NovelToon NovelToon
Summer Between Jonas & Arnas

Summer Between Jonas & Arnas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:30.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: @l_uci_ous

"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.

Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.

Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.

Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Tak Terhindarkan

Sebelum baca part ini, aku mau bilang sorry banget kalo banyak yang typo, soalnya aku ngeditnya setengah tidur, sedetik melek sedetik merem.

but... i hope you enjoy this chapter...

happy reading...

________

Begitu tiba di parkiran sekolah, Chilla langsung melarikan diri dari kakaknya. Ia sedang kelewat kesal pada manusia bernama Largha Adrinari yang notabenenya adalah kakak satu-satunya itu. Bagaimana tidak, dalam seminggu terakhir sudah berapa kali mereka ribut, lalu semalam kakaknya membuyarkan rencananya dan bahkan menyita ponselnya—yang belum kunjung dikembalikan sampai sekarang. Dan karena ketiadaan ponsel, ia sama sekali belum mengatakan 'semoga sukses' pada Jonas. Mengingat hal itu membuatnya ingin menangis.

Chilla langsung melesat menuju kelasnya dan menempati kursi di depan meja Arnas, memeluk sandaran tempat duduk tersebut. Pergerakannya itu ternyata membuat Arnas—yang sedang sibuk dengan ponselnya—mengangkat muka.

"Ngapain lo di sini?" tanya Arnas. Alisnya terangkat. Wajahnya jutek naudzubillah, minta ditabok. Tapi karena Chilla sedang membutuhkannya, ia akan sabar menahan godaan itu.

"Jonas udah berangkat?" Chilla balik bertanya, alih-alih menjawab pertanyaan sederhana Arnas.

"Mm," balas Arnas singkat. Kepalanya sudah kembali tertunduk pada ponsel yang terpampang dalam posisi landscape di antara kedua tangannya.

"Pinjem handphone dong, Ar," pinta Chilla. Namun ia sama sekali tak menunggu persetujuan Arnas. Ia merampas begitu saja ponsel laki-laki itu dan mengetuk tombol home.

"Chilla!" bentak Arnas. Ia meluruskan lengan, mencoba merebut kembali ponselnya, tapi Chilla dengan cepat mendekap ponsel tersebut. "Balikin!"

"Pinjem bentaaaar aja," ujar Chilla. Ditariknya kedua sudur bibir ke atas, bersama mata yang ia sipitkan. Maksudnya ingin tersenyum, walau pun ia tak yakin apa niatnya tersampaikan dengan benar. "Handphone gue masih disita. Dan gue butuh banget buat kirim pesan sekarang. Urgent."

Tak ada lagi terdengar protes dari Arnas, jadi ia santai saja mengetik pesan dan mengirimnya pada Jonas.

Kemudian ia menunggu.

Detik demi detik terus berdetak, berubah menit yang terus berlalu, sementara itu pesannya masih bercentang dua abu-abu. Matanya sampai kering menunggu perubahan warna centang itu. Lalu sejurus kemudian, usai ia mengedip... tahu-tahu centang itu sudah berubah biru.

Positif dibaca!

Sudut-sudut bibirnya yang tadi tertarik membentuk senyuman palsu, kini menyunggingkan senyum asli kala label 'online' di bawah nama Jonas berubah menjadi 'typing...'. Semudah itu baginya untuk tersenyum pada sesuatu yang berhubungan dengan Jonas.

Jonas: Makasih, Chill. Makasih buat permennya juga. Hehe.

Setelah membalas memberikan balasan standar, ia mengembalikan ponsel di tangannya. Bahkan wajah super masam Arnas yang tertangkap mata tak mampu melunturkan rasa senangnya setelah chatting kilat dengan Jonas.

Selama beberapa waktu ia hanya diam, memperhatikan Arnas yang sudah sibuk lagi dengan game di ponselnya, tak mengacuhkannya sama sekali. Ia sebenarnya merencanakan sesuatu, tapi menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Arnas. Karena kelas sudah ramai, ia tak mau ada orang mencuri dengar rencananya.

