Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Honeymoon ke Maldives Uhuyy
SCROLL PELAN-PELAN PAK!

"Kita kembali ke kamar dulu ya Kek, mau siap-siap," ujar Arkan lembut, tapi tarikannya pada tangan Aluna tak bisa baik-baik, namun di mata Kakek Seo pasutri baru menikah seperti mereka terlihat sangat romantis sekali.
Kakek mengizinkan, "Tentu saja... puaskan diri kalian di Maldives..."
Keduanya angguk kepala, Aluna mencoba menyamakan ritme langkah kaki suaminya yang panjang, ia berkali-kali hampir terjungkal oleh pria itu yang tak mau pelan-pelan.
Kamar Aluna ditutup kencang, nampak Arkan yang sudah berstatus suaminya kini mondar-mandir tak jelas.
Aluna masih ingat jelas isi surat Clarissa tadi pagi, ia sebenarnya syok telah dikata-katai tapi yang lebih cemas bukanlah wanita itu melainkan Arkan yang seolah memusingkan hal yang tak perlu.
"Kenapa Mas? Ini jadwalnya ga terlalu cepat?"
"Kalau tidak begini kau mau kakek melihat semua kebohongan kita di sini?!" bentak Arkan sehari saja tak bisa tenang. Aluna berjalan mendekat,
"Tap—tapi kan kita bisa bersandiwara Mas? Ga perlu harus langsung pergi ke Maldives... aku juga belum siap-siap."
"Soal itu—" Arkan menarik koper besar di sisi lemari, Aluna sekarang memegang koper baru bukan miliknya pertama kali dibawa ke rumah ini. Aluna bertanya, "Koper ku yang dulu mana Mas?"
"Saya buang, sudah jelek begitu mending beli yang baru."
"Apa Mas?!" Aluna membelalak mata tak percaya, ia mengepal tangan erat. Kenapa Arkan selalu seenaknya sendiri saat memutuskan sesuatu tanpa berpikir jauh? Padahal koper lamanya itu adalah hasil dari kerja kerasnya dari bekerja serabutan, ia juga sudah menabung akan jalan-jalan ke Bali bersama teman-teman karyawan kafe tapi belum kesampaian sampai sekarang karena banyak sekali masalah menghalangi.
Koper yang masih terlihat cantik tapi buruk di matanya telah dibuang? Aluna akan marah, tapi Arkan sudah mengacak-acak isi lemarinya.
"Jangan pakai ini terlalu jelek."
"Ini, lalu ini..."
"Mas pelan-pelan dong!" seru Aluna dia menangkap satu per satu pakaian yang dirasa Arkan pantas untuk dibawa, hanya beberapa saja yang nyangkut di dalam koper sisanya sangat jelek hingga hampir menodai mata pria itu.
Arkan memegang jidat tak percaya melihat semua isi lemari yang pria itu pikirkan rongsokan semua.
"Setelah ini kita ke mal bentar, sudah saya bilang jauh-jauh hari kan? Beli barang yang seimbang dengan saya!"
"Ya aku sudah beli!" seru Aluna, Arkan mendekat tatapannya nyalang mengarah padanya. "Lalu barang apa yang kau beli?"
Aluna meneguk ludah, dia mengambil dari dalam laci. "Notebook, pulpen, gantungan kunci, terus juga ini Mas sandal jepit! Soalnya lucu, murah semua kok Mas cuma habis... sekitar 60 ribu doang hehe..."
Arkan memejamkan mata erat, pria itu menarik napas dalam. Memang susah kalau harus mengurus seorang istri miskin, tak hanya statusnya tapi juga otaknya.
"BELI YANG MAHAL-MAHAL! BAJU KEK! SEPATU KEK! TAK MASALAH KALAU KAU MENGHABISKAN UANG SAYA—"
"Hah... kenapa memang? Apa hak ku Mas pakai uangmu? Lagian juga perhiasan yang Mas belikan buat Clarissa lebih penting kan daripada aku? Untuk apa, daripada buang-buang uang. Itukan yang Mas katakan?"
Dem!
Pria itu langsung terbungkam seribu bahasa. Pasti ia takkan menyangka kalau Aluna tahu akan hal itu, dia menunduk pelan. "Kau tahu darimana Aluna—kau sengaja nguping?!"
Aluna akan menjawab, tapi ketukan pintu yang dibuat oleh Dion menghentikan mereka berdua. Koper dipegang Arkan, "Kau saja yang tidak minta pada saya, kalau kau minta dari awal pasti kau takkan kecewa. Hanya gara-gara perhiasan saja."
Aluna meneguk ludah, dia memegang dadanya berusaha tetap sabar.
