Novel ini lanjutan dari BU GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA, jadi biar nyambung di harapkan baca kisah RAQILA dulu🙏🙏
Rama Edrik Abraham merupakan putera sulung dari Raffa dan Aqila, saat ini Edrik sedang berada diusia pubernya. Edrik tumbuh menjadi anak yang berbeda, masuk geng motor, urakan, pergaulan bebas, membuat kedua orang tuanya pusing tujuh keliling menghadapi sikap keras Edrik.
Berbeda dengan Kakaknya, Rakka Endro Abraham merupakan anak yang penurut, pendiam, dan lebih kalem.
Kehadiran Alisya Anggun Almira yang merupakan murid baru di sekolah mereka, membuat kehidupan kedua Kakak beradik itu jungkir balik. Wajahnya yang cantik membuat semua orang jatuh cinta kepadanya termasuk Edrik dan Raka.
Siapa yang nantinya akan di pilih oleh Alisya, apakah Edrik pria sombong dan tak terbantahkan? ataukah Raka, pria kalem dan baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 ( Merindukanmu )
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Tiba-tiba pintu ruangan rawat Icha terbuka membuat Edrik tersadar dan cepat-cepat menghapus airmatanya.
"Selamat pagi, maaf saya mau periksa keadaan Dr.Alisya," seru Zaki.
"Silakan."
Zaki mulai memeriksa keadaan Icha dan Edrik hanya diam saja.
"Terima kasih, karena selama ini sudah menjaga Icha."
Tiba-tiba Edrik berbicara dan itu membuat Zaki menghentikan pemeriksaannya.
"Sama-sama."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Edrik.
"Kondisinya sudah mulai sedikit membaik, tapi saya tidak tahu sampai kapan Icha akan sadar, mudah-mudahan Icha segera sadar dan pulih karena saya akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Icha."
"Aku percayakan semuanya pada anda Dokter."
Zaki tersenyum dan mengangguk...
"Kalau begitu saya permisi dulu, tolong jaga Icha dan bahagiakan dia karena selama ini dia selalu menunggu kedatanganmu," seru Zaki dengan menepuk pundak Edrik.
Zaki pun meninggalkan ruangan rawat Icha, hati Edrik semakin sakit mendengar ucapan Zaki. Awalanya Edrik memang marah melihat ada seseorang yang mengirimkan foto Icha dan Zaki tapi sekarang dia tahu kalau Icha dan Zaki hanya sebatas teman tidak lebih.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, ternyata selama ini Icha menunggunya dengan sabar tapi dia malah menyakitinya dan membuat wanita cantik itu terluka.
Edrik kembali duduk di samping Icha, diperhatikannya wajah cantik Icha yang sekarang tampak pucat.
"Dasar bodoh, kenapa kamu tidak memukul dan memarahiku seperti dulu. Aku sangat rindu dengan kancil burikku yang galak dan bar-bar, hanya kamu wanita yang berani memarahiku tanpa rasa takut sedikit pun, tapi kenapa sekarang kamu malah seperti ini? aku tahu kamu pasti marah dan benci sama aku, terus kenapa kamu malah diam saja? ayo bangun pukul aku, marahi aku. Kancil burik bangun apa kamu tidak mendengarkanku," seru Edrik dengan sedikit meninggikan suaranya.
Nafas Edrik terengah-engah, dia merasa emosi dan marah pada dirinya sendiri.
"Bahkan kamu masih mau mengobatiku setelah apa yang sudah aku lakukan kepadamu, kamu benar-benar wanita baik."
Bruuukkk...
Pintu ruangan rawat Icha terbuka dengan kencangnya menampilkan sosok wanita dengan wajah yang merah padam.
"Kak Cyra..." gumam Edrik.
Bugghh...
Bugghh..
Bugghh..
Tiba-tiba Cyra memukul Edrik sampai Edrik tersungkur ke lantai.
"Dasar kurang ajar, bocah tengil, tidak punya perasaan, sekarang lihat apa akibat dari perbuatanmu itu?" bentak Cyra dengan mata yang memerah menahan emosi.
"Sayang, sudah-sudah ini rumah sakit jangan buat kegaduhan," seru Dr.Rizky menenangkan istrinya.
"Bangun kamu brengsek," bentak Cyra.
Perlahan Edrik pun bangun, tapi Cyra kembali memukul Edrik.
Bugghh..
Bugghh..
Bugghh..
Edrik kembali tersungkur, kali ini bibir dan hidung Edrik sudah mengeluarkan darah. Edrik pasrah dia tidak melawan sedikitpun, memang semua ini adalah salahnya.
"Astaga sayang, aku mohon berhenti."
