Bara, pelaut rasional, terdampar tanpa koordinat setelah badai brutal. Menjadi Musafir yang Terdampar, ia diuji oleh Syeikh Tua yang misterius: "Kau simpan laut di dadamu."
Bara menulis Janji Terpahit di Buku Doa Musafir, memprioritaskan penyembuhan Luka Sunyi keluarganya. Ribuan kilometer jauhnya, Rina merasakan Divine Echo, termasuk Mukjizat Kata "Ayah" dari putranya.
Bara pulang trauma. Tubuh ditemukan, jiwa terdampar. Dapatkah Buku Doa, yang mengungkap kecocokan kronologi doa dengan keajaiban di rumah, menyembuhkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Getaran Telepon: Suara yang Mengguncang Tawakal
Gagang telepon itu terasa sedingin es di telapak tangan Rina, seolah-olah benda plastik itu baru saja direndam di dasar samudera yang paling gelap. Di sekelilingnya, ruang tamu yang baru saja ia bersihkan dari debu keputusasaan mendadak terasa menyempit. Suara napas Bunda Ida yang memburu di belakangnya dan isak tangis Arka yang mulai pecah menciptakan kebisingan yang menyiksa batin.
"Halo?" suara Rina keluar sebagai bisikan yang gemetar.
"Ibu Rina? Saya Kapten Hadi dari Tim SAR," suara di seberang sana berat, berwibawa, namun menyimpan nada duka yang tertahan di balik deru mesin kapal yang menderu keras. "Kami telah mengevakuasi seorang penyintas dari puing kapal kargo. Dia mengonfirmasi identitasnya sebagai Bara. Suami Anda."
Rina merasakan lututnya kehilangan kekuatan. Ia jatuh terduduk di atas ubin keramik yang tadi ia rasakan berubah suhu menjadi dingin secara metafisik. Air matanya tumpah tanpa peringatan, membasahi kain daster yang ia remas kuat-kuat.
"Dia hidup? Kapten, katakan sekali lagi, apakah dia benar-benar hidup?" tangis Rina pecah, suaranya melengking menembus keheningan malam yang tegang.
"Dia hidup, Bu. Tapi saya harus jujur mengenai kondisinya," Kapten Hadi terdiam sejenak, membiarkan bunyi statis radio mengisi jeda yang menyakitkan. "Kondisi fisiknya sangat kritis karena dehidrasi dan luka bakar matahari. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi mentalnya. Dia mengalami disosiasi berat. Dia menolak dilepaskan dari tas punggung hitamnya dan terus menggumamkan doa-doa yang kami sendiri tidak mengerti."
Bunda Ida segera merebut gagang telepon itu dengan gerakan kasar, wajahnya yang praktis dan skeptis tampak tegang.
"Kapten! Saya Ibunya Rina. Apa maksudnya kondisi mentalnya terganggu? Apakah dia masih bisa mengenali keluarga? Dan bagaimana dengan prosedur rumah sakitnya? Apakah perusahaan asuransi sudah dihubungi untuk biaya evakuasi ini?" Bunda Ida memberondong dengan pertanyaan logis yang terasa seperti serangan bagi Rina.
"Mohon tenang, Bu," suara Kapten Hadi terdengar lelah di seberang sana. "Kami sedang menuju pelabuhan terdekat. Fokus kami adalah stabilitas medis. Mengenai hal-hal administratif, itu bisa diselesaikan nanti. Yang jelas, suami Anda terus memanggil nama Mala dan Rina di tengah pingsannya."
Rina mengambil kembali gagang telepon itu dengan tangan yang gemetar hebat, mengabaikan tatapan tajam ibunya yang masih menuntut jawaban finansial.
"Kapten, tolong... tolong jaga dia. Jangan biarkan siapa pun mengambil tas atau buku yang dia bawa. Itu nyawanya," ucap Rina dengan nada memohon yang sangat dalam.
"Kami mengerti, Bu. Dia hampir tidak sadarkan diri, tapi tangannya mencengkeram tas itu seolah-olah itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri. Kami akan bersandar dalam enam jam. Harap bersiap di dermaga."
Setelah sambungan terputus, Rina masih terpaku memegang gagang telepon yang sudah mengeluarkan nada sibuk. Ia menatap Arka yang kini duduk di pojok ruangan, menutupi telinganya dengan kedua tangan. Putra kecilnya itu tidak lagi berputar-putar seperti saat mendeteksi energi spiritual dari pulau; ia kini tampak kesakitan oleh kebisingan berita ini.
