NovelToon NovelToon
Gema Di Langit Verona

Gema Di Langit Verona

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Duniahiburan / Mafia / Cintapertama
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: SHEENA My

Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
​Namun, Verona tidak pernah melupakan.
​Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
​Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Atas Adige

​Pagi di Verona tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Elena Moretti. Sinar matahari menembus celah gorden kamar vilanya, menciptakan garis-garis emas yang jatuh di atas meja kayu tempat pita merah kusam dari masa kecilnya diletakkan. Elena bangun dengan perasaan yang ganjil—sebuah campuran antara kedamaian yang baru ditemukan dan kewaspadaan instinktif yang sudah mendarah daging. Selama sepuluh tahun, setiap paginya dimulai dengan memeriksa senjata dan memetakan rute pelarian. Namun pagi ini, ia hanya ingin mendengar suara tawa ibunya dan merasakan kehadiran Matteo Valenti.

​Elena melangkah turun ke ruang makan, tempat aroma roti panggang dan kopi segar memenuhi udara. Di sana, Matteo sedang duduk bersama Marcella. Mereka tampak asyik berbincang tentang taman mawar yang ingin dibangun kembali oleh ibunya. Melihat Matteo dalam balutan kafein dan cahaya pagi, tanpa rompi antipeluru atau wajah tegang, membuat jantung Elena berdegup dengan cara yang berbeda. Bukan karena takut, tapi karena rasa memiliki yang dalam.

​"Kau tidur sangat nyenyak," goda Matteo saat Elena duduk di sampingnya. Matteo menggeser secangkir kopi ke arah Elena, jemari mereka bersentuhan sejenak—sebuah kontak fisik sederhana yang kini tidak lagi terasa canggung.

​"Mungkin karena tidak ada suara ledakan di tengah malam," balas Elena sambil tersenyum tipis.

​Namun, ketenangan itu terusik saat Marco masuk ke ruangan. Wajah pria tua itu tidak bisa menyembunyikan kecemasan, meskipun ia berusaha bersikap biasa di depan Marcella. Marco memberikan isyarat mata yang halus kepada Elena dan Matteo.

​"Marcella, maafkan kami. Ada beberapa urusan inventaris gudang yang harus kami periksa sebentar," ucap Marco dengan nada sopan.

​Mereka bertiga berkumpul di ruang kerja bawah tanah yang dingin. Marco membentangkan beberapa dokumen hukum yang baru saja diterima melalui kurir anonim dari Roma. Dokumen itu bukan tentang pembunuhan atau konspirasi senjata, melainkan sesuatu yang jauh lebih bersih namun mematikan: Gugatan Pembekuan Aset Internasional.

​"Pengacara Isabella tidak bekerja sendirian," Marco memulai, suaranya berat. "Mereka menggunakan celah hukum di Swiss. Ada sebuah firma hukum di Zurich bernama Vogel & Partners yang mengklaim bahwa seluruh kekayaan keluarga Moretti di luar negeri adalah hasil dari pencucian uang yang melibatkan bank sentral Eropa. Jika hakim di Swiss menyetujui ini dalam empat puluh delapan jam, kau akan kehilangan akses ke setiap sen yang ayahmu simpan untukmu, Elena."

​Elena mengerutkan kening. Elena tahu bahwa uang bukanlah segalanya, tetapi tanpa dana itu, ia tidak akan bisa membiayai perlindungan ibunya atau membersihkan nama keluarganya di mata internasional. "Maksud dari ini adalah melumpuhkan kita secara finansial agar kita tidak bisa melawan balik."

​"Lebih dari itu," sahut Matteo yang sedang mempelajari struktur firma hukum tersebut di tabletnya. "Lihat siapa direktur utamanya. Karl Vogel. Dia bukan sekadar pengacara; dia adalah 'pencuci piring' untuk organisasi yang jauh lebih besar dari Dewan Tujuh. Jika dia bergerak, itu berarti ada perintah dari tingkat yang lebih tinggi."

​Matteo menatap Elena dengan penuh pertimbangan. "Kita punya dua pilihan. Kita bisa membiarkan pengacara kita di Italia bertarung secara birokrasi yang memakan waktu bertahun-tahun, atau kita pergi ke Zurich dan memotong kepalanya langsung."

​Elena terdiam sejenak. Ia menatap ke jendela kecil yang memperlihatkan langit Verona. Baru kemarin ia dan Matteo berjanji untuk mulai hidup sebagai sepasang kekasih yang normal. Baru kemarin mereka mengenang masa kecil mereka di bawah pohon ek. Haruskah mereka kembali masuk ke dalam lubang kelinci yang gelap ini begitu cepat?

​"Kita butuh satu hari lagi," ucap Elena tiba-tiba.

​"Elena, kita hanya punya empat puluh delapan jam," Marco mengingatkan.

​"Aku tahu. Tapi jika kita akan berangkat ke Swiss dan mungkin tidak kembali untuk waktu yang lama, aku ingin memiliki satu kenangan normal tentang kota ini bersama Matteo. Bukan sebagai Moretti dan Valenti, tapi sebagai Elena dan Matteo," tegas Elena.

​Sore itu, Elena mengenakan gaun musim panas yang sederhana, sementara Matteo mengenakan kemeja linen biru. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di pusat kota Verona, bertingkah seolah mereka adalah turis yang sedang jatuh cinta.

​Mereka berjalan menyusuri Piazza delle Erbe, pasar terbuka yang ramai dengan pedagang buah dan bunga. Matteo membelikan Elena sebuket bunga lavender, lalu mereka duduk di sebuah kafe kecil di pinggir jalan, menikmati gelato sambil memperhatikan orang-orang yang lewat.

