Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - Mengapa Semuanya Berpusat Kepadaku?
-Singgasana Tanpa Pedang
Istana Kekaisaran Valerion tidak menyambut siapa pun.
Menara-menara berkilau abu-abu berdiri seperti pengawas yang tak pernah tidur. Jalan-jalannya sangat lebar, namun terasa sempit oleh tatapan para royal guard, bangsawan, pelayan istana, dan warga yang tahu bahwa setiap langkah di kota ini adalah pernyataan sikap.
Arthur tiba tanpa iring-iringan yang terbilang megah. Dua puluh knight tetap di luar tembok dalam. Hanya pelayannya, Toxen yang menemaninya melewati gerbang kedua.
“Eee... suasana disini sangat mencekam tuan muda, walaupun bukan di medan perang...” bisik Toxen.
“Menurut ku justru itu yang berbahaya” jawab Arthur.
- -Aula megah yang Mengingat Segalanya
Aula Kekaisaran berbentuk setengah lingkaran. Singgasana berada lebih tinggi, sangat mencolok. Kaisar Valerion berjubah keemasan dan keabu-abuan duduk dengan mahkota yang berisi permata.
Itu sengaja.
Sebelum percakapan dimulai para bangsawan, dan sang kaisar sendiri hanya melihat Arthur dengan tatapan intens selama 10 menit.
“Hmmmm... Arthur Fireloren...” suara Kaisar dengan tenang.
“Anak dari seorang bangsawan yang jauh, dan seorang ibu yang tetap berdiri mandiri disana.”
Arthur menunduk seperlunya.
“Tenang saja... kau dipanggil kesini bukan untuk diadili” lanjut Kaisar.
“Melainkan hanya untuk ditanya.”
Seorang pelayan memberikan kaisar satu dokumen tua.
“Apakah kau mengetahui isi perjanjian ini?”
Arthur melihat sekilas. Tanda tangan ayahnya jelas terlihat tekanannya tidak rata, seolah dibuat setelah malam panjang tanpa tidur.
“Maafkan aku, aku baru mengetahuinya, tuan kaisar” jawab Arthur jujur.
Kaisar mengangguk.
“Yaa itu jawaban yang cukup...”
- -Pertanyaan yang Tidak Seimbang
“Jika ayahmu menyerahkan hak waris penuh demi melindungi wilayah timur kekaisaran” kata Kaisar, “maka secara hukum, kau tidak lagi terikat pada satu rumah bangsawan...”
Arthur menahan napas.
“Namun secara politik dan hukum kekaisaran...” lanjut Kaisar, “kau menjadi sesuatu yang lebih sulit: yaitu simbol.”
Beberapa bangsawan di sisi aula bergeser gelisah. Arthur mengenali lambang-lambang itu utusan dari New Gate dan Polein.
“Apakah kau berniat menuntut kembali hak itu?” tanya Kaisar.
Arthur berpikir. Tentang Moren. Tentang Hendry. Tentang desa yang terbakar tanpa mayat.
“Aku berniat memahami apa yang telah ayah ku korbankan,” katanya.
“Baru setelah itu, aku akan memutuskan apa yang layak dituntut.”
Keheningan jatuh.
Kaisar tersenyum tipis.
“Jawaban yang berbahaya.”
- -Tekanan dari Segala Arah
Di luar aula kaisar, Arthur dihentikan oleh dua utusan.
Yang pertama mewakili Duke New Gate.
“Hey tuan muda Fireloren, Kekaisaran saat ini sedang membutuhkan stabilitas antar wilayah” katanya dingin.
“Dan stabilitas membutuhkan batas, camkan itu!!.”
Yang kedua dari Polein, lebih halus.
“Tuan muda Arthur, maaf perkenalkan saya utusan dari Duke Polein ingin menyampaikan jika aliansi bisa menyelamatkan banyak nyawa manusia... Termasuk nyawamu sendiri.”
Arthur hanya menjawab dengan anggukan sopan.
Toxen mengepalkan tangan di balik jubah.
“Mereka ingin mengurungmu dengan kata-kata bohong, tuan muda.”
Arthur berbisik balik, “Dan aku ingin tahu siapa yang takut jika aku bebas.”
- -Bisikan Lama yang Kembali
Malam itu, Arthur dipanggil secara pribadi.
Bukan oleh Kaisar melainkan oleh seorang wanita tua berpakaian yang terlihat sangat mahal, wajahnya separuh tertutup kerudung.
“Tahukah kamu alasan aku memanggil mu kesini? dahulu aku pernah mengenal ayahmu” katanya.
“Dan aku mengenal orang-orang yang ingin menjatuhkannya.”
Arthur menegang.
"Maaf... Anda siapa?”
“Posisi ku disini hanya sebagai penjaga arsip yang tidak tercatat oleh buku-buku” jawabnya.
“Dan aku berbicara dengan mu beserta peringatan.”
Ia meletakkan satu benda di meja: segel patah lambang enam garis melingkar.
“Lambang lama ini... mereka tidak ingin menjatuhkanmu, Anak muda” katanya pelan.
“Mereka ingin kau... Bisa memilih jalan yang salah dengan sukarela.”
Arthur mengangkat wajah.
“Dan jika aku tidak memilihnya?”
Wanita itu tersenyum samar.
“Kalau begitu, mereka akan memilihkan untukmu.”
- -Deklarasi yang Belum Terucap
Keesokan paginya, keputusan Kekaisaran diumumkan secara terbatas.
Arthur Fireloren anak dari Marquis Moren Fireloren tidak dicabut haknya sebagai Bangsawan.
Namun juga tidak diakui sepenuhnya oleh kekaisaran.
