Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 10.
Viera pertama kali menyadari bahwa “pelindung tak terlihat” itu bukan sekadar perasaannya sendiri pada pagi yang tampak biasa.
Ia keluar dari apartemen lebih awal, mengenakan mantel tipis dan sepatu datar. Jadwalnya sederhana, dia pergi kontrol ringan ke klinik, lalu bertemu notaris untuk urusan administrasi kecil yang berkaitan dengan asuransi kehamilan. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang perlu disembunyikan.
Namun ketika ia melangkah ke lobi, petugas keamanan menyapanya lebih ramah dari biasanya.
“Selamat pagi, Nyonya Viera. Mobil Anda sudah disiapkan.”
Viera berhenti sejenak. “Saya tidak meminta—”
“Kami mendapat instruksi untuk memastikan Anda nyaman,” lanjut petugas itu cepat, seolah takut menyinggung. “Prosedur standar.”
Viera mengangguk pelan, tapi hatinya mencatat satu hal penting.
Instruksi dari siapa?
Mobil melaju dengan rute yang sedikit berbeda dari biasanya.
Di dalam mobil, Viera menatap bayangannya di jendela. Ia tidak merasa terancam, justru sebaliknya. Ada perasaan aneh, seperti seseorang sedang berdiri terlalu dekat… tanpa menyentuh.
Dan itu jauh lebih mengganggu.
Di sebuah kafe eksklusif yang hanya menerima tamu dengan reservasi, Calista duduk dengan postur sempurna. Ia memilih meja dekat jendela, posisi strategis, cukup terlihat tapi tidak mencolok.
Ia datang bukan untuk bertemu seseorang, dia datang untuk terlihat.
Viera masuk beberapa menit kemudian, ditemani notarisnya. Langkahnya tenang, wajahnya datar. Ia langsung menyadari kehadiran Calista, karena aura dingin wanita itu yang sengaja ditebarkan.
Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. Tidak ada senyum, tak ada sapaan. Namun Calista mengangkat cangkirnya perlahan, seolah memberi salam yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
Pertemuan itu berlangsung tanpa satu kata pun terucap, tapi udara di antara mereka mengeras.
Calista menyeringai tipis, ia menunggu. Dan benar saja, beberapa menit kemudian seorang pelayan mendekati meja Viera dan meletakkan secangkir teh chamomile.
“Dari mana ini?” tanya Viera pelan.
“Dari tamu di sana,” jawab pelayan sambil melirik ke arah Calista.
Viera menoleh.
Calista tersenyum tipis, lalu berdiri. Ia berjalan melewati meja Viera, berhenti tepat di sampingnya. Suaranya rendah, cukup untuk didengar satu orang.
“Teh itu bagus untuk menenangkan saraf,” ujar Calista santai. “Terutama untuk perempuan yang sedang… menyimpan banyak rahasia.”
Viera menatap Calista dengan mimik tenang, emosinya tidak tersulut.
“Terima kasih atas perhatiannya,” jawabnya lembut. “Tapi aku sudah belajar… tidak akan menerima apa pun dari orang asing.”
Calista terkekeh pelan. “Oh, sayang. Bukankah, kita bukan orang asing?”
Viera menoleh, tatapannya tajam. “Bagiku, semua orang yang tidak punya tempat dalam hidupku... adalah orang asing.”
Calista terdiam sepersekian detik, namun dia mengangkat bahu tak perduli. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah pergi. Pertemuan pertama keduanya secara langsung itu berakhir tanpa ledakan.
Viera keluar dari kafe lebih awal dari jadwal. Ia memilih berjalan kaki sebentar sebelum kembali ke mobil, mencoba meredakan pikirannya yang mulai penuh.
Di trotoar seberang jalan, seorang pria berdiri di bawah kanopi gedung. Dengan postur tinggi memakai jas panjang, sementara wajahnya sebagian tertutup bayangan.
Langkah Viera melambat.
Ada sesuatu tentang siluet itu yang terasa… familiar. Bukan dari pakaiannya apalagi wajah yang tidak jelas, tapi cara pria itu berdiri.
Untuk sesaat, mata mereka hampir bertemu. Namun sebelum jarak itu benar-benar terhapus, pria itu melangkah mundur. Dia berbalik, dan menghilang di antara kerumunan.
Tiba-tiba saja, dada Viera terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
“Kenapa hatiku berdebar…?” bisiknya pada diri sendiri seraya memegang dadanya.
Ia tidak tahu bahwa pria itu adalah Lucca. Atau bahwa di balik nama itu, ada David—lelaki yang pernah ia tunggu bertahun-tahun lalu, sebelum hidup memaksanya belajar melepaskan.
Lucca berdiri di balik pintu kaca sebuah butik, napasnya tertahan. Ia bisa saja melangkah maju. Satu langkah saja, dan segalanya akan berubah. Namun ia tidak melakukannya, belum saatnya. Karena ia tahu, pertemuan tanpa kesiapan hanya akan melukai mereka berdua.
Sementara itu, Damian duduk di dalam mobil Calista. Karena wanita itu terus memaksa meminta bertemu, akhirnya Damian tak menolak lagi.
“Kau kelihatan lelah,” ujar Calista sambil menyetir. “Perceraian memang menguras tenaga.”
Damian menghela napas. “Aku belum resmi bercerai.”
“Justru itu,” balas Calista lembut. “Masih ada waktu untuk… mengamankan posisi.”
Damian menoleh. “Maksudmu?”
Calista tersenyum samar. “Viera bukan wanita bodoh, tapi dia juga bukan malaikat. Semua orang punya titik lemah.”
“Kau menyarankan aku menyerangnya?” Damian mengerutkan kening.
“Tidak! Aku hanya ingin bilang, jangan biarkan dirimu jadi satu-satunya yang kalah.”
Kalimat itu masuk perlahan ke dalam otak Damian, seperti racun yang manis. Pria itu terdiam, dia tidak sadar bahwa setiap kata Calista disusun rapi untuk satu tujuan—mendorongnya mengambil langkah yang akan membuatnya semakin jauh dari Viera… dan dia akan semakin mudah dikendalikan oleh wanita itu.
Di apartemennya, Viera duduk di tepi ranjang dengan tangan melindungi perutnya. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam.
Ada terlalu banyak kebetulan hari ini.
Keamanan yang berlebihan, pertemuan dengan Calista. Pria asing yang menghilang sebelum wajahnya terlihat jelas, semua itu membentuk satu pola.
Dan Viera tidak bodoh.
“Siapa pun kau,” bisiknya lirih, entah kepada ancaman atau pelindung, “Aku tidak akan jadi bidak di permainanmu.”
Di kejauhan, kota terus bergerak. Dan tanpa mereka sadari, garis-garis takdir yang dulu terpisah kini mulai berpotongan. Babak berikutnya tidak lagi tentang siapa yang menyerang lebih dulu... melainkan siapa yang mampu bertahan paling lama.