Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa keluarga nya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sweet Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
“Jadi, Luciano punya seorang putra? Dan sekarang putranya tinggal di UK?” Mike menyandarkan tubuhnya di kursi, senyum miring menghiasi wajahnya. “Menarik… sangat menarik.”
Ia menggenggam ponselnya erat. Beberapa detik kemudian, notifikasi WhatsApp masuk. Foto-foto seorang remaja laki-laki muncul di layar—tinggi, wajah tegas, sorot mata tajam yang mengingatkannya pada seseorang.
“Sudah tujuh belas tahun…” gumam Mike pelan. “Bukan anak kecil lagi.”
Ia memperbesar salah satu foto. Remaja itu berdiri di halaman sekolah bergengsi, mengenakan jas rapi dengan lambang akademi internasional.
“Luciano… kamu menyembunyikan harta paling berhargamu jauh dari sorotan.”
Mike berdiri dan berjalan perlahan menuju jendela. Pikirannya bekerja cepat.
Ia tidak berniat menyentuh anak itu secaralangsung. Itu terlalu bodoh dan terlalu berisiko.
Rahasia bisa menghancurkan lebih efektif daripada peluru.
“Bagaimana kalau Alana tidak tahu?” gumamnya. “Bagaimana kalau pernikahan mereka dibangun di atas kebohongan?”
Ia membayangkan ekspresi Alana jika mengetahui bahwa suaminya memiliki putra remaja yang hampir seusia masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan.
Keretakan kecil saja cukup. Tidak perlu ledakan. Cukup retakan.
Mike kembali duduk dan membuka laptopnya. Ia mulai menyusun rencana—bukan untuk menyerang secara fisik, tapi untuk menanam pertanyaan.
Satu pesan anonim.
Satu foto.
Satu kalimat ambigu.
Kadang yang menghancurkan bukan fakta itu sendiri, melainkan waktu dan cara fakta itu diungkapkan.
Mike tersenyum tipis.
“Luciano mungkin kuat di dunia luar,” bisiknya pelan. “Tapi di dalam rumahnya sendiri? Kita lihat saja.”
***,,
Alana dan Luciano baru saja selesai bercinta. Napas mereka masih belum sepenuhnya teratur, tubuh mereka saling menempel di bawah selimut, hangat dan tenang.
Luciano memeluk Alana dari belakang, dagunya bertumpu di puncak kepala istrinya. Suasana kamar dipenuhi keheningan nyaman—hingga suara notifikasi ponsel memecah momen itu.
Ting.
Alana bergerak pelan, meraih ponselnya di meja samping ranjang.
“Siapa?” tanya Luciano rendah, suaranya masih serak.
“Entah… nggak ada namanya. Tapi dia ngirim foto.”
Luciano sedikit bangkit, mengintip dari balik bahu Alana saat layar ponsel itu terbuka.
Foto seorang remaja laki-laki muncul di layar.
Tinggi. Wajah tegas. Sorot mata tajam.
Lalu teks di bawahnya—
Samuel Sky Luciano.
Kamu harus menanyakan soal anak ini kepada Luciano, Alana.
Jangan terlalu naif untuk terus mempercayai pria itu, dia manipulatif.
Deg.
Wajah Alana langsung pucat. Tangannya bergetar hebat hingga ponsel itu terlepas dan jatuh ke atas kasur.
“Luciano…” suaranya lirih, nyaris pecah. “Jangan katakan ini benar.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya gemetar.
Luciano terdiam.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Ia lalu duduk tegak di ranjang, rahangnya mengeras. Bukan karena tertangkap—melainkan karena seseorang telah berani menyentuh wilayah pribadinya.
Ia meraih ponsel itu, membaca ulang pesan tersebut dengan tatapan dingin.
“Alana,” ucapnya pelan.
Alana menurunkan tangannya. Matanya sudah berkaca-kaca. “Kamu punya anak? Tujuh belas tahun? Kenapa aku nggak pernah tahu?”
Luciano tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan ponsel itu perlahan, lalu menghadap Alana sepenuhnya.
“Ya,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, tapi tidak goyah. “Samuel adalah putraku.”
Air mata Alana langsung jatuh.
“Kenapa kamu sembunyikan itu dariku?”
Luciano mengangkat tangan, ingin menyentuhnya, tapi Alana sedikit mundur.
Gerakan kecil itu membuat dada Luciano terasa sesak.
“Aku tidak menyembunyikannya untuk membohongimu,” katanya tegas. “Aku menyembunyikannya untuk melindunginya.”
“Melindungi dari siapa? Aku?” suara Alana bergetar.
“Dari dunia yang hidupku ciptakan,” jawab Luciano cepat. “Dari musuh-musuhku. Dari orang-orang yang ingin menjatuhkanku dengan cara apa pun.”
Alana terdiam, tapi air matanya terus mengalir.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?” bisiknya.
Luciano menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat, lelah.
“Karena setiap orang yang dekat denganku selalu jadi sasaran. Aku tidak ingin kamu terbebani oleh masa laluku sebelum aku yakin kamu siap memikulnya.”
“Jadi aku nggak cukup dipercaya?” tanya Alana lirih.
Luciano menatapnya dalam.
“Bukan itu,” katanya tegas. “Justru karena kamu penting, aku ingin memberitahumu dengan caraku sendiri. Bukan lewat pesan anonim seperti ini.”
Alana menggigit bibirnya. “Ibunya…?”
“Sudah tidak ada dalam hidupku,” jawab Luciano singkat. “Hubungan itu berakhir lama sebelum aku mengenalmu. Samuel dibesarkan jauh dari lingkaran kekerasan ini. Itu pilihanku.”
