Berawal dari ditemukannya seorang bayi oleh pasangan suami istri, Farhansyah Nataniel dan Inayah Givani di sebuah taman. Bayi tersebut mereka rawat dan diberi nama Reyhan Fier Nataniel hingga tumbuh dewasa.
Tiga tahun kemudian, Inayah mengandung dan melahirkan seorang putri yang diberi nama Gita Syafitri. Reyhan dan Gita tumbuh bersama dengan saling menyayangi satu sama lain.
Suatu ketika, Reyhan dan Gita dewasa menikah, dari sini segala cerita masa lalu mulai terkuak.
Bagaimana cerita keseluruhannya? Ikuti terus perjalanan cinta Reyhan dan Gita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Udden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Test DNA
Keesokan harinya adalah hari di mana Farhan dan Kevin akan melakukan test DNA, mereka melakukan test ini sebagai bukti agar Rey percaya dan tak menghindar dari kenyataan, kini mereka berdua telah berada di Rumah sakit X, lebih tepatnya di tengah kota.
"Mari, Pak, saya ambil sample darah Anda!" ucap dokter yang bertugas di bidang itu, tetapi sebelum mereka masuk, Farhan malah berkata sesuatu yang membuat Kevin jadi bingung.
"Maaf, Dok, sebelumnya saya mau minta tolong rahasiain test ini dari semua orang," ucap Farhan.
"Emangnya kenapa, Pak?" tanya Kevin bingung atas apa yang dikatakan Farhan.
"Kita nggak tau musuh sekarang sedang apa, apalagi sekarang ada yang mengkuti Rey," jelas Farhan.
"Bener juga, baiklah tolong rahasiain ini ya, Dok!" ucap Kevin membenarkan.
"Baiklah, Pak, saya akan merahasiakan ini, mari!" ucap Dokter itu.
Akhirnya test itu berjalan dengan lacar, hanya tinggal menunggu hasilnya seminggu lagi, awalnya Farhan dan Kevin protes karena terlalu lama hasil test itu selesai, tetapi karena mendengar penjelasan dari dokter, akhirnya mereka menerima hal itu.
******
Di sisi lain, di sebuah penjara, Rey dan Gita pergi ke sana ingin sesekali membesuk Devan, tak lupa pula mereka di temani oleh Anggi, sebab setelah mendengar kabar dari Anggi bahwa hanya tinggal menunggu Devan keluar dia akan segera menikah, hal ini pun tak luput dari persetujuan orang tua Devan, karena orang tua Devan ingin Devan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, dan emang karena Anggi sudah tinggal sebatang kara, dia tak lagi memiliki keluarga.
"Nggi, usia kandunganmu udah berapa bulan?" tanya Rey.
"Ehmmm, jalan tiga bulan Rey," jawab Anggi.
"Pantes belum terlihat, bro seneng gak lo bakal punya anak, jangan buatnya aja elo senengnya," ucap Rey seloroh.
"Apaan sih, Yang! Sakit tau," keluh Rey karena tiba-tiba Gita mencubit pinggangnya.
"Makanya kalau ngomong disaring dulu," ucap Gita tersenyum kecut.
"Ehmm, sebenarnya dulu gue nggak kepengen punya anak, karena dulu gue belum siap, dan lagi gue masih pengen main'main, tapi setelah kejadian hal itu, gue sadar kalau gue nggak bisa lari dari itu semua, sampai pada akhirnya gue nerima kenyataan, bahkan sekarang gue nggak sabar ngeliat bayi gue lahir, denger dia berkata papa untuk yang pertama kalinya," ucap Devan tersenyum merangkul tubuh Anggi.
"Allhamdullilah kalau begitu, anak itu rahmat, tanpa seorang anak, keluarga tak akan lengkap, dan kami pun sampai sekarang belum dikaruniai anak, padahal pernikahan kami sudah menginjak dua bulan," ucap Gita sedih.
"Kok kamu sedih sih, Yang? Kamu tenang aja, baru juga hampir dua bulan, mama sama papa aja nunggu kamu tiga tahun masak kamu kalah, udah jangan dipikirin, ikutin aja alurnya, mungkin yang kuasa masih nyuruh kita buat pacaran, kan kita langsung nikah kemaren," ucap Rey menyenderkan kepala Gita di bahunya.
"Iya, Git, kamu tenang aja, insya Allah pasti secepatnya kalian bakal dikaruniai anak," ucap Anggi ikut mendoakan.
Tiba-tiba....
"Maaf, Pak, waktu besuk sudah habis, bapak bisa kembali esok lagi," ucap salah satu Polisi yang bertugas.