Dr.Rizky memeluk istrinya yang saat ini sedang dipenuhi dengan emosi dan amarah.
"Puas kamu sekarang Edrik," bentak Cyra dengan deraian airmata.
Edrik terduduk dilantai dengan airmata yang sudah mengalir dipipinya.
"Kamu keterlaluan Edrik, Icha sudah dengan sabar menunggu kamu tapi kamu malah nyakitin hatinya dan membuatnya terluka, dimana otak kamu?" seru Cyra dengan deraian airmata.
"Edrik punya alasan Kak, Edrik juga tidak mau melakukan semua ini tapi apa yang harus Edrik lakukan, Edrik hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Apa Kak Cyra tahu bagaimana perasaan Edrik? apa Kak Cyra bisa membayangkan betapa hancurnya hati Edrik harus melakukan semua ini?" sahut Edrik.
Cyra mulai luluh dan berjongkok dihadapan Edrik. Cyra tahu kalau Edrik pun terluka dan menderita harus melakukan hal yang sama sekali tidak dia inginkan. Cyra langsung memeluk Edrik.
"Sakit Kak, Kakak tidak akan mengerti dengan perasaan Edrik," ucap Edrik.
Cyra memeluk Edrik..
"Maafkan Kakak, Kakak hanya emosi karena kamu melakukan Icha seperti itu."
Cyra membawa Edrik duduk di sofa dan memanggil Rima untuk mengobati luka pukulan Cyra. Sedangkan Dr.Rizky sudah pergi karena sudah banyak pasien yang menunggu.
"Kamu tahu ga, disaat Ayahnya meninggal adalah hal paling terburuk untuk Icha. Dia berharap ada kamu disana, walaupun hanya sebatas video call tapi setidaknya bisa mengurangi kesedihan Icha tapi harapan tinggal harapan, kamu menghilang tanpa kabar sampai lima tahun lamanya, bahkan Icha tetap menunggumu walaupun dulu Icha sempat menghubungi kamu tapi yang angkat seorang wanita."
"Apa? Icha pernah menghubungi Edrik?" tanya Edrik merasa terkejut.
"Iya, dan yang angkat seorang wanita, Kakak tidak tahu siapa wanita itu yang jelas membuat Icha semakin down."
"Edrik memang tidak memegang ponsel selama lima tahun terakhir karena ponsel Edrik rusak, siapa wanita yang sudah mengangkat telpon dari Icha? astaga..."
Edrik tampak menjambak rambutnya sendiri, tapi Cyra mengusap punggung Edrik berusaha menenangkan Edrik.
"Kamu yang sabar, sekarang tugas kamu menyakinkan Icha kembali karena Kakak yakin pas Icha sadar nanti dia tidak akan langsung bisa memaafkan kamu."
"Iya Kak, pasti Icha sangat membenci Edrik."
"Ya sudah, kalau begitu Kakak pulang dulu kasihan anak-anak, Kakak tinggal di rumah sama suster."
"Iya Kak, maaf Edrik belum bisa mampir ke rumah."
"Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu Kakak pulang dulu."
Tidak lupa Cyra memeluk adik tengilnya itu dengan perasaan bersalah, hingga akhirnya Cyra pun pulang.
"Tuan, kalau begitu saya juga permisi dulu," seru Rima.
"Tunggu...."
Rima menghentikan langkahnya...
"Apa kamu pacarnya Raka?"
"I--iya Tuan."
"Jangan panggil saya Tuan, panggil saja Abang sama kaya yang lainnya."
"Ba--baik Tuan, ah maaf Abang.."
"Bagus."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Edrik menganggukkan kepalanya, Edrik kembali duduk disamping Icha dan menggenggam tangan Icha kemudian menciumnya berulang kali.
***
Sementara itu di rumah Juna...
Juna membukakan pintu mobil untuk Niken, dengan ragu-ragu Niken pun turun. Juna langsung menarik tangan Niken untuk masuk le dalam rumahnya.
"Tunggu dulu, aku belum siap."
"Kenapa? kamu mau lihat perut kamu semakin besar? memangnya kamu tidak malu apa?" seru Juna.
Niken menundukkan kepalanya...
"Jangan takut, orangtuaku pasti akan merestui kita."
Dengan terpaksa Niken pun mengikuti langkah Juna.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, loh Juna kok kamu pulang lagi?" tanya Mama Zahra.
Mama Zahra melihat ke arah Niken yang saat ini masih menundukkan kepalanya.
"Siapa wanita cantik ini? sini Nak duduk dulu," ajak Mama Zahra menggandeng tangan Niken.
"Papa mana Ma?" tanya Juna.
"Ada, biasa lagi ngurus burung-burung kesayangannya."