"Ar, keluar sebentar, yuk," ajak Chilla.

Tak ada balasan dari Arnas. Bahkan melirik saja tidak.

Entah ini perasaannya saja atau memang benar adanya, Chilla merasa Arnas agak lain hari ini. Arnas yang biasa akan kesal dan mengoceh ini dan itu ketika diganggu, hari ini tenang-tenang saja dan bersikap ketus pada level maksimal. Apa Arnas marah padanya? Jika iya, karena apa? Ia tak merasa membuat kesalahan apa pun. Interaksi mereka sebelum pagi ini adalah semalam, yang mana masih baik-baik saja, senormal yang mungkin terjadi di antara mereka. Tak mungkin pula Arnas marah karena rencana mereka semalam batal. Yang ada Arnas malah senang tak ketolongan. Jadi sesungguhnya ada apa dengan manusia di depannya ini?

Namun ia tak punya banyak waktu atau ruang di kepalanya untuk memikir Arnas telalu lama. Ada Jonas yang harus diprorioritaskan.

"Yuk, Ar," sekali lagi Chilla mengajak. "Gue mau ngomongin sesuatu."

"Ngomong aja di sini," tolak Arnas.

Astaga, ini orang ngeselin banget. Pengen cepet-cepet gue kirim ke surga rasanya.

Sayangnya, karena ia masih punya banyak tugas untuk Arnas, ia akan menunda pengiriman laki-laki itu ke surga.

"Rame di sini."

Arnas tak menanggapi.

Chilla mendesah. Arnas betul-betul menguji kesabarannya pagi ini. Tapi karena ia sedang malas adu bacot, ia memilih untuk menahan diri. Maka dengan penuh kesabaran, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Arnas dan berbisik, "Bolos, yuk. Gue pengen dukung Jonas langsung."

Bicara soal dukungan untuk tim olimpiade sekolah, ia sebenarnya sangat tidak puas dengan kriteria murid yang dipilih untuk jadi supporter. Diskriminasi sekali. Masa hanya murid-murid dari kelas MIA yang boleh ikut mendukung, itu pun harus murid sepuluh besar. Tidak adil, kan?

Arnas membuka mulut untuk menjawab. Dan Chilla punya dugaan bila makhluk satu itu akan menolak ajakannya. Jadi ia langsung menyela, "Inget kesepakatan."

Seketika Arnas kicep.

"Kuylah, berangkat." Chilla berdiri.

"Jangan sekarang. Ada ulangan geografi. Gue gak mau ulangan susulan di kantor," ujar Arnas. "Berangkat jam pelajaran ke dua."

∆∆∆

Arnas mendapati dirinya kesal pada Chilla perihal kejadian semalam. Namun tampaknya Chilla sama sekali tak peka bila ia sedang kesal. Gadis itu santai saja memerintahnya bagai kacung macam biasa, dan ia tak punya pilihan selain menurut. Mau bagaimana lagi, terlanjut taken kesepakatan.

Jadi di sinilah ia sekarang. Berjongkok di sisi dalam tembok pagar belakang sekolah, jadi tangga darurat untuk Chilla, sementara para murid lain sedang bersiap mengikuti pelajaran kedua di laboratorium bahasa Indonesia.

"Naik," desis Chilla.

Arnas pun bangkit berdiri, mengangkat Chilla yang berpijak di kedua pundaknya. Ia merasakan pengurangan beban dari terakhir kali Chilla naik ke pundaknya. Apa Chilla kurusan?

Perlahan, kaki-kaki Chilla terakat dari pundak Arnas, menghilangkan beban yang memberatinya.

"Udah," lagi, Chilla mendesis.