"Kenapa Ibu berteriak?" Mala muncul dari balik pintu kamar, matanya yang besar menatap Rina dengan ketakutan. "Ayah... Ayah benar-benar tidak pulang ya, Bu?"
Rina merangkak mendekati Mala, memeluk tubuh kecil putrinya itu hingga aroma bedak bayi yang tersisa di leher Mala menenangkan sarafnya yang tegang.
"Ayah hidup, Mala. Ayah sedang di kapal menuju kemari," bisik Rina di telinga Mala.
"Tapi kenapa wajah Ibu takut sekali?" Mala melepaskan pelukan, menatap lekat-lekat mata ibunya yang sembap. "Kalau Ayah hidup, harusnya kita tertawa, kan?"
"Ibu hanya... Ibu hanya terlalu senang, Sayang," bohong Rina, meski di dalam dadanya ia merasakan beban semen berton-ton yang kini berpindah dari laut ke rumah mereka.
Dilema di Balik Pintu Dermaga
Bunda Ida berjalan mondar-mandir di ruang tamu, sandal jepitnya mengeluarkan bunyi yang mengganggu ritme batin Rina. Ia berhenti di depan meja kayu, menatap Kompas Biru Tua yang jarumnya kini sudah stabil menunjuk ke satu arah.
"Rina, dengarkan Ibu. Jika benar Bara dalam kondisi seperti itu, kita harus bicara dengan Bapak Harjo secepatnya," ucap Bunda Ida dengan nada memerintah. "Uang asuransi itu penting. Jika dia cacat mental atau tidak bisa bekerja lagi sebagai pelaut, siapa yang akan membiayai terapi Arka? Siapa yang akan membayar sekolah Mala?"
"Ibu, tolong hentikan," jawab Rina tegas, ia berdiri dan menatap ibunya dengan keberanian yang baru ia temukan. "Baru sepuluh menit yang lalu kita tahu dia selamat, dan Ibu sudah menghitung nilai cacatnya?"
"Ibu realistis, Rina! Kau terlalu banyak bermimpi tentang keajaiban dan gema-gema aneh itu! Sekarang duniamu sudah kembali. Tagihan rumah sakit itu nyata, bukan magis!" Bunda Ida membalas dengan suara meninggi.
"Tawakal saya bukan mimpi, Bu! Tanpa doa-doa itu, mungkin Kapten Hadi tidak akan pernah menemukan puing kapal itu di tengah samudera luas!" Rina merasakan rahangnya mengeras, tangannya mengepal hingga kuku-kukunya memutih.
Mala yang mendengar pertengkaran itu mulai terisak lagi. Ia berlari masuk ke kamar dan membanting pintu. Kehancuran emosional yang selama ini ditahan Rina demi martabat keluarga kini mulai retak di depan mata ibunya sendiri.
"Lihat? Anakmu ketakutan karena kau lebih memilih berdebat soal iman daripada menyiapkan uang!" cetus Bunda Ida sebelum melangkah menuju dapur dengan perasaan dongkol.
Rina terduduk di sofa tua yang sudah robek, yang seharusnya ia ganti menggunakan Dana Amanah. Ia merogoh saku dasternya, mengeluarkan sapu tangan milik Mala yang ia simpan sejak hari pertama Bara hilang. Saat jemarinya menyentuh kain itu, sebuah sensasi panas yang menyengat tiba-tiba merambat ke telapak tangannya.
"Panas..." gumam Rina.
Ia tidak melepaskan sapu tangan itu. Panas ini bukan berasal dari suhu ruangan, melainkan sebuah getaran frekuensi yang sangat kuat. Rina memejamkan mata dan seketika ia melihat bayangan kabur: sebuah ruangan putih yang menyilaukan, suara detak jantung yang cepat pada monitor medis, dan rasa haus yang membakar tenggorokan.
"Bara sedang demam tinggi," bisik Rina, ia bisa merasakan bibirnya sendiri mendadak pecah-pecah dan kering, sinkron dengan penderitaan fisik suaminya di atas kapal evakuasi.
Disosiasi di Tengah Samudera
Di ruang medis kapal Cakra Jaladri, Bara terbaring dengan tubuh yang dipasangi selang infus. Setiap kali perawat mendekat dengan kapas beralkohol, Bara akan tersentak hebat, matanya melotot liar mencari-cari keberadaan Tongkat Musafir yang sudah ia tinggalkan di pulau.
"Di mana... di mana kayunya?" rintih Bara, suaranya parau dan hampir tidak terdengar di bawah deru mesin kapal.
"Tenang, Pak Bara. Anda sudah aman. Kami tim medis," ucap seorang perawat pria sambil mencoba memfiksasi tangan Bara yang meronta.
"Kalian bukan Syeikh... Kalian terlalu berisik!" teriak Bara tiba-tiba. Bagi indra pendengarannya yang sudah terbiasa dengan kesunyian absolut Cadas Sunyi, suara percakapan manusia dan denting peralatan medis terasa seperti ribuan palu yang menghantam kepalanya.
Bara merasakan martabatnya sebagai seorang pria dan imam keluarga sedang dikuliti habis-habisan di ruangan ini. Ia merasa telanjang, bukan hanya karena pakaiannya diganti dengan jubah rumah sakit yang tipis, tetapi karena ia kehilangan kontrol atas dunianya sendiri. Ia yang selama berbulan-bulan mampu bertahan melawan ular laut dan badai hanya dengan selembar doa, kini tak berdaya menghadapi sekelompok orang berseragam.
"Tas saya... jangan ambil tas itu," Bara mendekap tas punggung hitamnya di atas perut, tidak peduli tali tas itu melilit selang infusnya.
"Pak, kami hanya ingin merapikannya. Isinya sangat berat dan basah," perawat itu mencoba menarik pelan tas tersebut.
"Jangan sentuh! Ada darah di dalamnya... ada janji Mala di sana!" geram Bara, matanya merah karena iritasi air laut dan kurang tidur. Ia menatap sudut ruangan yang gelap, berharap melihat siluet jubah putih Syeikh Tua yang memberinya ketenangan, namun yang ia lihat hanyalah bayangan peralatan oksigen yang tampak seperti monster bagi pikirannya yang trauma.
Bara merasakan sebuah luka berbagi merambat di dadanya. Ia tidak hanya merasakan sakitnya sendiri; ia merasakan kecemasan Rina yang sedang berdebat di rumah, ia merasakan ketakutan Mala yang sedang menangis di balik bantal. Koneksi spiritual itu tidak terputus meski ia sudah berada di dunia fisik; justru koneksi itu kini terasa menyiksa karena membawa semua emosi negatif dari rumah.
"Rina... hentikan bisingnya... tolong," gumam Bara sebelum kesadarannya kembali tenggelam dalam kabut hitam yang pekat.
Antara Prosedur dan Keajaiban
Kembali di rumah, telepon berdering lagi. Kali ini bukan dari Kapten Hadi, melainkan dari Bapak Harjo, agen asuransi yang selama ini menekan Rina untuk segera menandatangani akta kematian agar klaim bisa cair.
"Selamat malam, Ibu Rina. Saya sudah mendengar berita luar biasa itu," suara Harjo terdengar terlalu ceria, sebuah nada profesionalisme yang terasa palsu di telinga Rina.
"Ya, Pak Harjo. Suami saya ditemukan selamat," jawab Rina datar.
"Tentu, tentu. Ini benar-benar mukjizat. Namun, saya harus memberitahukan secara resmi bahwa dengan ditemukannya Bapak Bara dalam keadaan hidup, maka seluruh berkas pengajuan klaim kematian yang kita bahas kemarin otomatis gugur demi hukum," Harjo berdehem sejenak. "Bahkan, perusahaan mungkin akan meninjau ulang status asuransi kecelakaan kerjanya jika ditemukan unsur kelalaian pribadi dalam peristiwa terdamparnya beliau."
Rina memegang pinggiran meja dengan sangat kuat hingga kuku jarinya terasa perih. "Kelalaian? Suami saya bertahan hidup berbulan-bulan di pulau terpencil tanpa bantuan siapa pun, dan Anda bicara soal kelalaian?"
"Kami hanya mengikuti prosedur, Bu. Jika beliau ditemukan dalam kondisi gangguan mental, maka status kompetensi kerjanya akan dicabut. Artinya, tidak akan ada tunjangan cacat permanen kecuali ada hasil observasi psikiatri selama enam bulan ke depan," jelas Harjo dengan nada tanpa emosi.
