Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malang Menagih Janji, Kepergian yang Membara di Tengah Malam
[Dalam kondisi Ning Bijel yang berantakan, malam harinya ia mendapatkan telepon dari Malang. Ada rapat penting yang harus diselenggarakan dan mereka membutuhkan kehadiran Bijel. Bijel keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sedikit berantakan. Sebelum keluar kamar, ia menghapus air matanya dan berusaha menahan amarah yang masih bergejolak di dalam dadanya. Ia berangkat terburu-buru, keluar tanpa berbicara dengan siapapun meskipun keluarganya sedang menunggunya keluar dari kamar. Ia keluar dari ndalem menuju ndalem tengah.]
(Di Ruang Keluarga)
Umi Nida: (dengan nada cemas) "Bijel, kamu mau kemana, Nak? Tunggu, bicaralah dulu dengan Umi."
Abi Rasya: (dengan nada khawatir) "Bijel, jangan pergi. Biarkan Abi menjelaskan semuanya."
Bijel: (tetap diam, berjalan melewati keluarganya tanpa menoleh)
[Sesampainya di ndalem tengah, Bijel meminta kunci mobil dengan paksa kepada Kang Resya. Kang Resya tahu tentang kejadian tadi dan tidak memberikan kuncinya karena kondisi Bijel yang tidak baik. Namun, Bijel nekat mengambilnya. Ia langsung membawa mobil dengan keadaan kacau menuju Malang di tengah malam, dengan kecepatan yang sangat tinggi.]
[Bijel mengambil paksa kunci mobilnya. Ia benar-benar berdebat panjang dengan Kang Resya, disaksikan oleh para santri putra yang lewat di jalanan menuju ndalem tengah. Perdebatan tersebut juga disertai dengan bentakan.]
(Di Ndalem Tengah)
Bijel: (dengan nada marah) "Kang Resya, berikan kunci mobilnya sekarang!"
Kang Resya: (dengan nada tegas) "Maaf, Ning, saya tidak bisa memberikan kunci mobilnya dalam kondisi seperti ini. Ning Abigail sedang tidak baik-baik saja."
Bijel: (dengan nada membentak) "Bukan urusanmu! Saya mau ke Malang, ada urusan penting! Cepat berikan kunci mobilnya atau saya adukan kamu ke Abah Yai!"
Kang Resya: (dengan nada khawatir) "Tapi, Ning, Ning Abigail kan sedang..."
Bijel: (dengan nada histeris) "Saya bilang berikan kunci mobilnya sekarang!!! Kamu tidak mengerti apa-apa!!!"
Santri 1: (berbisik kepada temannya) "Gila, Ning Abigail marah banget."
Santri 2: "Iya, serem banget lihatnya."
Kang Resya: (dengan nada pasrah) "Ning, saya mohon, jangan seperti ini. Saya hanya ingin melindungi Ning Abigail."
Bijel: (merebut kunci mobil dari tangan Kang Resya) "Saya tidak butuh perlindunganmu! Pergi sana!"
Kang Resya: (menghela napas, dengan nada menyesal) "Ya Allah, semoga Ning Abigail baik-baik saja."
Santri 3: "Kang, Ning Abigail kenapa sih?"
Kang Resya: (dengan nada sedih) "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Ini bukan urusan kalian."
[Bijel langsung masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas menuju Malang. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia merasa sangat marah, sedih, dan kecewa. Ia ingin melarikan diri dari semua masalah yang sedang menghantuinya.]
[Dalam perjalanan, pikiran Bijel berkecamuk. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa telah kehilangan segalanya. Ia tidak percaya bahwa orang-orang yang paling ia sayangi telah membohonginya. Ia merasa sangat sendirian dan tidak berdaya.]
[Bijel terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri. Ia hanya ingin segera sampai di Malang dan menyelesaikan semua urusannya. Ia berharap dengan menyelesaikan urusannya, ia bisa melupakan semua masalah yang sedang menghantuinya.]
[Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Bijel merasa sangat lelah dan mengantuk. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk menyetir. Ia memutuskan untuk menepi dan beristirahat sejenak di pinggir jalan.]
[Bijel memarkirkan mobilnya di tempat yang aman dan mematikan mesin mobil. Ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan memejamkan matanya. Ia berharap bisa tidur sejenak dan melupakan semua masalah yang sedang menghantuinya. Namun, semakin ia mencoba untuk tidur, semakin ia merasa gelisah dan tidak tenang.]