"Ma, bisa panggilkan Papa dulu sebentar, ada sesuatu yang mau Juna bicarakan dengan kalian berdua."
"Baiklah, tunggu sebentar ya."
Niken meremas dress yang dipakainya dengan tetap menundukkan kepalanya, Juna memperhatikan Niken.
"Cantik juga," batin Juna.
"Apa yang mau kamu bicarakan dengan kami?" tanya Papa Jino.
"Pertama, kenalkan ini Niken. Begini Ma, Pa, Juna ingin menikahi Niken," seru Juna mantap.
"Apa?" sahut Mama Zahra dan Papa Jino bersamaan.
"Jangan bercanda son, kamu serius mau menikah?" seru Papa Jino.
"Iya Pa."
"Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan Niken? perasaan kamu belum pernah membawa wanita ke rumah ini?" seru Mama Zahra.
Juna memang sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita tapi selalu berakhir ngenes dan Juna pun belum pernah sama sekali membawa wanita ke rumahnya.
"Juna dan Niken sudah enam bulanan menjalin hubungan dan sebenarnya----"
"Sebenarnya apa Juna?" tanya Papa Jino.
"Nike sedang mengandung anak Juna."
Mama Zahra dan Papa Jino membelalakkan matanya begitu pun dengan Niken, Niken tidak menyangka kalau Juna akan mengatakan hal itu.
Buugghh...
Papa Jino memukul Juna..
"Pa, sabar Pa."
Niken menghampiri Juna dan membantu Juna berdiri.
"Papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi anak brengsek seperti ini, sampai menghamili anak orang," bentak Papa Jino.
"Maaf Pa, Juna khilaf."
"Pokoknya Papa tidak mau tahu kamu harus menikahi Niken tidak ada bantahan."
"Memang Juna kesini mau minta restu kalian berdua."
"Baiklah, minggu depan kalian menikah."
"Apa, minggu depan," gumam Niken.
"Benar, lebih cepat lebih baik," sahut Mama Zahra.
Mereka pun kembali duduk di sofa..
"Rumah kamu dimana sayang? biar kami datang ke rumah kamu untuk melamar kamu," tanya Mama Zahra.
"Aku...aku..."
"Niken anak yatim piatu Ma, dan selama ini Niken tinggal di sebuah kontrakan," sahut Juna.
"Astagfirullah, kasihan sekali kamu Nak."
Mama Zahra memeluk Niken dan Niken merasa terharu akan kebaikkan orangtua Juna sampai-sampai dia meneteskan airmata.
"Hei, jangan menangis sayang, ya sudah mulai sekarang kamu tinggal disini ya sama Mama."
"Tapi----"
"Pokoknya tidak ada tapi-tapian, kamu kan calon mantu kami dan kamu juga sedang mengandung calon cucu kami jadi kami harus bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah Juna perbuat," seru Mama Zahra.
Deg...
Hati Niken begitu ngilu, saat Mama Zahra mengatakan calon cucunya. Sungguh Niken sangat merasa malu dan bersalah kepada keluarga Juna.
Niken menoleh ke arah Juna dan Juna tampak menganggukkan kepalanya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore dan Edrik masih terdiam menatap Icha bahkan dia belum makan pun tidak terasa lapar di perutnya.
Ceklek...
"Sayang, apa kamu sudah makan?" tanya Mommy Aqila.
Edrik menggelengkan kepalanya..
"Ya sudah, Mommy belikan makanan duku buat kamu ya."
"Tidak Mommy, Edrik tidak lapar."
"Kamu harus makan Nak, kamu tadi hanya sarapan sedikit dan sampai sekarang belum makan, bagaimana kalau kamu sakit."
"Edrik mau makan kalau Icha sudah bangun, Mom."
"Edrik dengarkan Mommy, kalau kamu ingin Icha cepat sembuh, kamu juga harus sehat supaya pas nanti Icha siuman kamu ada disamping Icha."
"Tapi Edrik tidak lapar, Mommy."
"Ya sudah Mommy tidak akan memaksa kamu tapi kalau nanti kamu sakit dan ga bisa jagain Icha jangan salahkan Mommy," kesal Mommy Aqila.
"Ok, Edrik akan makan sekarang, tolong Mommy jagain Icha sebentar Edrik ga bakalan lama kok."
"Nah gitu dong, itu baru anak Mommy."
Edrik pun dengan terpaksa meninggalkan Icha, padahal Edrik memang tidak lapar. Saat ini yang Edrik ingin hanya tetap berada di samping Icha dan ingin menjadi orang yang pertama Icha lihat saat nanti dia sadar.
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Yuk guys, mana nih suaranya ayo komen dong keluarkan komen terbaik kalian, nanti akan ada pulsa dari Author🤗🤗
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU