Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melahirkan
Malam baru saja melintasi garis tengahnya, menyisakan kesunyian yang kental di dalam kamar utama kediaman Vance. Setelah drama salak pedas yang berakhir dengan tawa dan perut kembung bagi Brixton, keduanya akhirnya tertidur lelap. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pukul tiga pagi, Alana terbangun bukan karena suara bising, melainkan karena sensasi yang sangat akrab namun jauh lebih intens daripada sebelumnya.
Ia merasakan kehangatan yang tiba-tiba membasahi seprai sutra di bawahnya. Detik berikutnya, sebuah gelombang rasa sakit—kali ini bukan sekadar kontraksi palsu—merambat dari pinggang belakangnya, melilit perutnya dengan kekuatan yang membuat napasnya tertahan.
"Brixton..." rintih Alana. Ia mencoba menggapai lengan suaminya, namun rasa sakit itu datang lagi, lebih tajam. "Brixton, bangun... air ketubanku pecah."
Brixton, yang belakangan ini tidurnya sangat tipis karena mode "suami siaga", langsung terjaga. Ia terduduk tegak seolah-olah baru saja mendengar suara ledakan. Matanya yang mengantuk seketika melebar saat melihat wajah Alana yang meringis di bawah cahaya lampu tidur yang redup.
"Ketuban? Sekarang?" Brixton bertanya dengan suara serak, namun otaknya langsung bekerja dengan kecepatan cahaya. Ia menyentuh seprai yang basah dan seketika adrenalin membanjiri seluruh sistem sarafnya. "Oke. Oke, Alana. Tenang. Tarik napas. Kita harus ke rumah sakit sekarang."
Pria yang biasanya mampu mengelola krisis miliaran dolar tanpa mengernyitkan dahi itu kini tampak gemetar saat mencoba mengenakan kemejanya secara terbalik. Ia berlari ke arah lemari, mengambil tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan berminggu-minggu lalu, lalu kembali ke sisi Alana.
"Bisa berdiri? Atau aku gendong?" tanya Brixton panik.
"Aku bisa berjalan... tapi pelan-pelan," bisik Alana. Ia mencengkeram tangan Brixton sekuat tenaga saat kontraksi berikutnya datang. "Aww! Brixton, ini sakit sekali... jauh lebih sakit dari yang kubayangkan."
Melihat istrinya menderita, jantung Brixton terasa seperti diremas. Ia membantu Alana berdiri, menyelimuti bahu istrinya dengan jaket tebal, dan menuntunnya keluar kamar. Di koridor, ia berteriak memanggil Bibi Martha, suaranya menggelegar memecah kesunyian malam.
"Bibi! Siapkan mobil! Alana akan melahirkan!"
Perjalanan menuju rumah sakit adalah pengalaman paling mendebarkan dalam hidup Brixton. Meskipun jalanan kota di jam tiga pagi sangat lengang, bagi Brixton, setiap lampu merah terasa seperti keabadian. Ia mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat tangan Alana yang terus merintih di kursi sampingnya.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi sampai. Kau hebat, Alana. Kau kuat," Brixton terus meracau, mencoba menenangkan Alana sekaligus menenangkan dirinya sendiri yang sebenarnya hampir kehilangan kendali.
Di tengah hiruk pikuk itu, ponsel Brixton yang diletakkan di dasbor mulai bergetar tanpa henti. Notifikasi pesan masuk bertubi-tubi, cahayanya berkedip-kedip di tengah kegelapan mobil.
Rupanya, Bibi Martha telah menghubungi grup keluarga segera setelah mereka berangkat. Pesan pertama datang dari Ibu Brixton yang sedang berada di luar kota: “Brixton! Bagaimana kondisi Alana? Apa sudah masuk ruang pembukaan? Beri kabar setiap sepuluh menit!”
Lalu disusul pesan dari sepupu-sepupunya, rekan bisnis yang juga sahabat dekatnya, hingga pesan-pesan dari keluarga Alana. Namun, pesan dari keluarga Alana-lah yang membuat dada Brixton terasa sesak.
Ibu mertuanya mengirim pesan singkat yang penuh haru: “Brixton, jaga Alana. Ibu ingin sekali di sana, tapi Ayahmu baru saja mengalami penurunan kondisi lagi semalam dan belum bisa ditinggal di ruang ICU. Ibu berdoa dari sini untuk keselamatan putri dan cucu Ibu. Tolong, Brixton... jadilah kekuatan bagi Alana karena kami tidak bisa hadir di sana.”
