Musim ke tiga sequel dari
Omku Suamiku season 1 dan 2
Disarankan membaca
Omku Suamiku season 1 revisi
Omku Suamiku season 2
Julie, terjebak dalam perjanjian dengan tiga orang pemuda Bara, Neo dan Alan karena iklan tipu tipu.
Jadi pembatu ketiganya karena kontrak yang sudah terlanjur disetujui tanpa melihat isi kontrak kerja yang sudah ditandatangani.
Bagaimana Julie menjalani hari hari menghadapi Bara yang dingin dan jutek, Neo yang gak jelas kadang baik kadang lebih jutek dari kembarannya dan Alan yang hobi ngegombal.
Khas playboy cap badak bercula ?
Dan Alana, adik perempuan Alan yang baru berusia enam belas tahun, akan menikahi gurunya sendiri karena rasa dan permintaan sang Opa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Sepuluh bulan lagi
Menjelang subuh kedua-duanya tersentak.
Kayla sudah menyusup ke dalam pelukan Reino, cepat cepat Kayla bergeser, Reino terkekeh.
" Peluk juga gak apa apa, Kay, ntar juga lebih dari pada itu "
Kayla kembali mencubit pinggang Reino.
" Sudah, Kay, badan aku sudah biru biru, apa kata Papa kalau baru satu malam menikah, badan anaknya sudah lebam lebam "
Reino kembali menggoda, Kayla cepat berlari ke kamar mandi.
Huh, tahu menikah seindah ini, kenapa tidak dari kemarin kemarin saja Papa memaksa aku menikah.
Reino senyum senyum sendiri sampai bunyi handle pintu kamar mandi di putar, Reino segera bergantian untuk membersihkan diri.
" Kamu pernah punya pacar, Kay ? "
Pertanyaan Reino menghentikan pergerakan tangan Kayla yang sedang memasukkan bahan bahan kebutuhan rumah tangga yang sudah di catatnya.
Setelah sarapan pagi hanya dengan minum susu, keduanya pergi ke Mal, untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga, khususnya kebutuhan dapur.
" Abang ? Pasti punya kan ? Tidak mungkin pria seperti Abang belum punya pacar, mungkin mbak Malika "
Kayla melanjutkan mencari barang barang belanjaan sesuai list yang sudah dibuatnya.
Reino terkejut, bagaimana Kayla bisa tahu, bukankah sepanjang pembuatan iklan, Reino tidak pernah berinteraksi secara langsung pada Malika ? Beberapa kali Malika memang datang mengawasi pekerjaan seperti biasa, tapi hanya sekedar saja lalu pergi.
" Kay "
Reino mensejajari langkah kaki Kayla yang mendorong troli belanjaan, lalu mengambil alih, sekarang Reino yang mendorong troli.
" Benarkan ? Aku bisa melihat jika mbak Malika selalu menatap Abang tanpa berkedip, ku lihat ada cinta dimatanya, kalau tidak dia yang suka pada Abang, atau mungkin kalian berdua...."
Kayla menatap Reino yang tidak berani menatap wajah Kayla.
" Karena Abang bilang bahwa Abang tidak main main dengan pernikahan kita, aku harap semua kisah di masa lalu hanya tinggal masa lalu, Abang tidak perlu menjelaskan apa apa, aku lebih baik tidak tahu "
" Maaf, Kay ! "
Reino menyesal mengajukan pertanyaan itu.
" Jadi....Jangan pernah bertanya sesuatu yang membuat Abang menjadi serba salah sendiri, kita baru memulai rumah tangga ini, terkadang semakin banyak yang kita tahu siapa masing masing diri kita, justru membuat kita menjadi terganggu sendiri "
Reino diam, dia yang salah, kenapa dia sangat ingin tahu tentang Kayla, Kayla-nya justru tidak bertanya apa pun tentang dirinya.
" Maaf ! "
Sekali lagi Reino meminta maaf.