Hening.
Suasana kamar yang tadi hangat kini terasa berat.
Luciano mendekat perlahan, kali ini tidak memaksa. “Lihat aku.”
Alana ragu, tapi akhirnya menatapnya.
“Aku tidak pernah memanipulasimu,” ucapnya pelan. “Kalau aku ingin berbohong, aku tidak akan mengaku sekarang.”
Air mata Alana jatuh lagi. “Kenapa orang itu bilang kamu manipulatif?”
Tatapan Luciano berubah dingin.
“Karena seseorang sedang mencoba menghancurkan rumah tangga kita.”
Ia mengambil ponsel itu kembali, melihat nomor tak dikenal tersebut.
“Ini bukan tentang Samuel,” lanjutnya. “Ini tentang membuatmu meragukanku.”
Alana menelan ludah. Dadanya masih terasa sesak.
“Kamu… masih mencintainya?” pertanyaan itu keluar pelan, nyaris tak terdengar.
Luciano menggeleng tanpa ragu.
“Aku mencintai istriku,” katanya tegas. “Wanita yang menangis di depanku sekarang.”
Tangannya akhirnya menyentuh pipi Alana, menghapus air matanya dengan ibu jari.
“Aku salah karena tidak menceritakannya lebih cepat. Itu kesalahanku. Tapi jangan biarkan orang luar menentukan apa yang kita bangun.”
Alana terisak pelan. “Aku cuma kaget…”
“Aku tahu.”
Luciano menariknya perlahan ke dalam pelukan. Kali ini Alana tidak menolak. Ia bersandar di dada pria itu, mendengar detak jantung yang kuat dan stabil.
“Aku tidak akan menyentuh anakku untuk kepentingan apa pun,” bisik Luciano. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakanmu untuk melukaiku.”
Nada suaranya berubah—lebih gelap. Lebih berbahaya.
Di tempat lain, seseorang mungkin sedang menunggu ledakan.
Namun di kamar itu, yang terjadi bukan kehancuran.
Melainkan ujian pertama bagi kepercayaan mereka.
“Ceritakan,” pinta Alana pelan. Suaranya masih bergetar, tapi kali ini bukan karena marah—melainkan ingin mengerti.
Luciano terdiam cukup lama. Tatapannya kosong beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus pada Alana.
“Samuel… lahir dari masa lalu yang tidak pernah mudah,” ucapnya perlahan. “Kakakku, Sherly… terlibat dengan pria yang salah. Pria yang tidak bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat.”
Alana menahan napas.
“Sherly tidak pernah mau memberitahuku siapa pria itu. Ia memilih menyimpan semuanya sendiri,” lanjut Luciano, rahangnya mengeras. “Saat Samuel lahir… Sherly tidak selamat.”
Alana menutup mulutnya pelan. “Ya Tuhan…”
“Aku kehilangan kakakku di hari yang sama aku mendapatkan Samuel,” lanjutnya lirih. “Dan sejak saat itu, aku memutuskan satu hal—anak itu tidak akan merasa sendirian. Dia bukan sekadar keponakanku. Dia anakku.”
Air mata Alana kembali mengalir, tapi kali ini berbeda. Bukan karena cemburu. Bukan karena dikhianati.
Melainkan karena luka yang baru saja ia dengar.
“Dan kamu nggak pernah berniat mencari pria itu?” tanya Alana pelan.
Luciano tersenyum tipis—senyum yang dingin.
“Sudah kucari,” jawabnya. “Dia masih ada. Masih hidup. Masih bernafas.”
Alana menegang. “Lalu?”
“Aku bisa saja menghabisinya sejak lama,” ucap Luciano tenang, tapi nadanya mengandung sesuatu yang gelap. “Tapi itu bukan hakku.”
Alana menatapnya tak mengerti.
“Itu hak Samuel,” lanjut Luciano. “Jika suatu hari dia ingin tahu kebenaran, jika suatu hari dia ingin menuntut jawaban… maka dia yang akan memutuskan apa yang pantas.”
Kamar kembali sunyi.
Alana memandang pria di depannya dengan cara yang berbeda.
“Jadi kamu menyekolahkannya jauh dari sini…”
“Karena aku tidak ingin masa laluku mencemari masa depannya,” jawab Luciano cepat. “Dia tidak tumbuh di dunia gelapku. Dia tumbuh sebagai anak normal. Sekolah yang baik. Lingkungan yang aman.”
Alana menghela napas panjang.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita?” tanyanya lagi, lebih lembut.
Luciano menunduk sesaat. “Karena setiap kali aku mengingat hari itu… aku merasa gagal sebagai adik.”
Kalimat itu membuat dada Alana sesak.
Ia mendekat, menyentuh wajah Luciano dengan kedua tangannya.
“Kamu tidak gagal,” bisiknya. “Kamu menyelamatkan Samuel. Kamu memberinya nama. Masa depan. Itu bukan kegagalan.”
Luciano menatapnya lama.
“Aku takut kamu melihatku berbeda,” akunya akhirnya. “Pria dengan masa lalu serumit itu.”
Alana menggeleng pelan.
“Aku melihatmu sebagai pria yang memikul beban sendirian terlalu lama.”
Luciano terdiam.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu, ia memeluk Alana bukan sebagai pria posesif. Bukan sebagai mafia yang kuat.
Tapi sebagai kakak yang pernah kehilangan.
Sebagai ayah yang memilih untuk tetap berdiri.
Dan di luar sana, seseorang mungkin berharap rahasia itu menghancurkan mereka.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Rahasia itu membuka sisi Luciano yang selama ini tersembunyi.
***