Brixton melirik Alana. Ia tidak ingin memberitahu Alana bahwa ayahnya kembali drop agar istrinya tidak semakin stres. Ia hanya membalas singkat dengan satu tangan saat berhenti di lampu merah: “Alana sedang berjuang. Saya akan menjaganya dengan nyawa saya. Mohon doanya.”
Sesampainya di rumah sakit, suasana berubah menjadi sangat sibuk. Alana segera dilarikan ke ruang bersalin. Brixton, yang tadinya bersikeras ingin ikut masuk ke ruang pemeriksaan awal, sempat tertahan di depan pintu karena prosedur administrasi.
Ia berdiri di koridor rumah sakit yang dingin, berjalan mondar-mandir seperti singa yang terperangkap di dalam kandang. Kegelisahannya tidak bisa disembunyikan. Ia terus melihat jam, lalu melihat ponselnya yang masih terus bergetar.
“Bagaimana? Sudah ada pembukaan berapa?” — Pesan dari Ibunya lagi. “Tuan Vance, apakah butuh helikopter untuk memindahkan dokter spesialis?” — Pesan dari asistennya yang super loyal.
Brixton tidak membalas satu pun. Pikirannya hanya terarah pada suara rintihan Alana yang sesekali terdengar dari balik pintu kayu itu. Ia merasa sangat tidak berdaya. Uang, koneksi, dan kekuasaannya tidak ada gunanya di sini. Ia tidak bisa mengambil rasa sakit itu dari Alana. Ia hanya bisa berdiri di sana, menunggu keajaiban terjadi.
Rasa bersalah yang dulu sempat mereda kini kembali menyelinap. Ia teringat bagaimana di awal kehamilan, ia justru sering mengabaikan Alana. Ia teringat betapa jahatnya ia dulu. Dan kini, saat Alana sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak mereka, Brixton merasa dirinya tidak pantas mendapatkan kebahagiaan ini.
"Tuhan, tolong dia," bisik Brixton pelan, menyandarkan keningnya di dinding rumah sakit yang dingin. "Ambil saja nyawaku jika perlu, tapi biarkan dia dan bayi itu selamat."
Tak lama kemudian, seorang perawat keluar. "Tuan Vance? Nyonya Alana sudah memasuki pembukaan lengkap. Beliau meminta Anda untuk mendampingi di dalam."
Brixton tidak menunggu dua kali. Ia segera mengenakan pakaian steril dengan tangan yang gemetar hebat. Begitu ia masuk ke ruang persalinan, ia melihat Alana yang sudah bersimbah keringat, wajahnya memerah karena menahan sakit, namun matanya mencari sosok suaminya.
Brixton segera menghampiri, duduk di kursi di samping kepala Alana, dan membiarkan istrinya mencengkeram tangannya.
"Aku di sini, Alana. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," ucap Brixton, mencium kening Alana yang basah oleh keringat.
"Sakit... Brixton... aku tidak kuat..." Alana terisak.
"Kau kuat. Kau wanita terkuat yang pernah kukenal. Lihat aku, Alana. Hanya aku dan kau. Kita akan bertemu dengan anak kita sebentar lagi," Brixton menatap mata Alana, mencoba mentransfer seluruh kekuatan yang ia miliki melalui tatapan itu.
Proses persalinan itu berlangsung sangat dramatis. Setiap kali Alana harus mengejan, Brixton ikut menahan napas. Ia tidak merasa jijik melihat darah atau keringat; yang ia rasakan hanyalah rasa hormat yang luar biasa mendalam kepada istrinya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana seorang wanita berjuang di antara hidup dan mati demi sebuah kehidupan baru.
Di sela-sela perjuangan itu, ponsel di saku celana Brixton terus bergetar. Pesan dari keluarga seolah tidak ada habisnya. Namun bagi Brixton, dunia luar sudah tidak ada lagi. Tidak ada bisnis, tidak ada rumah sakit tempat ayah mertuanya berada, yang ada hanya Alana.