Kayla hanya mengangguk.
" Yang penting kedepannya bang, bukan yang sudah berlalu "
...*****...
Setelah meletakkan barang barang belanjaan ke dalam bagasi mobil, Reino dan Kayla kembali menyusuri lantai Mal yang berbeda.
Jika retail raksasa yang menyediakan semua kebutuhan rumah tangga ada berada dalam lantai basement yang bersebelahan dengan parkiran, dilantai tiga berderet toko toko yang menjual perhiasan, dan aksesoris untuk menunjang penampilan, seperti jam tangan, tas atau sepatu.
Langkah Reino terhenti ketika melewati konter kosmetik, terpampang banner iklan yang di bintangi Kayla berdiri tegak di depan pintu masuk.
Kayla juga menghentikan langkah kakinya, keduanya sama sama menatap titik yang sama.
" Andai waktu bisa di putar kembali, aku tidak mau wajahmu dilihat oleh banyak orang, Kay "
Ujar Reino sembari menggenggam tangan Kayla.
Mendadak hatinya merasa cemburu, Kayla hanya diam, ekor matanya melihat telapak tangannya yang berada dalam genggaman tangan Reino, dia sendiri tidak berusaha untuk melepaskannya.
Sampai di toko perhiasan, bukan cincin yang Reino belikan seperti ucapannya kemarin siang, tetapi sebuah kalung dengan Liontin berhiaskan ukiran nama Reino yang melingkarinya, norak, tapi Kayla tidak mau membantah karena mood Reino mendadak buruk setelah melihat banner foto Kayla tadi.
Keluar dari toko perhiasan Reino dan Kayla bertemu dengan Yuna dan temannya Sani, sama sama team perlengkapan di Agency.
" Bang Rei....Katanya ada kemalangan, tapi kenapa ? "
pandangan Yuna beralih pada kedua tangan yang saling menggenggam, tangan Reino dan tangan Kayla.
" Iya, memang ada kemalangan, eh, kenapa pada kelayapan sampai disini ? "
" Makan siang, bang "
Yuna menyenggol bahu Sani.
Reino tersenyum.
" Kejauhan kalau makan siang disini, apa gak ada kerjaan ? "
" Ckk, pakai ditanya segala, tuh dokter Dewo sudah dua kali tanya Abang kapan balik ke kantor "
Reino menepuk jidatnya.
" Abang lupa, ntar Abang buat janji sama dia, oh ya, masih ingat dengan Kayla kan ? Dia istri Abang "
Yuna dan Sani melongo.
" Abang becanda kan ? Kapan nikahnya ? Bagaimana bisa ? Kami patah hati nih "
Yuna lebay.
Reino terkekeh.
" Ceritanya panjang, kalau di ceritakan, tujuh hari tujuh malam juga bakalan gak kelar, yang penting sekarang, Abang memang sudah menikah dengan Kayla, bener kan, Kay ? "
Tangan yang semula menggenggam jemari tangan Kayla, berpindah ke bahu, mendekap sedikit erat.
Kayla tersenyum sembari mengangguk.
" Yaaaahhh, patah hati deh, selamat ya bang, mbak Kay, kok gak ngundang ngundang "
" Ntar deh, kalau ada syukuran Abang undang "
" Beneran ya ? "
" Insya Alloh, tapi sepuluh bulan lagi mungkin "
Reino mengedipkan sebelah matanya kearah Kayla.
Kayla tahu kemana arah ucapan Reino, tangannya kembali mencubit pinggang Reino.
" Auw, sakit Kay, dari malam tadi kamu sukanya nyubit, yang lain dong ! "
Kayla melotot, Reino terkekeh.
" Eh, sampai lupa ada anak kecil "
Goda Reino pada Yuna dan Sani yang melongo menyaksikan kemesraan Reino dan Kayla
" Duh, yang pengantin baru, Bang Rei, buat kita ngiri saja "
Reino hanya terkekeh.
