Kehidupan kecil Arthur yang penuh kebahagiaan lenyap dalam waktu singkat, saat kedua orang tua dan juga neneknya menghilang dalam sebuah kecelakaan.
Arthur kecil yang tak lagi mendapat kasih sayang, kini tumbuh menjadi sosok Arthur yang tak berperasaan
Dan yang paling menonjol dalam dirinya adalah, sikap Playboynya.
Namun, Pertemuannya dengan seorang murid cewek baru disekolahnya, merubah hampir keseluruhan sikap buruk Arthur, dan membantunya mengungkap masalah yang sudah tertutup rapat selama hampir 6 tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir yang bahagia (End)
Setelah satu minggu dari acara kelulusan nya, Arthur sama sekali belum pernah menghubungi Dara lagi, bahkan berulang kali Dara mengirimnya pesan Chat, namun tak ada satupun dari chatnya yang dibalas oleh Arthur.
Dara menghela nafas, untuk saat ini ia masih dapat memakluminya, mungkin Arthur masih menikmati pertemuannya dengan keluarganya yang sudah lama terpisah pikirnya.
Dan di minggu kedua Dara sama sekali belum mendapatkan kabar lagi dari Arthur, bahkan sampai kini ponsel milik Arthur belum aktif kembali, Dara berdecak kesal merasa marah dan kecewa dengan sikap Arthur yang sekarang, dan menganggap bahwa perhatian dan cinta yang Arthur katakan selama ini hanyalah bualan belaka.
Dara berharap Arthur akan datang kerumahnya dan menjelaskan apa yang terjadi dengan ponselnya sehingga tidak dapat di hubungi.
"Sayang, kamu kok ngelamun gitu sih?" seru mama Sinta, menghampiri Dara yang melamun didepan jendela kaca kamarnya.
"Arthur ada telpon mama?" tanyanya, dengan raut wajah sedih.
"Nggak ada sayang."
"Kemana dia ya ma, apa mau lanjut kuliah di Singapura ya,?"
"Mama nggak tahu juga sayang, oh iya mama kesini mau ngasih ini ke Dara, nanti jam 7 malem ada tamu, sahabatnya papa, kamu pake gaun ini, terus dandan yang cantik ya,"
"Tapi ma_"
"Nurut dong nak,"
Dara tak menjawab, ia hanya mengangguk lemah, menghela nafas kemudian melemparkan tubuhnya keatas ranjang, perasaan cemas dan penuh tanya mengenai kekasihnya belum juga hilang.
Tepat pukul 18:45 Dara masih termenung di depan cermin meja riasnya, wajahnya sudah sangat cantik dengan polesan make up tipis, serta tubuh yang terbalut dengan gaun satin mix brukat berwarna navy, yang begitu pas di tubuhnya.
"Hei sayang, itu tamunya udah sampe lho, kok kamu malah masih bengong disini, samperin yuk!" Mama Sinta menarik tangan Dara hingga gadis itu berdiri, kemudian menggandeng tangannya berjalan ke lantai bawah.
"Eh itu dia Dara." ujar papa Arga, yang sontak membuat Dara mengangkat wajahnya, dan..
Deg!
Jantung Dara berdetak sangat kencang, kala matanya bersitatap dengan seseorang yang 2 minggu ini membuat perasaan nya uring-uringan.
"Hai sayang, calon menantu mama, cantik sekali kamu nak!" mama Nia yang merupakan mama kandung Arthur itu bergegas menghampiri Dara, dan memeluknya.
Sedangkan Dara hanya diam, ia masih tenggelam dengan keterkejutannya.
Dara melirik Arthur sekilas, yang sedang memandangnya sambil tersenyum.
"Silahkan di minum, mbak Nia, mas Gibran, nak Arthur!" Ujar mama Sinta, saat ia membawakan minuman untuk mereka.
"Baik mbak terimakasih, maaf sudah merepotkan." ujar Nia ramah.
"Tidak repot kok mbak," balas Mama Sinta tak kalah ramah.
"Jadi begini mbak Sinta dan pak Arga, kita langsung aja ya, kedatangan saya kami kesini untuk mewakili putra saya Arthur Reynald Al-tezza, untuk meminang putri kalian Adara Nashwa Larasati."
Deg!
"Bagaimana mbak Sinta, pak Arga?" lanjut Gibran.
