Aku tak ingin seperti ibuku. Mencintai tanpa batas dan diluar logika bahkan rela mati demi cinta. Tapi nasib yang membawaku menjalani hidup bahkan lebih parah dari Ibuku.
~Tiara Purnama ~
Gadis sederhana yang kuliah sambil bekerja membantu Ibunya membesarkan dan menyekolahkan adik - adiknya dan hidup dengan Bapak Tiri yang pemalas, suka mabuk-mabukan dan suka memukuli ibunya.
Melihat Ibunya yang begitu tersiksa dibuat suaminya membuat Tiara bertekad tidak ingin sepertinya Ibunya.
Tapi alangkah malang nasibnya, disuatu acara kampus Tiara di jebak oleh temannya. Mereka mengajak Tiara ke sebuah club malam, memberi Tiara minuman beralkohol dan malam itu Tiara berakhir di sebuah kamar hotel dengan seorang pria.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Tiara??
Lanjutkan kisahnya...
Selamat membaca.. semoga kalian suka 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jogja
Hari yang dinanti - nanti Tegar sudah tiba. Mereka naik kereta dengan jadwal keberangkatan pukul tujuh pagi.
Setelah shalat subuh Tegar memang tidak mau tidur lagi, dia sangat semangat hari ini karena akan bepergian ke Jogja.
Tegar dan Tiara sudah berada di atas Kereta Api Lodaya yang akan tiba pukul setengah tiga siang di Jogja. Mereka menaiki gerbong eksekutif agar Tegar merasa nyaman beristirahat di atas kereta.
Sesampainya di stasiun Jogja mereka naik taxi online menuju Hotel yang telah di kirimkan Tari nama dan alamatnya melalui pesannya kepada Tiara.
"Mama aku mau naik itu" Tegar menunjuk delman yang dia lihat saat dalam perjalanan menuju Hotel.
"Nanti kalau kita sudah santai, Mama akan ajak kamu keliling kota Jogja naik delman ya.
"Namanya delman ya Ma?" tanya Tegar penasaran.
"Iya sayang namanya Delman. Ayo sekarang Mama tanya siapa nama pengendara Delman?" tanya Tiara.
"Kusir. Pintar anak Mama. Kok kamu bisa tau sih?" goda Tiara.
"Kan ada lagunya Ma. Aku sering nyanyikan di sekolah" jawab Tegar bangga.
"Eh iya ya.. Mama kok bisa lupa" balas Tiara.
Sesampainya di Hotel mereka segera check-in dan diantarkan ke kamar yang sudah di pesan untuk dia dan Tegar.
Ternyata Tari, Ridho dan keluarga juga sedang berkumpul di ballroom Hotel untuk melakukan gladi resik untuk acara besok.
Karena merasa tidak enak Tiara turun sekedar bersilaturahmi kepada keluarga Tari dan Ridho.
"Mama aku main di taman ya" pinta Tegar yang merasa bosan dengan acara persiapan pernikahan Tari dan Ridho.
"Tapi kamu janji hanya main di taman ya, jangan kemana-mana sampai Mama jemput kamu di sana" jawab Tiara.
"Oke Mama.... " balas Tegar.
Tegar segera berlari ke taman dia bermain prosotan dan ayunan. Satu jam bermain akhirnya Tegar kelelahan dan bosan. Tegar duduk di bawah taman sambil meminum botol minuman yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi.
Tiba - tiba datang seseorang dan menghampirinya.
"Hai boy... kamu lagi ngapain?" tanya pria itu ramah.
"Aku lagi istirahat, capek habis main" jawab Tegar.
"Kamu masih ingat sama Om?" tanya Pria itu.
"Om yang dulu pernah menolongku di kamar mandi Cafe tempat Mama bekerja kan?" tanya Tegar.
Pria itu tersenyum menatap Tegar.
"Ternyata kamu anak pintar ya, ingatan kamu sangat kuat" puji Pria itu
"Iya donk. Kata Papa aku ini anak genius Om" jawab Tegar bangga.
"Siapa nama kamu?" tanya Pria itu.
"Tegar.. Tegar Prakasa" jawab Tegar.
Deg... Pria itu terdiam.
"Nama Om siapa?" tanya Tegar.
"Nama Om Bintang Prakasa" jawab pria yang ternyata adalah Bintang.
"Nama kita mirip ya Om. Sama - sama ada Prakasanya" sambut Tegar senang.
"Iya" jawab Bintang lembut.
Bintang juga sangat terkejut ketika tadi Tegar menyebutkan namanya. Bukan hanya wajah mereka saja yang mirip, nama mereka juga hampir sama. Sama - sama memakai nama Prakasa di belakang nama panggilan mereka.
Sedari tadi Bintang sudah melihat dari kejauhan anak laki-laki yang sedang bermain di taman itu. Wajahnya yang mengusik perasaan Bintang sehingga tanpa sadar membawa kaki Bintang melangkah mendekati anak kecil yang sedang bermain di taman itu..