Arnas mundur selangkah, kepalanya tengadah, melihat Chilla sudah nangkring di puncak tembok pagar beton. Maka ia mundur lebih jauh, mengambil ancang-ancang untuk melompat dan menggapai puncak tembok. Karena sudah pakar dalam urusan bolos, percobaan pertamanya langsung berhasil. Kini ia tengah bergelantungan di tembok, berusaha mengangkat masa tubuhnya. Tapi itu bukanlah sesuatu yang sulit. Hanya butuh beberapa detik dan ia telah duduk di sisi Chilla.

"Hey!!"

Tersentak Arnas mendengar teriakan itu. Ia pun menoleh ke belakang. Dilihatnya Pak Satpam berlari menuju ke arahnya dan Chilla.

Sial sekali. Kenapa dalam dua kali percobaan bolosnya yang terakhir bersama Chilla selalu ketahuan coba? Yang lalu oleh Pak Supri, kali ini Pak Satpam. Astaga!

"Ar, Ar, Ar," Chilla memanggilnya berulang kali karena panik.

Secara reaktif ia pun melompat dan mendarat dengan lutut sedikit menekuk.

"Mau ke mana kalian?!" Pak Satpam kembali berteriak. "Turun! Turun!"

"Lompat buruan!" seru Arnas pada Chilla.

"Tinggi banget!" balas Chilla, ngeri. "Turun kayak biasa aja!"

"Kelamaan! Cepet lompat ke punggung gue! Lo mau nyusul Jonas, gak?" Arnas berputar, menghadapkan punggungnya pada Chilla. Kuda-kudanya siap siaga.

Sepertinya mendengar nama Jonas disebut membuat Chilla seketika mendapat keberanian. Terbukti, sejurus kemudian Chilla sudah nemplok di punggungnya. Segera ia menurunkannya dan meraih tangan gadis itu untuk berlari menjauhi area sekolah. Gawat jika mereka tertangkap sekarang, bisa habis dicincang Pak Supri.

"Heyy! Behenti!" seruan memanggil mereka dari arah belakang. Tapi Chilla dan Arnas sama sekali tak mengurangi kecepatan. Mereka berlari seperti dikejar Kematian.

Jauh mereka berlari, hingga suara teriakan Pak Satpat tak terdengar lagi. Percayalah, sekarang mereka sedang dilaporkan kepada Pak Supri sang guru BK. Tapi terserahlah, itu urusan besok.

Arnas merasakan tangan Chilla ditarik luput dari genggamannya. Segera ia berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Menampak Chilla terbungkuk, tertinggal dua langkah di belakang. Gadis itu tampak kehabisan napas.

"Paru-paru gue sekarat," keluh Chilla di antara suara engah napasnya. "Berhenti dulu ya," pintanya. "Udah gak dikejar lagi, kan?"

Arnas tak menyahut, tapi menerima dalam diam permintaan Chilla. Ia kasihan. Bisa mati anak orang kehabisan napas.

Tanpa bicara, ia mendekati Chilla. Dihelanya tangan gadis itu untuk menepi dari tengah jalan. Lalu keduanya duduk di bangku halte yang berlapis ubin, seraya memesan taksi sementara Chilla menenangkan diri.

"Kita gak akan telat, kan?" tanya Chilla.

"Enggak. Masih jam sembilan lewat seperempat. Gue juga udah pesen taksi."

"Oke," ujar Chilla.

Aneh sekali baginya obrolannya dengan Chilla berjalan seperti ini, lurus tanpa akan olokan, kesinisan, atau toyoran atau apa pun yang membuat mereka berdua jadi berapi-api. Seakan Chill dan dirinya yang sekarang adalah orang lain, bukan mereka yang sebenarnya. Jika dipikir-pikir, ternyata ia menikmati setiap pertengkaran dan adu mulut mereka.

"Ar, lo kenapa, sih?"

"Kenapa apa?"

"Jadi kalem. Gue ada salah sama lo? Sorry, deh. Walau pun sebenernya gue gak ngerasa punya salah."

