NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Ujian yang Sebenarnya

Begitu Ren Tao melangkah masuk ke dalam lembah, dunia seakan terputus.

Kabut tebal menggantung rendah, menelan suara dan jarak pandang. Udara lembap bercampur aroma logam yang samar bau darah lama yang tak sepenuhnya hilang.

Ren Tao langsung berhenti berjalan.

Ia menutup mata sejenak, menenangkan napas, lalu menekan auranya hingga hampir menghilang. Aliran Qi di tubuhnya diperlambat, dibuat tidak stabil, seperti murid luar yang gugup dan tidak berpengalaman.

Jangan menonjol. Jangan cepat. Jangan serakah.

Itu tiga aturan pertama.

Ia memilih bergerak menyamping, mengikuti jalur berbatu yang jarang dilalui. Daerah ini tidak cocok untuk pertempuran terbuka, tapi justru itu kelebihannya.

Belum lama berjalan, suara benturan terdengar di kejauhan.

Logam beradu.

Teriakan pendek.

Lalu… sunyi.

Ren Tao tidak mendekat.

Ia memanjat lereng kecil, mengintip dari balik semak dengan jarak aman. Di bawah sana, satu mayat tergeletak. Dada robek, mata terbuka lebar, seolah mati tanpa sempat memahami apa yang terjadi.

Dua murid lain berdiri kaku.

Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada teriakan.

Hanya napas berat dan tangan yang gemetar.

“In… ini ujian,” gumam salah satu dari mereka, seolah sedang meyakinkan diri sendiri.

Yang lain mengangguk cepat. “Dia ceroboh.”

Namun Ren Tao melihatnya jelas bukan ceroboh.

Takut.

Mereka pergi dengan tergesa, meninggalkan mayat itu begitu saja.

Ren Tao menarik napas pelan.

Hari pertama sudah memakan korban.

Ia turun perlahan dan mengubah arah. Mayat itu dibiarkan. Mendekat hanya akan menarik perhatian yang tidak perlu.

Waktu berjalan lambat.

Semakin dalam ia melangkah, semakin jelas sifat asli ujian ini. Tidak ada wasit. Tidak ada peringatan. Hanya aturan tidak tertulis hidup atau tersingkir.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar cepat di belakangnya.

Ren Tao sengaja terlambat bereaksi.

“Berhenti!”

Tiga murid muncul, wajah mereka tegang tapi mata penuh perhitungan. Begitu melihat Ren Tao, ekspresi mereka berubah.

"Ah...cuma dia."

Ren Tao memutar badan, wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.

“Ada apa?” tanyanya gugup.

Salah satu murid tertawa kecil. “Tenang aja. Kami cuma mau tokenmu.”

Ren Tao mundur setengah langkah. “A-aku nggak mau masalah.”

“Di sini, menghindari masalah itu masalah,” balas yang lain.

Ren Tao mengangguk cepat, tangannya bergerak seolah hendak menyerahkan sesuatu—lalu tersandung batu kecil dan jatuh.

Pedang kayunya terlempar.

Ketiganya tertawa.

“Lihat? Murid sampah tetap murid sampah.”

Ren Tao bangkit setengah berlutut, wajahnya panik, tapi matanya mengamati cepat

jarak, posisi, arah angin.

Saat salah satu dari mereka mendekat terlalu percaya diri, Ren Tao mengayunkan pedang kayu terlalu tinggi, terlalu lambat.

Serangan itu ditepis dengan mudah.

Namun pada saat yang sama, Ren Tao menginjak tanah dengan sudut tertentu.

Tanah rapuh itu runtuh sedikit.

Langkah musuhnya goyah sepersekian detik.

Cukup.

Ren Tao menabrakkan tubuhnya ke samping, menghantam bahu murid itu. Tidak kuat, tapi cukup untuk menjatuhkannya ke jalur sempit di belakang.

Dua murid lain terkejut.

Ren Tao tidak menunggu.

Ia berlari terlihat panik, ceroboh, meninggalkan jejak jelas.

"Kejar!." teriak mereka.

Ren Tao membawa mereka ke jalur berbatu yang curam. Ia melompat lebih dulu, mendarat di titik aman yang sudah ia perhitungkan.

Di belakangnya—

"AARGH"

Salah satu murid terpeleset, tubuhnya menghantam batu tajam. Suara retakan tulang terdengar jelas.

Yang lain berhenti mendadak.

Ren Tao tidak menoleh.

Ia menghilang ke balik kabut.

Beberapa saat kemudian, jeritan itu terputus.

Ren Tao duduk di balik pohon, napasnya kembali stabil. Tangannya sedikit gemetar bukan karena takut, tapi karena sisa adrenalin.

Ia tidak membunuh dengan tangannya sendiri.

Namun di tempat seperti ini, hasil akhirnya sama.

Saat matahari mulai condong, Ren Tao naik ke tempat tinggi dan mengamati.

Jumlah peserta sudah jauh berkurang.

Di kejauhan, ia melihat sekelompok murid bergerak terkoordinasi. Gerakan mereka rapi. Terlalu rapi.

Salah satu wajah ia kenali.

Pengawal Wei Kang.

Ren Tao menyipitkan mata.

Jadi bidak mulai digerakkan.

Ia menunduk, menyembunyikan auranya lebih dalam.

“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri.

“Ujian baru saja dimulai.”

Kabut kembali menutup pandangan.

Dan di dalamnya, Ren Tao tersenyum tipis tanpa ada satu pun yang melihat.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!