​"Kau ingat saat kita berumur tujuh tahun dan mencoba mencuri apel dari pasar ini?" tanya Matteo sambil tertawa kecil.

​Elena tersenyum lebar. "Dan kau tertangkap oleh penjaga sementara aku berhasil lari. Kau selalu menjadi umpan yang baik, Matteo."

​"Aku tidak keberatan menjadi umpan, asalkan kau yang selamat," balas Matteo dengan nada yang lebih serius, namun tetap lembut.

​Mereka melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Castelvecchio. Di atas jembatan batu yang megah itu, mereka berhenti sejenak, memandangi aliran sungai Adige yang berwarna kehijauan. Angin sore meniup rambut Elena, dan untuk sesaat, beban dunia terasa terangkat dari bahunya.

​"Elena," Matteo memegang kedua tangan Elena, memaksa wanita itu menatap matanya. "Apapun yang terjadi di Swiss nanti, aku tidak ingin kau melupakan perasaan hari ini. Aku tidak ingin kau membiarkan kegelapan itu mengambil kembali cahaya yang baru saja kita temukan."

​Elena merapatkan tubuhnya ke arah Matteo. "Aku berjanji. Tapi kau juga harus berjanji, Matteo. Jangan ada lagi rahasia. Jangan ada lagi pengorbanan yang dilakukan tanpa memberitahuku. Kita menghadapi ini sebagai satu tim."

​Matteo mengecup kening Elena dengan penuh rasa hormat. "Sebagai satu tim. Selamanya."

​Kencan itu berlanjut hingga malam hari. Mereka makan malam di sebuah restoran tersembunyi yang menghadap ke bukit San Pietro. Di sana, di bawah cahaya lilin dan suara petikan gitar dari musisi jalanan, mereka saling berbagi mimpi tentang apa yang akan mereka lakukan setelah semua kekacauan ini berakhir. Matteo ingin membangun sebuah bengkel restorasi mobil klasik, sementara Elena ingin menulis buku tentang sejarah sebenarnya dari keluarga-keluarga di Verona, sebuah upaya untuk memulihkan kehormatan ayahnya melalui kata-kata, bukan peluru.

​Namun, malam yang indah itu berakhir saat mereka kembali ke vila. Luca sudah menunggu di depan pintu dengan ekspresi yang sangat tegang.

​"Ada apa, Luca?" tanya Matteo, segera kembali ke mode siaganya.

​"Mereka sudah tahu kita di sini," Luca menunjukkan sebuah anak panah kecil yang tertancap di pintu kayu utama vila. Di anak panah itu terdapat sebuah pesan tertulis di atas perkamen mahal: “Zurich menunggu. Jangan biarkan pengacara kami menunggu terlalu lama. – K.V.”

​Elena mencabut anak panah itu dengan tangan yang stabil. Maksud dari pesan ini sangat jelas: Karl Vogel bukan hanya ingin uangnya, dia ingin memancing Elena dan Matteo ke wilayah kekuasaannya di Swiss agar bisa menghabisi mereka secara legal atau ilegal.

​"Persiapkan pesawat pribadi, Luca," perintah Elena. Suaranya kini kembali tajam, penuh dengan otoritas Moretti yang tidak bisa dibantah. "Kita berangkat ke Zurich besok pagi."

​Matteo berdiri di samping Elena, tangannya menggenggam bahu Elena untuk memberikan kekuatan. "Kita akan menghadapi mereka di tanah mereka sendiri, Elena. Dan kali ini, mereka tidak akan menyangka bahwa kita membawa lebih dari sekadar senjata."

​Elena menatap Matteo. Di satu sisi, ia merasa sedih karena kencan mereka harus berakhir secepat ini. Namun di sisi lain, ia merasa beruntung karena tidak lagi menghadapinya sendirian. Masa pacaran mereka mungkin baru saja dimulai, tetapi tantangannya sudah setinggi pegunungan Alpen.

​Malam itu, Elena dan Matteo tidak tidur secara terpisah. Mereka duduk di ruang kerja, meninjau kembali setiap detail tentang firma hukum Vogel, memetakan rute perjalanan, dan mempersiapkan identitas palsu mereka. Hubungan mereka kini telah berevolusi; mereka adalah kekasih yang saling mencintai, namun juga merupakan rekan taktis yang paling mematikan di Italia.

​Sebelum fajar menyingsing, Elena sempat masuk ke kamar ibunya, mencium kening Marcella yang sedang tertidur lelap. Elena berjanji di dalam hati bahwa ia akan kembali, dan ia akan memastikan bahwa tidak akan ada lagi orang yang bisa mengancam kedamaian ibunya.

​Saat SUV mereka melaju meninggalkan Verona menuju bandara pribadi di pinggiran kota, Elena menoleh ke arah Matteo yang sedang memeriksa pistol Glock miliknya.

​"Kau siap untuk kencan kita di Swiss?" tanya Elena dengan senyum miring yang menantang.

​Matteo mengisi magasin senjatanya dengan bunyi klik yang mantap. "Selama ada kau di sampingku, aku siap menghadapi seluruh pengacara di dunia, Elena."

​Pesawat pribadi itu pun lepas landas, membelah langit fajar menuju Swiss. Mereka meninggalkan kehangatan Verona untuk menuju dinginnya Zurich, tempat rahasia besar terakhir tentang kekayaan Moretti dan konspirasi internasional yang lebih gelap sedang menanti untuk diungkap. Babak spionase internasional baru saja dimulai, dan taruhannya bukan lagi sekadar nyawa, melainkan seluruh warisan yang telah diperjuangkan selama sepuluh tahun.

1
May Tales
waw
Panda: terimakasih udh mampir kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!