Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJADIAN DI PASAR
Setibanya di pasar , Vina dan Jaka berpisah. Vina meminta Jaka untuk membeli beras. Sedangkan Ia sendiri akan membeli barang-barang lainnya.
"Mau beli sayur Neng?" tanya ibu-ibu penjual sayur, saat Vina berhenti di depan barang dagangannya.
"Kacang panjangnya berapa Bu?" tanya Vina dengan ramah.
"Satu ikat lima puluh ."
"Nggak boleh kurang Bu?"
"Ini sudah harga bagus Neng, ibu cuma untung lima perak setiap ikatnya," ucap Ibu itu dengan jujur. Vina yang aslinya memang tidak pandai menawar , akhirnya setuju untuk membeli dua ikat kacang panjang.
Vina tidak hanya membeli kacang panjang saja. Ada juga kecambah dan selada air. Tidak lupa juga dengan aneka ragam bumbu dapur.
Setelah itu Vina pindah ke tempat penjual daging ayam. Ia membeli tiga kilo daging ayam dan satu kilo jeroan ayam.
Sebenarnya Kakek Darma meminta Jaka untuk memotong ayam yang masih tersisa di rumah . Namun Vina tidak memperbolehkannya. Ayam yang tersisa di rumah tinggal empat ekor. Jika sampai dipotong semua tidak ada lagi ayam yang tersisa.
Jika Vina sibuk berbelanja, Jaka yang sedang membeli beras dihentikan oleh Reni. Reni belum tahu jika Jaka telah sembuh dan kembali melakukan pernikahan bersama Vina.
Reni sangat terkejut sekaligus merasa bahagia melihat Jaka bisa sembuh seperti sedia kala. Ia beranggapan, dengan sembuhnya Jaka, maka pernikahan mereka juga akan berakhir.
"Syukurlah Kamu akhirnya bisa sembuh seperti ini. Maaf akhir-akhir ini Aku belum bisa menjengukmu," katanya dengan lembut.
"Tidak masalah. Lagi pula Kamu juga memiliki kesibukan sendiri, " jawab Jaka cuek. Ia tidak perduli meskipun Reni tidak menjenguknya. Lagi pula hubungan hanya sekedar teman masa kecil sekaligus tetangga dekat.
"Kamu sendirian saja? " tanya Reni tanpa memperdulikan sikap cuek Jaka.
"Tidak. Aku datang bersama_"
"Pasti sama bude Siti. Beliau ada dimana sekarang? " belum juga Jaka menyelesaikan ucapannya, Reni sudah memberi tebakan sendiri.
"Entah.Mungkin dirumah atau diladang."
"Jadi Kamu tidak berangkat bersama Bude Siti? kalau begitu sama siapa dong? "
"Istriku."
"Istri? Jadi Kamu belum bercerai? " tanya Reni dengan terkejut. Dia nampak shok mendengar penuturan Jaka.
"Apa wanita itu tidak mau diceraikan? " lanjutnya dengan panik.
"Hei... kalau mau ngobrol lebih baik cari tempat lain saja .Kami antri mau berbelanja juga, " tegur Ibu-ibu yang antri dibelakang Jaka.
Sebenarnya Ibu itu tidak berniat untuk menegur. Namun ucapan Reni seperti mengisyaratkan bahwa keduanya terlibat hubungan perselingkuhan. Dan selingkuhannya memintanya untuk menceraikan istri sahnya. Ibu itu sangat tidak suka melihat perselingkuhan didepan matanya sendiri.
"Ingat neng perempuan baik-baik tidak akan menyakiti wanita lain. cantik-cantik kok sukanya sama suami orang."
"Benar tuh. Pergi Kalian! mengotori mata Kamu saja, " tegur Ibu lainnya. Beberapa Ibu lainnya juga menatap mereka dengan pandangan mencemooh.
"Maaf Ibu-ibu.... wanita ini bukanlah selingkuhan Saya. Dia hanya putri dari tetangga Saya. Kami sama-sama sudah berkeluarga, " kata Jaka mencoba memberi penjelasan.
"Cih... sudah tahu sama-sama berkeluarga tapi masih juga berselingkuh. "
"Aku tidak berselingkuh! " seru Jaka dengan tegas.
"Meski Kami berselingkuh apa urusannya dengan Kalian? " kata Reni dengan berani. Entah dari mana ia mendapatkan kepercayaan diri seperti itu. Seolah membenarkan bahwa keduanya tengah menjalani hubungan perselingkuhan.
