Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.
Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Danau Cermin, bentang alam hijau Aethelgard perlahan berganti menjadi perbukitan batu yang curam. Di hadapan mereka, berdiri dengan angkuh Puncak Langit, sebuah gunung raksasa yang puncaknya tertusuk masuk ke dalam awan dan selalu tertutup salju abadi. Angin yang bertiup dari arah gunung itu membawa serpihan es yang tajam, menusuk kulit bahkan melalui jubah tebal yang mereka kenakan.
"Aku menarik kata-kataku tentang Danau Cermin," keluh Gideon sambil merapatkan jubah bulu serigalanya hingga menutupi dagu. "Aku lebih memilih basah kuyup daripada menjadi es serut di sini. Aurora, kau tidak apa-apa? Wajahmu sudah sepucat kertas."
Aurora mencoba tersenyum, meski giginya bergelatuk. "Aku... aku baik-baik saja, Kak Gideon. Kekuatan Permata Safir sepertinya menjagaku agar tetap hangat di dalam, tapi udara di luar memang luar biasa dingin."
Alistair yang memimpin di depan menghentikan kudanya di sebuah ceruk tebing yang terlindung dari angin. "Kita tidak bisa melanjutkan pendakian malam ini. Badai salju di atas sana sedang mengamuk. Kita akan berkemah di sini dan berangkat saat fajar."
Malam itu, mereka mendirikan tenda kecil di dalam ceruk batu. Alistair menyalakan api sihir yang memancarkan cahaya oranye hangat, satu-satunya sumber kenyamanan di tengah kegelapan gunung yang mencekam.
Gideon, yang selalu tahu cara mengubah suasana, segera mengeluarkan beberapa potong roti dan keju yang sudah agak keras.
Ia menusuknya dengan ranting dan memanggangnya di atas api. "Nah, hidangan istimewa dari Restoran Naga Gunung'. Silakan dinikmati, Putri Aurora," ucapnya dengan gaya pelayan istana yang berlebihan.
Aurora tertawa kecil. "Terima kasih, Kak. Kau selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik."
Namun, suasana santai itu mendadak berubah saat Alistair duduk di samping Aurora. Sang pangeran tertua itu melepaskan jubah luarnya yang tebal dan menyampirkannya ke bahu Aurora, menambah lapisan kehangatan bagi adiknya.
"Kau harus menjaga staminamu, Aurora. Besok adalah ujian yang berbeda. Jika Danau Cermin menguji kemurnian hatimu, Puncak Langit akan menguji ketahanan tekadmu," ucap Alistair dengan nada rendah dan penuh perhatian. Ia mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai rambut Aurora yang membeku.
Gideon yang sedang mengunyah keju mendadak berhenti. Matanya menyipit melihat betapa perhatiannya Alistair. “Ehem!” Gideon berdehem sangat keras hingga gema suaranya memantul di dinding gua.
"Kak Alistair, bukankah kau bilang tadi kita harus menghemat energi? Mengapa kau malah sibuk memberikan jubahmu? Nanti kalau kau sakit, siapa yang akan melawan monster es? Biar aku saja yang menjaga Aurora, aku punya 'panas jiwa' yang lebih membara," ucap Gideon sambil mencoba menggeser posisi duduknya agar berada di antara Alistair dan Aurora.
Alistair hanya melirik adiknya dengan tatapan datar. "Aku tidak akan sakit hanya karena udara dingin, Gideon. Dan panas jiwamu itu lebih mirip panas demam bagi kakiku karena kau terus menendangku sejak tadi."
Aurora hanya bisa menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang merona. Ia merasa sangat beruntung, namun juga geli melihat kedua kakaknya ini. Di satu sisi ada Alistair yang sangat dewasa dan protektif, di sisi lain ada Gideon yang kekanak-kanakan namun sangat tulus.
"Kak Alistair," panggil Aurora pelan. "Tentang permata kedua... apa yang harus aku lakukan jika aku gagal?"
Alistair menatap api unggun sejenak sebelum beralih ke mata biru Aurora. "Kau tidak akan gagal. Kau telah melewati delapan belas tahun neraka di Noxvallys tanpa kehilangan jiwamu. Gunung ini hanyalah tumpukan salju dibandingkan dengan kekuatan yang sudah kau miliki."