Setelah mengucapkan selamat lalu dadah dadah alay, Kayla dan Reino meninggalkan Mal lebih duluan.
...******...
Fatimah menuruti saran Bara untuk berbicara dari hati ke hati dengan Mama Aish.
Dari kampus, Bara mengantarkan Fatimah pulang ke rumah Om Sam, kebetulan Om Sam juga baru pulang dari kantor.
Melihat Fatimah yang melangkah pelan membuka pintu pagar, senyum Om Sam melengkung lebar.
" Kamu pulang Baby "
Om Sam memeluk Fatimah seperti anak kecil, Bara tersenyum kecut.
Bagaimana bisa gadis itu minta untuk dinikahi segera kalau Papanya saja masih memperlakukan dirinya seperti bocah, Bara bisa cemburu jika terus menerus melihat Fatimah di peluk seperti itu.
Dan siang ini, Fatimah dan Mama Aish, berbicara berdua.
Aisyah menceritakan semua penyebab dirinya dan Om Sam dulu bercerai.
" Mama terlalu keras kepala, menilai diri terlalu tinggi, padahal Papamu sudah mengikuti apa maunya Mama, hingga saat Mama meminta bercerai, Papamu juga mengabulkannya "
Aisyah terus membiarkan air matanya mengalir, dia tidak berniat untuk menghapusnya.
" Papamu tidak bersalah, Mama yang bersalah untuk semuanya, cinta itu justru datang disaat talak sudah Papa ucapkan, Mama terlalu malu untuk meminta rujuk, hingga Mama memutuskan untuk tidak akan pernah menikah lagi jika tidak dengan Papamu "
Mama Aish menangis sesenggukan.
Fatimah diam menunduk, ternyata, bukan hanya dirinya yang merasa kesepian dan terabaikan, tetapi perempuan yang sedang menangis sedih itu, yang sayangnya adalah ibu yang melahirkan dirinya jauh lebih kesepian.
" Mama tidak memiliki keberanian untuk meminta maaf padamu, Fa, kamu berhak untuk terus membenci Mama, karena Mama memang layak untuk mendapatkannya "
" Cinta ternyata memang membuat orang menjadi bodoh "
Lirih Fatimah.
" Aku masih membutuhkan waktu, tetapi aku tidak membenci "
Fatimah bangun dari duduknya, melangkah pelan masuk ke dalam kamar.
Malam tadi dia memutuskan untuk kembali kerumah Om Sam, tidak lagi pulang ke rumah Om Alfian, agar kecanggungan antara dirinya dan ibunya bisa sedikit mencair, tentu saja Om Sam sangat senang, pasti semua tidak lepas dari campur tangan Bara, karena Om Sam tahu, Fatimah memiliki watak yang keras seperti Aisyah.
" Sabar Aish, perlahan lahan pasti ia akan membuka harinya untukmu, terimakasih tidak memberitahukan jika Abang pernah menikah sebelum menikahi dirimu "
Hibur Om Sam yang berdiam diri di dalam kamar ketika Aisyah dan Fatimah berbicara berdua di ruang keluarga.
" Jangan mengingat dia, Bang ! Aku bisa cemburu lagi "
Aisyah menghapus mukanya yang basah dengan beberapa lembar tissue yang baru Om Sam sodorkan.
" Waktu sudah sekian lama berlalu, masa' masih cemburu juga ? "
Om Sam terkekeh.
" Bisalah, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Abang ketimbang dengan diriku "
" Kamu yang salah sendiri, punya suami dianggurin, mau disentuh minta bayaran, dasar matre "
Goda Om Sam tergelak.
" Baanngg, jangan mengingat itu ! Aku malu "
Om Sam terkekeh.
" Iya iya, ayo kita ke kamar, kamu pasti letih kebanyakan menangis "
Om Sam menarik tangan Aisyah untuk mengajaknya berdiri.
...*****...
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...