Arnas membutar bola matanya. Apa-apaan coba itu? Sungguh tidak niat. "Gak usah minta maaf kalo gak niat," ujarnya.

"Niat, kok," Chilla membela diri. "Nih," ia memajukan wajahnya ke hadapan Arnas, "toyor nih kepala gue, bales apa pun kesalahan gue. Lo kan hobi noyor kepala gue. Sekarang gue kasih kesempatan. Bebas berapa kali pun. Minimal nol kali, maksimal satu kali."

Arnas mendengus tertawa. "Apaan banget dah lo." Ia menoyor kepala Chilla agar menjauh. Takut khilaf—Ish! Najis! Apa sih yang ia pikirkan?!

"Udah impas kan?"

"Karena gue gak punya pilihan."

Tak lama taksi online yang Arnas pesan datang. Dan mereka pun mulai perjalanan sesungguhnya menyusul Jonas. Pada awalnya taksi melaju lancar, membelah jalanan. Tapi kemudian taksi mulai sering berhenti karena jalanan yang kelewat padat, hingga akhirnya lumpuh total. Jalanan macet parah.

Arnas melirik arlojinya. Pukul 09.36. Akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Chilla turun dari taksi. Toh sekolah tempat Jonas berada sekarang tak tak jauh lagi.

"Lo tahu tempatnya kan, Ar?" Chilla bertanya untul ke sekian kalinya.

"Iye," balas Arnas, jemu.

"Tapi kok gak nyampe-nyampe?"

"Kita baru jalan lima menit, Chill!"

"Iya, iya," balas Chilla sewot. "Ngegas mulu lo."

Belum lama berselang...

"Lo tahu tempatnya kan, Ar?"

"Astagfirullah Chilla..." Arnas nyebut.

"Tapi kok jalannya sepi gini?"

"Ini jalan tembus ke belakang sekolahnya. Lebih cepet. Lebih adem," geram Arnas. Rasanya ingin berkoar-koar. Namun untunglah masih ada remah-remah kesabaran yang bisa dipungutinya.

"Ih, lo itu gak meyakinkan. Coba telepon Jonas dulu?"

"Males!"

Alangkah terkejutnya Arnas ketika Chilla mencopet ponsel dari sakunya. Saku depan pula. Ngeri sekali.

"Chill! Sembarangan banget sih lo!"

Chilla sama sekali tak menghiraukannya. Gadis itu tampak santai mengotak-atik ponsel di tanhannya.

"Ngomong nih," ujar Chilla, mendekatkan ponsel ke mulut Arnas.

Arnas melirik layar ponselnya. Ada nama Jonas. Belum tersambut, masih berusaha menyambungkan.

"Kenapa, Ar?" suara Jonas berbicara dari ujung sambungan.

Arnas mengeling Chilla sebelum berkata, "Ini gue di jalan sepi yang banyak pohon beringinnya itu, mau ke sekolah tempat lo lomba. Gue gak salah jalan kan?"

"Bolos lo?"

"Iya bolos. Lagi pula kelas gue gak ada guru. Kan lagi sama lo gurunya. Tapi gue gak salah jalan, kan?" Arnas mengulangi pertanyaannya.

Beberapa kali ponselnya hampir menghantam bibirnya karena Chilla yang berjalan mundur sering kehilangan ritme untuk mengikuti langkahnya.

"Iya, enggak. Lo lewat belakang sekolah. Tapi lo sendiri atau sama Yaksa ke sini?"

"Berdua, tapi gak sama Yaksa."

"Jangan bilang lo sama, Chilla?"

"Iya. Tapi jang—" ucapan Arnas terputus saat Chilla menghentikan langkah mendadak hingga ponsel dan bibirnya benar-benar ciuman dengan keras kali ini.

Arnas baru mau protes, namun seketika urung saat melihat wajah terkejut Chilla. Gadis itu seperti melihat hantu.

"Ar..."