...****************...
Setelah mengganti pakaian di dalam ruangan khusus, Aluna menutup dirinya malu-malu karena Arkan secara spontan melihat dirinya memakai baju renang. "Ganti, kurang cocok."
Aluna melotot, dia berganti dengan apa yang dia minta sudah sampai 6 kali.
"Ini?" tanya Aluna sambil putar badan, memastikan bahwa pria itu mau menganggukkan kepala tapi sayangnya ia dapat gelengan.
"Ganti, kurang cocok."
'Ck, Mas ini ada-ada aja... renang tinggal renang apa susahnya...'
Salah satu karyawan yang melihat mereka sepertinya sedang kesusahan, unjuk diri untuk membantu.
"Tuan, boleh saya tahu permasalahannya? Akan saya bantu."
"Bila untuk pasangan muda, di tempat kami paling cocok adalah model keluaran terbaru."
Arkan mendengarnya melambai tangan singkat,
"Tidak, saya sudah punya. Dia saja."
Aluna melotot, dia tak mau malu sendiri. Dikira berganti model pakaian renang selama satu jam diawasi karyawan di sini tak malu? Aluna mengajukan diri untuk menerima tawaran dari karyawan itu. Si karyawan segera membawakan sesuai apa yang dia ucapkan.
"Ini tuan, keluaran terbaru dari kami brand dari Javis... bahannya lembut, juga sudah termasuk sepasang pas 5 juta saja. Lalu sedikit ada renda lucu di bagian bra pasti membuat Tuan jadi semakin suka dengan Mbaknya..."
Arkan mendelik, siapa yang akan suka dengan modelan kampungan begitu? Pria itu meludah tak sudi.
"Ck, terserahlah..."
"Berapa kau bilang tadi?"
Karyawan tersenyum-senyum tak jelas. "5 juta Pak..."
Aluna melihat paper bag mahal di kedua tangannya, ia juga bolak-balik memandang Arkan saat mereka di eskalator mau berterima kasih saja harus segengsi ini.
'Banyak sekali yang Mas Arkan belikan, padahal aku tak perlu bawa sebanyak ini... yang lama juga masih bagus-bagus...'
Pria itu sadar kalau dia dilihat terus, ia bersedekap dada kesal.
"Apa lihat-lihat? Saya tahu kalau saya tampan, tapi tahan dirimu agar tidak kumat seperti kemarin malam."
Mendengarnya Aluna langsung merinding sendiri, kenapa pria itu kepedean sekali?
...****************...
Di bandara, keduanya dikawal oleh pengawalan ketat.
Keduanya berjalan dengan penyamaran sempurna, tentu saja para wartawan tak akan tahu atas kepergian mereka berdua ke Maldives.
Aluna naik ke pesawat pribadi, yang sudah Arkan pesan sendiri.
Ruangan VIP, kulit badan pesawat cantik, meja berisi kue ringan khas Italia dan gelas koktail menyatu bersamaan. Aluna mengusap ilernya, ia segera geleng kepala menahan diri.
Mereka duduk berhadapan, tapi Aluna melihat bahwa pria itu tak mengajaknya bicara sama sekali di sini malah terus melihat ke HP mahalnya. Aluna juga ikut mengeluarkan HP, tapi yang ini diganti dari merek IP kemarin yang baru dibeli, dan juga entah mengapa di dalam HP baru yang dipegang Aluna memiliki keamanan ketat.
Contohnya saja, saat ia pergi ke App Store ada yang akan bertanya. "Apa kewajibanmu di sini? App apa yang akan kamu download?"
Ia jawab, "Instagram"
Lalu bot AI langsung jawab lagi, "Siapa saja yang akan kamu hubungi, pokoknya kalau ada nama @renoooo nya jangan dicari... dia musuh..."
Aluna menatap tak percaya, secanggih inikah keamanan dunia digital? Sudah sampai mengekang kehidupan pribadinya? Aluna memilih pergi ke YouTube saja, karena tak ada yang salah dengan itu.
Lama-lama terus melihat YouTube, kepalanya berputar-putar pusing sendiri. Ia menepuk paha Arkan yang bisa dia jangkau, "Mas... ukh—aku mau muntah..."
Arkan segera duduk tegap, dia melempar HP-nya.
"Anjing! Kau ga bilang kalau mabuk kendaraan?!"
"Aku cuma biasanya mabuk pas perjalanannya jauh aja... tapi—ukh..."
"Tahan dulu! Hei! Cepat bawakan kantung!" suruh Arkan pada pengawal yang berdiri di belakangnya. Pengawal segera bergegas pergi ke belakang, Aluna sudah tidak tahan dia menghampiri pria itu dan menindihnya.