"Jadi maksud Anda, kami harus menunggu enam bulan lagi tanpa kepastian finansial sementara dia butuh perawatan sekarang?" suara Rina mulai bergetar karena amarah.
"Saya hanya menyarankan agar Ibu segera mengurus administrasi di pelabuhan nanti malam agar tidak ada kendala di rumah sakit. Oh, satu lagi, biaya evakuasi helikopter dan kapal SAR cadangan yang sempat kami kirim atas permintaan perusahaan mungkin akan didebet dari sisa gaji terakhir Bapak Bara jika klaim tidak disetujui."
Rina menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih. Ia merasa dunia sedang menghukumnya karena suaminya berani untuk tetap hidup. Kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan tertutup oleh kabut gelap masalah logistik yang diciptakan oleh manusia-manusia yang hanya mengenal angka.
"Apa kata Harjo?" Bunda Ida muncul dari dapur, wajahnya penuh selidik.
"Dia bilang asuransinya batal," jawab Rina pendek.
"Batal? Kau dengar itu? Ibu sudah bilang, seharusnya kita selesaikan akta kematian itu lebih cepat kemarin!" Bunda Ida menepuk tangannya dengan frustrasi.
"Ibu lebih suka Bara mati agar kita dapat uang?" tanya Rina dengan tatapan yang sangat tajam, membuat Bunda Ida terdiam sejenak.
"Bukan begitu, Rina! Jangan memutarbalikkan kata-kata Ibu! Ibu hanya tidak mau kita semua berakhir di jalanan hanya karena idealismu itu!"
Rina tidak menjawab lagi. Ia masuk ke kamar Arka dan melihat putranya itu sedang menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Arka tidak rewel lagi, namun tubuhnya bergetar samar. Rina menyentuh dahi Arka, dan rasanya sangat panas—sama panasnya dengan sapu tangan Mala yang ia pegang tadi.
"Arka merasakannya juga ya, Nak? Ayah sedang disakiti oleh cahaya-cahaya lampu di sana," bisik Rina sambil mengusap air mata Arka.
Rina segera menyiapkan tas kecil berisi pakaian ganti Bara dan botol air doa yang sempat tersisa di laci sajadah. Tangannya bergerak cepat, meski setiap sendinya terasa kaku. Kebisingan di rumah ini—suara televisi, gerutu Bunda Ida, hingga dering telepon yang tak kunjung berhenti—terasa seperti duri yang menusuk kesadarannya. Ia harus segera pergi ke dermaga. Ia harus menjadi benteng bagi Bara sebelum dunia luar menghancurkan sisa-sisa ketenangan suaminya.
"Mala, Arka, ikut Ibu sekarang. Kita jemput Ayah," perintah Rina sambil mengenakan jilbabnya dengan terburu-buru.
"Sekarang, Bu? Ini sudah hampir tengah malam," Bunda Ida menyela dari ambang pintu, wajahnya menunjukkan keberatan yang nyata. "Biarkan dia dievakuasi dulu oleh tim medis. Kau hanya akan menambah keributan di sana."
"Ibu tidak mengerti," Rina menatap ibunya dengan sorot mata yang tak bisa dibantah. "Bara sedang ketakutan. Dia tidak butuh tim medis yang hanya melihat lukanya. Dia butuh saya untuk melihat jiwanya. Jika Ibu tidak mau ikut, jagalah rumah ini."
Bunda Ida terdiam, terkejut melihat otoritas yang memancar dari diri Rina. Rina menarik tangan Mala dan menggendong Arka yang masih lemas karena demam sinkronisasinya. Mereka melangkah keluar rumah, menembus udara malam yang lembap. Saat kaki Rina menyentuh teras, ia merasakan getaran dingin di ubin lantai rumahnya kembali muncul untuk sesaat, seolah-olah rumah itu memberikan salam perpisahan pada fase penantian.
Dermaga Kebisingan dan Cahaya Palsu
Pelabuhan malam itu tidak sesunyi yang Rina bayangkan. Berita tentang ditemukannya penyintas KM Harapan Jaya telah menyebar seperti api di atas tumpahan minyak. Di depan gerbang dermaga, beberapa mobil dengan logo stasiun televisi sudah terparkir. Lampu-lampu kamera yang terang dan bisingnya suara mesin genset membuat Arka semakin gelisah dalam gendongan Rina.
