Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Dapur Kacau
Setibanya di parkiran, Harry melepaskan helmnya, menurunkan putrinya dari atas motor, tidak lupa membuka helm kecil bertanduk telinga kelinci milik Naomi.
"Butannya ini kantol, Papah?" Naomi mengedarkan pandangannya berkeliling.
"Iya, ini memang kantor tempat kerja Papa, tapi di sini juga ada playgroup khusus untuk anak-anak karyawan seperti Papa, tuh di sana," tunjuk Harry pada salah satu bangunan terpisah yang di pagari tanaman bunga dengan hiasan karya seni warna-warni di sekitarnya.
Naomi ikut melihat ke arah yang ditunjuk ayahnya, matanya berbinar penuh ketertarikan melihatnya, ditambah beberapa anak seusianya yang ada di sana.
"No-mi mau ke cana, Papah," ujarnya seraya berlari mendahului.
Harry tersenyum melihat putrinya itu sambil mengekor dari belakang, perasaan dongkolnya yang ia bawa dari rumah tadi perlahan sirna. Ia mendekati salah satu petugas yang sedang free.
"Ren, titip putriku ya, bentar lagi jam kerja dimulai," ucapnya, melirik pada Naomi yang cepat akrab dengan beberapa teman dan para bunda.
"Siap, pak Har. Kami akan mengurusnya," Reni tersenyum ramah.
"Terima kasih, administrasinya nanti ya, soalnya buru-buru," Harry beralasan, sebenarnya uang di dompetnya kurang untuk biaya penitipan itu.
"Aman, Pak. Saya tinggal sodorkan tagihan ke kasir di akhir bulan, dijamin langsung beres," seloroh Reni disela tawanya.
Harry ikut tertawa mendengarnya, dalam hati merasa tak yakin dirinya mampu melakukan itu. Ia termasuk tipe suami yang suka mengalah karena tak suka ribut dengan isteri. Dikurangi satu juta saja si nyonya rumah berpidato sepanjang malam, apa lagi ada potongan tambahan.
"Naomi!" panggil Harry. Gadis batita itu cepat menoleh, gegas meninggalkan sejenak mainan dan satu teman barunya yang baru saja berkenalan dengannya.
Harry menekuk lututnya untuk berjongkok begitu gadis kecil kesayangannya itu sampai padanya.
"Papa kerja dulu, bila perlu sesuatu katakan saja pada para bundanya ya. Ingat, jangan nakal..." ucapnya, lalu mencium sayang pipi chuby itu. "Nggak boleh keluyuran, apa lagi pergi tanpa pamit, mengerti?"
"Mengelti, Papah." Naomi balas mencium ayahnya.
"Anak pinter," Harry membelai lembut pipi putrinya, dan menciumnya sekali lagi sebelum pergi.
Tangan kecil Naomi balas melambai riang pada Harry hingga ayahnya menghilang di balik pintu lobi kantor, tanpa merasa ditinggalkan oleh ayahnya itu.
"Anak baru?" tanya suara seorang wanita.
Reni menoleh.
"Oh, bu Rahel. Iya, Bu... Anaknya pak Harry, dititip saja kok, Bu," sahutnya sambil tersenyum, lalu menyapa gadis kecil yang datang bersama wanita berparas cantik dan berpenampilan elegan itu.
"Halo, selamat pagi Citra...." sambut Reni hangat dengan raut enerjik.
"Pagi juga bunda Reni...." sahut gadis kecil berusia lima tahun itu tak kalah hangat.
"Siap belajar sambil bermain?!" Reni mengembangkan telapak tangannya di depan Citra yang segera menyambutnya dengan tos semangatnya yang berapi-apinya.
Rahel, seorang manager marketing otomotif, mengernyit heran, baru kali ini bawahannya itu menitipkan anaknya di sana.
"Halo anak manis, namamu siapa?" Rahel bertanya lembut, mendekati Naomi dengan rasa penasarannya, kakinya menekuk di dekat Naomi yang sedang mewarnai.
"Haioo guga, Ante.... akhu, No-mi," tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Ante, tiapa?" tanyanya balik, masih memegang krayon.
Rahel memandang gemas, suara imut Naomi sebanding dengan tubuh gembulnya yang menggemaskan.
"Panggil tante Rahel saja ya, Sayang...."
"Ante Da-hel?" tiru Naomi susah payah dengan ujung lidahnya menempel lekat pada langit-langit mulutnya. Rahel tergelak singkat mendengarnya.
"Iya, benar... anak pinter..." Rahel kembali tertawa, hatinya menghangat.
"Mama No-mi dimana?" lanjutnya bertanya.