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari luar gua. Bukan suara angin, melainkan langkah kaki yang berat dan getaran yang merambat di tanah. Alistair dan Gideon seketika berdiri, tangan mereka langsung berada di hulu senjata masing-masing.
"Tetap di belakangku, Aurora!" perintah Alistair.
Dari balik kegelapan badai salju, muncul sesosok makhluk raksasa. Tubuhnya terbuat dari bongkahan es dan batu, matanya bersinar biru pucat yang dingin. Itu adalah Golem Es, penjaga gerbang bawah Puncak Langit.
"Sepertinya Morena tidak hanya mengirim pasukan bayangan, tapi juga membangkitkan penjaga kuno ini dengan sihir hitamnya," geram Gideon sambil menyiapkan busur panahnya.
Golem itu meraung, suaranya membuat langit-langit gua bergetar menjatuhkan butiran debu. Ia menghantamkan tangannya yang sebesar batang pohon ke arah pintu gua.
"Gideon, serang matanya!, Aurora gunakan Permata Safir untuk melunakkan tumpuan kakinya!" teriak Alistair sambil melesat maju dengan pedang emasnya.
Pertarungan di kaki gunung pecah. Alistair melompat dengan lincah, menebas sendi-sendi es sang Golem. Gideon melepaskan rentetan panah cahaya yang meledak tepat di wajah makhluk itu, membuatnya terhuyung.
Aurora mengangkat tongkatnya. Ia memusatkan pikirannya pada air yang membeku di bawah kaki Golem tersebut. “Cairkan!” pintanya dalam hati.
Cahaya biru dari Permata Safir memancar hebat. Tanah bersalju di bawah Golem itu mendadak mencair menjadi lumpur dingin yang dalam. Makhluk raksasa itu terperosok, kehilangan keseimbangan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Alistair. Ia melompat tinggi, pedangnya bercahaya seperti matahari, dan menebas inti kristal di dada Golem tersebut hingga hancur berkeping-keping.
Golem itu hancur menjadi tumpukan es biasa. Kesunyian kembali menyelimuti malam, menyisakan napas mereka yang terengah-engah di udara dingin.
Alistair mendarat dengan anggun dan segera menghampiri Aurora. "Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil memegang kedua bahu Aurora, memeriksa dengan sangat teliti seolah-olah adiknya itu terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja.
"Aku tidak apa-apa, Kak," jawab Aurora sambil tersenyum kecil.
"Tentu saja dia tidak apa-apa! Dia baru saja mencairkan gunung!" Gideon muncul sambil membersihkan salju dari bajunya, lalu ia menyelipkan diri di antara Alistair dan Aurora lagi. "Tapi jujur saja, Aurora, bagian mencairkan itu tadi sangat keren. Aku hampir ingin meminta tolong padamu untuk mencairkan hatinya Kak Alistair yang beku ini agar dia tidak terlalu galak padaku."
Alistair menghela napas, namun kali ini ia tidak membalas ejekan Gideon. Ia menatap ke arah puncak gunung yang masih tertutup badai. "Penjaga bawah sudah bangkit. Ini artinya Malakor sudah tahu kita ada di sini. Besok, perjalanan akan menjadi lebih sulit."
Gideon merangkul bahu Aurora dengan satu tangan dan bahu Alistair dengan tangan lainnya (meskipun Alistair mencoba menghindar). "Tenang saja. Kita adalah tim terbaik. Satu naga dingin, satu naga tampan, dan satu putri bercahaya. Apa yang bisa salah?"
Aurora tertawa, rasa takutnya menguap digantikan oleh kehangatan persaudaraan yang begitu kuat. Di tengah badai salju yang mengamuk, ia menyadari satu hal: selama tujuh kakaknya bersamanya, Puncak Langit sekalipun hanyalah sebuah tangga menuju kemenangan.
Malam itu, mereka kembali ke dalam goa. Di bawah perlindungan api sihir dan kasih sayang yang tulus, sang Putri tertidur lelap, siap untuk menghadapi ujian yang lebih besar saat matahari terbit nanti.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.