"Kenapa banyak orang, Ma? Apa mereka mau menangkap Ayah?" tanya Mala sambil bersembunyi di balik punggung ibunya.
"Tidak, Mala. Mereka hanya orang-orang yang ingin tahu. Jangan lepaskan tangan Ibu," jawab Rina, hatinya berdegup kencang melihat kerumunan itu.
Rina mencoba menerobos kerumunan wartawan yang mulai mengerubungi setiap petugas SAR yang lewat. Ia melihat Kapten Hadi berdiri di dekat pos penjagaan, sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi yang Rina kenali sebagai perwakilan perusahaan pelayaran.
"Kapten Hadi!" teriak Rina sekuat tenaga.
Kapten Hadi menoleh, wajahnya yang keras sedikit melunak saat melihat Rina bersama kedua anaknya. Ia segera memberikan instruksi kepada petugas keamanan untuk membukakan jalan bagi mereka.
"Ibu Rina, syukurlah Anda cepat sampai," ucap Kapten Hadi sambil menggiring mereka masuk ke area steril yang lebih tenang. "Kapal evakuasi baru saja merapat di dermaga tiga. Namun, saya harus peringatkan sekali lagi, suami Anda menolak diletakkan di atas tandu. Dia bersikeras ingin berjalan sendiri sambil memeluk tasnya."
"Dia ingin berjalan sendiri?" Rina tertegun. "Dalam kondisi selemah itu?"
"Itu masalah martabat bagi dia, sepertinya," jawab Kapten Hadi singkat. "Dia tidak ingin terlihat sebagai korban. Mari, ikut saya."
Mereka berjalan menyusuri dermaga beton yang panjang. Di kejauhan, lampu sorot dari kapal Cakra Jaladri membelah kegelapan air laut. Rina melihat sebuah pemandangan yang akan terpatri selamanya dalam ingatannya. Dari pintu samping kapal, seorang pria muncul. Tubuhnya sangat kurus hingga tulang pipinya menonjol tajam, kulitnya gelap dan pecah-pecah seperti tanah kering, namun matanya memancarkan cahaya yang sangat jernih dan tajam—cahaya yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
Bara berjalan dengan langkah yang lambat namun pasti. Ia tidak memegang tongkat, namun tangannya mendekap erat sebuah tas punggung hitam di dadanya. Setiap kali kakinya menyentuh lantai dermaga, ia tampak sedikit goyah, namun ia menolak bantuan dua petugas medis yang menjaganya di kiri dan kanan.
"Bara..." bisikan Rina pecah di tenggorokan.
Pertemuan Dua Jiwa di Titik Koordinat
Mala berlari melepaskan pegangan tangan Rina. "Ayah! Ayah!"
Langkah Bara terhenti seketika. Ia menoleh ke arah suara itu. Saat matanya bertemu dengan mata Mala, ketajaman spiritual yang tadi memancar mendadak runtuh, berganti dengan kelembutan yang menyakitkan. Ia berlutut di atas beton dermaga yang keras, mengabaikan rasa sakit di persendiannya.
"Mala... putriku..." suara Bara parau, pecah seperti deburan ombak di karang.
Mala menghambur ke pelukan ayahnya. Rina melihat Bara memejamkan mata erat-erat, membenamkan wajahnya di leher Mala, menghirup aroma anaknya seolah itu adalah oksigen pertama setelah berbulan-bulan tenggelam. Tas punggung hitam itu tetap ia dekap di antara tubuhnya dan tubuh Mala.
Rina mendekat dengan Arka yang masih dalam gendongan. Bara mendongak, menatap istrinya. Tidak ada kata-kata yang keluar. Di antara mereka, hanya ada keheningan yang bicara—sebuah pengakuan atas semua Divine Echo, aroma parfum yang melintas, dan gema "Tenang" yang telah menyatukan mereka selama ini.
"Kau membawanya pulang, Rina," bisik Bara, matanya berkaca-kaca menatap istrinya.
"Bukan aku, Bara. Doamu yang membangun jalannya," jawab Rina sambil menyentuh kening suaminya yang masih terasa panas membara.
Bara meraih tangan Arka yang lemas. Saat jari-jari kasar Bara menyentuh tangan mungil Arka, sebuah fenomena aneh terjadi. Arka, yang sejak tadi demam dan gelisah, mendadak tenang. Napas Arka menjadi teratur, dan matanya yang sayu menatap ayahnya dengan kedipan yang perlahan. Indikator spiritual itu telah menemukan kembali frekuensi utamanya.