"Gimana sayang, kamu mau menikah dengan Arthur nak?" tanya mama Sinta, sedangkan Dara tampak gelagapan, bingung harus menjawab apa, sementara Arthur meremas jari jemarinya dengan cemas dengan jawaban yang akan Dara berikan, mengingat gadis itu tak pernah memberi respon apapun, meski ia sudah berulang kali mengajaknya menikah.
"Dara mau!" ucap Dara sambil menunduk, yang sontak membuat mereka terpekik girang.
Terutama dengan Arthur yang terlihat begitu bahagia.
"Om tante, saya izin bawa Dara sebentar ya, mau ngobrol berdua dulu!" ucap Arthur, sambil beranjak dari duduknya, mengulurkan tangan pada Dara.
"Eh dasar anak muda, maunya berduaan terus, boleh aja tapi jangan lama-lama, ingat kalian belum halal!" ujar papa Arga menegaskan, dengan senyum dikulum.
Sedangkan Nia dan Gibran, terkekeh geli melihat kelakuan putranya yang sudah tidak malu-malu itu.
Arthur membawa Dara ke taman belakang, sesampainya disana ia langsung memeluk gadisnya, yang sudah ia rindukan selama 2 minggu ini.
"Kamu tahu nggak sih, aku tuh kesel banget sama kamu Ar,?" ujar Dara, sembari memukuli dada Arthur pelan.
"Iya sayang aku tahu, kamu pasti marah kan, karena selama 2 minggu ini aku nggak ada ngehubungin kamu, maaf sayang maaf!" ucap Arthur berusaha menenangkan Dara yang mulai terisak dipelukannya.
"Handphone aku hilang waktu pulang dari acara kelulusan sekolah, terus selama 2 minggu ini aku bantuin mama sama papa nyiapin segala sesuatu untuk pesta pernikahan kita yang,"
"M-maksud kamu?"
"Mereka udah ngerencanain semuanya yang!"
"Jadi mama udah bohongin aku selama ini."
"Bohong gimana,?"
"Mama bilang dia nggak pernah lagi hubungin keluarga kamu!" ucap Dara dengan bibir mengerucut, sedangkan Arthur terkekeh geli.
"Nyebelin banget sih!" ujar Dara memandang Arthur yang masih terkekeh-kekeh.
"Masa sih, nggak kebalik yang, nyenengin misalkan."
"Ihs."
"Kangen banget yang, sumpah!" Arthur kembali memeluk erat tubuh Dara, kemudian mengendurkan pelukannya menatap manik indah milik kekasihnya dengan penuh kelembutan.
"I love you sayang." ucapnya, yang kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Dara, menyalurkan rasa rindu, serta cinta yang begitu besar untuknya.
*************
"Sah"
Kalimat sederhana yang penuh makna itu menggema, di dalam ruangan yang sudah di dekor dengan begitu indahnya.
3 hari setelah acara lamaran yang bagi Dara sangat mendadak itu, kini mereka bahkan sudah sah menjadi sepasang suami-istri, saling berjanji untuk saling mencintai, dalam keadaan apapun, hingga maut memisahkan keduanya.
"Selamat ya Ra, yaampun nggak nyangka banget sumpah, lo bakalan married secepat ini." ujar Puspa, memeluk Dara sahabat yang begitu ia sayangi.
Begitupun dengan Ratih, Damian, Ardi dan Seno sahabat Arthur yang turut hadir diacara resepsi pernikahan nya.
Tak henti-hentinya mereka menggoda Arthur dan mengatakan bahwa Arthur sudah kebelet nikah.
"Makasih banyak sayang, udah mau jadi istri aku!"
"Terimakasih juga udah mau jadi suami aku!" balas Dara yang kemudian, memeluk tubuh suaminya.
Dan malam itu menjadi malam panjang bagi keduanya.
Arthur mengecup kening Dara, lalu ikut berbaring disamping istrinya yang sudah tertidur karena kelelahan, akibat ulahnya.
Arthur tersenyum lembut menatap wajah cantik istrinya yang sedang tertidur, ia merasa sangat bersyukur memiliki Dara, gadis cantik yang memiliki keberanian luar biasa, yang mampu membuat keluarganya utuh kembali, setelah berpisah dan hilang selama beberapa tahun.
.
.
Apapun tq ya thor,aku suka smua karya mu sampai saat ke 3 karya mu yg ku baca ,semua cowok/suami begitu menghargai cewek/istri mereka,, bagus ,aku akan lanjut baca kisah si kembar Satya dan Satria deh setelah ini,,⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