"Mama Bidadali di lumah, balu bangun saat No-mi ke cini!" sahut Naomi polos. Rahel ternganga, baru dengar ada seorang ibu bangunnya kesiangan.
...***...
Setelah menanti beberapa saat, pintu rumah Harry yang bu Harun ketuk akhirnya terbuka juga, Melitha muncul di depan pintu masih mengenakan seragamnya dengan rambut terikat sama seperti saat berangkat ke sekolah tadi pagi.
"Oh, Bibi... Mari silahkan masuk," ajaknya ramah.
"Kamu belum bersiap? Apa Harry tidak bilang apa-apa?" bu Harun masuk, mengikuti dari belakang.
"Tidak ada," Melitha menggeleng, rautnya terlihat bingung.
"Memangnya ada apa, Bi?" langkahnya terhenti di ruang tamu, menatap bibinya itu.
"Bibi sudah meminta izin pada mas Harry-mu tadi pagi bila sore ini Bibi akan mengajakmu ke dokter kandungan untuk periksa. Dan Bibi sudah buat janji, waktunya tinggal tiga puluh menit lagj," ucap bu Harun menjawab kebingungan keponakannya itu.
"Gimana ya, Bi... mbak Raya dan Naomi tidak ada di rumah, Adri sedang tidur siang, dan pekerjaan rumahku juga belum beres," ucap Melitha, merasa tak enak meninggalkan ruma
"Kalau gitu, ayo Bibi bantu membereskan pekerjaan rumahmu," tanpa menunggu persetujuan, bu Harun langsung menuju ke arah dapur.
"Ja-jangan Bibi, biar aku sa(ja)--" Melitha mengejar di belakang bibinya, tak ingin kekacauan dapur mereka dilihat oleh yang bukan penghuni rumah.
"Se-sebanyak ini?!" mata bu Harun membulat sempura dengan bibir setengah terbuka.
Di wastafel, tumpukan gelas, sendok, dan piring-piring masih berbusa belum selesai di bilas. Sepertinya, satu lemari penyimpanan peralatan makan sengaja dikeluarkan semua untuk dipakai tanpa ada upaya dicuci setelah menggunakannya.
Di bawah wastafel, panci-panci kotor bergeletakan bercampur baskom berukuran besar dan kecil juga mangkuk-mangkuk kecil dan jumbo di lantai yang kotor oleh noda sisa makanan yang tertumpah, seakan baru saja selesai dari hajatan besar.
"Kamu baru selesai masak daging?" bu Harun menatap Melitha, setelah melihat sisa bumbu rendang dan soto di beberapa panci kotor.
"Tidak, Bibi... Aku dan Adri bahkan melewatkan makan siang kami karena harus membereskan ini dulu baru mulai masak."
"Ini pasti ulah mereka, mertua dan ipar-ipar Mas-mu. Bibi sempat melihat mereka datang begitu Mas-mu berangkat berkerja dengan membawa Naomi bersamanya," duga bu Harun, langkahnya terburu-buru menuju peti pendingin yang ada di sudut dapur, lalu ke kulkas saat melihat penyimpanan daging kosong.
"Benarkan dugaan Bibi, daging yang Bibi antar buat kamu tadi pagi sudah habis diembat mereka," gemas bu Harun melihat isi kulkas pun kosong, tinggal semangkuk sayuran kacang panjang yang sudah bersih.
"Jadi, Naomi ikut bersama mas Har... Aku fikir dibawa oleh mbak Raya..." gumam Melitha mendengar perkataan bibinya itu, beranjak ke wastefel untuk melanjutkan pekerjaannya.yang masih tanggung.
"Tinggalkan saja semuanya itu, Melitha. Dengan kondisimu yang mengandung dan perut kosong, kamu bisa sakit bila mengerjakan semuanya ini sekarang. Bangunkan Adri, kita cari makan di luar saja sekalian ke dokter."
"Ta-tapi, Bi... Nanti mbak Raya marah bila dia pulang, rumah belum beres. Aku juga nggak mau gara-gara itu mas Har akan kena getahnya." Melitha kembali memberi alasan penolakannya. Bertahun-tahun tinggal serumah, tentu saja Melitha hafal benar tabiat kakak iparnya.
"Jangan takut Melitha, Bibi akan mengajarimu bagaimana caranya menghadapi si penindas itu! Sekarang telepon Mas-mu, katakan bila Adri ikut dengan kita karena kakak iparmu tidak ada di rumah."
"Baik, Bibi...." walau masih ragu mengikuti instruksi bibinya, tapi Melitha tetap mematuhinya, mengambil ponselnya di atas meja lalu menelpon sang kakak.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.