"Dia tahu, Rin. Dia menjagaku dari jauh," ucap Bara sambil tersenyum tipis.
Realitas yang Menagih Harga
Kemesraan spiritual itu tidak berlangsung lama. Kebisingan dunia luar kembali menyerbu. Para wartawan yang tadi tertahan di gerbang mulai berteriak-teriak memanggil nama Bara, sementara lampu kilat kamera mulai menyambar-nyambar dari kejauhan.
"Pak Bara! Bagaimana Anda bisa bertahan?" "Benarkah Anda melihat penampakan gaib di pulau?" "Pak Bara, lihat ke sini sebentar!"
Bara tersentak. Kepalanya berdenyut hebat mendengar teriakan-teriakan itu. Ia mencengkeram tasnya lebih kuat, napasnya mulai memburu, menunjukkan gejala serangan panik (PTSD) yang parah. Baginya, suara-suara itu terdengar seperti suara badai yang dulu menghancurkan kapalnya.
"Bawa aku pergi dari sini, Rina... Terlalu bising... hatiku sakit," rintih Bara sambil mencoba berdiri namun hampir terjatuh jika tidak segera ditangkap oleh Kapten Hadi.
"Petugas, tolong amankan area ini!" teriak Kapten Hadi. "Ibu Rina, kita harus segera membawa dia ke mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit observasi."
Saat mereka mencoba menaikkan Bara ke ambulans, seorang pria berpakaian necis dengan kacamata tebal menyeruak masuk. Itu adalah Bapak Harjo.
"Bapak Bara! Saya Harjo dari asuransi. Mohon maaf mengganggu momen ini, tapi saya butuh tanda tangan Bapak pada formulir penerimaan evakuasi agar biaya malam ini bisa segera diproses administrasinya," ucap Harjo tanpa perasaan, menyodorkan sebuah papan jalan dan pena.
Bara menatap Harjo dengan pandangan kosong. Ia melihat pena itu seolah-olah itu adalah senjata tajam.
"Tanda tangan?" tanya Bara dengan nada bingung. "Aku baru saja menulis doa dengan darah... dan kau meminta tinta untuk uang?"
"Bara, jangan bicara dulu," sela Rina sambil mencoba mendorong Harjo menjauh. "Pak Harjo, tolong mengerti kondisinya! Dia tidak bisa berpikir soal dokumen sekarang!"
"Tapi Bu Rina, ini menyangkut prosedur klaim cacat kerja yang saya ceritakan di telepon tadi. Jika tidak ditandatangani sekarang, pihak perusahaan akan menganggap evakuasi ini sebagai keinginan pribadi, bukan tanggungan kantor," Harjo tetap bersikeras.
Rina melihat wajah Bara yang semakin pucat. Suaminya tampak seperti orang yang sedang tenggelam kembali, bukan di laut, melainkan di dalam lumpur birokrasi manusia. Luka martabat itu menganga lebar di depan mata banyak orang.
"Pergi, Pak Harjo! Sebelum saya yang melakukan sesuatu pada Anda!" ancam Rina dengan suara yang begitu dingin hingga Harjo mundur beberapa langkah.
Ambulans akhirnya tertutup, memisahkan keluarga itu dari kebisingan dermaga. Di dalam mobil yang berguncang, dalam remang cahaya lampu darurat, Bara menatap Rina dengan tatapan yang sangat dalam.
"Rina... tas ini," Bara menepuk tas punggungnya yang basah. "Jangan biarkan mereka membukanya. Buku itu... adalah bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Jika mereka mengambilnya, aku akan kehilangan arah lagi."
Rina menggenggam tangan suaminya. "Tidak akan ada yang mengambilnya, Bara. Aku janjikan itu padamu. Tidurlah, jembatannya sudah sampai di ujung."
Bara memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar di bahu Rina. Namun, tepat saat ambulans melaju keluar dari gerbang pelabuhan, sebuah mobil hitam mewah tampak membuntuti dari belakang. Di dalamnya, seseorang sedang merekam kejadian itu dengan ponselnya—sebuah rekaman yang akan menjadi awal dari fitnah besar yang menanti mereka di babak selanjutnya.