"Jaga ucapanmu Reni! Aku bukan selingkuhan mu!" bantah Jaka tak terima. Namun Reni tak menghiraukannya. Ia malah mengungkapkan perasaan yang ia pendam selama ini. Tanpa memikirkan konsekuensinya sama sekali.
"Aku mencintaimu Jaka. "
"Aku tidak pernah mencintaimu. Aku mencintai istriku! "
Jaka menolaknya dengan tegas. Meski begitu Reni tidak menyerah. Ia benar-benar sudah melupakan rasa malunya.
"Aku lebih baik dari istrimu. "
Kali ini Jaka benar-benar marah. Ia merasa malu dan juga merasa bersalah karena sebelumnya tidak bertindak tegas.
"Jangan bicara omong kosong. Istriku jauh lebih baik darimu. Kamu seorang wanita bersuami berani-beraninya menggoda suami wanita lain. Perbuatanmu sangat menjijikkan! "
Ucapan itu terdengar tidak menyenangkan. Namun bagi Jaka itu belum cukup.
"Aku_"
"Ada apa ini Sayang? " tanya Vina yang tiba-tiba muncul dari kerumunan. Jaka langsung menghampirinya.
"Mereka berselingkuh Nak, " kata salah satu Ibu- ibu yang lebih percaya ucapan Reni dari pada ucapan Jaka.
"Tidak. Dia bukan selingkuhanku! " bantah Jaka dengan tegas.
"Aku hanya menganggapnya sebagai teman sekaligus tetangga. Tidak lebih dari itu, " lanjut Jaka sambil menatap Vina. Ia berkata dengan jujur. Dari dulu hingga sekarang hanya dua wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Ibu dari si kembar dan juga Vina.
"Aku mencintaimu! "
Ya.... sekarang Jaka bisa berkata dengan lantang bahwa ia mencintai Vina. Entah sejak kapan perasaan itu muncul. Yang jelas, ia tidak ingin lagi jauh dari Vina. Perasaan itu semakin lama semakin kuat.
Vina tertegun mendengarnya. Bagaimana bisa Jaka mengungkapkan cinta di depan umum seperti ini.
Ucapan itu bagi Reni seperti sambaran petir yang mengobrak-abrik hatinya. Ia tidak hanya mendapatkan malu dan cemoohan, tetapi hatinya lebih sakit dari itu semua.
"Mengapa bisa begini? " tanyanya dalam hati. Ia tenggelam dalam pikiran. Sampai tidak menyadari kalau Jaka telah pergi bersama Vina. Keduanya memilih untuk berbelanja di tempat lain.
Jaka dan Vina sama-sama diam. Keduanya memilih untuk tidak membicarakan kejadian tadi. Seolah diam-diam memiliki pemahanan yang sama.
Jaka merasa lebih nyaman jika membicarakannya di rumah. Begitupun dengan Vina. Menurut Vina lebih baik segera menyelesaikan belanjanya dan pulang. Untuk masalah tadi dipikirkan belakangan saja. Lagi pula Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri ketegasan Jaka dalam memilihnya. Ia bisa merasakan kejujuran disetiap ucapannya.
"Apa ada lagi yang perlu dibeli? " tanya Jaka setelah selesai membeli beras.
"Sepertinya tinggal kuenya saja yang belum. "
"Perlu beli kue juga? "
"Buat anak-anak. "
"Oh..... "
Jaka pun menyetujuinya. Mereka berangkat ke pasar diam-diam tanpa mengajak si kembar. Pulang nanti pasti mereka akan merajuk. Jadi membeli kue termasuk keputusan yang baik.
Apa yang Vina khawatirkan memang benar. Saat si kembar bangun dan tidak melihat keberadaan kedua orang tuanya, mereka langsung menangis. Untungnya Dewi datang tepat waktu.
"Kenapa nangis? "
"Ayah sama bunda nakal, Kita ditinggal, " keluh Adin dengan berurai air mata.
"Tadi berangkatnya pagi-pagi benar. Kalian belum ada yang bangun. Apa Kalian tega membiarkan ayah dan bunda menggendong Kalian ke pasar? "
"Kami kan bisa dibangunkan. Kami bisa jalan sendiri kok. "
"Benar. Kami bisa jalan sendiri, tidak perlu digendong. "
"Memangnya Kalian tidak takut jatuh. Saat berangkat tadi hari masih gelap. Bagaimana kalau ada hantu ? "
Mendengar kata hantu keduanya langsung merinding.
"Baguslah tadi Kami tidak diajak. Kalau sampai ada hantu Hi..... serem! "
"Benar kan ? jadi jangan nangis lagi. Siapa tahu pulang nanti bawa kue enak buat kalian. "
Akhirnya Adin dan Bian pun berhenti menangis.