu dari keluarga terpandang, tumbuh dalam kemewahan, dan kini menjadi CEO di usia muda. Tapi tidak banyak yang tahu, di balik setiap langkahnya, ada ekspektasi besar yang terus membayang. Ia seperti berdiri di panggung, dipaksa terus tampil, sementara keinginannya sendiri justru terkubur di belakang layar.

Bagi sebagian orang, menjadi CEO terdengar luar biasa. Tapi bagi Saka, jabatan itu justru terasa seperti beban. Sejak mendirikan Manterra pada tahun 2022, ia menyadari bahwa membangun brand dari nol bukan perkara mudah. Terlebih, brand ini bukan hanya soal bisnis. Ini adalah hal pertama yang benar-benar miliknya.

Sejak kecil, hidup Saka tidak pernah kekurangan. Keluarganya memiliki properti mewah, laboratorium skincare, hingga media. Tapi di balik semua itu, ia hidup dalam tekanan. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, ia dituntut untuk cemerlang. Ayahnya percaya bahwa sukses adalah warisan, dan warisan harus diteruskan.

Kuliah di luar negeri bukan pilihan. Itu keharusan. Ia bahkan sudah diminta untuk melanjutkan hingga S2, tanpa ruang untuk bertanya.

Awalnya Saka mengikuti saja. Tapi sejak SMA, ia mulai berpikir. Untuk siapa ia hidup selama ini? Kenapa ia harus terus membuat orang lain bangga, tapi tidak pernah dirinya sendiri?

Ia sempat menolak untuk kuliah ke luar negeri. Tapi alasan yang ia miliki saat itu terlalu rumit untuk dijelaskan. Sebuah alasan yang diam-diam ia simpan rapat. Akhirnya ia mengalah, pergi, menyelesaikan studinya, lalu pulang.

Begitu kembali ke Indonesia, Ayahnya langsung memberinya tanggung jawab dalam bisnis keluarga. Saka menyetujui, dengan satu syarat: ia ingin membangun perusahaan skincare pria yang dirancangnya sendiri. Manterra.

Ide itu sempat ditertawakan. Bahkan keluarganya menganggap itu hanya fase sesaat. Tapi Saka tidak goyah. Ia teringat ucapan seseorang yang sangat membekas.

"Hiduplah sesuai keinginanmu. Jangan hidup hanya untuk menyenangkan orang lain."

Ia melangkah dengan keyakinan. Diam-diam, Ayahnya ikut membantu. Beberapa klien keluarga Ardhananta mulai mengenal nama Manterra, bahkan sebelum usianya genap satu tahun.

Saka tahu keberhasilan awal itu tidak sepenuhnya miliknya. Nama besar Ardhananta masih berpengaruh besar. Tapi ia tetap bangga. Kali ini, jalur yang ia tempuh adalah pilihannya sendiri.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, performa Manterra mulai menurun. Strategi yang dulu berhasil tidak lagi relevan. Ia butuh bantuan.

Tari, kakak keduanya, yang menjabat sebagai Creative Director di Ardhananta Media Group, menyarankan sebuah agensi kreatif bernama Nebula Creatives. Sahabatnya adalah salah satu pendirinya. Agensi itu dikenal solid dalam menangani brand lifestyle dan produk digital.

Kakaknya yang pertama, Gita, memilih jalan berbeda sebagai psikolog. Ia tidak pernah terlibat dalam urusan bisnis. Hanya Tari yang masih bersedia memberi masukan.

Setelah mempertimbangkan, Saka mengirim email ke Nebula Creatives pada hari Rabu. Balasannya cepat. Pertemuan dijadwalkan hari Jumat.

Pagi itu, Saka tiba di lobi kantor agensi. Matanya langsung tertuju pada sebuah banner yang memajang foto-foto karyawan. Tapi bukan desain banner yang mencuri perhatian, melainkan satu wajah yang sangat familiar.

Perempuan itu. Sosok yang pernah memberinya keberanian untuk bermimpi.

Di bawah fotonya tertulis: Senior Brand Strategist.

Jantung Saka berdetak lebih cepat. Sekian tahun berlalu, kenapa hanya satu gambar bisa kembali mengacaukan fokusnya?

Ia mengira sudah melupakan perasaan itu. Tapi detik ini, satu foto mampu membuat jantungnya berdebar seperti remaja. Bukan karena cinta, tapi karena luka yang belum selesai.

Tanpa berkata apa pun, ia menghampiri resepsionis dan bertanya mengenai ruang Account Manager. Resepsionis menunjuk lift dan menyebut bahwa ruangan itu berada satu lantai dengan tim Brand Planner dan Brand Strategist.

Begitu sampai, Saka mendengar suara debat ringan. Seorang perempuan dan laki-laki sedang berdiskusi. Ia mengenali suara itu. Bahkan dari belakang, siluet perempuan itu terasa tak asing.

"Caca ke mana sih? Kenapa belum datang juga?" suara pria itu terdengar kesal.

Perempuan di depannya menunjukkan layar ponsel yang sedang melakukan panggilan.

"Dari tadi gue telpon, nggak diangkat."

"Coba lagi."

"Kayaknya ditolak. Lagian, kenapa sih lo segitunya nyariin dia? Bukannya kerja sama sama klien itu udah kelar?"

"Gue cuma mau minta dia temenin ke kantor klien buat terakhir kalinya."

"Mending lo pergi sendiri. Nih orang kayaknya bolos. Nggak biasanya jam segini belum datang."