Dia sangat ingat, di malam grand opening Cafe Roy di Bandung dia bertemu dengan anak laki-laki kecil ini dan membantunya mencuci tangan di wastafel kamar mandi Cafe.
Bintang terkejut melihat kemiripan wajah mereka. Tapi rasa penasarannya terhenti ketika melihat anak itu pergi meninggalkan Cafe bersama kedua orangtuanya.
Entah dari mana Bintang merasa terpanggil untuk mengajak anak itu berkenalan. Dan disinilah mereka saat ini. Duduk berdua di bawah pohon yang ada di taman Hotel.
Kini Bintang semakin penasaran dengan anak laki-laki kecil ini. Rasanya ingin tau lebih tentang diri anak ini.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Bintang.
"Di Bandung" jawab Tegar cuek.
"Trus sama siapa ke sini?" tanya Bintang lagi.
"Sama Mama" balas Tegar.
"Disini ngapain?" selidik Bintang.
"Mau menghadiri pesta pernikahan Papa Dho dan Tante Ai" jawab Tegar.
"Lho.. Papa kamu menikah dengan wanita lain. Bukannya ada Mama kamu?" tanya Bintang bingung.
Tegar tersenyum.
"Om ini sama seperti orang lain. Suka salah sangka. Mamaku dan Papa Dho itu cuma teman. Kata Mama mereka hanya sahabatan, dan Papa Dho punya pacar namanya Tante Ai. Nah besok Papa Dho akan menikah dengan Tante Ai. Begitu Om" jelas Tegar.
"Jadi Papa kamu dimana?" tanya Bintang penasaran.
"Maksud Om, Papa kandungku?" tanya Tegar.
Bintang menganggukkan kepalanya sambil terus menatap anak kecil yang sangat mirip dengan dirinya.
"Papa aku di atas?" Tegar menunjuk kearah langit.
"Di atas mana? Di atas pohon lagi manjat?" Bintang melihat ke atas pohon tempat mereka duduk.
"Ckckck... Om ini ngapain coba Papa aku manjat pohon. Papa aku itu ada di surga" jawab Tegar bijak.
"Maksud kamu?" Bintang semakin bingung.
"Kata Mama, Papa aku sudah meninggal sebelum aku lahir. Jadi supaya aku tetap mempunyai Papa. Papa Dho mau menjadi Papaku. Gitu Ooooom" ungkap Tegar.
"Jadi yang bersama kamu malam itu di cafe siapa?" tanya Tegar.
"Itu Papa Dho dan Tante Ai" jawab Tegar.
"Mama kamu dimana waktu itu?" tanya Bintang semakin penasaran. Entah mengapa semakin Bintang bertanya dia seperti kehausan informasi terhadap anak ini. Rasanya dia ingin terus memberikan pertanyaan kepada anak laki-laki itu.
Mungkin dia gemas melihat dan mendengar jawaban anak itu. Pipi gemburnya yang merah dan matanya yang berbinar setiap kali menjawab pertanyaan Bintang mengusik hati Bintang untuk terus melemparkan pertanyaan.
"Mama aku ada di Cafe itu juga sedang bekerja dan aku di ajak Papa Dho pulang duluan karena saat itu Papa Dho sedang sakit perut" ungkap Tegar.
"Siapa nama Mama kamu?" tanya Bintang.
"Nama mamaku.... "
Tiba - tiba ponsel Bintang berdering..
"Sebentar ya Tegar Om terima telepon dulu" potong Bintang.
Bintang menjauhi Tegar untuk menerima teleponnya. Tak lama Bintang menghampiri Tegar lagi.
"Tegar Om pergi dulu ya. Ada hal penting yang harus Om kerjakan" pamit Bintang.
"Oke Om, hati - hati ya Om. Semoga pekerjaan Om lancar" jawab Tegar ceria.
"Kamu juga hati - hati di sini ya. Jangan kemana-mana dan jangan mau diajak pergi oleh orang yang tidak di kenal" ucap Bintang mengingatkan.
"Aku sudah janji akan menunggu Mama di sini" balas Tegar.
"Anak pinta. Om pergi ya" sambung Bintang sambil melambaikan tangannya kepada Tegar dan berlalu dari hadapan Tegar.
"Daaah Oooom" jawab Tegar dan membalas lambaian tangan Bintang.
"Kami sedang berbicara dengan siapa nak?" tanya Tiara.
"Sama Om baik Ma, tadi dia temani aku ngobrol di sini. Ma ke kamar yuk.. Aku bosan di sini" ajak Tegar.
"Ya sudah kalau begitu kita naik ke kamar kita" sambut Tiara.
Mereka kemudian pergi meninggalkan taman dan kembali ke kamar mereka.
.
.
BERSAMBUNG
🤣🤣
top bgt si roy
tunjukan siapa dirimu.