Statusnya digantung di antara bangsawan dan rakyat bebas.
Sebuah posisi yang belum pernah ada sebelumnya.
Di kejauhan, Ervin membaca salinan keputusan itu.
Ia tertawa pelan.
“Bagus... Sangat bagus...” katanya.
“Sekarang kita bisa memaksanya untuk memilih.”
Arthur berdiri di balkon istana, menatap kota Aurellion Prime. Ia menyadari jika ada satu hal yang tidak bisa ditarik kembali:
Mulai hari ini, setiap langkahnya akan menciptakan kehidupan baru atau kehancuran baru.
Dan di balik menara, enam bayangan bergerak serempak.
Bukan untuk menyerang.
Melainkan untuk menunggu satu kesalahan kecil saja.
- -Di Antara Nama dan Pilihan
Status itu menyebar lebih cepat dari sebuah kabar perang.
Di lorong-lorong istana Valerion yang luas, Arthur tidak lagi dipanggil Tuan Muda Fireloren, namun juga belum disebut Tuan Arthur. Beberapa menyapanya dengan senyum asli ataupun palsu, dan yang lain juga menyapa dengan kehati-hatian atau bahkan tidak menyapa sama sekali dengan tatapan yang dingin.
“Digantung...” gumam seorang bangsawan muda ketika Arthur lewat.
“Itu hal yang sangat lucu bagi ku, tidak diikat, tapi juga tidak bebas.”
Arthur mendengarnya. Ia tidak menoleh.
- -Dunia yang Menguji Tanpa Bertanya
Undangan datang bertubi-tubi.
Jamuan kecil. Diskusi filsafat. Perburuan simbolik.
Semua terdengar ramah. Semuanya mengandung syarat.
“Jika kau berdiri dan berbicara bersama kami...” kata seorang perwakilan, “kekaisaran akan melihatmu sebagai penyeimbang yang bagus.”
Arthur tersenyum sopan.
“Aku masih belum bisa berdiri, tuan” jawabnya.
“Aku masih bisa merangkak.”
Jawaban itu membuat beberapa tertawa. Yang lain mulai mencatat.
- -Percakapan yang Tidak Dicatat
Toxen menemukannya di taman belakang istana, duduk sendirian di bawah pohon tua.
“Mereka tidak akan berhenti sampai anda mengikuti keinginan mereka, tuan muda” kata Toxen.
“Selama kau tidak memilih proposal mereka...”
Arthur mengangguk.
“Itu sebabnya aku harus memastikan satu hal.”
“Apa itu?”
“Apa yang akan terjadi jika aku memilih tidak menjadi apa pun yang mereka siapkan dan inginkan.”
Toxen terdiam.
- -Ujian Kecil yang Terlalu Besar
Keesokan harinya, Arthur diminta hadir dalam sidang kecil yang tidak resmi, namun cukup penting untuk diperhatikan bagi bangsawan. Kemudian seorang bangsawan dari wilayah Monira bangkit dan berbicara lantang.
“Jika Arthur dari wilayah Tirpen bukan lagi pewaris penuh, maka ia tidak berhak memimpin atau mempengaruhi perang dengan Florence.”
Ruangan hening.
Arthur berdiri.
“Aku ingin meluruskan satu hal tuan BANGSAWAN dari MONIRA, aku disana sedsng tidak memimpin...” katanya tenang.
“Aku hanya bertindak sesuai intuisi ku...”
“Tanpa legitimasi yang sah?” sergah yang lain.
Arthur menatap mereka satu per satu.
“Sepertinya anda lupa jika Legitimasi tidak selalu datang dari gelar, tuan” katanya.
“Terkadang ia datang dari siapa yang tetap berdiri ketika semua orang mencari alasan untuk duduk.”
Tidak ada tepuk tangan.
Namun ada sesuatu yang lebih berbahaya:
keheningan yang menerima.
- -Gerakan yang Tidak Terlihat
Malam itu, Arthur menerima laporan rahasia dari Marquis Florence.
Logistik New Gate tersendat lagi. Satu benteng kecil milik Polein telah kehilangan tanpa perlawanan yang berarti. Dan yang paling mengganggu, seseorang menggunakan nama Arthur untuk mengirim perintah palsu.
“Ini percobaan sabotase yang lain tuan?” kata Toxen.
“Mereka ingin melihat bagaimana kau bereaksi lagi.”
Arthur menatap lilin yang hampir habis.
“Aku bosan dengan trik remeh seperti ini Toxen, tapi jika permainan mereka seperti itu, maka kalau begitu...” katanya pelan,
“biarkan mereka melihat sesuatu yang tidak mereka duga-duga... Akan datang dan menghancurkan ekspetasi mereka”
- -Nama yang Mulai Bergerak Sendiri
Keesokan pagi hari, laporan baru menyebar.
Beberapa wilayah kecil desa, kota perbatasan, pos dagang, mulai menyebut satu istilah baru:
“Jalur F, bukan Florence tapi yang lain.”
Tidak resmi. Tidak diumumkan.
Sebuah jaringan bantuan, perlindungan, dan keputusan cepat, berjalan tanpa lambang, tanpa panji.
Arthur membaca laporan itu perlahan.
Ia tidak pernah memerintahkan pembentukan jaringan itu.
Namun…
ia tahu siapa yang bisa melakukannya.
Hendry.
Arthur menutup mata. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Jika namaku mulai bergerak tanpa izinku…
apakah aku masih pengendali arah, atau hanya simbol yang sedang digunakan dan dimanfaatkan?
Di kejauhan, enam bayangan mulai tersenyum.
Karena simbol… jauh lebih mudah dihancurkan, daripada manusia yang sadar dan berpikir...
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