Saka berdiri di ambang pintu, memperhatikan. Pria itu tiba-tiba sadar ada seseorang di belakangnya. Ia memberi kode pada perempuan yang membelakanginya. Perempuan itu menoleh pelan. Matanya membelalak.

"Kak Saka?"

"Tasha?"

...*****...

Tasha segera membawa Saka ke ruang meeting. Ia menjelaskan tentang email kerja sama yang sudah dibalas timnya. Nada suaranya profesional, tapi sorot matanya canggung.

Saka dan Tasha memang dekat. Tapi mereka bukan pasangan. Mereka sepupu. Ayah Saka adalah kakak dari ibu Tasha. Mereka sama-sama dibesarkan dalam tekanan keluarga, meski memilih jalan yang berbeda.

Tasha memutuskan kabur dari beban tanggung jawab. Ia ingin hidup biasa. Menjadi karyawan biasa. Menurutnya, cukup kakaknya saja yang mengurus bisnis keluarga.

Di ruang meeting, hanya mereka berdua. Yudha, Brand Planner, sedang ke kantor klien lain.

Saka membenarkan letak jasnya. "Kamu kerja di sini?"

Tasha menatap tajam. "Jangan bilang siapa-siapa. Gue masih mau hidup damai."

Saka terkekeh pelan. "Baiklah. Tapi saya mau bertemu dengan Brand Strategist kalian."

Tasha berdiri cepat dan langsung menghubungi seseorang. "Gue telpon Caca dulu."

Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.

"Cayra Astagina, lo di mana?" suara Tasha langsung naik satu oktaf.

Saka hanya bisa mendengar satu sisi percakapan. Wajah Tasha mulai kesal.

"Jalan mana? Si Yudha nyariin lo dari tadi. Jangan-jangan lo bolos kerja?"

"Emang udah dapet izin resmi? Di kantor lagi ribet. Ada klien baru yang pengin ketemu lo langsung, tapi lo malah hilang."

Tak ada jawaban. Tasha semakin tidak sabar.

"Caca, lo denger nggak sih gue ngomong?"

"Sakit apa emangnya?"

Perkataan itu membuat wajah Saka berubah. Ia melangkah pelan mendekati Tasha.

Hening, Caca tidak langsung membalas ucapan Tasha.

"Caca, lo ngilang atau kuping lo cuti bareng logika lo?"

Saat sedang menunggu jawaban Cayra, Tasha seketika mengalihkan pandangannya ketika Saka menyentuh bahunya.

"Besok saja meetingnya. Kalau besok dia tidak datang, saya akan bongkar semua soal kamu ke keluarga."

Setelah mengucap itu, Saka langsung melangkah keluar dari ruang meeting. Dalam hati Saka bertanya tanya, benarkah Cayra sakit? Tapi tadi pagi dia melihatnya naik ojol entah mau pergi ke mana.

Tasha langsung menoleh panik. "Gue tutup dulu ya. Besok lo harus masuk. Ada klien penting."

Setelah menutup telepon, Tasha mengejar langkah Saka yang hendak keluar ruangan.

Ia mengatupkan tangan di depan dada seperti memohon. "Please, jangan kasih tahu keluarga. Gue yakin Caca pasti datang besok."

Saka mengangguk pelan. "Baiklah. Saya percaya."

Tasha kemudian tersenyum sambil duduk kembali. "By the way, kenapa Kakak bisa milih Nebula Creatives? Dapet rekomendasi dari siapa?"

"Dari Kak Tari. Katanya sahabatnya yang punya Nebula Creatives.

"Oh, jadi Mbak Rania itu sahabatnya Kak Tari? Kakak juga kenal dong?"

Saka mengangguk singkat. "Kenapa?"

Tasha tampak berpikir cepat. Lalu ia tersenyum licik. "Kalau gitu, gue bisa bohong ke Caca. Bilang lo klien penting yang punya hubungan langsung sama pemilik perusahaan. Jadi kalau dia nggak datang besok, kariernya bisa tamat."

Saka hanya menggeleng pelan. "Terserah kamu. Saya pergi dulu."

"Hati-hati Kak," ujar Tasha sambil melambaikan tangan saat Saka meninggalkan ruang meeting.

Itulah awal mula kenapa akhirnya Saka memutuskan bekerja sama dengan Nebula Creatives. Dan kemarin, ia telah menjalani meeting profesional dengan Brand Strategist mereka. Cayra.

Hari ini, Saka menjadwalkan pertemuan lanjutan. Ia ingin Cayra datang ke kantornya untuk melihat prototipe produk terbaru Manterra.

Kini, Saka berdiri di depan cermin kamarnya. Ia sudah memutuskan tinggal sendiri, di rumah yang kebetulan letaknya tidak jauh dari kantor.

Suatu saat nanti akan ada waktunya ia menjelaskan mengapa ia bisa tinggal di kompleks yang sama dengan Cayra. Bahkan jadi tetangga.

Saka mematut diri di depan cermin. Jasnya rapi. Ekspresinya tenang. Tapi di balik refleksi itu, ada tanya yang tidak pernah dijawab: Kenapa dia tumben memperhatikan penampilannya?

Entah kenapa, hari ini dia merasa sangat bahagia. Apakah karena ada janji dengan Cayra? Atau karena ia ingin semua masalah di perusahaannya segera teratasi?

Tidak ada yang tahu pasti. Hanya Saka yang memahami arti degup hatinya pagi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!