"Aluna? Apa yang akan kau lakukan..."
"HOEKK—"
"BANGSATT!!!"
...****************...
Arkan menyika kemeja hitamnya di atas wastafel, dia mencium tangannya walau hatinya menolak—tapi pikirannya menyuruhnya untuk melakukan. Aluna di belakang merutuki kelakuannya, ia membungkuk penuh penyesalan pada sang suami.
"Mas Arkan... bisa... bisa dibersihkan?"
"Gak tahu!"
Arkan kesal sendiri, dia dari tadi mengumpat bahkan aksen Inggris dan Spanyol miliknya keluar semua.
"Fucking girl! Shit! Puta! Joder!!"
Aluna tak paham apa yang pria itu katakan tapi ia rasa bukanlah perkataan yang baik. Arkan mengulurkan tangan ke belakang, "Kenapa diam saja?"
"Eh em... kenapa Mas?"
"Bangsat! Mana baju ganti saya! Kau mau saya bugil di sini?!" seru pria itu, Aluna langsung bergegas mengeluarkan salah satu pakaian suaminya di dalam koper, dia tak yakin mana yang akan pria itu suka.
Setelah diserahkan, lekas pria itu melepas celananya di depan sang istri. Aluna berteriak kencang, dia menutup mata cepat.
"Mas! Kok ga bilang-bilang mau ganti baju! Ganti di dalam kamar mandi sana lho!!" seru wanita itu heboh sendiri, alis Arkan kedut-kedut sendiri.
"Kau kira saya menggodamu begitu? Kita juga sudah menikah, bahkan setelah kau tanda tangan kontrak."
" Saya sudah lihat tubuhmu, juga kau tak perlu malu."
"Tap—tapi..."
Aluna si wanita nakal malah melebarkan salah satu jemarinya, ia melihat celana boxer yang pria itu pakai.
'Di sana menonjol... ah tidak Aluna... apa yang kau pikirkan...'
...****************...
Mereka berdua telah menginjakkan kaki di atas pasir putih, inilah Maldives! Tapi sayangnya kenapa sepi sekali di sini, hanya saja kios-kios sekitar saja yang terbuka. "Mas sepi sekali, kayak gak ada orang aja..."
"Bodoh atau apa? Saya sudah sewa pulau ini," seru pria itu percaya diri, bahkan dadanya juga ikut terangkat ke depan.
Aluna menganga tak percaya, dia melihat pemandangan yang sangat indah di depannya. Apakah ini surga?
Dia berpikir bahwa tempat ini adalah hal paling langka yang tak akan orang ketahui, dia memejamkan mata mencoba mengikuti arus ombak yang mendebarkan jantungnya.
Seorang wanita pemandu datang, mengucapkan salam dalam bahasa Inggris.
"Welcome Sir Arkan and Mrs. Aluna... Perkenalkan saya Edola, di sini saya akan mengantarkan Anda dan pasangan Anda ke dalam resort di sebelah sana."
Aluna garuk-garuk kepala, skill bahasa Inggrisnya menghilang padahal dulu saat masa sekolah dia yang paling jago. Hanya Arkan saja yang paham, pria itu angguk kepala.
"Kenapa diam saja? Mau jadi Patung Liberty atau apa?" tanya Arkan tajam, Aluna segera berlari mengekori suaminya.
Mereka berkeliling ke dalam resort, sangat luas sekali di sini mungkin ada dua lantai yang di bawah untuk tempat bersantai sedangkan yang di atas untuk kamar pasangan.
Wanita itu membukakan kamar, Aluna kini kembali dikejutkan oleh satu spring bed besar yang sudah dihias banyak sekali bunga-bunga khas negara ini.
"Mas tanyakan apa gak ada kamar lain..." Aluna sedikit trauma dengan Arkan yang takutnya kembali mabuk lagi seperti kemarin. Tapi yang ditanyakan Arkan berbeda.
"Apa di sini tidak ada kondom? Saya dan istri saya ingin menghabiskan satu malam yang sedap nanti malam..."
Merasa apa yang ditanyakan Arkan berbeda, wanita itu menaikkan alis sebelah. Edola menunjukkan sisi ranjang, Aluna menganggap bungkusan-bungkusan kecil itu adalah permen.
Aluna berbisik, "Kenapa Mbak ini nawarin kita permen Mas?"
Arkan tak menjawab.
Setelah Edola menjelaskan semuanya, wanita itu pamit pergi.