"Kenapa?" Arnas berbalik, ikut memandang ke arah pandangan Chilla tertuju. Dan ia langsung mendapatkan jawabannya saat melihat apa yang membuat Chilla tampak ketakutan. Segerombolan remaja dalan seragam SMA lusuh dan berantakan. Ia tak mungkin salah, itu orang-orang yang sama, yang sudah berapa kali mereka jumpai dalam situasi krisis yang tak mudah dilupa kepala.

Sial.

Kenapa bisa bertemu mereka di sini? Kenapa ia selalu bertemu para ******* itu saat bolos bersama Chilla? Kenapa harus selalu saat bersama Chilla?!

Arnas berpikir cepat. Diraihnya tangan Chilla untuk berlari. Namun karena ia terlalu terburu dan Chilla belum siap, Chilla malah jatuh tersungkur dan ponsel terlempar jauh.

"Aw!" jerit Chilla. "Ar, jangan tinggalin gue... Jangan tinggalin gue..." rengeknya, memohon seraya mencoba bangkit berdiri.

"Lo kira gue sebrengsek itu bakal ninggalin lo?" ucap Arnas kesal, seraya membantu Chilla.

"WOY!" salah satu orang dari rombongan berandalan itu berseru. "ANAK MANA LO?!" Suara mereka terdengar makin dekat.

Ditanya seperti itu, sebuah pemikiran mengerikan mengilhami Arnas. Jangan bilang ia menuju kandang harimau? Jangan bilang sekolah yang ia tuju adalah sekolah para berandalan itu?! Mati! Mati ia!

Chilla sudah berdiri, ketika sebuah pertanyaan kembali melayang pada mereka.

"ANAK MANA LO?!"

"Ar," bisik Chilla, suaranya panik.

Arnas memandang Chilla yang mencengkram erat lengannya. Gadis itu tampak ketakutan. Arnas juga merasakan yang sama. Ia bukan takut untuk dirinya, ia takut untuk Chilla. Situasi kali ini jauh lebih krusial dari kejadian terakhir kali mereka bertemu para berandalan itu. Saat itu jalanan ramai, sementara jalanan di sini sepi tanpa harapan. Saat itu ada banyak tempat sembunyi, kini tak ada kemungkinan. Jalanan di sini hanya ditumbuhi pepohonan beringin yang belum terlalu besar untuk menyembunyikan tubuh mereka. Selain itu, hanya ada tembok belakang nan tinggi yang membatasi lahan ruko-ruko dan jalanan. Dan di sisi lain hanya ada lahan kosong yang menunggu pembangunan.

"BOS DIA ANAK YANG WAKTU ITU!" jerit seseorang. Diikuti banyak seruan persetujuan.

"IYA BOS!"

"IYA BOS!"

"WOY JANGAN KE MANA-MANA LO!"

Terdengan derap langkah berat kian mendekat. Adrenalin terasa membucah di dalam diri Arnas. Sumpah demi apa pun, ia takut terjadi sesuatu pada Chilla.

"Chill, bisa lari, kan?" tanya Arnas.

Chilla mengangguk.

Namun terlambat sudah. Salah satu dari gerombolan itu telah siap menghadang jalan Arnas dan Chilla. Orang itu berlari cepat sekali, pikir Arnas, tampaknya dia atlet lari di sekolahnya.

Tak butuh waktu lama ia dan Chilla sudah dikelilingi para berandalan jelek yang bajunya kusut seperti baru dilepeh anjing gila.

"Ketangkep kan lo akhirnya," ujar salah satu berandalan yang paling tinggi, besar, dan jelak—mungkin pemimpinnya. "Mana temen lo yang sok jago itu? Hah?!"

Alih-alih menjawab, Arnas malah mengangkat tangan tandak menyerah. Ia pun berkata, "Terserah lo mau ngapai gue, asal biarin dia," diliriknya Chilla, "pergi."

Pemimpir berandalan itu menyeringai. "Gue nanya apa lo jawab apa. Budek lo?!"