Setelah perjuangan panjang selama hampir dua jam di ruang persalinan, sebuah suara yang sangat jernih dan kuat tiba-tiba memecah ketegangan.
Oeeeekk... Oeeeekk...
Suara tangisan bayi memenuhi ruangan. Brixton membeku. Air matanya, yang selama ini ia tahan dengan segala keangkuhan maskulinnya, akhirnya tumpah begitu saja. Ia melihat seorang bayi kecil, merah, dan mungil sedang diangkat oleh dokter.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Vance. Bayi laki-laki yang sangat tampan dan sehat," ucap dokter sambil meletakkan bayi itu di atas dada Alana untuk proses inisiasi menyusu dini.
Alana menangis bahagia, suaranya parau namun penuh kelegaan. "Brixton... lihat... anak kita."
Brixton membungkuk, mencium kening Alana berkali-kali, lalu menyentuh jari kecil bayinya yang menggenggam udara. "Dia sangat mirip denganmu, Alana. Terima kasih. Terima kasih sudah bertahan."
Di saat yang paling mengharukan itu, Brixton teringat pada keluarga Alana. Ia segera mengambil ponselnya, jarinya dengan cepat mengetik pesan ke ibu mertuanya yang pasti sedang diliputi kecemasan ganda di rumah sakit lain.
“Ibu, cucu Ibu sudah lahir. Laki-laki, sehat. Alana juga selamat. Mohon sampaikan pada Ayah jika beliau sudah sadar nanti. Kami akan segera ke sana setelah kondisi Alana stabil.”
Beberapa detik kemudian, balasan masuk: “Syukurlah! Terima kasih, Brixton. Ibu menangis bahagia di sini. Ayahmu seolah tahu, barusan detak jantungnya kembali menguat dan stabil saat Ibu membisikkan doa untuk persalinan Alana. Ini adalah keajaiban bagi keluarga kita.”
Beberapa jam kemudian, Alana sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Bayi mereka, yang kemudian diberi nama Leo Alistair Vance, sedang tertidur pulas di box bayi di samping tempat tidur.
Brixton duduk di kursi samping Alana, memperhatikan istrinya yang tampak sangat cantik meski dalam kondisi kelelahan. Ia tidak berhenti menggenggam tangan Alana. Seluruh anggota keluarga besarnya kini sudah memenuhi ruang tunggu di luar, namun Brixton meminta waktu pribadi agar Alana bisa beristirahat.
"Brixton," panggil Alana pelan.
"Ya, Sayang?"
"Apa kau sudah mengabari Ibu dan Ayah?"
Brixton terdiam sejenak, lalu ia tersenyum lembut. "Sudah. Ibumu sangat senang. Ayahmu... kondisinya membaik setelah mendengar kabar kelahiran Leo. Sepertinya Leo memang membawa keberuntungan bagi kita semua."
Alana tersenyum lega, air mata kebahagiaan kembali mengalir. "Aku ingin segera menunjukkan Leo pada Ayah."
"Kita akan melakukannya segera setelah dokter mengizinkanmu pulang. Tapi untuk sekarang, tugasmu hanya satu: istirahat dan biarkan aku yang mengurus semuanya."
Brixton bangkit, mencium kening Alana, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota yang mulai terbangun oleh cahaya pagi. Ia melihat pantulan dirinya di kaca—seorang pria yang masuk ke rumah sakit ini dengan ketakutan, dan keluar (nantinya) sebagai seorang ayah dan suami yang utuh.
Luka-luka di masa lalu kini telah benar-benar tertutup oleh kehadiran Leo. Brixton menyadari bahwa takdir memiliki cara yang unik untuk menyembuhkan seseorang. Melalui rasa sakit persalinan Alana, ia belajar tentang arti pengorbanan. Melalui penyakit ayah mertuanya, ia belajar tentang arti waktu. Dan melalui kelahiran anaknya, ia belajar bahwa cinta sejati selalu memiliki cara untuk menang, sesulit apa pun jalannya.
Malam yang penuh kegelisahan itu telah berakhir dengan kemenangan. Brixton kembali ke sisi ranjang, ikut memejamkan mata sejenak sambil tetap menggenggam tangan Alana, merasa bahwa hidupnya kini sudah lengkap. Sumpah di atas luka itu kini telah menjadi sebuah warisan cinta yang akan ia jaga selamanya.