Arkan mengganti pakaiannya dengan celana renang, yang menyetak otot pahanya. Aluna ragu bila akan memakai pakaian renang yang mereka beli, biru laut yang sangat kontras dengan lautan, dan satu pasang dengan pria itu? Aluna tak yakin bisa memperlihatkan baju renang yang baru dibeli ini dengan percaya diri.
Aluna melihat Arkan sudah bermandikan air pantai, pria itu dengan berani melawan ombak sebesar itu.
'Kuat sekali Mas Arkan... aku di kolam renang sana aja... kalau kami tidak bertemu, tidak ada pertengkaran, dan tidak perlu pusing... Lemaskan ototmu Aluna, kau hidup harus santai....' pikirnya pelan, ia menuju ke kolam renang privat dan pelan-pelan memasukkan sebelah kakinya.
"Dingin..."
Aluna merasa kalau kolam renangnya pendek, padahal dia tak tahu bahwa yang ada di depannya memiliki ketinggian sepuluh meter untuk orang dewasa yang sudah ahli.
"AAA! —"
Aluna terkejut, dia menggapai kedua tangannya ke atas mencoba meminta tolong.
"TOLONG!!! MAS ARKAN TOLONG!!"
"Blurp—"
Aluna tak tahan lagi, kakinya tak kuat dan tubuhnya seolah ditarik ke dalam. Ia membuka mata merasakan cahaya matahari yang menembus dari balik bayangan kolam. Ia akan menggapainya,
'kalau aku mati... Mas pasti senang, bukan? Atau malah aku membuat Kakek sedih? '
Byur! Byur! Byur!
"Hm?"
Aluna membuka mata, dia terkejut saat pria itu malah mengecupnya di dalam air kolam. Melumat bibirnya dalam, Aluna memendam saluran hidungnya berusaha agar airnya tak masuk.
Tapi sikap Arkan yang frontal tersebut membuatnya akan kehilangan akal.
'Apa dia pikir aku harus dicium sebelum detik-detik terakhir? Dasar pria brengsek... tak pernah aku menemui pria sebrengsek dirimu Mas...' pikir Aluna, ia tak sadar bahwa dirinya sudah diangkat di sisi kolam.
Jantung Aluna dipompa, bahkan beberapa napas buatan diberikan oleh Arkan. Pria itu nampak panik, pandangan Aluna sedikit memburam.
Akhirnya ia membuka mata, Aluna muntah di sisi kolam.
"Anjing! Jalang jangan bikin panik saja kau hah! Kalau kau mati bagaimana?!"
Aluna terdiam, benar kan apa yang dia pikirkan? Pasti pria itu takut dirinya mati karena kontrak ini belum selesai, tapi kalau sudah selesai nanti pria itu akan bodoh amat dengannya.
"Emang kenapa Mas kalau aku mati? Kenapa Mas harus seprotektif itu sama aku? Lagian Mas juga sayang sama Clarissa kan? Dia lebih baik dariku, dia kaya, dia juga cantik, kemana-mana selalu seimbang outfitnya kalau sama kamu... dibanding aku?"
"Ck, bangsat jangan katakan itu lagi kalau tidak saya akan—"
"Menggigit bibirku?! Memberikan bekas cupang di leher ku?! Menarik tanganku kencang! Dibanting ke tembok!! Itu yang akan Mas lakukan?!"
Arkan langsung terbungkam, bukannya berterima kasih setelah diselamatkan wanita itu malah membentaknya. Pria itu mengusap wajah kasar, dia mencekik leher Aluna, dibanting ke sisi kolam renang. Rambut wanita itu bertebaran di atas air kolam.
Brak!
"DIAM! DIAM KAU!!! KAU TIDAK TAHU APA-APA SOAL SAYA! ITU MASA LALUKU! KAU TIDAK TAHU APA-APA, KAU HANYA BUDAK DISINI! KAU TAK PERLU IKUT CAMPUR!!!"
Aluna merasa tercekik, kepalanya pusing setelah dibenturkan. Ia mencoba menarik tangan pria itu dari lehernya tapi genggamannya sangat kencang—seperti ada dendam kesumat. .
Arkan menarik cepat apa yang dia perbuat, meredakan emosinya dengan meludah sembarangan. "Katakan soal Clarissa lagi di depan saya, besok kau mati."
Aluna terbungkam, dia masih tetap dalam posisinya yang dibiarkan seperti itu.
'Sialan kau Mas Arkan... sialan...'
Pelan-pelan hujan gerimis jatuh dari langit, Aluna tetap membiarkan dirinya sendiri dalam kesendirian ini. Ia membuka matanya yang kosong melompong seakan tak memiliki kehidupan, inikah yang katanya Tuhan itu maha adil? Pikirnya sebelum dia merasakan perutnya kesakitan karena stres.