"Iya, Pak, yaudah Dev, gue sama Anggi pulang dulu ya," ucap Rey pamit.
"Rey, tolong anterin Anggi ya!" pinta Devan.
"Tentu, yaudah yuk, gue pamit Dev, " ucap Rey lagi.
"Nak, jangan ngerepotin mama ya! Cuph...." Devan mencium perut Anggi, sedangkan Gita yang melihat itu merasa terharu sebab akhirnya Devan bisa berubah.
Merekapun pergi dari tempat itu menuju kontrakan Anggi, padahal ini masih jam kerja, dan Anggi sudah menuntut agar dikembalikan ke Cafe, tetapi Rey dan Gita kekeuh untuk memulangkannya, bahkan jam kerjanya dikurangi, tetapi gaji tak akan turun mengingat Anggi sedang mengandung.
******
KEVIN POV
Setelah dari Rumah sakit, aku dan Farhan memutuskan untuk pergi ke sebuah restaurant, mengingat jam sudah menunjukkan pukul tengah hari, sudah waktunya makan siang, kami pun makan di sebuah Restaurant yang bahkan pemiliknya adalah Pak Farhan sendiri, sungguh anakku sangat beruntung bertemu dengan keluarga Pak Farhan, sudah kaya sayang lagi sama anakku.
Akan tetapi setelah selesai makan, aku menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya aku saat melihat seorang wanita paruh baya yang sangat aku benci dimasa lalu hingga sekarang, karena dia yang telah membuat keluargaku hancur. Lagian mengapa dia bisa ada di sini setelah bertahun-tahun menghilang, aku pun langsung membalikkan tubuh kembali dan memakai masker, hal yang ku lakukan tak luput dari perhatian Pak Farhan.
"Ada apa sih, Pak, kok Anda tiba-tiba pakai masker?" tanyanya heran.
"Hhmm, bapak lihat wanita yang tepat di belakang saya itu?" tanyaku balik.
"Iya, tapi kok nggak asing ya," ucap Pak Farhan.
"Dia itu yang membuat keluarga saya hancur, salahnya tak ada bukti, kalau tidak sedari dulu sudah saya cebloskan dia ke penjara!" ucapku menahan amarah.
"Hah beneran, Pak? Kalah nggak salah dia yang akhir-akhir ini mengikuti Rey, kemaren anak buah saya yang kasih tau, dan lebih parahnya dia tinggal berdekatan dengan rumah saya," jelas Pak Farhan yang membuat darahku semakin mendidih, bisa-bisanya dia kembali ingin mengusik keluargaku, lihat saja aku tak akan ngebiarin itu terjadi.
KEVIN POV
******
Di sisi lain, ada Ina di rumah yang tengah uring-uringan menunggu kabar dari sang suami, sekitar dua jam lebih sudah dia menunggu telpon dari Farhan, tetapi yang ditunggu tak kunjung menelpon, sedangkan saat di telpon malah ponselnya tak aktif.
Hal ini makin menambah kekhawatiran Ina, di saat dia tengah uring-uringan, sang suami dengan tak tau dirinya malah tak sadar ponselnya lowbat, dan dia malah tengah asik makan di Resraurant bersama Kevin.
"Ishhh, kemana sih papa, kok cuma test gitu aja lama banget, ditelpon nggak aktif lagi, liat aja entar kalau pulang, tidur di lantai!" ucap Ina emosi, dia terus menunggu, tetapi yang pulang malah bukan suaminya melainkan anak-anaknya.
"Assalamualaikum, Mah," ucap Rey dan Gita bareng.
"Waalaikumsalam," jawab Ina jutek.
"Kok mama kayak jutek gitu, dan mama ngapain di depan pintu sih?" tanya Gita peka atas apa yang dilakukan Ina.
"Ini, papa kamu jam segini belum pulang, katanya hanya sebentar tapi tak pulang-pulang, liat aja, entar malem tidur di luar!" jelas Ina semakin jutek.
"Ikh, Mama kok marah-marah terus, udah yuk masuk, Rey udah lama nggak makan masakan mama, ayo dong, Mah, masakin Rey!" pinta Rey manja memeluk sang mama dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu Ina.
"Ukh, udah punya istri juga masik manja aja," ucap Ina yang emosinya mereda dengan sikap Rey.
"Wah wah, cerdas sekali suamiku, dengan mudahnya dia menurunkan emosi sang singa betina." Gita geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang suami.
**********
Hai kaka reader, maaf ya aku kemaren nggak up, badan aku kurang vit, sekali lagi maaf ya, jangan lupa Like sama komen yang banyak, vote sama hadiahnya juga, biar aku tambah semangat nulisnya!
Terima kasih.