Bugh!

Mendadak pukulan pertaman menghantam wajah Arnas, sebelum ia sempat menghindar.

"Dan lo gak punya hak buat nyuruh-nyuruh gue di sini... Pegangin ceweknya!"

"Ar!" panggil Chilla ketakutan.

Bugh!

Arnas menendang ada orang yang mencengkram tangan Chilla hingga jatuh tersungkur. Setelah itu, situasi jadi kacau sekali. Arnas jelas kalah jumlah, sepuluh lawan satu. Pontang-panting ia melindungi Chilla yang mulai mencoba melawan dengan memikuli beberapa berandalan itu dengan ranselnya. Kemudian, salah satu berandalan yang tak terima dipukul Chilla, melayangkan tangannya untuk membalas. Arnas beraksi cepat dan menghajarnya sebelum bisa menyentuh Chilla.

Saat sedang sibuk memukul salah satu lawannya, seseorang menendang sisi kepala Arnas dengan keras hingga ia jatuh tersungkur. Kupingnya berdenging. Lantas semua terasa kabur. Para berandalan itu mengalilinginya, membabi buta menghajarnya yang ingin melihat Chilla, ingin memastikan apa gadis itu baik-baik saja. Pada puncaknya, salah seorang dari berandalan itu mengangkat batu, siap menghantam. Arnas memajamkan mata, menanti beturan menyakitkan menhampirinya, namun hal itu tak pernah datang. Saat ia membuka mata, gerombolan yang mengerumininya sudah tak ada. Kini yang dapat dilihatnya hanyalah Jonas yang dengan liar menyerang lawan-lawannya. Dan satu kerjapan kemudian, ia kembali terpejam.

∆∆∆

Hai,

gimana ceritanya sejauh ini? seru atau ngebosenin?

btw, ini menuju puncak konflik.

dan seperti selalu aku ingatkan, jangan lupa vote, komen, like, kasih bintang lima dan share.

please beri aku banyak koin bagi kalian yang anak sultan, biar karya aku ini bisa up setiap hari.

1
Ochi_Ara Alleta
huhuuuuu sampai loncat chapter gara2 penasaran endingnya....kirain bakal sad ending😭gak nyangka finally.....akhir yg bahagia....😩
S2 yuk kak....
Ochi_Ara Alleta
cerita bagus berkualitas kayak gini sepi like dan pembaca🤧Eman banget...
Ochi_Ara Alleta
telat banget tau gak....Nemu cerita kayak gini.huuhuu🤧
Ochi_Ara Alleta
Nemu cerita seru🥰
kenapa baru sekarang nemunya....
Zakiatu Anastasya
q jga pernah thor,sakit mah g terlalu tp malu y itu lah thor,,,,🤭🤭🤭😅
Ny Anwar
ngeri2 sedap... 😱😱
Santai Dyah
like
Santai Dyah
hadir
Santai Dyah
ceritanya bagus boom like untuk karya terbaikmu thor salam dari Kabut cinta
Buahnaga.putih
arnas gmn thor ?
newtoon🐇
keren
Conny Radiansyah
makasih Thor... happy ending untuk Jonas dan Chilla, btw Arnas apa ceritanya Thor...
Conny Radiansyah
kalo sampe sini ceritanya belum bisa dibilang tamat Thor...
Conny Radiansyah
lanjut
yul,🙋🍌💥💥💥
makasih.... semua karyamu bagus.


sungguh
Pitara Lusiana: Terima kasih
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
arnas mana?
Pitara Lusiana: Arnas ada di rumah. Udah move on
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
1 cangkir kopi buat arnas....
zkdlinmy
uuu akhirnya dilanjut jga.. thanks thorr
Pitara Lusiana: Sama-sama
total 1 replies
Ruliyah Yu Yah
makasih kak,tak tunggu kelanjutanya ghatan
Ruliyah Yu Yah
arnas,vita,sekarang mah nungguin ghatan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!